Cookie Jar

Cookie Jar
#47 Tentang Sebastian



Sebastian menolehkan kepala saat sang bunda mendudukkan diri di sebelahnya sembari menyimpan dua gelas teh hangat ke atas meja. Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, cowok itu juga sudah mengantar Cherryl dan Lily pulang. Perbincangan mereka sudah berakhir baik karena bunda Laura menjelaskan kalau beliau melarang mereka untuk berpacaran bukan karena nggak merestui, tapi sejak awal beliau tahu kalau Cherryl belum diperbolehkan untuk berpacaran selama masa sekolah.


“Walau Bunda udah jelasin Babas masih gak paham, Bun. Babas kan bilang kalau memang pacaran pun nggak bakal bilang ke yang lain selain Bunda. Toh Babas sama Cherryl selama ini kemana-mana udah bareng…” ujar Sebastian dengan lesu, cowok itu menundukkan kepalanya.


Bunda Laura menghela napas untuk kesekian kalinya, “Kamu tahu pacaran itu berbeda, Bas. Lebih banyak tanggungjawabnya.”


“Tapi Bun…”


“Bunda tahu kamu sayang Cherryl, sekarang kamu menganggap dia sebagai cewek. Oke, bunda paham sekali. Tapi untuk pacaran kan harus tau seluk beluk masing-masing dulu, memang kalian dari kecil udah bareng tapi kan setelah pisah lama kalian baru berteman lagi setahunan ini. Apa nggak terlalu cepat?” ujar bunda Laura sembari menyesap teh hangatnya dengan tenang.


“Kalau itu kan bisa pelan-pelan, Bun. Orang pacaran juga tujuannya bisa lebih tau kepribadian satu sama lain. Bisa belajar bareng juga, saling ngoreksi.” balas Sebastian lagi, cowok itu tetap menjaga nada suaranya agar tidak meninggi walau kepalanya sudah berdenyut.


Beliau menempatkan satu bantal sofa di atas paha sebagai tumpuan, “Kamu mungkin udah tau cerita-cerita Cherryl karena dia terbuka sama kamu, tapi apa kamu sudah terbuka sama dia? Walaupun dia nggak tanya, apa kamu pernah bilang sekali aja kalau di New York sana kamu sudah berkali-kali pacaran? Mungkin buat kamu nggak penting, tapi Cherryl itu anaknya polos sekali, Bas. Ini kan yang pertama kali buat dia.” ujar bunda Laura yang membuat Sebastian bergeming, dia bahkan nggak terpikirkan sama sekali untuk membahas masalah itu dengan Cherryl sebelumnya.


“Belum sih Bun,” jawabnya pelan.


“Pergaulan di sana dan di sini juga berbeda, kamu paham maksud bunda ‘kan? Bunda mau kamu menyesuaikan diri benar-benar di sini dulu, kamu juga sebentar lagi bakal sibuk persiapan kelulusan. Untuk pacaran lebih baik nanti kalau Cherryl juga sudah siap, toh walaupun nggak pacaran kalian masih bisa bareng kayak biasanya.” timpal beliau lagi.


“Iya, Bunda. Maaf Babas keburu-buru banget sampe nggak bisa mikir baik-baik.” jawab Sebastian lalu mengusap pelan punggung tangan sang bunda.


“Gapapa, cuma kamu harus ingat untuk nahan diri. Jangan macam-macam sama Cherryl. Bunda tahu kamu bukan anak yang begitu tapi kebiasaan yang kamu bawa dari sana nggak pasti hilang begitu saja.” ujar bunda Laura lalu mengusap kepala putera bungsunya itu dengan sayang.


Sebastian mengangguk, “Iya Bunda. Makasih ya.” katanya lalu beberapa saat kemudian si cowok berpamitan untuk masuk ke kamarnya.


Dia mendudukkan diri di atas ranjang dengan tubuh lunglai, bagaimana bisa selama ini dia nggak kepikiran sama sekali untuk bercerita lebih banyak soal dirinya di masa lalu ke cewek itu. Kadang memang si cewek cherry bertanya satu-dua hal tapi yang berkaitan dengan kultur saja, bukan soal dirinya secara pribadi.


Seperti kata bunda Laura, cowok itu sudah sering kali menjalin hubungan dengan cewek lain sejak sekolah menengah sampai beberapa waktu sebelum pindah ke sini. Walaupun ayah Tony selalu bilang nggak setuju, tapi dia tetap berpacaran diam-diam. Sebastian sering bercerita sama bundanya dan memohon supaya nggak diberitahu pada sang ayah.


“Damn,” monolognya lalu mengacak rambut frustasi.


