
Suara gesekan aspal terdengar saat Chelsea menggeret kopernya setelah menurunkan benda itu dari atas gerbong kereta yang ia naiki. Si cewek mengecek jam digital yang melingkar di pergelangan tangan sementara kakinya terus melangkah mengikuti gerombolan orang yang berhamburan di sekelilingnya.
“Duh rame banget…” gerutu Chesa lalu menyelempangkan slingbag yang sebelumnya ia genggam.
Nggak lama kemudian cewek itu menemukan kursi kosong untuk duduk lalu ia mengirimkan pesan di ruang obrolan grup untuk menginfokan kalau dia sudah sampai di stasiun, rencananya sih dia akan dijemput langsung oleh Cherryl dan Sebastian.
Di sisi lain Devin nggak juga berhenti untuk menghembuskan napas gusar sejak naik naik ke dalam mobil Sebastian. Cowok itu dipaksa ikut bersama Cherryl dan si kakak kelas sedangkan Alfian, Lily dan Andre menunggu dengan tenang di rumah keluarga Gunawan bersama Bunda dan Anggara.
“Santai aja kali, Vin. Udah kayak mau ketemu presiden aja lo nervousnya.” sindir Sebastian yang diikuti oleh tawa si cewek cherry.
“Lo sih, tadi disuruh jemput sendiri gak mau, padahal enak bisa berduaan, hahaha…” sahutnya kemudian.
Devin menggaruk lehernya seperti biasa, “Y-ya dia kan pasti bawa barang. Gak mungkin gue jemput pake motor ‘kan? Mobil di rumah dipake Bapak.” jawab si cowok yang membuat Cherryl menengok ke belakang sembari memegangi sandaran jok.
“Ih tadi kalo lo emang mau pasti dipinjemin mobil kok, yakan, Seb?” ujar si cewek lalu menolehkan kepalanya pada Sebastian yang sedang fokus menyetir, cowok itu mengangguk pelan sebagai jawaban.
“Yah, kita udah di jalan juga kan. Yang penting ketemu ajalah.” sahut Devin lalu si cewek tersenyum sampai-sampai tepi matanya mengerut.
Cherryl tahu benar kalau Devin sudah menunggu kesempatan ini sejak lama, dia juga senang sekali melihat perkembangan hubungan sang teman dengan Chelsea sejauh ini. Ia dan Lily sering menjadi tempat curhat Devin jika cowok itu membutuhkan saran atau sekedar teman cerita.
Kalau dipikir-pikir sudah banyak hal yang terjadi dalam satu tahun ke belakang ini, mulai dari kedatangan Sebastian, perubahan sikap Cherryl, kunjungan Valerine, sampai ke jalinan pertemanan dengan Devin yang nggak pernah mereka duga sebelumnya. Nggak lupa juga soal pertemuan dengan Elhanan dan Chelsea yang sekarang sudah menjadi bagian dari lingkar pertemanan mereka.
Lonjakan cukup kencang akibat lubang di jalan mem buyarkan lamunan Cherryl sampai-sampai cewek itu meremat kencang lengan Sebastian yang untungnya nggak merasa terganggu sama sekali, cowok itu malah menaikkan kedua alisnya karena khawatir.
“Duh, sorry gak keliatan.”
Setelah berbelok di ujung jalan, mereka akhirnya sampai di stasiun tempat Chelsea menunggu. Nggak butuh waktu lama sampai Devin bisa menemukan si cewek yang asik memainkan ponselnya di tengah-tengah orang berlalu-lalang.
“Chesa!” sapanya lalu melambaikan tangan tanpa menghentikan langkah menghampiri sang pujaan hati.
Chelsea sontak melebarkan senyumnya lalu bangkit berdiri, cewek itu hampir saja berniat untuk berlari dan memeluk cowok itu tapi dia tentu nggak benar-benar melakukannya karena tahu si cowok adalah tipe orang yang pemalu, dan sayangnya hubungan mereka belum sedekat itu untuk saling memeluk sebagai sapaan.
“Dev!” sapanya balik ketika cowok itu sudah berdiri di hadapannya.
Devin menatap si cewek lalu sebuah koper dan tas ransel tergeletak di dekat kursi yang tadi ia duduki, “Eum, lo udah lama nunggu? Barangnya ini aja?” tanyanya.
Pandangan si cewek beralih ke barang-barangnya lalu ia mengangguk, tangannya dengan sigap menggapai ransel lalu mengaitkannya ke punggung, “Lo ke sini sama Cherryl kan, dia di mana?” tanyanya balik.
