
Thomas berdeham lalu mengangguk pelan saat Sebastian bilang kalau dia akan membawa Cherryl untuk berdansa sedangkan si cewek langsung bangkit dari duduknya dengan senyum yang mengembang lalu ia meraih tangan si cowok bergigi kelinci dan merematnya erat.
“By all means!” sahut Cherryl lalu si cowok mengapit lengannya sebelum mereka berjalan beriringan masuk ke dalam kerumunan.
“Wah gila, udah kayak nonton Disney live action aja gue.” ujar Thomas sambil bergidik karena merinding setelah melihat betapa anggunnya kedua orang itu saat berdampingan dengan pakaian pesta resmi.
“Emang lo bisa dansa?” tanya Cherryl ketika mereka sudah berdiri berhadapan, cowok itu agak menundukkan kepalanya saat menatap si cewek yang tentu saja jauh lebih pendek daripada dirinya bahkan setelah menggunakan sepatu hak.
“Gue setiap tahun ikut prom party di sekolah.” jawab Sebastian dengan tenang, dia tersenyum sembari menggenggam tangan si cewek cherry lalu menempatkan keduanya di pundak.
“Lebih enak kayak gini.” tambahnya, kemudian cowok itu menempatkan tangannya di pinggul Cherryl yang sempat membuat adik bungsu dari Irina itu terkesiap karena sejak dulu kalau berdansa sama Thomas mereka sebatas menggenggam tangan saja.
Cherryl menatap lekat wajah Sebastian dengan mata bulat, dirinya berpikir kalau seharusnya dulu dia nggak kaget karena si cowok bilang sudah sering berpacaran sebelumnya. Lihat saja muka ganteng yang berkilau-kilau itu. Rasanya seperti Tinker Bell sedang mabuk dan nggak sengaja menjatuhkan bubuk peri ke atas kepalanya.
“Lo capek?” tanya Sebastian pelan karena Cherryl hanya bergeming dan nggak kunjung menjawab perkataannya.
Cewek itu akhirnya menggeleng pelan lalu mengalihkan matanya ke arah lain, “Ng-nggak.”
Si bungsu dari keluarga Sanjaya itu mengeratkan pegangannya ke pinggul si cewek seraya mereka mulai bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti irama lagu, pikirannya nggak bisa beralih ke mana-mana karena sosok Cherryl sudah memiliki magnet yang sangat kuat untuk menarik perhatiannya.
Ah, sayang sekali kalau malam ini dia juga harus pulang sendirian karena Anggara sudah berpesan kalau cowok itu yang akan menjemput sang adik bungsu kesayangan. Sebastian juga nggak bisa berbuat apa-apa lagi, padahal dia pengen banget menghabiskan waktu lebih lama dengan si cewek.
“Kemaren Kak Dion ngajakin gue jadi pasangan dansanya…” bisik Cherryl pelan, tapi cowok itu hanya mengangguk sebagai tanggapan.
“Lo tolak gimana?” jawabnya.
Cherryl mengulum bibirnya, “Gue bilang gue udah ada lo.”
Salah. Cowok itu langsung meruntuki mulutnya saat itu juga, dia nggak seharusnya bertanya kalau tahu akan seperti ini. Jantungnya berdetak cepat sekali karena si cewek kelihatan menggemaskan banget di matanya saat mengatakan itu, walau dia tau nggak ada alasan khusus kenapa Cherryl bilang begitu tapi dia tetap aja salah tingkah sendiri.
“Bahaya, gue mau karungin lo deh sekarang. Boleh?” tanyanya kemudian yang langsung dibalas injakan kaki setelah si cewek sempat terdiam karena belum paham maksud ucapan dari cowok didepannya.
“Ngeri lo bercandanya, Seb.” katanya sembari mendengus pelan, tapi Sebastian hanya tertawa dan mukanya terlihat senang sih jadi si cewek jadi lega. Karena selama ini, setelah kejadian waktu itu, walaupun kelihatannya mereka menjadi teman dekat lagi tapi raut muka si cowok yang terkadang muram ketara sekali.
“Abis ini kan lo udah gak sesibuk kemaren lagi, mau jalan sama gue?” tanya Sebastian sembari mendekatkan mukanya ke telinga si cewek yang langsung memerah.
“Ehm…Itu, oh, iya…Boleh.” ujar Cherryl yang mendadak bingung, suaranya juga tersendat tanpa aba-aba.
Nggak terasa kalau hari semakin malam dan akhirnya sesi dansa terakhir pun berakhir, sebelum kembali ke tempat duduk masing-masing Sebastian menahan tangan si cewek yang hendak melangkah pergi.
