Cookie Jar

Cookie Jar
#65 Hari Pertama Liburan



Pagi-pagi sekali waktu matahari bahkan belum siap untuk menunjukkan dirinya, Cherryl sudah duduk di sofa ruang tengah bersama Lily dan Chesa sembari menyantap roti lapis selai stroberi yang sebelumnya mereka buat bersama. Ketiga cewek itu sedang menunggu kedatangan para cowok yang akan bergabung untuk jogging bersama sebagai acara pertama yang mereka tulis dalam daftar hal-hal yang akan dilakukan selama liburan ke depan.


“Gue biasanya lebih sering pake spread cheese tapi ini enak juga.” ujar Chesa yang masih sibuk mengunyah.


Lily mengangguk, “Aku sebelum kenal Cherryl malah ndak suka stroberi sama sekali. Diracunin dia terus akhirnya jadi suka deh…” sahutnya.


Cherryl menarik kedua sudut bibirnya dengan lebar sampai-sampai matanya ikut tersenyum, “Hehe, gue emang suka ngeracunin orang. Kayak Bang Angga tuh dulu dia gak suka banget sama susu, sekarang jadi pecandu.” katanya lalu mereka bertiga tertawa pelan.


“Eh btw gimana sama Kak Babas, gue bingung deh lo sama dia itu pacaran apa nggak.” kata Chesa yang hampir membuat si cewek cherry tersedak sedangkan Lily langsung sigap menyodorinya segelas susu yang ada di atas meja.


“Sorry, sorry.”


“Ehem, duh. Gapapa, gue kaget aja hahaha…” ujar Cherryl setelah menenggak minumannya.


Cewek itu mempoutkan bibir sembari menunduk, mengamati gelas yang ia genggam dengan kedua tangan seperti orang yang sedang mencari kehangatan di mug cokelat panas, “Soal itu, ya kayak cerita gue kemaren. Masih belum tau ke depannya bakal gimana. Sebenernya setelah renggang itu gue udah biasa aja. Gue juga tau kalo Sebby mungkin terbebani sama gue yang belum jelas ini. Tapi ya gimana, gue gak mau maksain nanti kesannya gak tulus ‘kan?” katanya dengan suara pelan.


Cherryl memang memberitahu kedua temannya itu soal kerenggangan hubungannya dengan Sebastian, tapi hanya sebatas itu aja. Dia sama sekali nggak menjelaskan soal detail masalah yang mereka hadapi. Lily juga sudah bilang si cowok juga berjanji akan menunggu apapun keputusannya, jadi ia juga nggak perlu merasa terbebani.


“Ohh berarti saling suka ya, udah jelas, tinggal official aja.” sahut Chesa sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


“Ya begitulah…”


Nggak lama kemudian sebuah pesan masuk ke ponsel milik Chelsea, itu dari Devin yang bilang kalau si cowok sudah berdiri di depan rumah tapi nggak mau menekan bel karena pasti suaranya akan menganggu. Setelah dia memberitahu Cherryl, si cewek segera beranjak untuk membukakan kunci pintu utama diikuti oleh yang lainnya.


“Ah, shalom!” sapa Devin yang berdiri di depan pintu, cowok itu mengenakan kaus abu-abu dan celana training serta sepasang sepatu Converse putih dan tas pinggang hitam yang menempel di pinggulnya.


“Shalom. Ayo masuk dulu yang lain belum pada dateng.” sahut si cewek cherry lalu memimpin langkah kembali ke ruang tengah sedangkan Chesa segera menghampiri si cowok dan membuka obrolan.


Cewek itu menyamakan langkah dengan Devin sembari menatap dan tersenyum, “Dianter Kak Anan?” tanyanya, lalu si cowok mengangguk sebagai jawaban.


“Tadi udah gue ajakin sih cuma gak mau katanya mager, haha.” timpalnya,


Setelah melewati beberapa waktu, satu-persatu cowok lain datang; Andre, Alfian, Thomas, dan pastinya Sebastian. Tanpa basa-basi lagi mereka semua langsung masuk ke dalam mobil milik Sebastian untuk berangkat ke area taman kota tempat mereka jogging.


Setelah memarkirkan mobil mereka langsung mulai berlari, Sebastian dengan Cherryl memimpin di depan, Lily dengan Andre, Chelsea dengan Devin dan Thomas dengan Alfian yang menyusul di barisan paling belakang.


“Untung lo mau gue ajak, kalo nggak bisa jadi obat nyamuk keliling gue.” ujar Alfian pada Thomas yang langsung tertawa dan menepuk pundaknya.


“Gue juga sedih ngeliat lo, Bang.” jawabnya yang dihadiahi tatapan kesal dari si kakak kelas.


“Kayak punya cewek aja lo.” cibir Alfian, cowok itu sih nggak marah dan cuma mau bercanda aja tapi ekspresi yang dipasang oleh Thomas membuatnya nggak nyaman dan sontak menghentikan langkah.


