
Kali ini para panitia inti buru-buru merapikan barisan kursi yang sebelumnya sudah mereka atur, para peserta lomba mendudukkan diri secara berhadapan dengan partner masing-masing. Tasya berhadapan dengan Gina, sedangkan Elena dengan Karsih. Seperti ucapan Gina sebelumnya, cewek itu yang akan mendandani Tasya sedangkan Karsih yang akan mendandani Elena.
Mereka sebenarnya bisa meminjam peralatan rias yang disediakan oleh panitia tapi kebanyakan sudah membawa milik masing-masing dari rumah agar lebih nyaman, katanya.
“Wih cewek-cewek cantik semua yang di kirim sama kelas kalian nih, bakal susah nilainya!” celetuk Asya yang bersandar pada Yeremia, cowok itu terima-terima saja walau lengannya agak pegal, dia nggak berani melawan si ketos yang dikenal galak itu sih.
“Tenang aja kita gak sebaik itu kok haha, yang ngedandanin bakal pake penutup mata ya!” tambah cewek berkacamata itu, membuat para cewek yang akan didandani menyerukan keresahan mereka.
Asya berdecak lalu menginstruksikan panitia inti untuk melakukan perintahnya, “Udah udah diem ah, ayo cepet bagiin penutup matanya!”
“Ngomongnya yang bener lo, Sya. Nanti kalo mata lo kecolok jangan salahin gue.” bisik Gina yang langsung diinjak pelan oleh temannya itu.
“Bawel lo, awas aja muka gue sampe kayak badut.” balasnya.
“Bukannya emang udah ngebadut gara-gara Babas? Ha—SAKIT ANJIR!” pekik Gina saat Tasya mencubit lengannya tanpa aba-aba yang membuat pandangan orang-orang tertuju pada mereka.
Gina menyengir saat ditatap tajam oleh Asya yang sudah memasang wajah garang, “Belum mulai udah rame aja kalian.”
“Hehe, maaf Kak gak sengaja.” ujar Gina lalu menatap Tasya yang juga menatapnya dengan tampang mengejek.
“Ups.”
“Coba diperiksa lagi penutup matanya dipasang bener-bener gak…” ujar Yeremia lalu semua panitia inti memeriksa satu per satu peserta dan akhirnya mengacungkan ibu jari mereka.
“Sip. Nah, sekarang siap-siap, gue cume kasih kalian waktu lima menit dan itu harus lengkap dari foundation sampe highlighter ya. Lima menit, mulai dari…Sekarang!!” ujar Asya cepat, tak menyediakan waktu untuk mendengar protes para cewek itu karena mereka hanya diberikan waktu lima menit.
“Gak manusiawi banget waktun—eh eh bentar do—mmmmhh!!” protes salah seorang cewek dari kelas 10 IPA yang kewalahan karena parternya menjejali muka dia dengan seonggok foundation secara tiba-tiba.
Bukannya memberi semangat, para pendukung malah tertawa kencang karena banyak kejadian di luar nalar yang terjadi selama lomba ketiga ini, Tasya juga sudah pasrah karena Gina sama sekali tidak bisa mengikuti instruksi dengan benar sedangkan yang lain masih banyak yang beteriak-teriak entah karena memberi arahan ataupun karena partnernya melakukan kesalahan. Lima menit terasa lama sekali, cewek itu ingin cepat-cepat mencuci muka karena gerah.
Gina meraba-raba wajah cewek itu yang keruh, “Kok diem aja sih Sya? Arahin dong!”
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
Setelah melewati tiga lomba yang cukup membuat mereka kehabisan napas karena tertawa, kali ini semua orang di sekolah akan ikut berpartisipasi dalam lomba estafet air dan tepung. Karena siswa di sekolah mereka tidak terlalu banyak, jadi panitia inti estafet saja yang nggak ikut bermain. Para murid cowok dan cewek sudah berkumpul di tengah lapangan setelah diberikan arahan oleh Robien.
“Karena pas retreat kemarin main airnya per kelas, sekarang grupnya dicampur-campur! Ayo pasang kuping baik-baik, Kak Yosia bakal manggil nama kalian sesuai kelompok yang udah kami buat.” jelas Robien dan mengangguk pada sosok Yosia yang langsung melakukan tugasnya.
“YAH KOK KALIAN BARENG?!” protes Cherryl saat Sebastian dan Lily ternyata masuk ke tim yang sama, sedangkan dia terpisah sendirian bahkan dari Andre dan Devin.
“Cherryl, kita bareng tau! Sama Bang Dion jugaa…” ujar Rosa sembari menggaet lengan si cewek cherry yang langsung merubah air mukanya menjadi lebih cerah, dia juga membalas Sebastian dengan menaik-turunkan alisnya seraya melambaikan tangan.
“Wahh gue punye temen ternyata, bye-bye Lily, bye Sebby. Have fun ya~” ujarnya, berniat mengejek Sebastian, ditambah dengan senyum kemenangan yang tak lupa ia tunjukkan.
‘Mampus, kena lo.’ batin Cherryl sembari mengeratkan rangkulannya di lengan Rosa, sedangkan Dion memimpin jalan di depan.
Setiap kelompok diarahkan untuk duduk berbaris di sepanjang lapangan dan seberikan masing-masing satu satu ember di bagain paling belakang dan satu lagi di bagian paling depan, juga setiap orangnya diberi piring plastik yang akan digunakan untuk mengoper air dan tepung nantinya.
