
Devin menepuk pelan pundak Lily setelah mendudukan diri di sand chair yang berada di sebelah cewek itu, “Gue pikir Andre sama Bang Fian ikut.” ujarnya, membuka percakapan.
“Pada nggak bisa, gatau deh.” jawab si cewek sembari menggedikan bahunya.
“Oh iya persiapan lomba kamu gimana, Vin?” tambahnya yang membuat Devin menoleh lalu memasang wajah berpikir.
“Udah mulai latihan sih, walau masih agak gimana gitu soalnya gue dilatih sendirian doang.” jawab si cowok lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
“Yah maaf banget deh aku sama Cherryl nggak bisa nemeni kayak biasa…”
Devin meggeleng pelan, “Santai aja, gue ngerti kondisi kok. Lagian nanti pas lomba kakak bakal nemenin hehe.”
Lily melirik sosok Elhanan yang sudah terlihat lebih akrab dengan yang lainnya, “Aku baru tau kamu punya kakak loh, perasaan dulu pas SMP ndak pernah lihat.” ujarnya.
“Dia emang nggak pernah ke sekolah gue sih, sejak lulus SMP juga dia udah merantau. Ini aja baru balik setelah dua tahun.” jelas si cowok yang membuat cewek itu mengangguk-anggukan kepalanya.
Dua orang waiter datang membawa beberapa gelas minuman dan cake yang sebelumnya sudah mereka pesan, Elhanan yang duduk paling ujung langsung berdiri untuk membantu mereka menyimpan gelas-gelas minuman itu ke atas meja.
“Wah makasih yaa…”
“Maaf Kak masih ada dua lagi di bawah, setelah ini saya bawakan ya.” ujar salah satu waiter yang dibalas dengan ramah oleh mereka.
Anggara menyomot satu-satunya gelas berisi milkshake cokelat yang ada di meja lalu segera menyedotnya dengan sedotan, Elhanan yang duduk bersebrangan dengan si cowok menatapnya dalam diam tapi Puteri menyadari itu lalu tertawa pelan.
“Dia emang kayak bocil sukanya susu cokelat, Nan. Ngeliatinnya biasa aja hahaha.” ujar si cewek yang membuat teman barunya itu tersenyum kaku karena Anggara malah jadi ikut menatapnya.
“Nggak kok, gue juga suka susu cokelat.” kata Elhanan pelan yang dihadiahi beragam tanggapan dari yang lain.
Nggak ada yang menyadari kalau sedari tadi atensi kakaknya Devin itu selalu tertuju pada Anggara, yang lainnya juga sempat menyinggung sedikit soal pacar masing-masing. Irina dengan Max, Gigi dengan Dean, Puteri dengan Ray, Gilang sih terang-terangan mengaku kalau dirinya masih jomblo sedangkan Farrel dan Anggara nggak memberikan komentar apa-apa. Elhanan jadi mulai berpikir kalau Anggara belum punya pacar, setidaknya masih ada kesempatan, cewek itu juga sempat mengaku kalau masih sendiri saat ditanyai tadi.
Awalnya sih dia pikir semuanya akan berjalan lancar sampai Gilang semakin gencar mengajaknya mengobrol, bertanya ini itu seputar kehidupannya, sedangkan Anggara nggak memberikan sedikitpun atensi pada ceritanya. Cowok itu asik mengobrol dengan Dean ataupun Farrel yang duduk di kursi sebelah.
“Kalau masih lama di sini, kapan-kapan jalan sama gue mau?” ujar Gilang dengan suara pelan agar nggak menarik perhatian teman-temannya.
Elhanan melebarkan matanya lalu dia diam sejenak, “O-oh iya, boleh…” katanya kemudian karena nggak enak hati kalau menolak, cowok itu sudah bersikap baik dan sopan padanya sejak pertemuan pertama mereka dan ia bukanlah tipe yang mudah menolak orang lain.
Gilang yang sudah tertarik pada Elhanan pun langsung bersorak senang dalam hati, dia sih nggak berharap banyak tapi mungkin kalau cewek itu mengizinkan dia mau lebih mengenalnya. Siapa tahu cocok, ‘kan?
“Yaudah nanti gue chat ya, Nan.” balas si cowok yang hanya dibalas anggukan setuju oleh cewek di sebelahnya.
Setelah itu seorang waiter yang tadi datang membawa satu nampan dengan dua gelas minuman di atasnya, tapi saat mencoba untuk memindahkan satu gelas, tangannya yang satu lagi jadi nggak stabil dan sempat hampir jatuh dan sedikit tumpahan membasahi celana putih yang dipakai oleh Elhanan dan membuat keadaan jadi ribut karena mereka semua kaget melihatnya, untung si waiter bisa dengan sigap membenarkan posisi tangannya hingga gelas yang ada di nampan nggak benar-benar jatuh.
