Cookie Jar

Cookie Jar
#27 Konfirmasi



"Jadi...Piye?" ujar Lily melirik Devin dan Cherryl yang mendudukkan diri di depannya.


"Kayaknya, gue bisa nyoba lagi." final Devin yang membuat kedua cewek itu memekik senang.


"Yeay! Akhirnya mataku ndak bakal terbakar ngelihat Jordan joget!" seru Lily seraya mengepalkan tangannya.


"Huh, untung aja Mrs. Erna kemarin masih ngasih gue kesempatan buat ngajakin lo, Dev." ujar Cherryl.


Devin tersenyum tipis, "Makasih kalian nggak nyerah sama gue. Makasih udah dukung gue kayak gini."


Si cewek cherry mengangguk lalu menepuk pelan pundak cowok itu, "Sip, semangat!"


"Tapi, kalian bisa temenin gue pas latihan? Gue belum punya temen..." timpal Devin lagi.


"Walah, gampang itu Devin. Nanti kita-kita usahakan datang pas kalian latihan." jawab Lily seraya mengangkat ibu jarinya.


"Nggak usah sungkan juga kalau ada apa-apa langsung bilang aja. Kita temen lo sekarang." kata Cherryl sedangkan Devin hanya membalas dengan senyuman.


Cowok itu merasa lega dan bersyukur bisa mendapat teman seperti Lily dan Cherryl seperti ini. Dia berharap pertemanan mereka akan berjalan baik ke depannya.


"Misi gan,"


Semua pandangan langsung tertuju pada sosok Sebastian yang ikut mendudukkan diri di sebelah Devin, cowok itu mengulurkan tangannya dan menyodorkan cokelat batangan ke hadapan Cherryl.


"Eh apanih dateng-dateng bawa ginian." sahut Cherryl lalu mengambil cokelatnya.


"Gapapa, tadi sekalian beli minum di supermarket depan sekolah." jawab Sebastian lagi lalu menggenggak minuman yang ia bawa.


"Makasih,"


"Oh iya, Devin. Gimana jadinya?" tanya cowok itu pada orang disebelahnya.


"Gue ikut, Bang." ujar Devin yang mendapat tepukkan pelan oleh sang kakak kelas.


"Sip, gue percaya sama lo."


"Mas Bastian, nanti sore aku sama Cherryl mau nemenin Devin latihan sekalian nungguin Mas bantu-bantu di aula." ujar Lily.


"Ya gapapa, biar gak gabut." kata Sebastian cepat.


"Ohiya Seb, untuk perwakilan lomba perkelas Mrs. Erna nyuruh gue sama Thomas buat ikut ngebagiin brosur. Nanti pulang mampir ke tempat forocopyan dulu yak." kata Cherryl seraya membuka bungkus cokelat.


"Pulang bareng ya?" tanya Devin lalu ketiga orang itu mengangguk serempak.


Devin menatap Lily lalu mengangkat alisnya, "Lo juga? Gue pikir Cherryl sama Bang Sebastian aja."


"Aku juga nginap di rumah Cherryl." sahut Lily lagi.


Cherryl memotong cokelatnya menjadi beberapa bagian lalu membaginya pada Lily dan Devin yang menerima dengan senang hati.


"Thanks, Ryl. Maaf ya Bang cokelatnya gue yang makan juga, hehe." ujar Devin.


Sebastian mengangguk, "Santai aja, terserah Cherryl mau gimana."


"By the way, Abang sama Cherryl udah lama pacaran ya?" tanya Devin dengan tatapan antusias.


"Uhuk-uhuk!"


🍪Cookie Jar🍪


Sebastian menoleh saat Tasya mendatanginya, "Kenapa, Sya?"


"Lo mau bantu-bantu di aula, 'kan? Gue mau ikut boleh? Papa bilang bakal telat jemput, gue males banget nunggu di pos satpam." jawab Tasya seraya duduk di kursi sebelah cowok itu.


Yang diajak bicara hanya mengangguk pelan, tetap fokus membereskan peralatan sekolahnya. Setelah itu Sebastian menyampirkan tasnya ke bahu lalu kembali menatap cewek di depannya, "Ayo."


Tasnya tersenyum lalu berjalan beriringan dengan Sebastian menyusuri lorong sekolah menuju aula. Langkah si cowok terhenti saat ada seorang adik kelas dari angkatan Cherryl menghampiri mereka, "Ah, ternyata Kak Tasya. Pantes aja Kak Sebastian nolak aku."


Cewek bernama lengkap Tasya Gavrilla Saraswati itu mendelik saat mendengar ucapan adik kelas mereka.


