
Lily mengerjapkan matanya bahkan setelah keluar dari kamar mandi untuk bebersih tubuh dan mengenakan seragam. Sedangkan Cherryl sudah duduk di depan meja rias dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
"Sek ngantuk aku, Cher." kata Lily lalu duduk di tepi ranjang seraya mengenakan dasinya.
Cherryl mengangguk pelan, "Sama, tapi mau gimana lagi."
Setelah itu keduanya mengambil tas dan keluar untuk sarapan. Tapi Cherryl menyerengit saat melihat sebuah backpack di dekat sofa.
"Bunda, itu backpack punya siapa?" tanyanya pada bunda Sena yang duduk di sofa sembari menonton televisi.
"Ohh itu punyanya Angga. Sama Rina juga lagi siap-siap, mereka mau hiking katanya, diajak Alex." jawab beliau.
Cherryl membulatkan matanya, "Loh kok nggak ngajak-ngajak!"
"Lo sekolah, Dek." sahut Anggara yang berada di ujung atas tangga, baru saja akan turun.
"Ya tapi– Ih ngeselin banget. Kenapa harus hari senin sih Abangg..." rajuk Cherryl yang langsung mendapat elusan pelan di pundak oleh Lily.
"Ya gatau, udah jangan ngambek nanti kapan-kapan kita bikin acara sendiri. Sekalian sama Lily juga, ya Ly?" balas Anggara lagi seraya menuruni tangga dan menghampiri sang bunda lalu duduk di sebelah beliau.
"Eh, iya Mas." sahut Lily cepat.
Cherryl mempoutkan bibirnya lalu ia mengajak Lily untuk sarapan terlebih dahulu di meja makan. Bunda Sena sudah memasak cukup banyak hari ini, menggugah selera kedua cewek yang kelaparan itu.
Di sisi lain Irina yang sudah selesai berkemas langsung turun ke bawah dan menghampiri sang adik lalu menelfon Alex untuk menanyakan kapan dan di mana harus berkumpul.
Setelah itu, keduanya berpamitan pada bunda dan Cherryl, juga Lily lalu berangkat menuju rumah keluarga Sanjaya untuk menjemput Vallerine. Sayangnya, Rebecca memilih untuk diam di rumah dan tidak ikut karena merasa kurang enak badan. Tentu mereka memakluminya.
Sekitar pukul setengah tujuh mereka sampai di tempat tujuan dan langsung berkumpul dengan yang lainnya. Irina juga menghampiri Alex lalu mereka berpelukan sejenak karena sudah cukup lama nggak bisa saling bertemu. Anggara mencoba untuk mengajak Vallerine mengobrol agar keadaan nggak menjadi awkward, walaupun di sisi lain dia bermaksud untuk mencari tahu lebih banyak tentang sosok pujaan hatinya itu.
"I'm so excited for this." ujar Vallerine seraya menatap Anggara yang mendudukkan diri di sebelahnya.
Si cowok tersenyum, "Either do I."
"Is that Rina's boyfriend?" tanya Vallerine lagi, lalu menunjuk Alex yang berdiri berhadapan dengan Irina.
"He's Alex, Rina's fiance."
si cewek melebarkan matanya, "Fiance?" katanya lalu mengangguk pelan.
"Oke teman-teman, karena udah pada kumpul semua d isini kita akan mulai acaranya. Pertama-tama gue bakal ngenalin diri gue dulu, nama gue Bayu. Gue yang bakalan mimpin kalian, ngeguide kalian." ujar seorang cowok yang sudah naik ke atas batu agar dapat dilihat oleh semua orang.
"Jadi, jumlah keseluruhan yang ikut ada dua puluh enam orang. Sebelum berangkat, pastiin semua barang kalian lengkap. Pas hiking juga usahain tetep stick together dan saling jaga. Kita mulai dengan doa menurut kepercayaan masing-masing, doa mulai."
"Let's pray," bisik Anggara pada Vallerine yang langsung menundukkan kepala seperti yang lainnya.
Keadaan menjadi hening sejenak, semua orang fokus pada doa masing-masing.
"Doa selesai."
