Cookie Jar

Cookie Jar
#42 Pandangan Pertama



Lily mengulurkan tangannya pada Cherryl untuk membantu temannya itu naik ke atas bus, sedangkan Sebastian, Devin, Alfian dan Andre menyusul di belakang mereka. Di dalam sudah lumayan penuh dan pas sekali masih ada cukup tempat di bagian belakang untuk mereka duduki. Irina yang mendudukkan diri di bangku paling depan bersama Max hanya melambaikan tangannya pada mereka, begitupun Anggara.


“Kok dikit banget yang ikut, Yes?” tanya Cherryl pada Yesabelle yang duduk di kursi sebrangnya, cewek itu menjawab setelah berkenalan dengan Lily dan yang lainnya.


“Kita dibagi jadi dua bus, yang satu nunggu di deket rumah Kak Juan soalnya biar yang deket-deket sana nggak usah ke sini dulu.” jelas Yesabelle sembari membenarkan kacamata yang ia pakai.


“Ooo, iya iya.”


“Duduknya gimana ini?” tanya Cherryl saat melihat teman-temannya masih diam dalam posisi berdiri.


“Gue sama lo.” sahut Sebastian cepat, begitupun Andre yang langsung memandang Lily.


“Yaudah Lily Andre depan, terus tengah sini Devin sama Fian, kita paling belakang.” tambah cowok itu lagi lalu mereka semua langsung menurut dan duduk di posisi masing-masing.


“Mau deket jendela,” ujar Cherryl dan Sebastian menyingkir dari kursi untuk membiarkan cewek itu lewat.


Beberapa saat kemudian Irina berdiri dari duduknya dan mengambil portable mic agar suaranya terdengar jelas, “Ibu sama Bapak Gembala ada di bus satunya jadi yang bertanggungjawab di sini gue sama Gideon ya. Ini yang ikut udah lengkap kan?”


“Udahhh!”


“Oke kalo gitu tundukan kepala dulu, kita berdoa…”


Setelah itu bus mulai berjalan dan mereka berangkat. Acara akan dimulai sekitar pukul enam, jadi perjalanan akan memakan waktu kurang lebih tiga jam hingga sampai di tempat. Selama perjalanan keadaan bus cukup kondusif karena mereka mengobrol dengan suara pelan agar tidak mengganggu yang lain, bahkan ada yang sudah terlelap di awal keberangkatan tadi.


“Sekalian nyari cewek, Vin.” ujar Alfian tiba-tiba yang dihadiahi tawa oleh adik kelasnya itu.


“Haha, tujuan utama sih emang cari Tuhan tapi kalo dikasih jodoh juga puji Tuhan, bonus.” jawabnya.


Lily dan Andre hanya mengobrol ringan dan terkadang saling bersandar sambil mendengarkan lagu. Sedangkan Sebastian dan Cherryl sibuk bergantian memainkan game Cooking Mama dari ponsel si cowok.


“Gue cewek tapi kalah sama lo anjir.” kesal si cewek cherry karena dia terus mendapat skor yang lebih kecil dari cowok itu.


Di tengah-tengah kemacetan, Irina dibantu oleh Max dan beberapa orang lain untuk mengedarkan nasi kotak yang disediakan oleh pihak gereja, “Yang belum makan, makan dulu. Acaranya lama loh nanti. Kalo ada yang mau nambah juga masih ada ya minta aja sama gue.” ujar si sulung keluarga Gunawan sekaligus ketua pengurus kaum pemuda remaja di gereja mereka itu.


“Siap Ce!”


“Sini,” ujar Andre saat melihat Lily menyisihkan sebagian besar sayuran yang ada di dalam nasi kotak, cowok itu mengambil semua sayurnya dan memberikan sepotong sosis miliknya pada sang pacar.


“Ih Mas, ndak usah toh.” ujar si cewek tapi cowok itu menggeleng pelan.


“Gak. Makan aja.” katanya yang akhirnya membuat Lily mengangguk setuju lalu mulai memakan makanannya.


“Duh ampun gue sama Devin yang jomblo ini agak panas deh.” celetuk Alfian dengan suara agak kencang setelah memajukan kepalanya ke depan untuk melihat Lily dan Andre lalu menoleh ke belakang untuk melihat Cherryl dan Sebastian yang sebenarnya adem-ayem saja sejak tadi.


“Gue gak ngapa-ngapain padahal.” sela Devin tak terima namanya dibawa-bawa begitu saja.


“Sirik itu dosa, Mas Fian.” sahut Lily yang memecah tawa mereka, bahkan Yesabelle dan teman yang duduk bersamanya juga ikut tertawa mendengar ucapan si cewek yang terdengar sarkastik dan lugu disaat bersamaan.


