Cookie Jar

Cookie Jar
#30 Rumah Babas



"Hmm?"


Cherryl yang sedari tadi bertopang tangan di jendela mobil hanya berdeham pelan sebagai tanggapan saat Sebastian memanggil namanya, Lily dan Tasya yang ada bersama mereka pun ikut menoleh mendengar itu.


"Mau langsung pulang atau ikut ke rumah gue?" tanya si cowok, sembari berusaha tetap fokus untuk menyetir.


Lily menyenggol pelan lengan sahabatnya itu, membuat Cherryl menatapnya dan memasang raut wajah bertanya-tanya, "Apaan?" tanyanya tanpa suara.


"Ikut ke rumah Mas Bastian aja, boleh? Kata Kak Tasya, Tante Laura kan mau bikin kue. Aku penasaran, Mas." sahut Lily yang dihadiahi tatapan tak terima dari si gadis cherry.


"Loh kok—"


Sebelum Cherryl sempat memprotes, Sebastian sudah menganggukkan kepalanya cepat. "Oke, ke rumah gue ya." finalnya lalu langsung berbelok, mengambil jalur yang berlawanan dengan arah ke rumah Cherryl.


"Di rumah ada Kak Farrel gak, Bas?" celetuk Tasya yang tadi diam saja, cewek itu bertanya tanpa menolehkan kepalanya pada si cowok karena sibuk mengatur ulang feed Instagramnya.


"Gak ada, Kak Farrel udah berangkat ke New York." sahut Cherryl, Tasya yang duduk di kursi sebelah pengemudi melirik Sebastian lalu akhirnya berdeham.


"Oh,"


"Eum, nanti Cherryl sama aku mau ngerjakan tugas dulu ya Mas. Besok dikumpulkan soalnya." ucap Lily, berusaha untuk mengalihkan topik karena sumpah demi apapun keadaan di dalam mobil yang sunyi terasa mencekam bagi Lily, cewek itu hampir pengap apalagi melihat raut keruh milik Cherryl yang duduk di sampingnya.


Sebastian mengiyakan ucapan Lily, "Di kamar gue aja, biar enak belajarnya."


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di pekarangan rumah keluarga Sanjaya. Cherryl menarik Lily masuk tanpa aba-aba, meninggalkan Tasya yang masih menunggu Sebastian memarkirkan mobilnya di garasi.


"Permisi, Shalom!" seru Cherryl sembari melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah setelah mengetuk pintu beberapa kali.


Aroma kopi menyerbak masuk ke indra penciuman Cherryl dan Lily seiring dengan munculnya sosok bunda Laura dari arah dapur, seperti biasa dengan apron ungu tua favoritnya.


"Oalah ada Cherryl sama Lily, iya iya Shalom. Masuk dulu yaaa..." ujar beliau sembari tersenyum dan mengarahkan kedua cewek itu untuk duduk di sofa.


"Tasya nggak ikut kalian?" tanya bunda Laura sembari ikut duduk di deket Lily.


"Ah, ikut kok Tante. Ada di luar, kayaknya nungguin Mas Bastian parkir mobil." ujar Lily cepat.


Bunda Laura mengangguk-anggukkan kepala, "Nanti ikut ya bikin kue? Erryl kan biasanya suka bantuin Bunda juga."


Cherryl menegakkan duduknya lalu mengangguk sambil tersenyum, "Iya Bunda."


"Babas pulang!"


Sosok Sebastian muncul dari balik pintu utama, diikuti Tasya di belakangnya yang masih terlihat sungkan.


"Halo Tasya, ayo masuk sini." sambut bunda Laura lalu cewek itu menurut saja.


"Mau ganti baju dulu ga?" tanya Sebastian sambil menatap Cherryl yang mendongak karena cowok itu berdiri di depannya.


Si cewek bersurai sebahu itu tampak berpikir, dia melirik Tasya lalu akhirnya mengangguk, "Iya deh, gerah pake seragam. Ly, mau minjem baju gue juga ga?" tanyanya pada Lily.


"Enggak deh, aku pake ini aja gapapa. Kamu ganti aja Cher." jawab Lily.


"Oh yaudah. Bunda, Erryl mau ganti baju dulu ya." kata Cherryl lalu berdiri dan segera menaiki tangga menuju lantai dua, diikuti oleh Sebastian di belakangnya.


Tasya hanya diam melihat itu, tapi dari raut wajahnya dia tampak bingung jadi bunda Laura langsung tertawa pelan, "Cherryl sering nginap jadi baju dia banyak di lemarinya Bastian," katanya.


Tasya menggaruk tengkuk, "Ohh iya, Tante."


🍪Cookie Jar🍪


Sebastian menyodori Cherryl satu kaos dan celana denim pendek milik cewek itu yang dia ambil dari dalam lemari bagian atas, setelah itu Cherryl beranjak ke kamar mandi untuk berganti baju sedangkan Sebastian mengganti bajunya di kamar.


