Cookie Jar

Cookie Jar
#21 Baikkan



Dering alarm terdengar sangat nyaring di telinga Cherryl, membuat cewek itu menghela nafas seraya menutup buku pelajarannya. Tubuhnya terpaku diam di kursi, tak terlihat niat untuk bergerak bahkan sedikitpun. Kecuali netra si cewek yang bergerak kesana-kemari memandangi teman-temannya yang berhambur keluar dari ruangan itu setelah Pak Albert pergi.


"Cher?"


"Cherryl?"


Kali ini tepukan ringan yang dirasakan Cherryl pada pundaknya membuyarkan lamunannya, cewek itu menatap Lily yang sudah mendudukkan diri di sampingnya.


"Kamu sakit ta, Ryl?" tanya Lily dengan tatapan khawatir.


Cherryl mengalihkan pandangannya, tak ingin melihat tatapan seperti itu lagi. Tatapan yang sangat familiar untuknya.


"Cherryl, kok diam aja toh?" tanya Lily lagi.


Cherryl mengulum bibirnya lalu menggeleng, "Gue gak apa-apa. Eum, gue ada urusan dulu. Lo gapapa di sini sendiri?"


Lily mengangguk, "Gak apa-apa. Memangnya kamu mau ke mana, Ryl?"


Cherryl mengambil tangan Lily dan menggenggamnya, "Nanti gue cerita. Tapi nggak sekarang,"


Akhirnya Lily mengangguk dan Cherryl memutuskan untuk pergi saat itu juga. Cewek dengan iris hitam pekat itu berjalan pelan menaiki setiap anak tangga menuju rooftop. Sebastian membalikkan dirinya saat mendengar suara pintu berderit, cowok itu tersenyum karena mendapati Cherryl tengah berjalan ke arahnya dengan pandangan was-was.


"Ada apa, Seb?" tanya Cherryl dengan suara pelan.


Sebastian menyodorkan kotak bekal berisi kue kering cokelat yang ia siapkan semalam pada si cewek yang malah diam memandang kotaknya tanpa mengatakan apapun.


"Ini, sebagai permintaan maaf gue. Buat ngebentak lo kemarin. Gue minta maaf, Ryl."


Cherryl mengambil kotak bekal itu dan menatap cowok di depannya dengan senyum simpul, "Gue terima. Dan maaf, gua bener-bener kayak bocah kemarin. Gue gak nyalahin lo. Gue gak pengen kayak dulu lagi, gue mau coba bersikap lebih sesuai umur mulai sekarang."


Sebastian ikut tersenyum, cowok itu turut senang karena Cherryl bisa bersikap lebih dewasa dan tidak larut dalam kemarahannya seperti biasa. Dulu, cewek itu harus di bujuk dengan susah payah saat ngambek karena hal sepele, tetapi sekarang lebih baik. Jauh lebih baik.


"Jadi, udah baikkan ya?"


Si cewek mengangguk sebagai jawaban, dan Sebastian langsung melebarkan tangannya, "Peluk gak?"


Cherryl tertawa pelan dan berhambur memeluk sahabatnya itu, "Maaf gue ninggalin lo." katanya.


Telapak tangan Sebastian hinggap di puncak kepala Cherryl dan mengelusnya, "Gak apa-apa. Gue juga salah udah bentak lo kayak gitu."


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


"Ryl, Bang Angga noh."


Cherryl mendongakkan kepalanya lalu menoleh kearah yang ditunjuk oleh Yesabelle, di ujung koridor ada Anggara yang melambaikan tangannya agar cewek itu ke sana.


"Gue pulang dulu ya, Yes!" ujar Cherryl lalu melambaikan tangannya pada Yesabelle yang ikut membalas dengan lambaian tangan dan ucapan sampai jumpa.


"Karin mana, Bang?" tanya Cherryl pada Anggara saat cewek itu berada di hadapan sang kakak.


"Gue sama Rina belom bisa balik, lo sama Babas ya?" ujar Angga kemudian.


"Loh masih mau ngapain?" tanya Cherryl lagi.


"Anu, ada rapat panitia paskah. Dia kan ketuanya, Abang anggotanya juga. Kasihan kalau Erryl nunggu sampai malam." jawab Anggara seraya mengangkat tangannya saat seseorang memanggilnya dari dalam ruang rapat.


"Besok kan libur, Bang. Gapapalah pulang agak maleman. Kasian juga si Sebby kalo masih harus nganterin Cherryl." balas Cherryl yang membuat Anggara berpikir.


