Cookie Jar

Cookie Jar
#14 Sayang Cherryl



Cherryl tertawa pelan di antara ketakutannya karena melihat wajah si cowok sudah pucat pasi. Akhirnya cewek itu menarik lengan Sebastian dan menyuruhnya duduk terlebih dulu.


"Katanya mau jagain, tapi sendirinya yang takut." ejek Cherryl.


"E-enggak. Siapa yang takut." jawab Sebastian masih mengelak.


Cherryl menunduk dan menepuk-nepuk punggung tangan Sebastian untuk menenangkannya, "Udah ya, Abang Tian tenang aja. Gak bakalan diganggu, kok."


Sebastian hanya diam diperlakukan seperti itu. Antara gengsi sekaligus malu karena di sana banyak teman-temannya juga yang mentertawakannya.


"Utututu Abang Tian ketakutan." ujar Thomas dan yang lain ikut tertawa.


"Udah ih Kakak-kakak ini. Emangnya gak pada takut, apa?" bela Cherryl dengan tampang sangarnya.


Vino yang kebetulan satu kelompok dengan mereka langsung menyatukan tangannya, "Iyadeh, ampun Nyai. Kita lebih takut sama lo daripada sama setan."


Krakk!


Tepat setelah itu terdengar suara ranting patah dari dekat kebun yang membuat semuanya berteriak kaget, terutama cewek-cewek yang teriak ketakutan. Begitupun Cherryl yang langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Abanggg." seru Cherryl ketakutan yang membuat Sebastian langsung menarik cewek itu ke rengkuhannya.


"Nggak apa-apa, Ryl." katanya.


“Weii ambil kesempatan aja lo, Bas!” celetuk Vino yang mengundang teman-temannya ikut menggoda Sebastian dan si cewek cherry.


"Tenang ya Adik-adik. Jangan ramai, nanti Beliaunya marah." ujar si bapak dan para siswa langsung menutup mulut mereka rapat-rapat, termasuk Cherryl yang awalnya ingin memprotes.


Setelah itu si pemimpin regu memberi kode jika tugasnya sudah selesai dan mereka segera melanjutkan ke tempat berikutnya setelah berpamitan pada si bapak penjaga pos. Mereka akhirnya sampai di sebuah lapangan rumput yang tak begitu luas dan di sana sudah ada pak Gilang juga satu bapak lain yang menjaga pos kedua. Beliau menyuruh mereka untuk berbaris dan melakukan PBB yang dipimpin oleh pak Gilang selaku salah satu pembina pramuka di sekolah mereka.


"Duh, Pak. Malam-malam kok disuruh PBB, sih?" ujar seorang siswi.


"Di dalam barisan ga boleh ngomong ya." jawab pak Gilang.


Beliau menyuruh mereka untuk sikap hormat dan terus begitu hingga beberapa menit. Tangan mereka rasanya sudah mati rasa karena dingin yang menusuk di tengah malam begini.


"Hormat tuh kalian sama bapak-bapak yang ada di depan." ujar pak Gilang yang mengundang jeritan resah anak-anak.


"Tolong ya, Pak. Jangan nakut-nakuti kami lagi. Di depan nggak ada orang, Pak." celetuk Vino yang mendapat posisi paling belakang.


"Loh, siapa bilang?" sahut pak Gilang lagi yang membuat mereka semakin ketakutan.


"Pak saya capek." ujar salah satu siswi yang diangguki oleh teman-temannya.


Akhirnya pak Gilang menyudahi sikap hormat dan memberi aba-aba dasar.


"Pak, Pak. Cherryl gak kuat, Pak." kata Gina, salah satu teman sekelas Sebastian yang berdiri di belakang cewek yang tubuhnya sudah hampir tumbang itu.


"Waduh Cherryl keluar aja dari barisan, Nak. Duduk dulu." ujar pak Gilang yang langsung menyuruh Gina memapah tubuh cewek itu ke pinggir lapangan.


"Sebaiknya diantar kembali ke perkemahan saja, Pak. Tidak baik kalau lemas-lemas begini, takutnya ada kejadian yang tidak diinginkan." ujar si bapak yang daritadi menemani pak Gilang.


"Gina, kamu mau ngantar Cherryl?" tanya pak Gilang dan tentu saja cewek itu menggeleng.


"Duh, Pak. Saya nggak berani kalau gelap-gelap." katanya cepat.


"Bas, cewek lo tuh anterin balik." ujar Vino yang mendapat tepukkan dari Thomas.