“Maaf, Kak!”
Elhanan berujar, “Nggak apa-apa kok, Kak! Eum, toiletnya di mana ya?” tanyanya kemudian lalu Gigi berdiri untuk menunjukkan jalan ke toilet di lantai dua sedangkan si waiter undur diri setelah meminta maaf sungguh-sungguh.
Setelah mencoba untuk mengusap celananya dengan air, bercak cokelat dari lemon tea nggak bisa hilang dan kelihatan aneh sekali karena posisinya di kedua paha depan. Gigi menyuruh cewek itu untuk menunggu sebentar sedangkan ia kembali untuk meminjam jaket atau apapun yang bisa dijadikan penutup sementara.
“Gimana si Hanan, Gi?” tanya Puteri saat melihat sang sahabat muncul.
“Gabisa ilang itu warnanya, celana dia putih sih. Ada yang bawa jaket?” tanya Gigi dan mereka menggelengkan kepala secara serentak karena memang nggak ada satupun yang membawa jaket ke sana bahkan Devin pun ikut bingung karena kejadian yang menimpa kakaknya barusan.
Satu-satunya orang yang memakai jaket tadi hanya Cherryl dan cewek itu juga belum kembali sejak tadi pergi bersama si bungsu keluarga Sanjaya.
“Oh, gue kayaknya ada tapi di mobil.”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah sepuluh menit sejak percakapan terakhir yang terjadi di antara Sebastian dan Cherryl, saat ini keduanya masih cukup canggung untuk berbicara satu sama lain dan larut dalam pikirannya masing-masing sembari diiringi alunan lagu yang diputar oleh si cowok. Mereka lega karena akhirnya bisa kembali menghabiskan waktu bersama untuk mengobrol walau hanya sebentar dan nggak terlalu lancar seperti dulu. Si cewek cherry juga masih perlu waktu untuk benar-benar memastikan perasaannya sebelum memutuskan, sedangkan si cowok bergigi kelinci setuju untuk menunggu.
Keduanya sudah berjanji untuk saling membalas pesan dan kumpul bareng di sekolah, menjalin pertemanan biasa untuk sementara ini. Sebastian akan mulai bercerita sedikit demi sedikit pada Cherryl ke depannya nanti.
“Lo cerita ke Karin, Ryl?” tanya Sebastian memecah keheningan.
Yang ditanyai menoleh lalu menggeleng, “Nggak, itu kan privasi lo.” jawabnya.
Si cowok mengangguk, “Makasih.” jawabnya.
“Sebenernya gue udah cerita ke Bang Farrel, soal kita.” tambahnya yang membuat mata bundar Cherryl melebar.
“Serius? Terus katanya gimana?” tanyanya sembari menegakkan posisi duduknya yang sedari tadi makin merosot.
Sebastian melirik cewek itu lalu tersenyum, “Dia setuju-setuju aja. Malah dukung gue buat baikkan sama lo…”
“Ohhh makannya tadi Kak Dev maksa kita berdua yang beli jajannya, ternyata kalian sekongkolan ya.” sahut Cherryl yang membuat cowok di sebelahnya itu menyengir.
“Hehe, gue udah greget banget pengen ngobrol sama lo. Jadi ya gitu…Tapi makasih ya Ryl lo masih mau baikkan sama gue.” ujarnya.
“Iya…Toh lo juga udah jujur jadi gue juga makasih, Seb.”
Mereka sih ingin mengobrol lebih lama lagi tapi nggak kerasa ternyata mobil sudah kembali masuk ke pekarangan café. Kedua orang itu turun dan masuk tapi sebelum naik ke lantai tiga membawa tiga kantung berisi makanan ringan, mereka memesan minuman terlebih dulu karena sebelumnya Farrel sudah mengirim pesan kalau mereka nggak dipesankan minum.
“Wehhh banyak bener…” ujar Dean lalu dia berdiri bersama Raymond dan Gilang untuk menyerbu kantung-kantung belanjaan yang dibawa oleh Sebastian ke dalam ruangan dan mengobrak-abrik isinya demi mencari jajanan yang menarik untuk dimakan sebelum diserahkan ke atas meja agar bisa dimakan bersama-sama.
Farrel bertatapan dengan Sebastian lalu menaikkan alisnya, “Gimana?” tanyanya tanpa suara lalu si adik mengacungkan jempolnya yang membuat cowok itu tersenyum lebar dan melanjutkan berita baik itu pada Irina lewat pesan.
Alex mencondongkan tubuhnya untuk merangkul Irina yang tersenyum sendiri menatap ponselnya, “Ada apa sih, Yang?” tanyanya sembari berbisik lalu si cewek menyandarkan kepalanya ke bahu sang calon suami.
“Erryl sama Babas udah baikkan, katanya. Hehe.”
.
.
.
.
.
TBC.