
Rasanya baru kemarin mereka melalui berbagai hal sampai nggak sadar kalau sekarang ternyata sudah lewat beberapa hari dari awal bulan Oktober. Di saat Lily, Andre, Sebastian dan Alfian dipusingkan dengan jadwal ujian tengah semester yang sudah di depan mata, Devin dan Cherryl serta para anggota OSIS masih memiliki beban tambahan yaitu lomba dance dan pesta ulang tahun yayasan sekaligus pemilihan duta sekolah baru yang akan di gelar akhir bulan ini.
Cherryl memiliki jadwal rapat hampir setiap hari setiap pulang sekolah, karena itu sembari menunggu si cewek pulang, Sebastian selalu duduk di kursi aula yang dipakai oleh Devin dan miss Kay untuk latihan tari. Hitung-hitung menemani si adik kelas.
Cowok bergigi kelinci itu termenung lalu mengusap rambutnya, dia baru sadar kalau rambutnya sudah mulai memanjang bahkan sudah bisa diikat menggunakan karet. Sepertinya itu sebuah tanda kalau dia harus pergi ke barber shop di akhir minggu nanti.
Beberapa hari kebelakang ini bunda Laura sudah mulai mendorong dan mengingatkannya agar fokus belajar untuk ujian karena akan menentukan kelulusannya nanti. Sebastian sih bukan cowok yang terlalu pintar dalam akademik walau nilainya aman-aman saja, tapi tentu dia sempat keteteran sewaktu pertama kali pindah ke Indonesia karena materi yang diajarkan beda sekali. Di sini juga peraturannya jauh lebih ketat daripada di Amerika Serikat; harus pakai seragam, nggak ada jatah makanan gratis, nggak ada fasilitas elektronik, dan jadwal pelajarannya sangat teratur. Tapi yang paling disayangan sama cowok itu adalah nggak ada libur panjang untuk musim panas dan festival tahunan seperti Halloween atau sekedar Summer Camp. Dia biasanya nggak terlalu suka Summer Camp, tapi kalau nggak ada jadinya agak kangen.
“Wei ngelamun aja lo.”
“E-eh!?”
Sebastian hampir saja terkena lemparan kaleng minuman dingin yang dilemparkan oleh Alfian tanpa aba-aba, cowok itu sampai menarik napas panjang karena jantungnya berpacu akibat terkejut, “Gila lo, bisa benjol gue ketimpuk ginian.” balas cowok itu sembari meninju pelan lengan temannya yang bahkan nggak merasa bersalah sama sekali dan malah memilih untuk tertawa lepas.
“Hahaha benjol juga tetep ganteng, Bas.”
Alfian membuka kaleng minuman ditangannya, “Si Devin memang banyak bisa dilatih setiap hari sama miss Kay anjir, mana cuma berdua.” kata dia sembari menenggak minumannya.
Miss Kayleen itu salah satu guru cewek yang populer di kalangan anak cowok sekolah mereka, beliau masih muda dan multitalent. Selain menjadi guru tari, beliau juga terkadang mengajar alat musik dan ekstrakulikuler teknologi informasi. Nggak heran kalau Devin sekarang menjadi pembicaraan umum para siswa saat di kelas karena bisa mendapat kesempatan emas, tapi cowok itu memang nggak pernah berpikir aneh-aneh atau menanggapi ucapan teman-temannya yang lain.
“Untung yang di latih si Devin, bukan lo.” sahut Sebastian yang ikut menenggak minumannya tadi.
“Eh nanti pas ultah sekolah bakal ada sesi dansa, lo dikasih tau Cherryl kaga?”
Yang ditanyai menggeleng pelan, “Gue aja baru denger,” jawabnya.
Alfian merangkul sang sahabat dengan lengan kirinya, “Kalo udah acara itu serasa jadi bangsawan coy, lo juga gaboleh cuma pake kemeja. Harus pake jas.”
“Bangsawan pala lo, udah nanti gue tanya aja langsung ke Cherryl. Lo mah sesat.” balas Sebastian lalu menoyor kening cowok itu.
Alfian nggak menghiraukan ucapan temannya itu karena pandangannya terfokus pada miss Kay yang sepertinya sudah selesai membina latihan Devin karena mereka mengambil tas masing-masing dan putera bungsu pak Indra itu menundukkan kepalanya sebagai salam perpisahan sebelum melambai dan berlari menghampiri dua cowok itu.
“Yo, Devin!” ujarnya lalu mereka saling memberi tos satu sama lain.
“Nih si Fian beliin minum.” ujar Sebastian sembari menyodori Devin sebotol minuman yang langsung diterima dengan senang hati.
“Makasih Bang.”
Sebastian mengangkat tangan untuk mengecek jam dari arlojinya, “Eh udah jam berapa ini kok tumben si bocil rapatnya belom kelar.” monolognya yang bisa didengar jelas oleh yang lain.
“Mau nunggu di depan ruang OSIS aja?” usul Devin lalu disetujui oleh keduanya.
