Cookie Jar

Cookie Jar
#39 Hari Yang Melelahkan



Cherryl menggigit bibir bawahnya karena panik saat Sebastian berbicara dengan nada tenang tapi terkesan tegas, cowok itu bahkan tidak memberinya ruang untuk bergerak sedikitpun.


“Seb…” cicitnya pelan.


Sebastian diam, tapi matanya nggak. Dia memandangi si cewek cherry dengan lekat dari bibir hingga ke mata sebelum tersenyum dan mendekatkan mukanya yang membuat Cherryl mau tak mau menutup matanya dengan tangan mengepal.


Cup!


Sebuah kecupan mendarat di kening si cewek yang membuatnya membeku, mata lebar yang membulat itu membuat Sebastian gemas sekali tapi dia tau kalau dia nggak boleh macam-macam dan harus menahan diri.


“G-gue pergi dulu!”


Gila. Jantung Cherryl ingin melompat dari tempatnya saja. Tanpa basa-basi, cewek itu mendorong pelan dada Sebastian lalu melarikan diri secepat yang ia bisa, dengan napas yang masih putus-putus dan muka merah padam bagaikan kepiting rebus.


“Damn.” Sebastian yang masih bergeming di posisinya sontak mengusap mukanya yang juga ikut memerah, cowok itu bersandar pada dinding sekolah sampai hampir terduduk karena kakinya lemas. Baginya juga sulit, sangat sulit.


Di sisi lain Cherryl berlari sampai ke kelas, cewek itu segera duduk di bangkunya dan menenggelamkan muka ke lipatan tangan tak perduli dengan pandangan aneh dari beberapa teman sekelasnya yang bingung kenapa cewek itu belum mengganti baju dan masih ditempeli tepung.


“Ryl? Lo ga apa-apa?” ujar Devin yang baru masuk ke dalam kelas dan melihat kelakuan temannya itu, dia juga melihat ke sekitar tapi nggak menemukan Lily.


Cherryl berusaha menenangkan diri dan mengambil napas panjang sebelum mengangkat wajahnya menatap si cowok, dia tersenyum lalu menggeleng, “Eh, enggak. Gapapa kok Vin, gue capek aja jadi pengen istirahat.” alibinya.


Pada dasarnya Devin bukanlah tipe orang yang peka, jadi mendengar itu dia mengangguk-angguk percaya saja dan langsung pamit untuk pergi ke mejanya. Tapi karenanya Cherryl jadi lega karena nggak ditanyai macam-macam, Lily juga belum menunjukkan diri jadi cewek cherry itu segera bangkit dari duduknya dan beranjak ke ruang ganti.


Selama berganti baju, Cherryl beberapa kali termenung karena bingung bagaimana harus bersikap di depan Sebastian nanti saat mereka pulang bersama seperti biasa. Jujur dia kaget sekali karena serangan dadakan yang cowok itu lakukan, walau sebenarnya agak kecewa karena cowok itu hanya mengecup keningnya saja tadi. Menyadari pikirannya itu Cherryl menggeleng kencang dan segera menyelesaikan aktifitasnya agar bisa cepat-cepat mencari sang sahabat karib yang entah ada di mana.


Semetara itu Sebastian berdeham pelan seraya mendudukkan diri di sebelah Alfian yang sedang mengunyah jajanan, cowok jangkung itu menatapnya dari atas sampai bawah dengan raut bingung.


“Napa lo?” tanyanya.


Yang ditanyai menggeleng pelan, tangannya mengusap-usap rambut yang masih basah setelah membasuh diri dan berganti pakaian. Beberapa saat kemudian Tasya masuk bersama teman-temannya, cewek itu berjalan melewati kedua cowok dengan muka malas walaupun sempat tertegun melihat rambut basah Sebastian yang mengkilap


“Masih marahan? Napa sih, kali aja gue bisa bantu.” tawar Alfian lalu melipat-lipat bungkus jajannya yang sudah kosong dan menyelipkan itu ke saku untuk dibuang nanti.


“Haduh gue juga pusing. Lo sendiri pasti ngerti lah kenapa tiba-tiba begini, Fi.” sahut Sebastian dengan nada gusar. Cowok itu memang menolak perasaan Tasya tapi tak dipungkiri kalau dia juga merasa kehilangan sosok teman di saat yang bersamaan.


“Lo apain dia anjir, Bas?” tanya Alfian lagi, mencondongkan wajahnya ke arah sang teman.


“Kaga ngapa-ngapain. Dia aja tiba-tiba nembak gue.” bisik si cowok bergigi kelinci yang membuat Alfian terkejut, cowok itu menoleh ke arah Tasya lalu Sebastian bergantian selama beberapa kali.


“Hah, serius lo? Edan. Kan udah gue bilangin dari awal kalo lo gabakal mau sama dia.” sahutnya.


Sebastian menghela napas, “Masalahnya bukan gitu, Fi. Kalo posisi hati gue kosong sih mungkin bisa aja gue ama Tasya. Tapi kan keadaanya beda.”


