
"Abanggg.." panggil Cherryl lalu berhambur menuju sang kakak yang tengah duduk di ruang tengah keluarga Sanjaya bersama bunda Laura dan Vallerine.
"Loh, sudah balik aja." sahut bunda Laura yang dihadiahi cengiran oleh si cewek.
"Iya, Bun. Erryl pulang sendirian." kata Cherryl yang membuat Anggara mendelik.
"Kok sendirian? Babasnya ke mana?" tanyanya.
"Masih jalan sama Rebecca,"
"Kok pulang duluan Ryl?" tanya bunda Laura.
Cherryl menggedikan bahunya, "Kangen Abang, bosen jalan terus, Bun."
"Hilih tumben kangen." ucap Anggara sambil menepuk puncak kepala si bungsu yang langsung manyun.
"Your sister is so beautiful and such a sweet girl, Angga." sahut Vallerine yang sedari tadi tak bersuara.
Mendengar itu Cherryl tersenyum, "Thank you Vallie..."
"As you are, Val." jawab Angga yang membuat Cherryl si anak receh kembali ngakak dan itu membuat ketiga orang yang melihatnya kebingungan.
"Napa dah?"
"Geli ih, denger Abang bilang gitu. Gak cocok!" katanya di tengah senda tawa.
"What did she say?" tanya Vallerine.
Angga menggaruk tengkuknya, tapi Cherryl langsung menyahut sebelum si kakak membuka suara, "I said that he sounds so weird and funny."
"Ohh, I see.." ujar cewek itu dan ikut tersenyum manis.
"Ih iya Bunda belum masak, yuk Erryl temenin Bunda. Biar Angga sama Vallerine dulu." kata bunda Laura lalu Cherryl ikut berdiri dan mengikuti beliau ke dapur.
"We have to go, my brother is yours Vallie!" ucap Cherryl sebelum benar-benar pergi dan perkataannya membuat Vallerine kembali tertawa.
"So, it's just you and me."
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
"Ken, are you okay?"
Sebastian tersadar dari lamunannya dan menoleh menatap Rebecca, "Yeah, I'm fine."
"Should we go home?" tanya si cewek lagi.
"How about go to the market? I got something to buy." jawab cowok itu lalu berdiri dari duduknya dan menyimpan gelas kopi yang ia tenggak sejak tadi.
"Up to you. But I think it's better if I came back to your home with some snacks and fruits." jawab Rebecca yang ikut bangkit dari duduknya.
"Okay c'mon."
Sebastian dan Rebecca berjalan beriringan menuju ground floor untuk pergi berbelanja. Si cowok mengambil trolli dan menemani Rebecca untuk memilah-milah makanan dan buah-buahan terlebih dulu sebelum pergi ke area ice box.
"Seems like you love chocolate and ice cream so much." ujar Rebecca saat melihat Sebastian memasukkan banyak cup besar ice cream ke dalam trolli, begitupun beberapa batang cokelat juga bungkusan cookies yang cowok itu beli.
Mendengar itu si cowok terkekeh pelan, "These all are for Cherryl, I'm so certain she has a really bad mood because of me."
Rebecca menatap Sebastian dan mendekatinya, "Is she your girlfriend?"
"My girl–what? No, she's just my childhood friend." jawab Sebastian seraya menutup kembali ice box di depannya.
Rebecca mengangguk-anggukan kepalanya lalu tersenyum kecil, "Childhood friend? Nice to hear that." gumamnya pelan tetapi si cowok masih bisa mendengarnya.
"Why?"
Buru-buru si cewek menggeleng seraya tersenyum, "No, I mean. I never had someone who knows about me better than myself. Like Cherryl does. She must be so lucky to have you as her bestie."
Senyuman Sebastian kembali tampil dan itu membuat Rebecca ikut tersenyum, "Thanks a lot, and I believe that someday you'll find someone too." kata si cowok.
"I hope so.." jawab Rebecca seraya menatap Sebastian.
"Eum...I'm done, shall we?" tawar Sebastian lalu Rebecca dengan cepat mengangguk.
Si cowok menyuruh cewek bersurai gelombang itu berjalan di depannya sedangkan dia mendorong trollinya sembari termenung, merasa sangat bersalah pada si cewek cherry.
"Akhirnya gue bener-bener nyakitin lo. Ini yang gue takutin, Ryl." monolognya pelan.
.
.
.
🍪FLASHBACK🍪
Sebastian, Cherryl dan Rebecca sudah sampai di mall dan mereka memutuskan untuk berkeliling terlebih dulu. Tak seperti Sebastian dan Rebecca yang sibuk mengobrol, Cherryl hanya diam mengikuti dan sesekali melihat-lihat barang yang menurutnya lucu dari depan toko.
"Seb liat itu yuk." ajaknya pada si cowok yang bahkan tak mendengarkannya.
"Seb..." panggilnya lagi sambil menarik pelan lengan si cowok. Tetapi Sebastian tetap bergeming, cowok itu menggeleng pelan dan memilih untuk melanjutkan perjalanan seraya bertukar obrolan dengan Rebecca.
