Cookie Jar

Cookie Jar
#41 Undangan KKR



Hari sudah berganti sampai ke akhir minggu, seperti biasanya setiap Sabtu sore Cherryl akan datang ke gereja untuk mengikuti Persekutuan Pemuda-remaja. Acara dimulai pukul lima dan selesai kurang lebih pukul setengah tujuh malam. Biasanya dia akan pergi bersama Irina dan Anggara tapi kali ini Sebastian juga akan datang setelah beberapa kali diingatkan oleh cewek itu. Si cowok bergigi kelinci memang selalu ikut ibadah di hari Minggu tapi susah sekali untuk diajak datang ke persekutuan entah karena apa.


“Kalian masuk duluan aja, Babas parkir mobil dulu.” ujar Sebastian saat mereka sudah masuk ke kawasan gereja.


Irina dan Anggara setuju lalu keduanya turun terlebih dahulu sedangkan Cherryl bilang akan menemani si cowok. Beberapa saat kemudian keduanya masuk secara beriringan ke dalam, ternyata banyak orang yang sudah datang. Mereka sih sudah mengenal kedua orang itu, apalagi Sebastian sempat menjadi perbincangan hangat sejak si cowok ikut beribadah di sana. Maka dari itu mereka mendapat banyak sapaan, terutama Yesabelle yang bisa dibilang berteman dekat dengan si cewek cherry yang segera menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya.


Selang beberapa waktu kemudian empat orang yang bertugas untuk bermain musik serta Adriella sebagai worship leader maju ke depan dan persekutuan dimulai dengan doa. Selama acara berlangsung beberapa kali cewek yang kerap disapa Ella itu menegur teman-teman yang malah sibuk dengan ponsel mereka, tapi secara keseluruhan semuanya berjalan dengan baik sampai akhir.


“Untuk pengumuman dipersilahkan pada pengurus…” ujar Ella lalu melangkah ke samping untuk memberi ruang pada siapapun yang akan memberikan pengumuman tambahan.


Irina berdiri dan maju ke depan, “Malam semuanya, pengumuman untuk minggu depan kita nggak bakal ibadah di sini ya soalnya dapat undangan KKR Remaja Pemuda ke kota lain untuk wilayah empat sama lima. Kumpul di sini jam dua sore, jam tiga udah berangkat naik mobil gereja karena tempatnya cukup jauh. Buat temen-temen yang mau ikut isi list yang gue kirim ke grup ya, mau ajak temen lain juga nggak apa-apa. Udah itu aja, kalau emang ada tambahan pasti gue kabarin. Terima kasih.” jelasnya lalu kembali ke posisi semula.


“Thanks Ce Irina buat pengumumannya, sekarang kita nyanyikan satu lagu lagi dan dimohon Juan pimpin kita dalam doa penutup…”


Setelah selesai banyak yang masih diam di gereja untuk berbincang dan menghabiskan waktu mereka karena bosan di rumah. Ada juga yang bergegas pergi untuk melam Mingguan bersama pacar masing-masing.


“Bas, ngajak Lily sama yang lain yuk? Kayaknya seru deh kalo KKR Wilayah begitu.” ujar Cherryl agak berbisik.


“Terserah aja sih, kalo mereka mau nanti bawa mobil sendiri aja kita.” jawabnya.


Si cewek menggeleng, “Jangan dong, emang lo tau tempatnya? Acaranya aja udah lama kalo nyetir lagi tambah capek, nggak deket loh Seb. Belum kalo macet.” jawabnya tidak setuju.


Sebastian mengangguk-anggukan kepalanya, “Bisa pake Maps sih kalo soal tempat. Tapi kalo dipikir-pikir iya juga ya di sini kalo macet nggak kira-kira.” balasnya.


“Eh bentar,” ujar Cherryl lalu membuka sesuatu dari ponselnya dan menunjukkan itu pada si cowok.


“Erryl ada checkout jaket denim iniii. Dua, hehe. Satu buat Erryl satu buat Sebby. Nanti pake ini ya?” katanya bersemangat yang membuat Sebastian menunduk sembari menyisir rambutnya dengan jari karena menahan diri agar nggak macam-macam sama si cewek yang membuatnya gemas banget itu.


Cherryl bingung melihat tingkah cowok itu, dia juga was-was menatap ke sekeliling karena yang lainnya juga menatapi Sebastian aneh, “Seb! Kenapa sih? Diliatin tau…” bisiknya lagi.


“Parah lo ah gatau situasi banget.” ujar Sebastian, ia sontak menegakkan duduknya lalu beranjak menghampiri Anggara yang duduk berkumpul dengan beberapa cowok lain, dia nimbrung dengan mereka dan meninggalkan si cewek bermata bulat sendirian begitu saja.


“Ihhh, apanya yang nggak tau situasi?!!” kesal cewek itu dan mukanya menekuk, padahal dia berharap si cowok setidaknya menunjukkan rasa senang atau apalah, bukannya mengatakan hal yang nggak jelas maksudnya seperti itu.


Mereka masih berada di situ lebih dari satu jam kemudian hingga akhirnya memutuskan untuk bubar. Karena kesal Cherryl nggak mau duduk di depan menemani Sebastian, jadinya dia duduk di belakang sama Irina.