“Oh iya, dia sama Bang Babas nunggu di mobil. Eum, kalo gitu mending kita balik aja pasti lo capek. Sini kopernya gue yang bawa…” jawab Devin lalu mengulurkan tangannya untuk menggapai koper kuning kenari milik cewek itu.
“Eh, nggak usah bia-”
“Udah gue bilang, gue aja.”
Belum sempat Chesa menyela untuk kedua kalinya, Devin sudah menatapnya dengan serius sampai-sampai bibirnya nggak bisa digerakkan, “A-ah iya, makasih…” katanya pelan.
Si cewek mengambil langkah panjang untuk menyamakan langkahnya dengan cowok itu, senyuman lebar terus saja terpatri di bibirnya selama berjalan sampai ke area parkir. Mereka juga nggak mengobrol terlalu banyak, hanya sekali dua kali basa-basi dan akhirnya saling larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Sebenarnya sih Devin sedang bingung, apa yang harus dia bicarakan dengan Chesa agar mereka bisa lebih akrab. Saat berhubungan lewat pesan rasanya nggak sesulit ini, tapi sekarang bahkan untuk membuka mulut aja sulit. Chelsea juga tiba-tiba saja nggak terlalu banyak bicara seperti sebelum-sebelumnya, andai cowok itu tau kalau si cewek menutup mulut karena dia takut kalau Devin akan merasa nggak nyaman.
Setelah mengumpulkan keberanian, si cowok memutuskan untuk mengajak Chesa jalan-jalan, tapi dia kalah cepat, “Beso-”
“Chesa!!” seru Cherryl yang sudah berdiri di depan mobil, cewek itu terlihat senang sampai melebarkan tangannya untuk menerima pelukan dari Chelsea.
Kedua cewek itu saling memeluk dengan erat karena sudah cukup lama nggak bertemu, Devin yang melihatnya hanya tertawa pelan dan menyayangkan kesempatan tadi. Seharusnya dia membuka suara lebih cepat.
“Oh, Kak Babas! Apa kabar?!” ujar Chesa lalu bersalaman dengan Sebastian.
“Baik, baik…” jawab si cowok.
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
“Shalom…Yaampun Nak Chelsea cantiknya, iya-iya silahkan masuk. Yang lain ada di dalam, ayo kalian juga masuk Bunda sudah buatkan camilan.” sapa Bunda Sena ramah saat membuka pintu dan mendapati Cherryl, Chelsea, Sebastian dan Devin berdiri di depan pintu rumah.
Keempatnya beranjak masuk ke dalam yang langsung di sambut oleh sosok Lily yang berlari kecil pada sang sahabat, “Hooo, Chesa! Akhire kamu sampe ke sini juga ya~” sapanya lalu merangkul Chesa.
Anggara menegakkan duduknya ketika disapa oleh Chelsea, mereka semua mendudukan diri di karpet bawah sedangkan cowok itu dan Bunda Sena di atas sofa.
“Ayo dimakan ini tadi Bunda buat rollade. Bunda juga sudah buat es buah di kulkas, ayo Cherryl bantu Bunda siapkan.” ujar Bunda Sena lalu sang putri menurut, diikuti oleh Chelsea dan Lily yang merasa harus ikut membantu.
Mereka menyiapkan beberapa mangkuk kecil dan sendok sedangkan beliau membawa mangkuk besar berisi es buah yang baru saja ditambahi es batu dan menaruhnya di atas meja ruang tengah.
“Yaampun Tante repot-repot…” sahut Alfian yang ikut berdiri dan membantu para cewek membagi-bagikan mangkuk serta sendok lalu Bunda Sena yang mengambilkannya untuk masing-masing orang.
“Nggak apa-apa, Bunda senang kalau rumah ramai begini. Nah silahkan dimakan, kalau kurang jangan sungkan ya anggap aja rumah sendiri.” kata beliau dan mereka semua tersenyum senang.
“Iya, Tante. Makasih banyak.” sahut Chelsea lalu cewek itu menatap Devin yang duduk berhadapan dengannya.
“Jadi besok ya kita baru jalan?” tanyanya kemudian lalu mengedarkan pandangan ke teman-teman yang lain.
“Hari ini lo istirahat aja dulu besok baru mikir buat jalan, oke?” sahut Alfian pada cewek itu yang langsung dihadiahi anggukan antusias.
“Iya! Gue udah gak sabar buat main sama kalian soalnya, hehe…”
.
.
.
.
.
TBC.