Cherryl manyun, kakinya sudah berjalan dengan lemas mengikuti keduanya. Mood cewek itu mulai turun dan ia bertekad untuk tidak melakukan apapun lagi setelah ini, jadinya ia hanya mengikuti di belakang seperti ekor.
"Cih, mentang-mentang ada cecan gue dilupain." kesal Cherryl sembari melirik kedua orang di depannya dengan sinis.
"Mending gue gak ikut aja." ujarnya lagi lalu mendudukkan diri di depan depot bubble tea, tak perduli dengan dua orang yang terus berjalan dan tak mementingkan dirinya itu.
"Mau pesan apa, Kak?" tanya si mas penjual.
"Strawberry milk tea satu pake popping strawberry juga, Mas. Atas nama Cherry, ini uangnya." ujar si cewek cepat lalu menyodorkan uang pas karena ia sudah hafal.
Mas-mas penjual bubble tea itu hanya diam dan akhirnya mengangguk bahkan setelah Cherryl beranjak pergi begitu saja "Silahkan ditunggu, Kak!" serunya pelan.
Cherryl menempatkan diri di tempat duduk paling ujung dan mengeluarkan ponselnya, wajahnya masih murung dan bengis. Moodnya sekarang sudah hancur dan rasanya ia ingin pergi dari sana, kemana aja. Pulang ke rumah juga boleh. Asalkan tidak di sana.
"Ini pesanannya Kak, atas nama Cherry."
Si cewek mendongak dan mendapati mas-mas tadi mengantarkan minumannya, "Loh kok diantar, Mas? Biasanya dipanggil." tanyanya.
"Ehe, iya. Kayaknya Kakak lagi nggak mood jadi saya antar aja. Silahkan dinikmati." jawab si mas itu lalu berpamitan setelah Cherryl berterimakasih.
Cewek bermata bulat itu buru-buru mengambil ponsel dan berkaca dari layar ponselnya yang gelap, "Emang muka gue serem ya? Keliatan banget kalo lagi unmood?" monolognya.
Tiba-tiba sebuah nama yang saat ini ingin ia hilangkan dari muka bumi muncul di ponselnya, dengan cepat cewek itu menggeser ikon merah dan menyimpan ponselnya lagi ke dalam kantung.
"Telfon-telfon kayak yang perduli aja." cibir Cherryl.
Cherryl menghela nafas dan menyeruput bubble tea sembari bangkit dari duduk dan melangkahkan kakinya pergi dari sana. Pas dia sudah sampai di pintu besar untuk keluar dari mall, tiba-tiba seseorang menarik tangannya.
"Lo ke mana aja Cherryl?!"
Sebastian marah, terlihat dari wajah cowok itu yang memerah dan raut khawatir yang terlihat jelas di sana. Sedangkan Rebecca hanya diam di belakang si cowok.
"Lepasin. Sakit!" berontak Cherry lalu menghempaskan lengan Sebastian yang menggenggam erat tangannya.
Sebastian melepaskan tangannya dari si cewek tetapi tatapan tajamnya tidak, tapi untuk kali ini Cherryl bertahan agar tidak lagi luluh akan apa yang di lakukan cowok itu padanya.
"Jangan kemana-mana lagi sendirian, gue khawatir." kata Sebastian dengan nada yang mulai melemah.
Cherryl tersenyum getir, "Gue ada sama gak ada bedanya apa buat lo?"
"Lo kenapa sih, Ryl?" tanya Sebastian dengan nada lelah, sudah tak tau lagi harus mengatakan apa.
"Gue kenapa? Harusnya lo yang kenapa! Udahlah gue mau pulang!" kata si cewek lalu beranjak pergi tanpa mendengarkan panggilan si cowok yang terus mengejarnya.
"Cherryl, jangan macem-macem." kata Sebastian lagi saat ia berhasil meraih tangan si cewek.
"Gausah pegang-pegang! Lo juga gak perduliin gue kan? Mending gue pulang daripada cuma jadi pajangan di sini." kata Cherryl yang menyulut kembali emosi si cowok yang sejak tadi ia tahan.
"Yaudah sana pulang aja, capek gue sama lo!" bentak Sebastian yang kali ini benar-benar meruntuhkan pertahanan Cherryl.
Cewek itu tersenyum, "Fine." katanya pelan lalu berbalik dan berjalan pergi.
Sebastian menghembuskan nafas kasar dan mengacak rambutnya. Tak mengetahui jika di sisi lain hati Cherryl hancur berkeping-keping, tak menyangka jika Sebastian tega membentaknya seperti itu. Bahkan si cewek tak menyadari jika air matanya sudah turun membasahi pipi sejak ia masuk ke dalam taxi.
"Lo jahat, Seb."
🍪FLASHBACK OFF🍪
.
.
.
.
.
TBC.
Jangan lupa vote + commentnya guys! ^_^