
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, acara KKR baru saja selesai tapi semua orang masih bergerombol di sekitar stadion untuk bercengkrama dengan yang lain. Banyak yang izin memisahkan diri dari rombongannya untuk berkeliaran mencari teman baru, atau calon jodoh mungkin.
“Kayaknya deket sini ada minimarket deh, mau pada beli minum gak?” ujar Cherryl, dihadiahi persetujuan oleh yang lainnya.
“Yaudah di tulis di chat aja gue sama Lily yang beli, sekalian Karin sama temen-temen juga ditanyain yaa.” lanjut cewek itu tapi langsung dicegat oleh Sebastian.
“Heh, mau ke mana lo. Ini rame banget loh mending sama gue aja, Lily di sini ya.” katanya yang tanpa basa-basi langsung menarik si cewek cherry masuk ke dalam kerumunan orang.
Chesa melirik Devin dan Andre yang berdiri tepat di sebelahnya, “Mereka pacaran?”
“Cherryl sama Bastian?” sahut Alfian yang diangguki oleh si cewek.
“Katanya sih saling suka tapi belum boleh pacara―“
“Mereka cuma sahabat kecil ko―“
Keadaan menjadi hening saat Alfian dan Lily membuka suara dan berhenti di saat bersamaan lalu saling menatap satu sama lain dengan tatapan bingung sekaligus terkejut, si cowok sangka yang lain sudah diberi tahu juga sedangkan si cewek yang nggak pernah diceritai apapun oleh Cherryl menautkan alisnya.
“Mas Alfian bilang apa tadi?” katanya.
“Loh mereka belum cerita sama kalian?” tanya Alfian yang ikut bingung, setelah itu si cowok menggaruk kepalanya.
“Lah salah ngomong dong gue?” tanyanya dengan muka polos, dan semuanya termasuk Chesa ikut mengangguk.
‘Waduh Bas kaga sengaja, maap banget.’ batin cowok itu.
Lily menampilkan senyum lebarnya yang terlihat seram di mata Alfian, bahkan Andre saja mengambil satu langkah ke belakang saat pacarnya itu berjalan menghampiri si kakak kelas, “Mas Fian, cerita yuk?” katanya yang membuat cowok itu bergidik ngeri.
“Hehe, Cuma bercanda kok Ly. Lo tau kan mulut gue gimana…” alibinya dengan tawa yang dipaksakan karena sudah ketar-ketir.
Belum sempat si cewek melanjutkan introgasinya, panggilan masuk dari Cherryl mengalihkan perhatian mereka. Cewek cherry itu meminta daftar belanjaan yang harus dibeli, jadi Alfian buru-buru kabur untuk menghampiri Irina.
“Jadi mereka saling suka atau sahabat kecil?” bisik Chesa lagi pada Devin, si cowok bergeming untuk berpikir.
“Kayaknya sekarang dua-duanya? Gue juga gak ngerti.” bisiknya dengan ragu.
Di sisi lain Cherryl dan Sebastian masih berdiri di depan minimarket menunggu pesan balasan dari yang lainnya. Si cowok berdiri sedangkan si cewek duduk di satu-satunya bangku yang tersisa.
“Udah belum? Gue haus nih,” ujar Sebastian.
Si cewek berdecak pelan, “Bentar dulu dong, tau sendiri tadi gue baru telfon Lily.” balasnya.
“Gue masuk duluan deh sekalian beli jajanan, nanti lo forward aja chatnya. Di dalem rame lo tunggu sini aja, oke?” kata si cowok lagi lalu berjalan masuk begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari cewek itu.
“Yee malah ditinggal.” monolog Cherryl tapi cewek itu diam di tempat karena benar kata Sebastian kalau di dalam padat sekali bahkan antrian pun sampai ke lorong.
Si cewek cherry sesekali menoleh untuk melihat posisi Sebastian sejak lima belas menit yang lalu, karena antrian yang panjang si cowok juga jadi lama sekali di dalam. Cherryl sampai bosan, tapi dia lebih kepikiran apa cowok itu merasa kesusahan atau nggak karena berdesakan dengan orang lain.
“Oh, untung deh.” ujar si cewek, merasa lega saat mendapati sosok cowok kesayangannya itu berdiri di depan kasir.
Beberapa saat setelahnya Sebastian berjalan keluar menenteng dua kantung besar, yang satu berisi minuman dan satunya berisi snack. Tapi baru beberapa langkah keluar dari pintu ada tiga cewek yang memanggilnya.
“Kak!”
Cowok itu menoleh, “Eh, saya?” tanyanya.
Salah satu cewek itu mengangguk, “Iya. Eum, boleh minta nomor Kakak nggak?” tanyanya kemudian, membuat Sebastian agak kaget dan matanya melebar lucu.
“Oh, anu. Saya udah disuruh bal―”
“Ada apa, Seb?” tanya Cherryl yang sudah menghampiri mereka karena melihat si cowok yang didatangi oleh ketiga cewek itu.
