Cookie Jar

Cookie Jar
#7 Bocil Kesayangan



Sebastian merapatkan matanya saat sinar matahari pagi tiba-tiba saja menganggu tidurnya. Setelah itu terasa beberapa hembusan angin menerpa wajah cowok yang masih berada di alam mimpi itu. Tak lama kemudian dia merasakan seseorang menekan-nekan pipinya pelan.


"Eungh..." lenguh Sebastian lalu memiringkan posisi tidurnya seraya menutupi kepalanya dengan selimut.


Selimut itu ditarik dan dihempaskan begitu saja ke lantai. Membuat si cowok semakin tak nyaman dengan tidurnya hingga ia memutuskan untuk membuka mata perlahan. Matanya masih setengah terbuka saat mendapati sosok cewek yang semalam membuatnya khawatir setengah mati sedang menatapnya dengan mata bulat dan senyumannya yang manis.


"GOOD MORNING!!" Pekik Cherryl saat melihat Sebastian membuka matanya. Posisi cewek itu duduk di sisi ranjang dengan tubuh berbaring menghadap si cowok.


Sebastian menatap Cherryl dalam diam lalu membalikkan tubuhnya, membuat Cherryl cemberut dan memaju-majukan bibirnya kesal. Tapi cewek itu langsung naik ke atas kasur dan mengguncang-guncang tubuh Sebastian.


"Seb, bangun ih udah pagi! Jogging yuk, masa tidur mulu, sih!" katanya.


"Males." jawab Sebastian singkat, masih bergeming dengan posisinya.


"Yeh dasar, sama aja sama Ang'ga. Kebo." kata Cherryl kesal dan tetap mendorong-dorong tubuh cowok di depannya.


Tiba-tiba Sebastian kembali berbalik dan menarik lengan Cherryl hingga cewek itu ikut berbaring di atas ranjang, "Tidur aja." katanya dengan suara serak khas bangun tidur.


Cherryl menenggak ludah melihat wajah bantal Sebastian yang tampak sangat damai dalam tidurnya, tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan cepat. Cewek itu sempat terdiam hingga akhirnya buru-buru menggeleng dan mengalihkan wajahnya dari si cowok.


"G-gue nggak ngantuk." katanya terbata.


Sebastian membuka matanya, "Lagian lo semalem nyusahin aja. Capek, tau."


Cherryl mengulum bibirnya lalu melirik si cowok yang sudah kembali menutup matanya. Tiba-tiba saja terlintas ide di benaknya yang membuat si gadis cherry itu tersenyum licik.


Cherryl mendudukkan diri diatas ranjang dan menyilangkan kedua kakinya, "Abang Babas, bangun dong. Adek mau jalan-jalan." katanya lalu kembali mengguncang tubuh Sebastian.


"Apasih, geli." jawab Sebastian dengan nada dingin.


"Erryl mau jalan, mau ice cream, mau beli kue juga. Abang Babas gamau nganter?" tanya Cherryl lagi dengan nada sedih.


Sialan, jika sudah begini Sebastian benar-benar tidak bisa melawan lagi. Akhirnya cowok itu membuka matanya, mendudukkan diri dan menatap si cewek datar.


"Gue cuci muka dulu. Ah lo ganggu aja, bocil." kata Sebastian lalu turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.


Cherryl yang melihat itu bersorak dalam hati dan bergegas membereskan kamar agar nanti Karin tidak marah-marah.


Beberapa menit kemudian Sebastian keluar dari kamar mandi, Cherryl yang menunggu seraya berbaring di ranjang langsung mengajak cowok itu keluar.


"Loh kok jam segini sudah dibangunkan Babasnya? Kasihan semalam dia begadang sama Abang kamu." ujar bunda Sena yang sedang mencuci sayuran di wastafel saat melihat Cherryl datang ke dapur bersama Sebastian.


"Gapapa, Bun." jawab si cowok seraya menuang air kedalam gelas dan menenggaknya.


"Cherryl mau jogging, Bun. Gak enak kalau sendirian." jawab si bungsu.


"Yasudah iya, itu buat roti dulu untuk sarapan. Bunda belum selesai masak. Babas juga dibuatkan." titah bunda Sena.


Cherryl segera mengambil empat lembar roti dan mengoleskan selai cokelat pada satu lembar dan selai strawberry di lembar lain lalu menumpuknya masing-masing dengan satu lembar polos.