Sebastian meruntuki dirinya yang sempat berpikiran untuk mencium Cherryl walaupun dia akhirnya selalu bisa menahan diri. Kalaupun semisal mereka berpacaran nanti, cowok itu bisa-bisa menyakiti hati si cewek karena melakukan itu tanpa memberi tahu kalau itu adalah yang kesekian kali untuknya, bukan yang pertama.


Ternyata masih banyak hal yang belum ia ceritakan pada cewek itu, dan kali ini dia benar-benar merasa pusing. Padahal di sisi lain, Cherryl sedang seru bermain bersaman Lily dan Fany di ruang tamu. Cewek itu malah merasa lebih lega dan tenang selepas mendengar penjelasan bunda Laura karena jujur saja dia belum siap untuk berpacaran karena rasanya mendadak sekali. Tadi Sebastian juga sempat berkata kalau nggak masalah, cowok itu mau menunggunya sampai mendapat persetujuan. Toh nggak akan ada yang berubah.


“Yahhh Fany curang!” seru Cherryl lalu berpura-pura menekuk wajahnya saat anak itu menukar uang palsu miliknya dengan jumlah yang lebih kecil.


Mama Jeni sedari tadi hanya ikut menonton sambil sesekli menimbrung pembicaraan ketiga orang itu. Rasanya sudah lama suasana rumah nggak semeriah ini karena sang suami jarang kembali ke rumah karena tugasnya di bagian pelayaran, tahun ini pun sepertinya belum bisa pulang.


“Cherryl sering-sering nginap di sini ya, biar rame.” ujae beliau yang diangguki dengan cepat oleh cewek itu.


“Siap Tan!”


“Ma, besok Mas Andre mau ngajak main. Fany ikut juga ndak apa-apa?” ujar Lily yang sedari tadi bertukar pesan dengan pacarnya itu.


“Mau main, Mbakk!” seru Fany yang langsung berlari menuju sang kakak dan mengintip layar ponselnya walau anak itu belum tahu cara membaca.


Lily mengajak sang adik untuk melakukan tos, “Iya besok sama Mas Andre mau diajak main, kamu ndak boleh nakal, ya?”


“Iyaaa…”


Mama Jeni mengangguk, “Ya boleh toh, malah bagus kalau nggak berduaan aja. Iya ndak, Cherryl?”


Yang ditanyai hanya menyengir, “Hehe iya Tante.” jawabnya lugu, beliau hanya tertawa pelan.


“Heleh kamu ae berduaan terus sama Mas Bastian.” cibir Lily yang dihadiahi tatapan tajam dari sahabatnya itu.


Tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari Sebastian mengalihkan perhatian mereka semua. Cewek itu mengangkatnya, “Halo, Seb?”


‘Lo lagi sama Lily?’


‘Kalo gitu besok aja deh. Gue harus ngomong sesuatu, lumayan penting.’


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Kediaman keluarga terasa cukup sepi karena nggak ada si bungsu. Saat ini Alex dan Irina yang baru saja pulang setelah seharian mengurus desain undangan pernikahan dan keperluan lainnya sudah terkapar di sofa ruang tamu sedangkan Anggara sibuk menikmati martabak telur spesial yang dititipnya. Ayah Sam masih berdiam di ruang kerjanya sedangkan bunda Sena menonton televisi seperti biasa.


“Jadi gimana, sudah kelar desain undangannya?” tanya bunda Sena kemudian.


Irina mengenggam lengan Alex yang melingkari lehernya, “Desainnya udah Bun makannya tadi lama nyari biar langsung bisa mulai cetak. Kalau gaunnya belum sih, tapi udah nemu baju yang cocok buat ayah sama Bunda deh, iyakan Yang?” balas Irina lalu menatap tunangannya itu.


“Ehm, iya, Bun. Tau sendiri Irina agak ribet soal yang detail-detail gitu, aku sih ngikut aja jadi supir sama komentator. Haha.” ujar cowok itu.


“Nanti kalo ndah kelar gue aja yang ambil, Bang.” celetuk Anggara.


Irina mengangguk, “Hooh nanti gue kirim alamatnya ya, Ngga.”


“Baju ayah sama bunda udah, terus gue sama Cherryl gimana?” tambah cowok itu lagi.


Irina menatap sang adik dengan wajah datarnya, “Itumah tenang aja sih nanti kalian sama yang lain desainnya ada sendiri, kan jadi bridesmaid sama groomsmen masa pake kaos.” katanya yang membuat Anggara menggedikan bahu malas dan lanjut mengunyah martabaknya.


“Untuk konsumsinya juga belum kan, nanti bunda bantu tanya-tanya sama teman arisan deh siapa tau dapat rekomendasi bagus.” ujar bunda Sena yang membuat sang puteri sulung serta sang menantu mengangguk setuju.


“Makasih, Bun.”


.


.


.


.


.


TBC.