Tapi tiba-tiba Sebastian muncul entah dari mana, "Balik sama gue aja. Gue ada perlu. Bang gue pinjem Erryl ya." katanya.


"Ngagetin lo ah!" kesal Cherryl lalu menepuk lengan si cowok pelan.


"Ke rumah gue dulu ya, nganter Rebecca sama Vallerine. Abis gitu gue anter lo pulang." kata Sebastian saat mereka berjalan beriringan menuju parkiran.


"Nggak repot lo bolak-balik gitu astaga...Mending gue sama Ang'ga sama Karin deh, Seb." jawab Cherryl lalu menghentikan langkahnya.


"Udah gapapa, gue mau ngajak lo jalan-jalan." sahut Sebastian lalu menarik lengan Cherryl pelan.


"Malem-malem gini?"


"Iya, anggep aja malmingan bareng cogan."


Mendengar itu Cherryl berdecih lalu tertawa, "Lawak lo."


"Hai Cherryl!" sapa Vallerine saat menjumpai Cherryl yang datang bersama Sebastian.


"Hello Vallie, Hello Becky." sapa si cewek lalu melambaikan tangannya.


"Hai," sapa Rebecca balik, cewek itu sudah mendudukkan dirinya di samping kursi pengemudi.


"Masuk, Ryl." titah Sebastian dan si cewek masuk ke kursi belakang dan duduk bersama Vallerine.


Pedal gas diinjak dan mereka pergi meninggakkan area parkir di belakang gedung gereja menuju ke rumah Sebastian. Di perjalanan mereka mengobrol ringan dan bergurau bersama hingga tak sadar jika mereka sudah sampai di tempat tujuan.


"Good night, Sweets! Have a safe drive, you too Ken." ujar Vallerine saat Sebastian dan Cherryl kembali pamit untuk pergi setelah mengantarkan mereka. Sedangkan Rebecca masih nyaman dengan menutup bibirnya rapat-rapat.


"Kita mau ke mana, Bas?" tanya Cherryl sembari menghubungkan ponselnya dengan speaker di mobil menggunakan bluetooth untuk menyalakan lagu.


"Lo mau ke mana? Ada request gak? Abis gitu baru ke tempat tujuan gue." tanya si cowok balik.


"Eum, gimana kalo ke Elliot Cafe? Katanya di sana ada ice cream unicorn sama apasih namanya, mochi gitu kalo gak salah. Pengen nyoba..." ujar Cherryl lalu Sebastian mengangguk.


"Lokasinya di mana?"


"Deket SMK 3, pas di sebrangnya. Lo tau kan?" tanya Cherryl.


"Tau tau, pernah nganterin si Fian ke sana buat ngambil barang." jawab Sebastian lalu melajukan mobilnya dan berbelok di pertigaan.


"Anu,"


Cherryl mengalihkan pandanga dari timeline Instagram ke cowok di sampingnya, "Anu apaan?"


"Masalah Tiktok di hp gue, si Tasya emang minjem soalnya di hp dia ga cukup memorinya...Lo jangan–"


"Yaelah masalah itu doang, gausah panik gitu dong mukanya kayak orang naber aja." jawab Cherryl lalu tertawa ngakak melihat raut wajah tegang si cowok.


"Ye gue ngomong serius," kata Sebastian lalu si cewek menghentikan tawanya.


"Iya iya, gue gak marah kok. Lagian buat apa marah, hp hp lo ini." katanya.


Sebastian bernapas lega, "Yaudah.."


"Tapi, yang gue gabisa tahan itu...."


"Apa?"


"Cooking Mama." jawab Cherryl lalu kembali ngakak.


"Astaga itu bukan gue yang main...Di bilangin hp gue tuh hpnya sejuta umat. Di oper sana sini." jawab Sebastian dengan muka sewotnya.


Cherryl berusaha sekuat tenaga untuk menahan ledakkan tawanya, tetapi tetap saja tidak bisa. Memang kalau jiwa receh sudah mendarah daging, maka susah dikendalikan. Perut cewek itu sampai sakit pula, tetapi ia tidak bisa berhenti.


"Yaudah iya, ngakak aja. Semerdeka lo Tuan Puteri." ujar Sebastian dan mengalihkan pandangannya pada jalan.


"Dih baperan, jangan ngambek dong."


"Siapa yang baper. Gue seneng kok liat lo senyum selebar itu...Apalagi gara-gara gue."


.


.


.


.


.


TBC.


Jangan lupa vote + commentnya guys!💕