
Sebastian turun dari atas motor yang dikendarai oleh Farrel. Mereka sudah sampai di cafe milik Ayahnya Alex yang merupakan tunangan dari Irina. Sore ini ada acara kumpul-kumpul yang diselenggarakan, selagi waktu masing-masing longgar dan semuanya bisa hadir. Di dalam pun baru ada Gigi, Deandra, dan Ray. Padahal kakak beradik tersebut berpikir jika mereka sudah terlambat.
"Loh ini kok baru bertiga?" tanya Farrel lalu mendudukkan dirinya di salah satu kursi, diikuti oleh Sebastian.
Gigi mengangguk, "Iyanih, katanya Angga sih dia ama Irina naik mobil bareng Alex sekalian abis dari rumahnya. Gilang masih shalat ke Masjid bareng Puput. Kalau si Cherryl masih bareng Dion soalnya mereka sekalian pergi gitu tapi gatau ke mana."
"Lah si bocil ikut juga, Kak?" sahut Sebastian.
"Bocil siapa?" jawab Gigi.
"Anu, si Cherryl."
"Owalah Cherryl. Iya kalau dia pasti ikut, sudah wajib. Kalau Angga sama Irina datang pasti si bungsu jadi ekor." jawab GIgi.
"Assalamualaikum."
Semua orang menoleh dan mendapati Gilang datang berdua dengan adiknya –Putri, mereka tampak ceria dan wajahnya berseri. Yang lain dengan senang hati menyambut cowok berhidung lancip dan cewek berbibir tebal tersebut.
"Waalaikum salam. Sudah selesai shalatnya?" ujar Farrel lalu tersenyum.
"Iya udah. Makannya kita langsung balik sini." jawab Gilang.
"Halo semuaaa!" bahkan sebelum Gilang dan Puput duduk, Cherryl sudah datang sendirian membawa tas ranselnya lalu ikut nimbrung dan duduk di sebelah Sebastian.
"Kok bawa tas ginian? Abis kemping lo?" cibir Sebastian.
Cherryl mendengus pada cowok itu, "Abis belajar bareng di rumahnya Rosa."
"Oalah pantes dianter abanagnya Rosa," sahut Gigi.
"Dionnya kok langsung pulang? Nggak diajak join?" tanya Dean.
Cherryl menggeleng, "Enggak mau. Katanya nggak enak takut ganggu."
"Ganggu gimana, enggak kok." ujar Farrel.
"Udah terlanjur cabut juga sih, si Dionnya. Mending mesen makan deh." ujar Sebastian yang mengundang tawa dari sang kakak dan yang lainnya kecuali Cherryl yang tidak paham mengapa mereka tertawa.
"Kok sewot sih, Bas?" tanya Gilang.
Si cowok memasang wajah penuh pertanyaan, "Nggak sewot tau, Bang. Gue ini laper."
Plak!
Farrel menepuk pelan tengkuk adiknya, "Halah baru juga makan!"
Puput memandang Rey lalu mereka tersenyum, "Kayaknya ada yang aneh, nih" kata cewek itu.
"Apaan, Kak?" tanya Cherryl masih kebingungan.
"Lohhh, Sebastian..." goda Ray yang langsung mendapat tatapan tidak enak dari si bungsu dari keluarga Sanjaya.
"Sebby kenapa?"
"Sebastian cacingan! Baru makan udah laper aja." sahut Puput.
"Ye diamah emang gentong!" ujar Cherryl, dan lagi-lagi mereka tertawa.
"Bocil diem ya!"
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
"Ayo Bang." ajak Cherryl pada Anggara yang sedang duduk santai di sofa ruang keluarga seraya menonton televisi.
"Cepet amat, Ryl." ujar Angga yang sudah berdiri dan mengambil kunci mobil dari atas meja.
Awalnya si cewek bergeming, fokus pada Holy yang berlari-lari di bawah kakinya. Tapi akhirnya Cherryl mengangguk, "Lily udah berangkat soalnya."
"Jalan sama Lily aja, Dek?" tanya Angga saat mereka sudah meluncur meninggalkan rumah.
Cherryl menatap abangnya seraya mengangguk, "Hooh, emang mau sama siapa lagi?"
"Ya gatau, kok tanya Abang."
Cherryl manyun, lalu tiba-tiba ia menepuk dahi, "Duh iya Erryl lupa beli kado."
Sebelah alis si cowok terangkat, "Buat apaan?"
"Sekarang kan Sabtu, Bang. Nanti sore ada perayaan Natal Youth di gereja. Disuruh bawa kado." Jawab Cherryl.