"Jangan bercanda mulu anjir, kasian." katanya.


"Pak mending Sebastian aja yang ngantar balik ke perkemahan. Mereka teman sejak kecil," ujar Valen yang merupakan pemimpin regu.


"Bagaimana, Sebastian, kamu mau?" tanya pak Gilang.


"Iya, Pak biar saya yang ngantar." kata Sebastian.


"Kalau begitu, Bapak, sampean bisa tolong antar mereka juga? Takutnya malah kesasar." minta pak Gilang pada bapak satunya.


Bapak itu mengangguk, "Bisa, bisa. Mari, Dek."


Beliau memimpin jalan sedangkan Sebastian memapah tubuh Cherryl yang sudah menggigil di sampingnya.


"Kalo capek bilang ya, Erryl." kata Sebastian dan Cherryl mengangguk pelan.


Si cowok cepat-cepat menggeleng, "Nggak ngerepotin kok, gapapa."


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Sebastian mendudukkan dirinya setelah mengambil satu pack bye bye fever yang ia temukan di tumpukkan obat dalam kotak merah lalu membukanya dan menempelkan benda itu ke kening Cherryl yang sudah terlelap dengan keadaan menggigil dan demam.


Cowok itu menempelkannya dengan perlahan agar si cewek tidak terbangun, "Alerginya sih gak kambuh, tapi malah gini. Ryl, Ryl."


Sebastian meliril notifikasi yang masuk kedalam ponselnya, "Yes akhirnya ada sinyal." katanya lalu berusaha menelfon Irina tetapi sinyalnya hilang lagi.


"Ah elah, di php-in gue." katanya kesal lalu menyimpan benda itu kembali ke dalam saku.


Saat ia kembali ke perkemahan, sudah sangat sepi karena semua orang pergi untuk jurit malam. Begitupun bapak yang mengantar mereka sudah kembali ke tempat tadi untuk menemani pak Gilang. Di perkemahan hanya ada Bu Sinta yang kebetulan ditugaskan untuk menjaga tenda guru. Beliau tadi sempat mengantar Cherryl tetapi tidak lama karena harus kembali ke tenda. Beliau menyuruh cowok itu untuk menjaganya sebentar hingga guru lain datang.


Mata Sebastian menyusuri setiap sudut tenda yang ukurannya cukup besar yang memang dikhususkan untuk ruang kesehatan. Ia menemukan tumpukkan selimut dan mengambil dua lipat. Satunya ia lampirkan ke tubuh Cherryl sedangkan yang lain ia gunakan untuk menutupi tubuhnya yang ikut menggigil. Cowok itu menggeser kursinya mendekat pada kasur lipat dan meraih pergelangan tangan Cherryl lalu mengusap-usapnya. Bermaksud untuk menghangatkan tangan keduanya yang membiru karena dingin.


Sebastian terdiam memandang wajah si cewek yang tampak damai dalam tidurnya, dan tiba-tiba ia teringat akan kata-kata yang diucapkan Chintya tadi. Tiba-tiba saja matanya beralih menatap bibir cherry milik si cewek lekat.


Cepat-cepat Sebastian menggeleng, "Udah gila kayaknya gue, Ryl. Apa...Gue suka sama lo?" monolognya dengan suara pelan lalu mengusap puncak kepala Cherryl dengan sayang.


"Hmm...Enggak, Ryl. Gue terlalu takut buat ngebiarin itu." lanjutnya.


"Tapi gue bakal selalu jagain lo. Jagain hati lo dari siapapun yang bisa nyakitin lo. Termasuk diri gue sendiri." kata Sebastian lalu tersenyum simpul.


Cup!


Satu kecupan singkat mendarat di kening Cherryl, "Duh, adek kesayangan Babas. Sehat terus ya, Dek."


Baru saja cowok itu akan berdiri untuk melihat apa yang lain sudah datang, ia merasakan tarikan pelan dari ujung jaketnya yang membuat Sebastian menoleh.


Ia menatap tangan Cherryl yang menggenggam ujung jaketnya erat dengan mata masih terpejam.


"Abangg...Jangan tinggalin Erryl." lirih si cewel yang ternyata mengigau.


Sebastian tertawa kecil, kembali duduk dan meraih tangan si cewek lalu menggenggamnya.


"Erryl tenang aja, ya? Abang disini kok. Udah Erryl tidur aja, Abang gak bakal kemana-mana."


.


.


.


.


.


TBC.


Jangan lupa vote + comment!