
Setelah mengistirahatkan kaki sembari mengobrol, mereka akhirnya memutuskan untuk lanjut menjajaki tempat-tempat lainnya walau kali ini nggak jalan dalam satu kelompok seperti tadi. Mereka memisahkan diri tepat di pusat taman dan berpencar ke segala arah.
Cherryl yang sedaritadi sudah menargetkan taman kelinci langsung menarik lengan Sebastian agar cowok itu mengikutinya, awalnya cowok itu masih menatap Alfian dan Thomas untuk bergabung saja tapi keduanya tentu nggak mau karena pasti menjadi obat nyamuk.
“Permisi Kak mau tanya, kalau mau masuk sini bayar lagi kah?” tanya si cewek cherry dengan santun pada salah seorang pekerja yang segera menjawab dengan senyuman lebar.
“Oh enggak Kak, silahkan masuk. Tapi tolong hati-hati ya Kak!” katanya lalu membukakan pintu pagar, membuat mata Cherryl melebar kesenangan.
Lagi-lagi Sebastian ditarik untuk masuk ke dalam taman kecil yang dipagari sebatas pinggang orang dewasa, tempat semua para kelinci lucu sedang melompat kesana-kemari, banyak anak-anak juga yang ada di dalam entah untuk mengejar kelinci atau duduk tenang memberi makan mereka, ada juga yang menangis karena takut saat disuruh memegang salah satu kelinci anggora.
“Sebby! Ih lucu banget deh, liat matanya merah!” pekik Cherryl riang, cewek itu menyodori si cowo satu kelinci berwarna gradasi abu-abu putih yang ukurannya agak besar.
Cowok itu tersenyum lalu mengangkat kameranya untuk memotret beberapa kali sebelum ikut menggendong seekor kelinci kecil yang kebetulan berlari kecil di sekitar kakinya, “Warnanya purih bersih, badannya kecil, matanya lebar. Nih kembaran lo.” katanya yang membuat si cewek terkikik, dia nggak keberatan disamakan dengan kelinci karena mereka hewan yang menggemaskan.
“Hooo, kayaknya itu sayuran buat ngasih makan mereka. Ambil yuk, terus duduk di sini.” ujar Cherryl riang lalu beranjak duluan untuk mendekati satu meja tinggi yang di atasnya berjejer berbagai macam sayuran.
Setelah itu keduanya mendudukkan diri di kursi kecil yang disediakan, Sebastian menyodorkan kameranya pada si cewek saat dimintai, “Gantian, gue yang ambil foto.”
Cherryl mengarahkan kameranya pada cowok itu, dia sibuk mengusapkan hidung si kelinci dengan hidungnya karena gemas. Kalau di lihat-liat Sebastian itu menggemaskan dan kadang tingkahnya juga seperti kelinci, apalagi cowok itu juga memiliki gigi depan yang seperti gigi kelinci. Mengingat fakta itu si cewek langsung bersemangat.
“Sebby, liat sini sambil senyum ya keliatan giginya! Cepet! Satu, dua, tiga!” seru si cewek yang membuat Sebastian sempat kaget walau langsung bisa menyesuaikan kondisi.
Mata Cherryl kembali menyipit karena ikut tersenyum, cewek itu menatap hasil jepretannya dengan puas lalu menatap si cowok, “Bagus. Udah kayak pinang di belah dua, hahaha! Kalo gue tinggalin di sini gak ada yang sadar kali kalo lo manusia, mirip banget!” katanya lalu tertawa lepas.
“Ada-ada aja lo, mana ada kelinci seganteng gue.” jawab Sebastian dengan muka yang sengaja ditekuk untuk merajuk tapi akhirnya kembali tersenyum melihat muka si cewek yang terlihat bahagia banget.
“Cherryl, Cherryl. Lo sengaja ya bikin gue gak sabaran? Mending kita pacaran ajalah.” ujar cowok itu lagi, suaranya sih nggak besar karena sebenarnya dia hanya bergumam karena sudah pusing melihat Cherryl yang terlalu menggemaskan tapi ternyata cewek itu juga bisa mendengarnya.
“H-hah? Ah a-anu…Kok tiba-tiba banget sih anjir?!” jawabnya terbata dengan muka yang sudah mulai memanas, sedangkan si cowok yang nggak menyangka kalau ucapannya terdengar jadi ikut bergeming. Mata keduanya saling menghindar dan keadaan jadi agak canggung setelahnya.
‘Ah Bastian mulut lo dijaga kek!’ batin Sebastian dalam diamnya.
Di sisi lain Thomas dan Alfian memilih untuk membeli kopi di kantin dan duduk di sana karena malas berkeliling, keduanya agak bosan dan merasa cuacanya semakin terik setelah beberapa menit mengitari area-area foto.
“Mabar aja mau kaga? Ada wifi gratis nih lumayan.” ujar Alfian sembari menyenggol sang adik kelas dengan lengannya.
Cowok berkacamata itu menoleh dan langsung mengangguk, “Hah? Oh, boleh. Bentaran.” jawabnya lalu sibuk membalasi pesan lewat ponselnya dulu sebelum membuka permainan.