"Heh, maksud lo apa?" ucapnya.


Yolanda, adik kelas yang tadi berbicara hanya menggeleng pelan, "Maaf aku ganggu, Kakak-kakak. Permisi." katanya lalu beranjak pergi begitu saja.


Tasnya menatap Sebastian yang hanya diam, "Dia beneran nembak lo?"


Si cowok mengangguk pelan, "Udah jangan dibahas lagi," jawabnya lalu kembali melangkah.


"T-terus maksudnya tuh anak bawa-bawa nama gue apa?" monolog Tasya seraya menatap punggung Sebastian yang sudah berada jauh di depannya. Tanpa disadari, senyuman terbit dari bibir cewek itu.


🍪Cookie Jar🍪


Cherryl menyodorkan botol air kepada Devin yang baru saja selesai evaluasi team dance setelah latihan terakhir untuk hari ini.


"Waduh sampek dibawain minum, makasih ya." kata Devin lalu cewek itu mengangguk.


"Duduk dulu, Vin. Sek keringetan itu," timpal Lily.


Si cowok menurut dan mendudukkan diri di dekat mereka, ia cepat-cepat menenggak air yang diberikan Cherryl tadi.


"Gila, sekali lagi bilang gak bisa dance gue gaplok lo!" kata Cherryl lalu Devin tertawa.


"Sangar, ampun deh. Gue kan belum jago-jago ama–eh eh iya, ga gitu maksudnya." kata Devin yang langsung mendapat tatapan tajam dari Cherryl dan Lily.


"Udah sore, nih. Balik aja kuy, kasian Bang Babas mungkin udah nunggu." lanjut cowok itu lalu berdiri.


Mau tak mau kedua cewek yang sedari tadi menunggunya itu ikut bangkit dan membuntutinya keluar dari ruang dance setelah berpamitan pada yang lainnya.


"Btw rumah lo di mana, Dev?" tanya Cherryl yang sudah bergelayut di lengan Lily sejak tadi.


"Lumayan jauh sih."


"Naik motor sendiri ta?" tanya Lily juga.


"Kan ikut bapak gue, pake motor sendiri kalo bapak ada urusan lain atau ga hadir aja." jawab Devin, Cherryl dan Lily manggut-manggut saja.


"Eh itu Mas Babas," ujar Lily seraya menunjuk Sebastian yang tengah duduk di depan mobilnya, terlihat kelelahan.


"Kasian banget mukanya gitu haha," kata Cherryl lalu melepaskan lengan Lily dan berlari menuju Sebastian.


"Sebbyyyyyyy..." panggilnya lalu menunduk, menatap wajah si cowok yang masih menutup mata.


"Buset kaget."


"Ah elah gitu aja kaget." kata si cewek cherry lalu mengibaskan tangannya ke wajah Sebastian untuk mengipasinya.


"Devin!"


Mereka semua menoleh bersamaan ke arah belakang dan menemukan Pak Indra, guru olahraga di sekolah mereka. Sebastian langsung berdiri, begitupun Cherryl langsung menegakkan tubuhnya yang semula membungkuk di hadapan si cowok.


"Eh, Pak Indra." sahut Lily lalu menunduk sopan.


"Ada yang lain juga, kalian belum pulang?" tanya pak Indra.


"Ini baru mau berangkat pulang, Pak." jawab Cherryl lagi.


"Iya, Pak." sahut Sebastian.


"Yasudah, hati-hati ya semuanya...Jangan lupa pakai sabuk pengaman." nasihat beliau lagi lalu mereka mengangguk patuh.


"Kalian hati-hati ya, makasih buat hari ini. Gue pulang dulu." ujar Devin lalu melambaikan tangan.


"Oke, tiati juga."


"Bapakmu sudah datang, ta?" tanya Lily.


"Eh kalian belum tau, ya? Devin ini putranya Bapak..." sahut Pak Indra yang membuat Lily dan Cherryl terkejut.


"Loh anaknya Pak Indra toh?"


"Iya, hehe." jawab Devin.


"Bapak senang Devin sudah punya teman sekarang, terima kasih ya, dia jarang mau bersosialiasi soalnya." kata Pak Indra lalu mengusap kepala Devin.


"Iya Pak, nggak perlu berterimakasih toh Devin anaknya asik." jawab Sebastian lalu diangguki oleh kedua cewek di sebelahnya.


"Kalau begitu, kami pamit dulu, yaa." ujar beliau lalu keduanya pergi meninggalkan Sebastian, Lily dan Cherryl yang saling tatap.


"Ga nyangka kalo anak guru."


TBC.