Cookie Jar

Cookie Jar
#32 Kepikiran



Devin tersenyum saat melihat sosok Cherryl, Lily dan Andre yang memasuki ruang aula untuk menungguinya berlatih hari ini. Cowok itu belum bisa menghampiri mereka karena latihan sudah dimulai, maka dia hanya sekedar melambaikan tangan sebagai sapaan yang langsung dibalas oleh ketiganya.


“Kalian kalo mau berduaan di ujung aja sana, gue yang jomblo berasa jadi nyamuk nih.” ujar Cherryl sembari menyikut Lily yang bergelayut di lengan sang pacar, bermaksud untuk menggoda dua sejoli itu.


“Ih, Cher kasihan toh kalo kamu sendirian di sini. Mana Mas Tian belum kelar bantu-bantu di aula.” balas Lily yang ganti bergelayut di lengan si cewek cherry.


“Udah gapapa, Ly. Wei Ndre, bawa aja nih. Kan dia udah lebih sering sama gue dari pada sama lo.” Cherryl melirik Andre yang hanya tertawa sebagai tanggapan, tapi setelah itu si cowok kembali berdiri.


“Gue mau beli minum, mau nitip ga?” tanyanya pada keduanya.


Si gadis bungsu keluarga Gunawan dengan sigap nyuruh Lily untuk melepaskan lengannya lalu mendorong si cewek pelan, “Boleh. Titip Lily yaa, awas kalo sampe lecet!” katanya lalu menyengir.


“Huwaa, Cherr…” Lily hanya bisa merengek saat Andre setuju dan segera menariknya pergi, meninggalkan Cherryl duduk sendirian di aula sambil bertopang dagu. Gadis itu langsung merubah air mukanya menjadi muram sepeninggalan sang sahabat, dia merasa benar-benar sedang ingin sendirian sekarang.


“Hhhh, capek juga ya badmood terus.” monolog Cherryl lalu mengeluarkan ponsel dari saku roknya dan mulai menggeser-geser menu utama tanpa ada niat membuka satupun aplikasi yang berjajar di layar.


Sejak semalam dia kepikiran terus soal perkataan bunda Laura yang bilang Tasya cocok menjadi pacar Sebastian, Cherryl masih berpikir kalau alasan dia tidak suka mendengarnya hanya karena ia akan merasa kehilangan sosok ‘sahabat’ jika cowok itu benar-benar punya pacar. Tidak ada alasan lain―atau mungkin dia hanya tidak ingin menguak perasaannya secara lebih jelas. Waktu lalu saat Lily bertanya apa Cherryl yakin dia tidak ada perasaan apa-apa pada Sebastian, si cewek cherry langsung tertawa terbahak-bahak dan berkata kalau pertanyaan yang teman karibnya itu ajukan terdengar konyol.


“Aneh ah pertanyaan lo, mana ada gue naksir sama Sebby?” balas Cherryl malam itu, Lily yang mendengar hanya diam karena dia yakin kalau ada sesuatu di antara keduanya.


Tapi sekarang Cherryl pusing sendiri dengan perasaannya. Dia memang gampang terbawa perasaan sih, tapi kali ini rasanya berbeda.


“Hah, masa gue ada rasa sama dia sih?” monolog Cherryl lalu menegakkan duduknya.


“Naksir sama siapa lo?”


Cherryl hampir terjungkal saat melihat sosok Sebastian menjulang tinggi di hadapannya, padahal gadis itu yakin tadi tidak ada siapa-siapa di sana, “AH ANJIR GUE KAGET TAU.” pekiknya yang membuat si cowok spontan menutup telinga.


“Iya iya wei sorry, santai dong.” sahut Sebastian lalu menghempaskan tubuhnya di sebelah si cewek yang sudah merengut, nggak mau menjawab.


“Lagian lo ga biasanya bengong begini, mana tadi bilang naksir ama orang lagi kan gue juga kaget dengernya.” tambahnya lagi.


“Bukan urusan lo juga, dih.”


Mendengar itu mood Sebastian jadi ikut turun, “Pasti gantengan gue sih dari siapapun yang lo taksir.” katanya dengan nada malas.


Cherryl menatap cowok itu tajam, “Apasih, siapa juga yang lagi naksir orang? Sok tau banget.” sinisnya.


Si cowok diam, tampak enggan untuk melanjutkan debat mereka karena sebenarnya dia juga kelelahan setelah membantu Pak Indra mengangkuti properti, “Iyadeh.”


Keadaan hening selama hampir satu jam, kedua orang itu bahkan tidak saling melirik dan larut dalam pikiran mereka masing-masing. Cherryl sebal deh, kenapa orang yang mengganggu pikirannya itu malah duduk tenang di sebelahnya, ditambah dengan kaos olah raga dan rambutnya yang basah oleh keringat. Menyebalkannya lagi jantung si gadis cherry malah berdetak cepat, entah bagaimana sosok Sebastian yang seperti itu tampak lebih ganteng dari biasanya.


“Yo, Bang! Cherryl!”


Keduanya menghela napas lega berbarengan saat Devin datang bergabung dengan mereka dan memecah suasana, muka mereka yang semula keruh langsung berseri menyambut kedatangan si cowok yang kalau dilihat-lihat tampak lebih bersemangat dari waktu pertama kali mereka berkenalan kurang dari dua minggu lalu.