"Nih," kata si cewek lalu menyodorkan sepiring roti berselai cokelat itu pada cowok di sampingnya.


"Thanks," kata Sebastian lalu memakan roti itu dan hal yang sama dilakukan oleh Cherryl.


🍪Cookie Jar🍪


Sebastian mengikuti langkah kaki Cherryl yang berlari di depannya, mereka sudah lari beberapa kali putaran di alun-alun kota. Cowok itu sengaja melambatkan langkahnya agar tidak meninggalkan si cewek yang sepertinya mulai lelah.


"Beli minum dulu?" tawar Sebastian saat Cherryl menghentikan langkahnya.


"Iya, Erryl capek." jawab cewek itu.


Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju mini market yang berada di ujung jalan tepat sebelum pertigaan, keduanya masuk dan langsung membeli minuman yang diinginkan. Setelah membayar mereka memilih untuk beristirahat dengan duduk di kursi yang tersedia di depan bangunan itu.


"Puas?" tanya Sebastian lagi.


Cherryl menggeleng, "Stok ice cream di rumah udah habis. Abis ini ke mall, yuk."


Mendengar ucapan si cewek, Sebastian melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul sembilan lebih enam menit, "Masih jam sembilan, mal belom buka."


"Yakan engga sekarang.." sergah Cherryl lagi.


"Terus mau ngapain sekarang?" tanya si cowok.


"Lo mau ngapain? Kan dari tadi udah ngikutin maunya gue. Sekarang giliran lo." ujar Cherryl.


Sebastian diam, tampak berpikir. Cowok itu berdiri, "Ayo, temenin gue ke cafe. Pengen minum kopi."


Cherryl mengiyakan lalu ikut berdiri dari duduknya. Ia mengikuti si cowok yang sudah sampai di pinggir jalan. Kedua tangan cewek itu saling bertaut karena ia sebenarnya takut untuk menyebrang jalan. Alhasil ia merubah posisinya menjadi berdiri di sebelah kiri Sebastian yang mulai melangkah karena jalanan cukup sepi.


"Eh." gumam Cherryl saat tangan Sebastian meraih pergelangan tangan kanan cewek itu dan menggenggamnya erat.


Si cowok terus menggenggam tangan Cherryl saat mereka menyebrang jalan, membuat si cewek bersurai hitam legam itu sedikit tenang.


"Masih takut nyebrang?" tanya Sebastian setelah mereka sampai di sebrang. Ia melepas genggamannya dan menatap Cherryl yang mengangguk pelan.


Telapak tangan yang lebar milik Sebastian hinggap di puncak kepala Cherryl dan mengasaknya pelan. Tanpa sepatah kata, tungkai milik cowok itu kembali mengambil langkah dan meninggalkan si cewek yang masih diam hingga akhirnya berlari mengikuti.


"Rasanya tinggal di New York gimana, sih?" tanya Cherryl setelah berhasil menyamakan langkah dengan cowok yang memimpin jalannya itu.


"Biasa aja."


"Banyak cecan ya?" timpal si cewek lagi.


"Banyak dong. Putih-putih, tinggi, cantik, sexy lagi. Gak kayak lo." jawab Sebastian yang menyulut emosi Cherryl.


"Ih, gausah banding-bandingin, dong. Kok jahat banget sih." protesnya kesal.


"Kan emang kenyataan." timpal Sebastian.


"Gatau lah, kesel." ujar Cherryl lalu berjalan pergi dengan langkah menghentak.


Sementara di belakangnya Sebastian sedang menahan tawa dengan susah payah. Baginya mengerjai Cherryl seperti itu adalah hiburan terbaik di Sabtu pagi seperti ini. Melihat wajah kesal si cewek juga mengingatkan dia pada masa kecil mereka. Cewek itu benar-benar tidak berubah sedikitpun. Bukan hal yang sulit untuk membuat puteri bungsu keluarga Gunawan itu kesal atau ngambek karena semua orang tahu cewek itu nggak suka dibanding-bandingkan. Moodnya akan turun dengan mudah. Lagipula, siapa yang suka dibandingkan seperti itu, sih? Apalagi untuk gadis manja seperti Cherryl Imannuela. Sebastian berlari menghampiri si cewek dan kembali menaruh telapak tangannya pada puncak kepala Cherryl.


"Tapi dari semua cewek yang pernah gue kenal di sana, nggak ada yang selucu dan semenggemaskan bocil kesayangan gue ini."


TBC.


Jangan lupa Vote + comment!