Cookie Jar

Cookie Jar
#58 Kebetulan?



Alfian menggedikan bahunya saat Cherryl bertanya apa sudah ada info lanjutan dari Devin, saat ini mereka sudah berkumpul di meja kantin karena sedang jam istirahat setelah gladi kotor untuk acara yang akan diadakan besok lusa, “Terakhir itu dia ngirim foto abis gitu udah centang satu.” sahutnya.


Walaupun nggak seperti para cewek yang kelihatan sekali sedang khawatir, si cowok jangkung dan Sebastian juga sebenarnya kepikiran bagaimana kelancaran lomba yang diikuti adik kelasnya itu. Mereka sih yakin Devin pasti bisa melakukan yang terbaik tapi tetap aja rasanya gelisah.


Thomas yang sedari tadi ikut mendudukan diri di antara mereka menyahut, “Mungkin pas lomba hp harus dimatiin.” ujarnya.


Sebastian mengangguk, “Udah tenang aja Devin pasti ngabarin kok.”


“Ih iya kenapa tadi aku ndak minta nomor Kak Hanan aja ya? Atau ada yang punya nomor Miss Kay?” ujar Lily.


Thomas dengan cepat mengambil ponselnya, “Gue ada nomor Miss Kayleen, bentar deh.” katanya lalu beberapa saat kemudian dia mengirimkan kontak beliau ke Cherryl lewat pesan.


“Oke makasih.” sahut si cewek lalu segera menyapa sang guru dan menanyakan perihal Devin juga lombanya tapi sama saja nggak ada jawaban sampai tiba-tiba ponsel Lily, Cherryl, Alfian, dan Sebastian berbunyi berbarengan karena ada satu pesan masuk ke grup yang mereka buat.


Keempat orang itu dengan sigap membuka ruang obrolan grup dan menekan sebuah gambar yang baru saja dikirimkan oleh Chelsea, Thomas hanya mendempetkan badannya pada Alfian untuk nimbrung melihat foto itu.


“LOH INI KAN DEVIN?” pekik Cherryl terkejut karena Chesa mengirimkan sebuah foto yang menampilkan sosok si cowok yang sedang menari di atas panggung.


Belum sempat mereka membalas, Chesa kembali mengirimkan sebuah video berdurasi tujuh belas detik dan pesan, ‘Liat deh gue ketemu siapa!’ sebagai lampiran.


Di video itu Devin menari dengan sangat luwes dan percaya diri, diiringi alunan musik yang sempat membuat mereka semua lupa akan apa yang sedang terjadi, “Anjir Devin gue sih gak khawatir sama ni anak.” sahut Sebastian kemudian.


Lily dan Cherryl mengangguk, “Kita juga yakin dia bisa, dia keliatan banget serius pas latihan toh.” ujar si cewek berponi sembari mengulang kembali video itu.


Alfian menjadi yang pertama kali mengirim balasan, cowok itu bertanya kenapa Chesa bisa ada di tempat lomba Devin. Tanpa butuh waktu lama si cewek langsung menjawab kalau dia juga hari ini ikut lomba yang sama dan juga gak percaya kalau dia bisa bertemu putera pak Indra itu di sana.


“Wah gila sih, ini mah jodoh.” gumam Alfian nggak habis pikir, kok bisa pas banget kedua orang itu ketemu. Dia bisa membayangkan betapa kagetnya Devin melihat Chelsea, pasti kelihatan lucu.


“Si Devin hoki bener ya.” sahut Sebastian yang diangguki oleh si cowok jangkung dengan cepat.


“Hahah ga kebayang pasti Devin kaget. Seneng juga sih pasti dia kan selama ini bilang terus kalo pengen ngechat Chesa tapi nggak berani.” ujar Cherryl.


Thomas menggaruk kepalanya, “Gatau ah gue ga paham kalian ngomongin apaan.”


“Ya lo sih kemaren gue ajakin ikut KKR kaga mau,” sergah si cewek cherry tapi cowok itu nggak menyahut lagi dan sibuk mengaduk-aduk es tehnya yang sudah memudar karena es batu yang mencair.


“Eh nanti kalo lombanya selesai ajakin si Chesa sama Devin video call deh, kayaknya seru liat mereka satu layar." usul Cherryl yang tentunya mendapat persetujuan penuh dari teman-temannya.


Lily mulai mengetik di ponselnya, “Bilang sek kalo gitu,”


Pesan masuk ke ponsel Chelsea yang membuat si cewek langsung tersenyum lebar, dia tadi kaget banget karena melihat Devin naik ke atas panggung, “Berarti dia liat gue duluan kan?” gumamnya pelan.


Selama sisa waktu yang ada sebelum penampilan cowok itu berakhir, Chesa tetap mengambil video untuk dia simpan di galeri.


“Devin!” sapanya tanpa bersuara pada Devin yang turun dari panggung dengan bercucuran keringat dan tepuk tangan riuh dari orang-orang di ruangan itu.