“Heh, kenapa sih? Abis ibadah bukannya dapat sukacita malah cemberut begini.” goda Anggara lalu mencomot bibir si adik bungsu yang manyun, tentu saja si cewek yang nggak terima langsung mendepak tangan kakaknya itu.


“Abanggg!” rengeknya.


“Angga, udah deh.” sergah Irina membela si bungsu yang langsung menggaet lengannya. Sedangkan para cowok di barisan depan tertawa melihat kelakuan Cherryl yang nggak menentu itu.


Ya walau Sebastian paham banget dia kenapa, tapi tetap saja cewek itu harus paham tempat kalau ingin membuatnya berdebar di lain waktu. Kan berbahaya.


“Udah lama deh abang gak liat Erryl kayak gini, haha. Sekarang kan udah jarang ngambek. Sejak ada Babas sih. Gak seru ah.” ujar Anggara lalu menoel pelan lengan cowok di sampingnya itu.


“Dia yang belajar sendiri Bang, gue kaga ngapa-ngapain.” sahut Sebastian, masih fokus menyetir.


“Ngaco nih Abang. Adeknya udah belajar supaya nggak kayak bocil lagi malah dikatain nggak seru. Kalo Karin mah dukung banget, iya nggak Karin?” celetuk Cherryl yang dihadiahi anggukan oleh si sulung.


“Si Angga mah sesat, jangan didengerin, Dek. Bagus kok Adek sekarang udah keliatan banget self developmentnya. Babas juga makasih udah bantu bina Erryl yaa.” jawabnya yang membuat Sebastian mengangguk pelan sebagai jawaban.


“Hehe santai aja Karin, toh dia sendiri yang mau berubah. Babas cuma jadi supporter doang.” elaknya kemudian.


Jujur saja kalau bukan karena gengsi sama Sebastian, Cherryl sekarang pasti sudah tersenyum senang. Dia terharu mengetahui kalau banyak yang mendukungnya untuk jadi lebih baik, cewek itu juga tau kalau apa yang diucapkan oleh Anggara hanyalah gurauan belaka. Jauh di lubuk hatinya pasti cowok itu juga senang melihat perkembangan karakter sang adik kesayangan.


“Oiya Babas nginap aja ya malam ini kita begadang bareng, gue baru beli kartu UNO kemaren. Besok kan ibadahnya sore.” ujar Anggara yang disetujui oleh Sebastian dan Irina.


Cherryl yang mendengar itu mendengus dalam diam, moodnya saja belum membaik tapi mau nggak mau cewek itu juga harus ikut nimbrung kalau sudah begini. Kedua kakaknya itu nggak bakal biarin dia undur diri seperti biasanya.


“Kalo gitu mampir beli makanan dulu ya.”


🍪Cookie Jar🍪


“Yaelah Ryl, masih marah?” tanya Sebastian pelan saat Cherryl menolak saat cowok itu mau menggandeng tangannya setelah turun dari mobil.


“Nggak, tapi kita kan mau ke sekolah Sebb…” sergah cewek yang kali ini mengikat rambutnya ke belakang itu lalu mendorong si cowok pelan agar berjalan di depannya.


“Gaada orang juga di sini, lo sih ngajak dateng pagi-pagi banget.” balas si cowok dengan nada melas.


Keduanya berjalan beriringan melewati lorong sekolah sampai atensi mereka tertuju pada segerombolan cewek yang mengerumuni kelas Cherryl, “Hah ada apaan nih pagi-pagi?” tanyanya.


Sebastian bergidik, “Nggak tau lah kita kan sama-sama baru sampe.”


Setelah itu keduanya berjalan mendekat, ternyata mereka adalah adik kelas yang mendadak jadi penggemar Devin setelah penampilannya di acara Tujuh Belas Agustus kemarin bersama tim dance performance. Awalnya Cherryl kira nggak akan sampai begini karena toh minggu lalu keadaanya aman-aman aja, tapi hari ini ternyata lumayan banyak yang mendatangi cowok itu.


“Haha kasian banget dia kan gak suka dikerumunin orang.” ujar Sebastian yang langsung ditarik masuk juga oleh si cewek.


“Wah udah rame aja jam segini…” ujar Cherryl yang mengalihkan perhatian mereka.


“Cherryl, Bang Babas! Hehe, gue ada janji sama mereka. Cabut dulu ya, makasih, makasih.” ujar Devin lalu buru-buru menghampiri kedua sosok temannya itu dan menggiring mereka ke arah kantin.


“Makasih banget, gue kaget pas mereka tiba-tiba mintain foto bareng sama tanda tangan.” kata Devin yang sampai bekeringat karena gugup, cowok itu juga sama sekali nggak suka jadi pusat perhatian orang-orang.


“Hahaha asik gue punya temen populer.” sahut Cherryl tapi Sebastian menyela.


“Ngeri juga, untung gue gak sampe segitunya walau sering dapet pernyataan cinta.” katanya pelan, sebenarnya sih tanpa sadar.


Mendengar itu Cherryl mendelik dan menghentikan langkahnya, “Hah, dari siapa?” tanyanya cepat, sedangkan Devin menahan tawanya melihat muka si kakak kelas yang terlihat bingung untuk menjawab.


‘Mampus salah ngomong gue.’ batin Sebastian.


TBC.