"Oh itu, di kulkas 'kan masih banyak cokelat, Ryl. Bawa cokelat aja tinggal dibungkus. Lagian lo tinggal beli di mal kan bisa si." Ujar Angga.
"Iya juga ya Bang. Ah yaudah Erryl jalan dulu ya. Bye Ang'ga!" Pamit Cherryl lalu turun dari mobil setelah mereka sampai di depan mal.
"Chat Abang kalo mau pulang." kata si cowok yang dihadiahi anggukan kecil oleh adik bungsu kesayangannya itu.
Anggara melambaikan tangan, menutup kaca mobil lalu segera pergi dari sana. Setelah itu, Cherryl melangkahkan kakinya masuk kedalam mal seraya menatap layar ponselnya yang menampilkan roomchat si cewek dengan Lily.
"Cher!"
Yang dipanggil langsung mendongak dan tersenyum mendapati sang sahabat berlari kecil menghampirinya.
"Dianter Andre, nih?" tanya Cherryl, Lily mengangguk.
"Ayo ayo...Aku pingin beli masker, Cher." ajak Lily lalu mengait lengan Cherryl dan menariknya menuju eskalator.
"Tumbenan seorang Liliana pake masker, mau ngedate ya?" goda Cherryl yang langsung ditepuk oleh Lily.
"Wajar toh, Ryl. Aku kan cewek, jadi seenggaknya harus perawatan juga." jawab Lily sewot dengan bibir manyun persis seperti Cherryl kalau lagi ngambek.
"Haha, iyaiya deh. Gue yang jomblo ngenes ini diam saja."
"Halah, jomblo tapi banyak yang ngejar. Sama aja, Cher." balas Lily yang sibuk memilih-milih sheet mask setelah mereka sampai di lorong bagian kosmetik.
"Gue pake yang ini sih biasanya, enak tuh, bersih." kata Cherryl lalu menyodorkan sheet mask di tangannya pada Lily.
"Duh aku nggak cocok kalau merk ini, Ryl. Malah tambah jerawatan." kata Lily lalu menyimpan kembali benda itu ke tempatnya.
"Yaudah gue juga mau nyari liptint, kesana bentaran ya. Jangan ngilang lo." kata Cherryl lalu beranjak pergi ke lorong sebelah, sebenarnya sih dua cewek itu masih bisa melihat satu sama lain karena pembatas lorong tidak terlalu tinggi.
Si cewek cherry mengambil ponselnya saat benda itu berdering, setelah ia lihat ternyata panggilan telfon dari Sebastian. Cherryl langsung mengangkatnya tanpa pikir panjang.
"Apaan?"
'Lo lagi di mall kan? Gue mau nitip dong.'
"Ga, gue lagi di rumah. Dapet berita dari mana lo?" kata Cherryl menjawab asal-asalan karena ia fokus pada barisan liptint dan lipstick yang ada di depannya. Bahkan beberapa kali si cowok memanggil, cewek itu tak menyahut juga.
"Eh eh!"
Cherryl terkejut saat tiba-tiba seseorang menarik paksa ponsel yang ia selipkan di antara pundak dan telinganya tanpa permisi, baru saja cewek bersurai hitam pekat itu ingin mengeluarkan sumpah serapah ia terdiam karena melihat Sebastian sudah berdiri di sana.
"Ngapain lo di sini anjir?!" ujar Cherryl lalu menepuk lengan si cowok lumayan kencang.
"Heh mulutnya."
Cherryl mengatupkan bibirnya saat melihat bunda Laura berdiri di belakang Sebastian. Cewek itu tersenyum lebar, "Hehe...Maaf, Bun. Reflek."
Sebastian tertawa cekikikan karena berhasil mengerjai Cherryl. Tak perduli kalau si cewek udah menatap dia tajam banget.
"Cherryl sendirian aja?" tanya bunda Laura.
"Enggak kok, Bun. Aku sama Lily, itu ana– loh, Lily ke mana?!" ujar Cherryl panik saat melihat lorong tempat Lily berada tadi sudah kosong. Ia melihat kesana-kemari pun masih tak bisa menemukan sahabatnya itu.
"Lily!" kesal Cherryl saat tiba-tiba kepala Lily timbul dari lorong sebrang dengan senyum kikuknya. Ia memajukan sedikit tubuhnya hingga condong kearah Cherryl lalu berbisik pelan,
"Duh, Ryl. Kayaknya celanaku tembus."
.
.
.
.
.
TBC
Jangan lupa Vote + Comment!