"Udah selesai?" tanya Cherryl dari balik pintu kamar mandi, cewek itu menunggu respon si cowok sebelum membuka pintu.


"Katanya mau ngerjain pr dulu kan? Di sini aja," ujar Sebastian dan Cherryl mengangguk setuju sambil keduanya beranjak keluar dan menuruni tangga.


Cherryl melangkahkan kakinya menuruni anak tangga paling atas, dan Sebastian mengikuti sembari menopangkan kedua tangannya pada bahu si cewek yang jauh lebih pendek darinya, "Enak ya punya penyangga berjalan—au! Iya ampun!" ledek Sebastian yang langsung dihadiahi sikutan dari Cherryl sampai cowok itu mengaduh kencang.


"Kenapa, Bas?" sahut bunda Laura dari lantai dasar saat mendengar suara putera bungsunya itu.


Cherryl dan Sebastian menunduk untuk melihat ke bawah, si cowok tersenyum lebar, "Hehe, gapapa Bun."


"Yaudah ayo Babas sini bantuin Bunda ambil bahan-bahan untuk buat kue, Lily sama Cherryl kerjakan dulu tugasnya nanti menyusul ke dapur ya? Yuk, Tasya..." kata bunda Laura lalu beranjak ke arah dapur bersama Sebastian dan Tasya, sedangkan Cherryl segera mengambil tasnya lalu menggaet Lily untuk kembali ke atas.


"Tasya, sini dulu pakai apron. Tante pasangkan." ujar Bunda Laura lalu mendekati Tasya yang tampak malu-malu, cewek itu mengangkat rambutnya yang menjuntai panjang saat beliau mengikatkan tali apron berwarna hijau daun ke pinggangnya.


"Makasih, Tante." katanya.


"Santai aja Tasya. Yaampun kamu cantik kalau begini, keliatan keibuan sekali." ujar Bunda Laura yang membuat Tasya semakin tersipu malu, cewek itu sampai menepuk pelan lengan Sebastian yang melewatinya sembari mengangkut sekarung kecil tepung terigu yang cowok itu ambil dari gudang penyimpanan.


"Napa lo?" sahut Sebastian tanpa berhenti melangkah.


Setelah itu Bunda Laura mulai mengintruksi pembagian tugas, selama beliau menata kue kering yang sudah matang ke toples, Tasya mendapat bagian mengaduk adonan yang dibantu oleh Sebastian untuk memasukkan bahan-bahannya.


"Ih dikit-dikit dong, Bas." ujar Tasya saat Sebastian menuangkan tepung terlalu banyak sampai mengepul ke wajahnya.


"Haha sorry," kata Sebastian lalu menyiapkan bahan lainnya.


Tasya melirik cowok itu dan jadi gemas sendiri, Sebastian tampak berbeda dari biasanya jika sedang mengenakan apron hitam seperti sekarang. Terlihat elegan dan jauh lebih tampan, produk olahan luar memang nggak kaleng-kaleng.


"Bas, margarinnya Bas." kata Tasya lalu sebastian menggeser mangkuk berisi lelehan margarin ke arah cewek itu.


"Bentar mau ambil sarung tangan," katanya lalu beranjak ke buffet.


Tasya yang spontan mengambil mangkuk itu langsung menjerit kaget dan mengibas-ibaskan tangannya yang terasa panas.


"Heh yaampun kamu kenapa, Tasya?!" ujar bunda Laura cepat-cepat mengambil tangan Tasya dan mengamatinya, beliau menarik si cewek ke arah wastafel dan menyuruhnya menaruh tangan di bawah aliran air.


"Maaf, Tante." kata Tasya.


"Gapapa gapapa, hati-hati ya. Babas, kok gak bilang kalau mangkuknya panas?" ujar bunda Laura sembari menatap Sebastian yang berdiri di sebelah Tasya.


"Babas kan bilang mau amb—ah iyadeh, Babas yang salah. Maaf Sya." kata cowok itu kemudian, memilih untuk mengalah saja dari bundanya.


Bunda Laura mengajak Sebastian untuk melanjutkan proses pembuatan kue, setelah beberapa saat Tasya menoleh dan memanggil beliau.


"Tante, ini udah boleh di stop?" tanyanya.


Bunda Laura menoleh pada Sebastian, "Coba kamu cek tangannya, "


Si cowok menurut, dia menghampiri Tasya lalu mematikan keran air dan mengambil pergelangan tangan cewek itu, "Kayaknya udah, tapi abis ini di kasih salep dulu." katanya lalu melepaskan genggamannya.


Tasya menunduk untuk menghindari tatapan si cowok, "I-iya,"


TBC.