“Eh Bro, udah kelar aja latihannya.” ujar Sebastian membuka percakapan.


Devin mendudukkan diri di lantai lapangan lalu menenggak air mineral yang ia bawa, “Hooh nih hari ini singkat aja sih latihannya. Miss Kay ada urusan.” jawabnya.


“Devin mau beli makan dulu gak? Bareng yuk, gue mager sendirian soalnya si Lily udah disita ama Andre.” celetuk Cherryl yang membuat Sebastian menoleh dengan ekspresi tak terima.


“Lah gue lo anggap apa??” timpal cowok itu.


Cherryl menjawab, “Bosen ama lo terus.”


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sebastian merasa bingung karena sikap Cherryl seharian ini, cewek itu memang tidak menghindarinya, tapi jelas sekali kalau dia diabaikan. Selama di warung bakso, Cherryl terus saja mengajak Devin mengobrol ini-itu, bahkan si cewek menceritakan hal acak tentang kelakuan lucu Holy yang tentu saja sangat tidak biasa. Di sisi lain juga Devin bisa merasakan ada yang tidak beres, maka dia cepat-cepat izin untuk pulang tepat setelah menghabiskan makanannya, cowok berkulit tan itu juga merasa tidak enak pada sang kakak kelas.


“Lo hari ini kenapa sih, Ryl?” tanya Sebastian ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil.


Cherryl menatap cowok itu dengan alis terangkat, “Emang gue hari ini kenapa? Perasaan b aja.” jawabnya.


Cowok bergigi kelinci itu mengurungkan niat untuk menyalakan mesin mobil lalu mendesah frustasi sambil menyandarkan kepala di stir yang ia genggam dengan kedua tangannya, “Dari kemaren pas balik sekolah juga lo udah aneh, ketara banget tau.” katanya, menatap cewek di sampingnya itu dengan sendu.


“Biasa aja mukanya Seb, kek abis diputusin aja lo. Udah yuk berangkat.” timpal Cherryl santai, walaupun di dalam hati cewek itu pun bingung kenapa dia bersikap begitu aneh selama beberapa hari ke belakang.


“Jangan-jangan lo naksir Devin ya?” tanya si cowok tiba-tiba.


Kali ini mata si cewek cherry membulat lebar, “Hah, dapet kabar burung dari mana lo? Ngaco.” sergahnya.


“Tadi gue denger jelas lo bilang naksir orang, terus lo sejak pagi ngajak Devin ngobrol mulu sampe gue kaga dianggap sama sekali. Lo naksir Devin Ryl? Gue nanya, serius.” katanya.


Wah, gila. Cherryl ingin sekali meneriaki Sebastian kalau dialah yang menganggu pikiran si gadis dari kemarin, “Lo yang aneh tau, udah ah mau balik atau kaga nih?”


“Atau gue ada salah?” lanjut Sebastian, bergeming pada posisinya.


Mendengar itu Cherryl tidak langsung menjawab, dia terdiam, ikut berpikir apakah memang cowok itu melakukan kesalahan padanya atau tidak. Setelah itu si cowok menyandarkan diri di jok mobil, “Gue ikut kepikiran kalo lo begini, Ryl. Kalo emang ada yang lo pikirin cerita aja ke gue, I worry about you so much.”


Si cewek masih diam beberapa saat sampai ia membuka suara dengan suara getir, “Lo khawatir sama gue cuma sebagai adek ‘kan?”


“Maksud lo?” tanya Sebastian, langsung menegakkan duduknya.


“Maks-ah udahlah, ga penting juga. Intinya lo gak usah khawatir, gue emang lagi mood swing aja kok Seb. Udah dulu ya ngobrolnya? Erryl mau pulang.” jawab Cherryl dengan nada melembut dan tatapan mata yang sayu, cewek itu mengalihkan wajahnya ke arah jendela seakan nggak sanggup menatap cowok itu terlalu lama.


Kali ini Sebastian mengalah, ia langsung menyalakan mobil dan membawa mereka keluar dari pekarangan sekolah. Selama perjalanan pulang keheningan kembali masuk ke tengah-tengah mereka, kalau misalnya Lily ada di situ pasti dia sudah merasa sesak napas. Hingga akhirnya ketika mereka sampai di pekarangan rumah keluarga Gunawan, Cherryl segera turun dari mobil.


Cewek itu menunduk untuk menatap wajah Sebastian dari balik kaca, dia tersenyum simpul, “Makasih ya Sebby, pulangnya hati-hati. Maaf kalo Erryl bikin Sebby khawatir, Erryl nggak bermaksud.” katanya.


Sebastian tertegun sejenak lalu ikut tersenyum, “Kayak sama siapa aja. It’s perfectly fine, lo bisa cerita kalo emang udah siap. Gue ga maksa kok.”


Setelah itu keduanya berpisah, Cherryl segera masuk ke rumahnya sedangkan si cowok kembali melajukan mobil untuk pulang. Putera bungsu keluarga Sanjaya itu menyetir dengan lambat dan beberapa kali menghela napas resah.


‘Ga boleh Bas, lo udah janji sama diri sendiri.’


.


.


.


.


.


TBC.