Mereka berpamitan pada miss Kayleen yang masih duduk di kursi aula entah melakukan apa, tapi setelah itu ketiganya segera beranjak beriringan menyusuri lorong sekolah menuju ruang OSIS yang terdengar ramai bahkan dari jarak yang nggak begitu dekat. Sepertinya suasana rapat ceria banget.
Sebastian baru mendudukkan dirinya di sebelah Devin dan Alfian saat pintu terbuka dan sosok Cherryl muncul bersama Thomas dan Asya. Mereka saling menyapa dan anggota OSIS lain juga berhamburan keluar dari sana.
“Wah udah kayak Puteri Kerajaan aja Cherryl ditungguin tiga pengawal hahaha.” ujar Asya sembari mengeratkan rangkulannya pada si cewek cherry.
“Kita berdua yang pengawal, dia mah mukanya gak bisa dijadiin pengawal.” sahut Alfian sambil menunjuk Sebastian yang membuat si ketua OSIS tertawa.
“Ada-ada aja. Udah deh gue balik dulu masih banyak urusan. Dah!” ujar si cewek berkacamata lalu melenggang pergi, diikuti Thomas juga.
“Kasian kak Asya, udah ngurusin acara ini abis itu masih harus ngediklat pengurus OSIS baru.” ujar Cherryl lalu menghela napas, cewek itu menggenggam kedua tali tasnya lalu menatap ketiga cowok yang masih bergeming di tempat mereka.
“Jadi mau balik atau diem di sini aja sampe besok?” lanjutnya yang membuat Devin, Sebastian dan Alfian bereaksi, mereka berempat melanjutkan perjalanan ke area luar sekolah dan berpisah di area parkir, Devin juga sudah dijemput oleh Elhanan yang menunggu di luar pagar.
“Bye semua, hati-hati!”
🍪Cookie Jar🍪
Cherryl melebarkan matanya melihat seonggok tas berbentuk persis seperti teddy bear yang dipegang oleh Sebastian, cowok itu bahkan nggak mengatakan apapun dan muncul begitu saja di depan pintu kamarnya malam-malam begini, jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan si cewek masih berkutat dengan laptop yang ia pakai untuk menulis artikel soal rincian acara yang sudah dirapatkan dan dimasukkan kedalam blog sekolah.
“IH LUCU BANGET!” ujar cewek itu yang sontak mengulurkan tangannya, tapi si cowok malah menarik tas itu.
“Main samber aja, emang buat lo?” ujarnya sinis.
Adik bungsu kesayangan Anggara itu merengut kesal, “Emang buat siapa lagi ih, Seb?!” katanya greget.
Sebastian tertawa, “Yayaya, ada tamu bukannya disuruh masuk dulu malah dimarahin. Gak ramah, bintang satu. Eh bintang tiga deh soalnya lo cantik.” katanya yang kali ini mendapat tendangan pelan oleh Cherryl.
“Diem ah. Gue beneran gabisa nerima tamu dulu, masih sibuk. Lagian lo bertamu ke kamar orang malem-malem begini, mending temenin Ang’Ga aja sana.” ujar si cewek.
Cowok itu mengangguk, “Yaudah nih diambil, gue emang niat mampir doang ngasih ini sama bawain kue titipan bunda. Tapi inget jangan tidur malem-malem lo.” ujar si cowok lalu memberikan tas boneka itu pada Cherryl yang langsung diterima dengan senang hati.
Cherryl memeluk tas itu lalu tersenyum riang, “Lembut banget, makasih Sebby! Lo hati-hati baliknya yaa~”
Sebastian hanya tersenyum dan mengangguk sebagai tanggapan. Biasanya cowok itu bakal mengelus kepala si cewek atau mengecup keningnya, tapi sekarang sudah nggak begitu. Walau sudah berteman lagi, masih ada garis tipis yang bisa dirasakan oleh keduanya.
Cherryl langsung menutup pintu kamarnya selepas kepergian Sebastian, ia langsung mendudukkan diri di kursi meja belajar dan mengamati tas boneka itu. Kalau nggak ada talinya mungkin orang akan benar-benar mengira itu sebuah boneka, resletingnya juga terletak di belakang. Sebastian memang paham betul kesukaannya.
“Kebetulan tas gue yang cokelat udah rusak, kalo bawa ini jalan-jalan lucu kali yaa…Eh apa ni?” monolog Cherryl lalu membuka resleting saat dia nggak sengaja merasakan sesuatu di dalam tasnya.
Cewek itu menemukan beberapa batang snack dan cokelat, sebuah casing ponsel transparan yang sudah ditempeli stiker buah-buahan serta secarik surat yang dilipat, “Wahhh lucuuu…”
Cherryl menyimpan tas dan barang lainnya ke samping untuk membaca surat itu sambil kadang terkikik geli karena tertawa.
‘Gausah senyum-senyum gitu bacanya, gue ngasih ini cuma buat penyemangat aja. Lo pasti sibuk banget ngurusin ini-itu, masih harus belajar juga. Gue gak bakal gangguin, yang penting selama masa sibuk jangan maksain diri sendiri, stay hydrated, snacknya dimakan tapi inget sikat gigi kalo mau tidur. Udah lanjut sana, good night, Cherryl.’
TBC.