Setelah menunggu cukup lama sampai peserta terakhir menyelesaikan penampilannya, para pembawa acara memberikan pengumuman kalau mereka semua boleh beristirahat selama dua jam agar para juri juga mendapat waktu untuk mengumpulkan nilai, berdiskusi dan menentukan para pemenang yang terdiri dari juara utama dan juara harapan; satu, dua, tiga.


Chelsea tanpa basa-basi langsung berdiri dan mencari sosok Devin yang masih duduk di bangkunya, membuka grup dan membaca pesan-pesan yang para temannya kirim sejak tadi. Cowok itu menutup mukanya yang sudah memerah sampai ke kuping seperti biasa, dia bahkan nggak menyadari kalau si cewek sudah mendudukkan diri di sebelahnya.


“Devinnn!” panggilnya dengan senyuman lebar, cewek itu juga beberapa kali menepuk pundak si cowok yang tetap bergeming.


Cewek bernama Chelsea Alexandra itu tertawa kencang lalu menepuk-nepuk pundak si cowok untuk menenangkan, “Ih Devin, malu yaa? Udah dong…Masa gue nggak disapa balik?”


Mendengar itu Devin akhirnya membuka mukanya tapi tetap ragu-ragu, “M-maaf.” katanya.


“Lo lucu deh. Eh gue kaget tau liat lo di sini!” ujar si cewek untuk mengalihkan pembicaraan.


Devin mengangguk, “Gue juga kaget.” katanya pelan.


Chesa berdiri dari duduknya lalu menatap ke pintu keluar, “Hmmm kayaknya banyak jajanan deh di luar, gimana kalo nyari camilan sambil ngobrol?” usulnya.


Devin tentu saja nggak mau menyia-nyiakan kesempatan, bertemu cewek yang selama ini sudah membuatnya kangen itu aja sudah bagai sebuah hadiah dari Tuhan. Untung Chesa nggak gengsian sama sekali atau malu-malu seperti dirinya. Dia langsung ikut berdiri lalu mengikuti langkah si cewek melewati kerumunan orang yang berlalu-lalang.


Bahkan dari banyaknya orang di tempat itu, di mata Devin, Chelsea tetaplah yang paling bercahaya. Bahkan dari kejauhan pun cowok itu nggak bakal kesusahan menemukannya. Keduanya mulai berkeliling mencari jajanan sembari mengobrol ini-itu, tapi satu hal yang nggak Devin ingat adalah kalau dia datang ke sana bersama guru dan kakaknya, mereka sudah mencari cowok itu kesana-kemari, ditelfon juga nggak diangkat karena ponsel si cowok sengaja dimasukkan mode hening agar nggak menganggu selama lomba.


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Devin berpikir kalau Chelsea bertemu Elhanan maka keduanya akan canggung dan dia juga pasti kebingungan setengah mati utuk membuka mulut. Masalahnya ia sudah sempat bercerita pada sang kakak soal cewek itu; soal pertemuan mereka dan perasaannya. Tapi ternyata nggak buruk sama sekali, saat ini dia sedang mendudukkan diri di sudut ruangan bersama mereka. Elhanan dan Chesa sedari tadi asik mengobrol bahkan sudah kelihatan akrab sekali seperti teman lama.


“Kok bisa sih?” gumam Devin pelan karena dia nggak habis pikir, kok bisa semudah itu mereka menjadi dekat bahkan setelah bertemu nggak lebih dari tiga puluh menit yang lalu. Apa cewek memang begitu, atau dirinya saja yang terlalu kaku?


“Loh, Dek. Kok diam aja, Chesa kan teman kamu…” ujar Elhanan kemudian yang membuat si cowok tersadar dari lamunannya.


Chesa menatap si cowok lalu tersenyum, “Kakak lo asik, Vin. Lo juga ikut ngobrol dong kita nggak pernah ngobrol banyak tau. Di grup juga lo jarang muncul ‘kan?” sahutnya.


Devin menyengir kaku lalu mengangguk, “Haha maaf kalian asik banget gue jadi bingung mau nimbrung.”


Elhanan berdeham lalu dia berdiri, “Eum kalo gitu gue mau nyari makann dulu, kalian dimakan gih sambil ngobrol. Nanti kirim nomer Chesa ke Kakak ya, Dek.”


Chesa mengangkat ibu jari tangannya, “Oke Kak makasih. Kapan-kapan ketemu lagi ya!”


“Sip!”


“Iya Kak,” sahut Devin kemudian. Cowok itu mengangguk pelan pada sosok kakaknya yang tersenyum penuh arti padanya sebelum menghilang di balik pintu keluar.


“Devin nanti Desember ikut main di rumah Cherryl kan? Gue mau ke sana loh…” ujar si cewek memulai topik.


“Eh, iya? Oh iya gue ikut kok.”


Chelsea mengambil ponselnya, “Lo ada Insta kan? Namanya apa, biar gue follow back.” katanya.


Devin melebarkan matanya, cowok itu juga langsung menarik ponsel dari saku celana lalu memberitahukan nama penggunanya pada si cewek.


“Nah gini kan enak, nanti gue chat ya! Eh btw kebetulan banget ya kita ketemu di sini, sebenernya gue kadang mau ngechat takut gak lo bales haha…”


"Eh, iya?"


.


.


.


.


.


TBC.