Sebastian menatap Cherryl lalu mereka tertawa bersama, setelah itu si cowok berbisik, “Gue suka banget pake jaket couple, kalo yang gak tau pasti mikir kita pacaran kan.”


Mendengar itu Cherryl menepuk lengan si cowok, dia hampir tersedak tahu!


“Apasih Sebb…”


🍪Cookie Jar🍪.


“Widih gede banget stadionnya, muat berapa ribu orang nih?” ujar Alfian saat bus mereka memasuki kawasan parkir milik sebuah stadion besar yang disewa oleh penyelenggara acara.


“Entah, setau gue wilayah lima aja udah banyak banget. Ini dicampur wilayah empat juga.” sahut Cherryl.


Saat bus berhenti, Irina kembali berdiri dari duduknya, “Kita udah sampe, ingat jangan ada barang berharga yang ditinggal di bus ya. Abis ini kita keluar satu-satu dan ngumpul dulu nunggu bus kedua sampe soalnya yang tau detail posisi duduknya itu Pak Gembala.” jelasnya lalu yang lain mengangguk paham.


Sekitar sepuluh menit kemudian bus rombongan kedua datang, mereka berkumpul menjadi satu kelompok dan diarahkan untuk masuk ke dalam stadion melewati pintu terdekat. Setelah mendapat satu bungkus roti dan air mineral, mereka masing-masing duduk di area kursi yang diinginkan.


Irina di depan bersama sang tunangan dan sebagian besar pemuda, sedangkan Cherryl dan kawan-kawan memilih di bagian paling akhir. Andre duduk di kursi paling pinggir dekat lorong, lalu Lily, Cherryl, Sebastian, Alfian dan juga Devin.


“Permisi, Kak. Ini punya Kakaknya bukan?”


Devin yang baru mendudukkan diri menoleh saat beberapa orang cewek berdiri di dekatnya, yang paling depan menunjuk sebuah roti dan botol air mineral yang ada di kursi samping si cowok. Dia menoleh pada Alfian karena bingung, tapi segera menggeleng.


“Bukan, Kak.” jawabnya.


Salah seorang dari cewek itu berterimakasih dan berniat untuk memindahkan kedua barang tersebut tapi Devin kembali menyela, “Kursi lain masih banyak yang kosong, Kak. Kayaknya sengaja disimpan di sini supaya nggak diambil orang lain." ujarnya, berusaha terdengar sopan.


Cewek-cewek itu berunding sejenak lalu mereka setuju untuk mengambil barisan kursi lain lalu satu orang cewek lagi berjalan masuk ke baris kursi dan tersenyum pada Devin sembari mendudukkan diri di sebelahnya, “Makasih Kak, ini punya saya.” katanya dengan ramah.


“O-h, iya…” balas cowok itu canggung karena dia sempat terdiam memandang si cewek yang terlihat begitu cantik dan kalem di matanya. Jantung cowok itu berdetak cepat bahkan sejak pandangan pertama, sampai-sampai harus disikut oleh Alfian supaya dia merespon.


Cewek itu berambut panjang, kulitnya putih dan bermata sipit. Poninya dibelah dua dan diselipkan ke masing-masing telinga, wajahnya terlihat seperti orang Jepang kalau dilihat lebih detail.


“Ehem,” Devin berdeham pelan saat dia ketahuan melirik cewek itu diam-diam.


“Saya Chelsea, Kakak siapa?” tanyanya tiba-tiba lalu menjulurkan tangannya pada si cowok.


“Dia Devin, gue Alfian. Salam kenal ya. Sorry dia emang anaknya agak tulalit sama orang baru.” sela Alfian cepat karena temannya itu malah berdiam diri karena terlalu gugup, si cowok menjulurkan tangannya untuk menjabat Chelsea sambil tersenyum.


Cewek itu tertawa pelan, “Haha iya santai aja. Salam kenal Kak Devin, Kak Alfian juga.” katanya.


Beberapa saat setelahnya Devin juga akhirnya menyalami Chelsea dan mereka bertiga berbincang-bincang selama menunggu acara dimulai. Ternyata cewek itu datang sendirian karena rumahnya dekat dari lokasi KKR, maka dia senang karena mendapat teman mengobrol. Kedua cowok itu juga menyarankannya untuk berkenalan dengan yang lainnya.


“Chelsea cantik banget, kamu ada keturunan Jepang kah?” tanya Cherryl setelah berkenalan.


Cewek yang ditanyai menggeleng pelan sambil tertawa, “Nggak ada, hehe. Banyak yang ngira gitu sih, kata mama pas hamil lagi suka-sukanya sama Jejepangan jadi lahirnya begini. By the way panggil Chesa ajaa…”


“Wih pantesan ayu banget kamu, siapa tadi namanya?” sahut Lily.


“Chesa.” sahut Cherryl sembari berbisik.


“Ohiya, Chesa. Salam kenal yaa!”


TBC.