“Secara garis besar pasti semua tau gimana mainnya kan, cuma gue bakal sebutin lagi peraturannya supaya kalian paham. Jadi kalian liat di depan udah ada ember penuh air, nanti yang duduk paling depan bakal ngambil airnya pake piring terus dioper ke belakang, OPERNYA HARUS LEWAT KEPALA YA. Awas kalo ada yang berani nuang air lewat samping, nanti bakal di diskualifikasi dan ada hukumannya juga. Kita bakal main dua kali, setelah Estafet Air nanti kita ganti ke Estafet Tepung. Kenapa? Biar tepungnya nempel ke baju kalian yang udah basah, hehehe.” jelas Robien.
“Huuuu mentang-mentang panitia gak main!!”
Tapi setelah itu mereka semua tampak bersemangat untuk bermain karena memang lomba terakhir ini sudah ditunggu-tunggu oleh sebagian besar dari mereka sebagai ajang usil-usilan dan kesempatan untuk berinteraksi dengan murid dari kelas lain. Seperti Dion yang buru-buru mengambil posisi duduk di belakang Cherryl, cewek itu yang belum sadar akan keberadaannya terlihat senang-senang saja.
“Wih hati-hati ya nuangnya, Dek.” celetuk Dion yang membuat Cherryl menoleh, dia melebarkan matanya saat melihat si kakak kelas.
“Eh? Oh…Iya, Kak.” jawabnya agak pelan dengan senyum kikuk, cewek itu melirik Sebastian yang duduk tak jauh di sebelahnya karena sengaja agar mereka masih bisa saling melihat.
Tadi Cherryl merasa terlalu senang bisa mengejek balik si cowok dan tidak terlalu menyangka kalau dia akan banyak berinteraksi dengan Dion, tapi setelah menyadari seberapa kaku dia di depan si cowok, cewek bermata bulat itu jadi meruntuki posisinya saat ini.
“Oh iya, Rosa di mana?” tanya Dion basa-basi, nggak tau kalau Cherryl sudah berdoa mati-matian agar Sebastian berhenti menatap tajam cowok itu yang seakan bisa menembus pagar beton sekolah seperti Superman.
Cherryl mengedarkan pandangannya ke depan, berpura-pura mencari Rosa sampai akhirnya menggeleng pelan, “Nggak tau, Kak. Dia tiba-tiba aja misah tadi…” jawabnya.
Saat Dion berusaha keras untuk mengobrol dengan Cherryl, di sisi lain Sebastian sudah panas hati. Rasanya sekarang dia mau mengajukan diri untuk pindah kelompok walaupun sejak awal sudah sempat ditegaskan oleh Robien kalau hal itu nggak boleh dilakukan. Peserta harus menerima kelompoknya masing-masing tanpa protes.
Cowok bergigi kelinci itu mengangkat tangannya dan melambai-lambai pada panitia terdekat, sempat membuat Cherryl panik sampai si cowok buka suara, “Ayo dong, lama amat!” katanya dengan suara lantang.
Sesaat kemudian banyak juga yang ikut-ikutan memprotes karena lombanya tidak segera dimulai padahal semua sudah siap di posisi masing-masing.
“Iya iya bentaran, ini udah mau mulai kok. Sabar guys, sabar!” seru Yeremia karena Asya kebetulan sedang menghilang ke ruang guru setelah mendapat panggilan.
Robien kembali ambil alih, “Gak gue kasih batas waktu, pokoknya grup yang udah abis air di embernya bisa langsung berdiri dan taruh embernya di depan, sampek grup terakhir yang kelar baru kita ukur siapa yang airnya paling banyak. Satu, dua, tiga…Mulai!” katanya.
Selama lomba dimainkan banyak cewek yang merengek karena beberapa cowok sengaja menyiram mereka dengan air, sampai ada beberapa anak juga yang basah kuyup dari kepala sampai kaki. Permainan sesi ini dipimpin oleh kelompok Sebastian yang sebagian besar diisi oleh anak cowok ambis, maka mereka berusaha seminimal mungkin untuk menumpahkan air saat di kelompok lain banyak yang malah membuang-buang air demi menjahili satu sama-lain. Setelah Estafet Air selesai dan panitia merundingkan pemenang, kali ini giliran Estafet Tepung. Untung saja urutan duduk mereka dirumah sehingga Cherryl bisa bernapas lebih lega.
Hari semakin sore ketika mereka menyelesaikan lomba. Masing-masing anak sudah tertutupi tepung yang menempel di sekujur tubuh mereka sampai-sampai terlihat seperti kejutan ulang tahun massal. Beberapa cowok juga mengakhiri lomba dengan mengejar-ngejar beberapa panitia dan menyiram mereka dengan air yang diambil dari keran sekolah.
Cherryl baru saja menoleh kesana-kemari untuk mencari sosok Lily, saat sebuah tangan menariknya keluar dari kerumunan. Cewek itu memasang wajah bingung sekaligus lega karena ternyata Sebastianlah yang menariknya. Setelah mereka sampai di area belakang sekolah yang sepi, Cherryl mendongak untuk menatap muka si cowok yang tertutup tepung, mengingatkannya pada balita sehabis mandi. Tangannya terulur untuk mengusap muka Sebastian tapi napasnya malah tercekat karena cowok itu mendempetnya ke tembok sekolah.
"S-seb!”
Sebastian menunduk, menatap muka Cherryl yang sudah merah padam, “Lo yang cari gara-gara duluan.”
.
.
.
.
.
TBC.