Cowok yang dikenal sebagai salah satu anak unggulan di kelasnya itu mengalihkan mata sembari menggaruk lehernya, “Heh apa-apaan, lo beneran ada cewek?” tanya Alfian dengan tatapan penasaran.


“Gue gak bilang apa-apa tau, udah ah ayo tuh yang lain udah jauh banget di depan. Ayo cepet!" jawab Thomas lalu mendorong si kakak kelas untuk kembali berlari.


Walaupun jarang ikut kumpul bareng, Alfian juga cukup dekat dengan Thomas sejak cowok itu masuk ke sekolah dan menjadi juniornya di ekstrakulikuler basket. Dia tahu kalau Thomas bukan anak yang suka mengumbar-ubar hal yang terlalu personal tapi tetap saja. Kalau si adik kelas saja sudah punya cewek, masa dia sendirian yang belum?!


“Siapa sih, Mas? Masa punya cewek sih lo? Ah ninggalin gue jahat banget…” rengeknya sembari berlari dengan lesu sedangkan Thomas hanya geleng-geleng kepala.


“Nggak, Bang. Yaelah.” jawabnya.


Jauh di depan mereka Devin sedang asik berbincang dengan Chelsea, si cewek banyak bertanya soal perkembangan skill dance si cowok dan juga sempat bertanya soal kelancaran ujian kemarin.


“Eh nanti gue mau dong main ke rumah lo, boleh?” tanya Chelsea tiba-tiba, kalau saja cewek itu tahu bagaimana cepatnya jantung si cowok berdetak karena pertanyaannya. Ditambah dia juga menatap dengan mata sipitnya yang sangat manis di mata Devin.


“Kok diem aja sih, Vin?” tanya Chesa lagi, lari mereka juga agak melambat karena kecapekan sambil mengobrol sejak tadi.


“O-oh iya, boleh kok. Kak Hanan juga bilang mau ketemu lo lagi, kalo emang lagi gak ngapa-ngapain di rumah Cherryl bilang aja nanti gue jemput.” jawab si cowok yang dihadiahi anggukan oleh cewek itu.


“Janji ya!”


🍪Cookie Jar🍪


“Ihh Seb, bentaran dong. Kaki gue gak sepanjang punya lo, tau!” gerutu Cherryl lalu menghentak-hentakkan kakinya kesal karena daritadi si cowok nggak mau memperlambat langkahnya padahal mereka lagi mengobrol.


Cowok itu tertawa karena gemas dan akhirnya menghampiri si cewek dan menarik lengannya pelan, “Lama banget sih, siapa suruh punya kaki pendek?” jawabnya bercanda.


Cherryl menatapnya malas, “Ciptaan Tuhan, tau! Gaboleh gitu.” katanya.


Sebastian tersenyum lebar lalu mengelus kepala cewek itu lembut, “Iya yaudah maaf, jalan aja kalo gitu. Capek ‘kan?” katanya.


Percakapan mereka sempat terhenti karena Lily dan Andre yang menyalip, yang lainnya juga semakin dekat dan akhirnya didahului juga oleh Alfian dan Thomas sedangkan Devin dengan Chesa asik mengobrol sembari berjalan santai jadi nggak mungkin mereka ada di posisi depan.


“Haha dua sejoli asik banget ya. Lucu deh si Devin kalo ada kita malu-malu kucing tapi kalo cuma berdua lancar banget ngomongnya.” ujar Cherryl pelan setelah mereka mengamati kedua temannya itu sejenak sebelum kembali melangkahkan kaki.


“Kita juga lucu.” timpal Sebastian yang membuat cewek itu memijat pelan pelipisnya.


“Pusing gue sama lo, Seb.”


“Kalo pusing pegangan dong, sini sama gue dijamin kokoh.” kata si cowok lagi yang akhirnya mendapat cubitan pelan.


Si bungsu dari keluarga Sanjaya itu mengambil beberapa langkah menjauh dari Cherryl, “A-au! Iya iya canda ih.” katanya sembari mengusap lengan.


Dia senang deh kalau akhir-akhir ini walaupun nggak begitu jelas tapi hubungan mereka mulai ada perkembangan. Garis yang sebelumnya tertilat jelas pelan-pelan memudar. Cherryl juga sudah nggak terlihat kurang nyaman lagi kalau mendapat afeksi terang-terangan dari Sebastian; seperti saling rangkul atau sekedar usapan pelan di kepala.


“Lo lucu deh, pengen gue karungin.” kata si cowok tiba-tiba yang membuat cewek itu melebarkan matanya lalu menutup muka dengan telapak tangan karena malu banget.


“Ihh Sebby apasihh…” cicitnya yang kembali membuat Sebastian tertawa lepas.


“Hhhh, bisa gawat kalo lo begini terus, Ryl.”


TBC.