“Chat ama siapa si fokus amat.” sindir Alfian sembari menyedot es kopi yang tadi ia pesan, tapi entah kenapa Thomas jadi gelagapan sendiri mendengarnya.
“A-ah gapapa Bang, udah nih. Yok login.” jawabnya.
Alfian memicingkan matanya curiga, tapi cowok itu akhirnya mengangguk pelan dan mereka memulai permainan nggak lama setelahnya.
Di saat yang sama, Chelsea terkejut ketika Devin tiba-tiba menarik tali tasnya pelan, “Eh ada apa?” tanyanya.
Cowok itu menunjuk bangku yang terdapat di sepanjang tepi danau, “Mau duduk dulu? Bangkunya baru aja kosong, kebetulan pas ada di bawah pohon jadi nggak panas.”
“Oh, iya. Okey!” ujar si cewek lalu keduanya mendudukkan diri di bangku itu, mereka menghabiskan beberapa detik dalam keheningan menatapi perahu-perahu kayuh berbentuk hewan yang berlalu-lalang di danau.
“Eum, Devin…” panggil Chesa, memecah keheningan.
Si cowok menoleh, “Iya?”
Cewek itu memiringkan tubuhnya dan menumpukkan lengan di sandaran bangku, “Kapan dong gue boleh main ke rumah lo? Gue udah chat Kak Anan katanya boleh kapan aja tinggal minta jemput Devin, gitu.” timpalnya yang membuat si cowok berdeham untuk melonggarkan tenggorokannya sebelum berbicara.
“Kalo itu, eum…Kalo hari ini sih gak mungkin, gimana nanti Sabtu aja? Gue jemput, tapi lo bilang Erryl dulu takutnya Sabtu kita ada acara lagi.” jawab Devin lau diangguki oleh cewek itu.
“Boleh-boleh, nanti gue kabarin ya!”
🍪Cookie Jar🍪
Jam sudah hampir mencapai pukul empat sore dan mereka semua sudah berkumpul karena tadi ada pengumuman kalau tempatnya akan segera tutup. Cherryl dan Alfian berkumpul lebih dulu di dekat pintu keluar, menunggu Lily, Andre, Chelsea dan Devin.
“Lah Chesa sama Devin mana?” tanya Lily ketika melihat teman-temannya.
Mereka menggeleng lalu Cherryl melihat ponselnya, “Tadi sih udah bilang udah langsung jalan ke sini, tunggu aja bentar lagi takutnya masih desak-desakan sama orang.” katanya lalu yang lain mengangguk sebagai persetujuan.
“Abis ini kita minta tolong orang foto aja kali ya di depan plangnya.” sahut Andre dan tentu saja disetujui.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Chelsea dan Devin muncul, mereka semua bergegas keluar dari area kebun binatang dan sampai ke parkiran depan. Sebelum masuk ke dalam mobil mereka meminta tolong pada seorang penjaga loket untuk mengambil foto mereka menggunakan kamera.
“Bang Fian sama Bang Babas di ujung, kalian kek tiang anjir.” ujar Thomas yang mengurus posisi.
“Udah lo diem di sini.” tambahnya lagi saat si cewek cherry ikut berpindah tempat, cowok itu segera menahan pundaknya agar diam di tempat.
Cherryl di tengah, di sebelah kanan dan kirinya berdiri Lily serta Chesa. Lalu Devin, Andre juga Sebastian dan Alfian di kedua ujung. Mereka berjajar menjadi satu baris lalu mulai berpose saat si Kakak penjaga loket mengambil beberapa gambar.
“Makasih Kakk!” kata mereka dengan serentak saat kameranya dikembalikan.
Tanpa basa-basi lagi, delapan orang itu segera menjejalkan diri masuk ke dalam mobil dan berangkat pulang. Di tengah jalan mereka juga menyempatkan diri untuk singgah dan makan sore, sekalian membeli makanan ringan sebagai oleh-oleh untuk orang rumah.
Sebastian membeli beberapa yoghurt cup dan botolan untuk Bunda Laura sedangkan Cherryl mampir ke toko yang menjual pastry untuk membeli kue, itu sih dia beli untuk diri sendiri juga. Yang lainnya hanya mengekor di belakang sambil berbelanja masing-masing, ada yang membeli kue kering, cokelat, kue pai, dan akhirnya mereka semua memilih gelato sebagai makanan penutup setelah kenyang menyantap makanan berat.
“Huhu seru banget hari ini…” ujar Chelsea sembari menyenderkan kepalanya ke pundak Lily yang sedang menyendok gelatonya.
“Hooh asli walau cuacanya panas tapi okelah, seru.” sahut Cherryl.
“Hoho, kita kan baru kemah dua mingguan lagi, next ngapain nih jadinya?” sahut Alfian yang membuat Sebastian memasang wajah berpikir.
“Di daftarnya sih ada banyak, tapi kayaknya kalo lusa berenang seru kali.” sahut si cowok bergigi kelinci itu.
Alfian mengangguk cepat, “Gas, sekalian ajak Kakak-kakak juga.”
TBC.