Kali ini wajah cengo Alfian digantikan dengan seringai yang muncul di muka cowok itu, “Ngaku nih ceritanya? Wah ajir parah banget Bas lo punya gebetan tapi ga pernah cerita. Siapa si, anak kelas mana?”


“Kepo lo.” sergah Sebastian dengan nada malas, tapi Alfian nggak patah semangat. Dia semakin mendekatkan diri pada temannya itu dengan raut wajah menuntut.


“Lo kayak gatau gue deket sama siapa aja Fi, Fi.” ujar si bungsu keluarga Sanjaya itu karena pasrah, toh dia pikir mungkin Cherryl akan mengatakan semuanya pada Lily juga.


“Hoo~ Jadi beneran sama Cherryl nih? Jangan-jangan udah jadian?!” tebak Alfian, terlihat dan terdengar begitu bersemangat karena dia nyatanya diam-diam masuk ke dalam awak kapal Cherryl-Babas bersama Lily tanpa mereka ketahui.


Sebastian menggeleng lagi, “Belom lah. Lo tau sendiri bundanya belum bolehin dia pacaran sampe lulus sekolah.”


“Yah, masih lama anjir. Yakin lo bisa nunggu? Masuk kuliah nanti kan pasti banyak cewek cakep, haha.” balas Alfian lalu menaik-turunkan alisnya.


“Bacot lo, gue juga ga gampang suka sama orang. Aman lah, apalagi gue juga sering main ke rumah dia walau gak sekolah.” ujar Sebastian setelah berpikir beberapa saat.


Alfian menyengir lalu merangkul pundak temannya itu, “Hehehehe, berarti Cherryl juga udah ngaku suka sama lo? Wah berita besar kayak gini gue malah gak dikabarin, jahat.” ujarnya yang langsung didepak oleh Sebastian agar melepaskan rangkulannya.


“Kalo jadian harus PJ, gak mau tau.” tambah cowok itu lagi.


“Iya, tenang.”


🍪Cookie Jar🍪


“Gue lega banget karena lo kabur tadi.”


Cherryl yang baru saja menyamankan duduknya di kursi samping pengemudi langsung terbatuk-batuk karena mendengar ucapan Sebastian yang ia lontarkan begitu saja, memang ya cowok itu nggak pandai membaca situasi.


“Eh sorry, sorry. Mau minum?” tanya si cowok lalu buru-buru menengok ke kursi belakang untuk mengambil botol minum dari tasnya. Tapi Cherryl menahan lengannya.


“Nggak. Erryl gapapa.” jawabnya seraya mengusap leher.


“Ooo, iya.”


Keadaan hening sejenak sampai Sebastian berdeham, “Eum, sorry tadi gue gitu tiba-tiba. Gue tau lo pasti kaget atau bahkan ga nyaman, jadi sorry banget ya, Ryl.”


Si cewek mengulum bibirnya, “Erryl bukan lari karena gak nyaman kok, Seb. Tapi kalo tiba-tiba gitu Erryl malu banget.” cicitnya pelan lalu kembali menutup mukanya yang semakin panas walau pendingin mobil sudah dinyalakan sejak tadi.


“Hhh…Cherryl, Cherryl. Lo bener-bener ya?” ujar Sebastian, mengalihkan pandangannya ke luar jendela karena dia gemas sekali melihat cewek kesayangannya itu malu-malu.


Andai Cherryl yang selama ini berpikir kalau Sebastian nggak pernah gugup saat melakukan hal-hal kayak gitu mengetahui kalau si cowok sebenarnya sudah berusaha keras untuk nggak menunjukkan kegugupannya walau jantungnya juga terasa mau melompat keluar.


“Kalo lo begitu terus gue gak tau bisa nahan sampe kapan, jujur aja.” lanjutnya sembari menyisir rambut menggunakan jari, si cewek hanya bergidik ngeri karena ia nggak paham betul apa maksud cowok itu.


“Apasih, Seb. Ehm, udah ah ayo pulang aja Erryl capek banget seharian acara.” jawab Cherryl yang bermaksud untuk mengalihkan topik, cewek itu menutup matanya lalu menyender pada kaca mobil seakan mengantuk.


Sebastian tersenyum lalu mengangguk walau Cherryl nggak bisa melihatnya, dia menancap gas dengan kecepatan normal dan menyalakan musik agar perjalanan mereka nggak terlalu kaku dan membosankan. Cowok itu juga lelah setelah melewati hari yang panjang, juga setelah cemburu sesaat melihat interaksi antara si cewek cherry dengan Dion tadi.


‘Pengen gue kasih stempel deh palanya supaya gak ada yang berani deketin.’ batin Sebastian sembari tertawa dalam sunyi, cowok itu merasa semakin kurang waras setelah tau kalau perasaannya juga terbalaskan.


Melihat Cherryl tertidur pulas selama perjalanan mengartikan kalau si cewek benar-benar merasa lelah, jadinya kadang saat berhenti karena lampu merah Sebastian hanya akan diam dan memandangi wajahnya sembari menumpukan kepala pada stir mobil.


“I turned out to love you way more than I originally planned, Ryl.”


TBC.