“Ceweknya, anjir.” bisik salah satunya pada yang lain walau masih bisa terdengar jelas.
Mereka menatap Cherryl lalu cewek yang tadi meminta nomor Sebastian menggaruk pelan kepalanya, “Hehe, maaf Kak saya pikir Kakaknya sendirian.” katanya lalu mereka pergi begitu saja setelah tersenyum canggung pada kedua orang itu.
“Kenapa sih, Seb?” tanya Cherryl sembari menarik plastik berisi snack supaya ia bawa, tapi si cowok menahannya.
“Gue aja. Udah ayo jalan, tadi dia nanyain nomer gue. Gak penting.” jawabnya sembari berjalan beriringan dengan si cewek yang lumayan jauh lebih pendek darinya itu.
“Dih baru pergi sendirian sebentar udah digodain cewek aja.” ujar si cewek sebal yang menggemaskan di mata Sebastian.
“Cemburuan lo.” kata si cowok sembari tertawa kecil yang membuat Cherryl mempoutkan bibirnya selama berjalan balik ke tempat awal.
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
“Kapan-kapan kalo main ke kota kita kabarin ya Chesa!” seru Cherryl yang sudah naik ke atas bus, diikuti oleh teman-teman lainnya.
“Iyaa, makasih ya kalian udah nemenin gue hehe. Nanti kabar-kabaran ya guys!” balasnya lalu melambai.
Devin yang terakhir naik ke atas bus terhenti lalu berbalik, cowok itu mau mengatakan sesuatu tapi akhirnya nggak jadi. Dia akhirnya hanya melambaikan tangan pada Chesa, “Hati-hati.” ujarnya.
Cewek bermata sipit itu tersenyum lebar, “Makasih Devin! Hati-hati!”
Selama perjalanan pulang, Alfian memandangi Devin yang jadi lebih pendiam dan suka melamun, dia menyikut si adik kelas pelan, “Lo napa dah, Vin?” tanyanya.
Devin berdeham saat tersadar dari lamunannya lalu ia menggeleng, “Nggak apa-apa, Bang. Agak ngantuk.” katanya.
Sebenarnya sih Devin ingin bilang kalau nanti dia akan mengirimkan pesan pada Chesa, tapi dia takut kalau cewek itu nggak nyaman. Jujur saja baru kali ini jantungnya bisa berdebar-debar sekencang itu hanya karena seseorang, padahal di sekolah pun banyak cewek yang mirip dengannya.
“Hhhh…” si cowok mengasak rambutnya kasar, sepertinya dia benar-benar naksir berat pada cewek yang baru pertama kali ia temui itu. Untung saja tadi Alfian sempat menanyakan akun Instagram milik Chesa jadi dia setidaknya masih bisa mencari tahu lebih banyak setelah ini.
Devin jadi agak meruntuki diri sendiri karena nggak bisa sesantai Alfian kalau berurusan sama orang baru, dirinya kan kaku banget! Untung saja Chesa merupakan tipe cewek yang nggak gengsian dan mau mengajak dia bicara duluan walau ditanggapi dengan gugup.
“Hoy, tidur kalian?” ujar Sebastian tiba-tiba sembari menepuk pelan kepala Alfian dan Devin yang cukup terkejut.
“Kaget, Bang.” sahut Devin pelan.
“Sorry, ini gue tadi beli jajan dibagiin ke Lily Andre juga gih, tolong ya.” sahut si kakak kelas lalu mengoper plastik berisi snack yang tadi dia bawa.
“Wih mantep, lo tau aja kesukaan gue. Makasih Bas, muah!” celetuk Alfian yang langsung mengambil salah satu keripik kentang dan membukanya tanpa basa-basi setelah ditoyor pelan oleh Sebastian karena diberi kecupan jarak jauh, sebelum cowok itu kembali duduk.
“Ryl…” panggil Sebastian lembut, mencoba membangunkan si cewek yang sudah terlelap dan badannya makin lama semakin merosot ke bawah.
“Cherryl, bentar dulu, benerin posisinya.” tambahnya lagi lalu menarik lengan kiri si cewek dan ditopangkan ke pundaknya sembari cowok itu membantu Cherryl membenarkan posisi duduknya.
“Mmm…” lenguh Cherryl pelan, cewek itu membuka matanya dengan sayu lalu memeluk leher Sebastian yang membuat si cowok salah tingkah.
“Erryl, Dek. Aduh…” bisiknya lalu melepaskan pelukkan si cewek dan membuatnya bersandar di bahunya.
Sebastian menahan diri untuk nggak mencium kening Cherryl, akhirnya dia hanya mengusap-usap telapak tangan si cewek agar nggak kedinginan sambil tersenyum dan menggelengkan kepala pelan.
‘Ni anak ada aja kelakuannya.’
.
.
.
.
.
TBC.