“Kena-”
Cup!
Sebuah kecupan hangat cowok itu berikan di punggung tangan si cewek yang langsung membuat orang-orang di sekitar mereka heboh, mereka benar-benar seperti tokoh dongeng dalam buku.
“Woooo apa-apaan nih!”
“Anjirlah keliatan banget gue jomblonya.”
“Bastian udah kayak Prince Charming hahaha!”
Cherryl sontak menarik tangannya lalu berjalan cepat untuk kembali duduk di posisinya sedangkan si cowok berdiri di tempat, “Apaan? Gue cuma jadi gentleman aja…” ujarnya.
Sebenarnya sih itu hanya alibi, cuma yang lain percaya-percaya saja karena memang kalau di nagara lain hal seperti itu sudah lumrah. Tapi dampaknya buruk bagi jantung Cherryl yang sudah payah memompa oksigen karena serangan dadakan yang tadi ia terima.
“Biasa aja mukanya, Ryl.” sindir Thomas yang bakal merasa puas menggoda temannya itu setelah ini.
Nggak lama setelahnya para guru yang masih ada di ruangan langsung menginstruksikan ketua panitia untuk segera mengakhiri acara karena sudah larut, “Untuk pemenang lomba akan diumumkan di lain waktu ya, terima kasih atas partisipasi kalian semua begitu juga dengan para panitia, pemandu acara dan dewan guru yang sudah hadir di acara malam ini. Bagi yang berniat pulang dimohon langsung pulang ya, jangan ada yang keliaran lagi. yang nginap silahkan masuk ke kelas masing-masing dan segera tidur. Selamat Malam, Tuhan memberkati semuanya!” ujar seorang guru yang merupakan pembina OSIS setelah beliau menutup acara dengan doa.
“Eh gue balik dulu ya, temen-temen. Erryl balik dulu, Sebby! Hati-hati di jalan ya Ly, Andre awas lo ya kalo dia sampe kenapa-napa!”
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
Andre membenarkan posisi spion motornya yang sebelumnya belok karena ditaruhi helm, cowok itu memegang erat gagang kemudi saat Lily berusaha naik ke motor karena gaunnya.
“Miring aja, pegangan ke gue.” ujarnya memecah keheningan karena di sana hanya ada mereka. Sebastian baru saja berpamitan pulang sedangkan Alfian dan Devin memilih untuk menginap di sekolah malam ini.
“Iya, Mas…” balas Lily lalu menuruti ucapan pacarnya itu. Tapi sebelum itu dia melepas sepatu hak yang ia pakai terlebih dulu.
“Udah? Sepatunya sini.” ujar Andre dan si cewek mengangguk pelan sembari menyodorinya sepatu hak milik cewek itu, kemudian tangan si cowok langsung narik kedua tangan Lily agar memeluknya dengan erat.
Lily menyandarkan kepalanya pada punggung si pacar, “Mas apa ndak mau nginep di rumah? Kan masih ada kamar kosong, tadi pagi udah tak bilang Mama katanya boleh kok.”
“Eh, lo beneran bilang? Gue pikir bercanda.” kata si cowok sembari menatap spion motonya walau hanya menampakkan rambut cewek itu aja.
Ande sih nggak keberatan kalau Mama Jeni mengizinkan, apalagi beliau benar-benar terbuka dan menganggap cowok itu bagian dari keluarga. Cowok itu bukan tipe orang yang bisa blak-blakkan menunjukkan perhatiannya pada orang lain, apalagi kalau di tempat umum. Tapi syukurnya Lily sama sekali nggak keberatan dengan itu seakan dia memang paham betul isi hati dan pikiran si cowok.
“Beneran lah, selimut sama kasurnya aja udah tak siapin.” jawab Lily yang sudah nyaman sekali dengan posisinya.
Cewek itu bahkan sudah terlihat sendu karena mengantuk. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menjaga matanya agar tetap terbuka. Bisa-bisa dia tertidur saat mereka sampai di rumah walaupun hanya beberapa menit perjalanan.
Andre bisa merasakan kalau cewek itu sudah sepenuhnya menumpukan badan pada dirinya, cowok itu tertawa pelan lalu menggeleng karena Lily selalu saja begitu bahkan setelah mereka kencan di siang hari yang sinar mataharinya masih terik, dia nggak pernah bisa tetap segar tanpa mengantuk kalau sudah naik motor. Tapi malam ini juga pasti melelahkan baginya.
“Liat nanti di rumah lo aja gimana.” jawab si cowok pelan lalu melajukan motornya perlahan.
.
.
.
.
.
TBC.