"Sip sekarang silahkan siapkan barang-barang kalian. Kita mau jalan. Tolong omongan kalian di jaga ya teman-teman. Dan ada beberapa dari kita yang baru pertama kali hiking jadi mohon bimbingannya." tambah Bayu lagi lalu mereka semua berkumpul dan mulai berjalan.
Anggara mulai menjelaskan ulang beberapa hal yang tadi diucapkan oleh Bayu saat mereka bergabung ke rombongan. Tentu saja karena Vallerine tidak memahaminya. Cowok itu menyipitkan matanya saat mendengar beberapa cowok lain membicarakan Vallerine, ia langsung menahan lengan si cewek dan berdiri di hadapannya.
"Let me," katanya lalu mengulurkan tangan untuk membenarkan beanie yang si cewek pakai.
Vallerine berdeham pelan lalu mengalihkan pandangannya kearah lain, "T-thanks." katanya setelah Anggara selesai.
"You're welcome."
🍪Cookie Jar🍪
Satu setengah jam telah berlalu, mulai banyak yang mengeluh dan rombongan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mereka mengambil tempat masing-masing dan mengisi cairan tubuh dengan bekal air yang dibawa. Hari ini jadwal mereka hanya mengunjungi air terjun, tidak sampai ke puncak karena sepertinya tidak memungkinkan di cuaca yang kurang cerah seperti saat ini. Lagipula mereka tidak membawa tenda atau alas tidur jika misal ada hambatan untuk kembali sesuai jadwal.
Anggara membantu Vallerine untuk menurunkan bacpack cewek itu ke tanah setelah mereka kembali menempuh perjalanan sekitar satu jam dan sampai di kawasan air terjun.
"Hufft...It's been a long time since the last time I do this." ujar si cewek lalu menenggak air minumnya, begitupun Anggara.
Bayu menyuarakan lagi agar mereka menyimpan tas masing-masing di tempat yang sudah dipilih dan berkumpul di tepi air terjun untuk briefing.
"Nah sekarang kita sudah sampai di air terjun. Kalian udah boleh have fun, foto-foto atau mau ngapain terserah kalian tapi gue ingatkan lagi kalau kita harus tetap hati-hati. Jangan gegabah dan memperbesar kemungkinan terjadinya hal-hal yang nggak diinginkan. Oke? Nanti sesuai jadwal kita bakal kumpul lagi terus siap-siap balik. So, take your time guys! ujar pria itu lalu mereka semua kembali buyar untuk melakukan kegiatan masing-masing.
Vallerine mengeluarkan kamera dari dalam tasnya lalu mengajak Anggara untuk menjelajah ke sekitaran air terjun sebelum ikut menceburkan diri bersama yang lainnya. Tentu saja si cowok menurut dan merasa senang karena itu.
"E-eh, be careful." ujar Anggara dengan sigap mengulurkan tangan pada si cewek yang hampir terpeleset karena lumut di bebatuan.
Vallerine menggapai uluran tangan Anggara dan melangkah dengan hati-hati, setelah itu ia mulai mengambil gambar sedangkan Anggara mengawasi dari belakang.
"Oh, Angga!" seru Vallerine lalu menyuruh si cowok untuk mendekat.
"It's a snail!" timpalnya lagi lalu menjulurkan tangan untuk mengambil seekor siput yang berjalan pelan di atas daun dan menyodorkannya pada Anggara.
"Can you please hold it for a minute? I want to take a picture."
Cowok itu mencapitkan telunjuk dan ibu jarinya untuk memegang si siput seraya Vallerine mengambil gambar keduanya.
"Hahaha, are you afraid?" tanya si cewek itu lalu tertawa dan mengambil kembali siputnya.
Sebenarnya Anggara tidak takut, ia hanya...Sedikit geli. Entahlah, sedari dulu ia tidak pernah menyukai hewan-hewan melata seperti itu. Apalagi cacing tanah, jauh-jauh saja dari hidupnya.
Tetapi dia menggeleng pelan, "No, I'm not." katanya mengelak.
Vallerine hanya menggedikkan bahu lalu berbalik dan melanjutkan kembali pencariannya. Anggara yang sejak tadi berdiam diri akhirnya menghembuskan napas lalu mengulurkan tangannya untuk menahan lengan Vallerine yang sontak menatapnya.
"I need to tell you something."
TBC.