Cookie Jar

Cookie Jar
#66 Mini Zoo Bagian Satu



Cherryl menyipitkan mata karena sinar matahari yang semakin terik menusuk wajahnya, tapi nggak lama kemudian matanya kembali melebar seperti biasa saat sosok Sebastian menempatkan diri di depan cewek yang duduk di trotoar jalan itu. Si cowok mengulurkan tangannya dengan yang menggenggam satu botol air mineral dingin lalu menempelkannya ke pipi Cherryl.


“Ih makasih, Sebby.” ujar si cewek, menerima botol air itu dengan senang hati.


Mereka berdua memutuskan untuk berhenti jogging setelah beberapa putaran dan singgah di depan sebuah minimarket untuk membeli air, sedangkan yang lainnya melakukan aktifitas mereka masing-masing. Andre dan Lily mungkin saja masih berlari, Thomas dan Alfian mungkin juga sedang duduk di kedai untuk minum kopi. Sedangkan Chesa dan Devin, entah di mana kedua orang yang sedang kasmaran itu.


Omong-omong, Cherryl dan Lily sebenarnya heran. Chelsea kan jelas-jelas menyukai Devin, tapi sampai sekarang cowok itu masih nggak bisa sadar dan terus saja merasa kalau si cewek nggak mungkin suka padanya. Padahal para cowok lain juga sudah menyadarinya sejak lama saat melihat interaksi mereka. Yah, memang sih Chesa sendiri belum mengonfirmasi secara langsung kalau dia naksir Devin, tapi kan mereka semua punya mata.


Perhatian si cewek cherry teralih ketika mendengar tawa pelan dari cowok di sebelahnya, “Lo mikirin apa sampe melongo gitu?” tanyanya kemudian yang membuat Cherryl langsung mengatupkan mulutnya yang sejak tadi sedikit terbuka.


“A-ah, gapapa. Eum, apa mending kita balik dulu ya buat mandi? Siangan nanti kita mau jalan, eh yang lain pada bawa baju ganti, lo udah bilang ‘kan?” ujarnya untuk mengalihkan topik pembicaraan dan dengan sigap bangkit dari duduknya.


Sebastian mengangguk lalu berdiri, tapi tanpa aba-aba dia menarik lengan si cewek untuk mendekat dan merangkulnya, “Iya aman, ayo.”


Setelah melewati waktu-waktu kesulitan bernapas, Cherryl akhirnya bisa lega saat mereka menemukan Alfian yang sedang duduk di tepi jalan karena Sebastian langsung melepas rangkulannya. Nggak lama kemudian juga Thomas datang lalu mereka berempat mencari yang lainnya sebelum kembali bersama ke rumah keluarga Gunawan.


Drrrttt…Ddrrttt


Chelsea menatap ponselnya yang berdering karena alarm, “Eh udah jam segini, siap-siap aja yuk.” katanya, menarik atensi seluruh orang di ruangan, termasuk Holy yang sedaritadi duduk diam di sebelah Sebastian.


Nggak terasa kalau hari semakin siang, mereka juga menghabiskan waktu sembari bermain PS di ruang tengah atau sekedar mengistirahatkan tubuh di sofa sambil memakan camilan dan mengobrol dengan Bunda Sena. Kalau Anggara dan Irina sih memang sudah pergi untuk urusan masing-masing sejak pagi tadi.


Lima belas menit kemudian cewek-cewek sudah kembali turun membawa barang-barang mereka, Cherryl juga membawa satu kamera milik Alex yang ada di kamar Irina. Cewek itu sudah izin untuk membawanya kok.


“Hati-hati ya kalian, have fun…” ujar Bunda Sena saat mereka semua berpamitan sebelum berangkat.


Hari ini mereka berencana untuk datang ke sebuah kebun binatang mini yang ada di perbatasan kota, jaraknya nggak dekat jadi butuh waktu yang lumayan lama untuk ke sana. Tapi karena jalur yang mereka lewati itu daerah perkebunan jadi rasanya nggak terlalu menyesakkan untuk duduk lama-lama di dalam mobil. Selama perjalanan mereka juga menyetel lagu dan bernyanyi bersama, seru banget!


“Gue sebelumnya belum tau ada mini zoo di daerah sini.” ujar Cherryl yang diangguki oleh Thomas dan Lily.


“Ya itu juga gue dapet info dari Insta, lagian emang baru buka kok tempatnya.” sahut Alfian.


“Nanti kalian tunggu aja di depan, gue sama Cherryl yang pesen tiket. Oke?” sela Sebastian yang langsung disetujui oleh semuanya.


Seperti yang dikatakan cowok itu tadi, setelah mereka sampai dia dan si cewek langsung mengantri untuk membeli tiket. Walau sepertinya nggak terlalu ramai, tetap saja antriannya cukup panjang karena hanya tersedia satu loket.


“Sini, di depan aja takut lo ilang.” Sebastian menggenggam kedua pundak Cherryl yang berdiri di belakangnya untuk bertukar tempat.


“Ck! Iya iya.”


“Mas Andre, sini cepet!” ujar Lily saat melihat pacarnya tertinggal di belakang, cewek itu menyamakan langkahnya sembari memandangi kandang berbagai jenis burung yang berjejer di lorong dari pintu masuk ke taman utama.


Si cowok mengambil lengan Lily lalu mengapitnya, “Iya sabar. Oh, kalo mau foto bilang aja.” katanya, cewek itu hanya mengangguk riang.


“Apik-apik ya warnanya, aku suka deh.” ujar Lily sembari mengamati satu-persatu kandang.


“Yang lain udah di depan tuh, kalo mau misah nanti aja. Yuk, kumpul dulu.” ajak Andre sembari menarik sangpacar mendekati gerombolan teman-temannya.


“Hoo~ jadi kita muter-muter bareng dulu atau misah dulu baru nanti foto sama-sama?” tanya Cherryl yang sudah siaga memegang kamera yang ia kalungkan di leher sejak tadi.


Mereka berjalan ke area kandang burung dari arah dalam, Sebastian kali ini mengambil alih kamera untuk memotret para cewek yang antusias banget untuk berfoto di sana-sini. Para cowok juga sebenarnya nggak terlalu tertarik untuk pergi ke sini tapi mereka ikut saja, kecuali Andre yang dasarnya memang menyukai hewan, seperti Alex yang sangat menyukai reptil.


“Eh ini merak tapi kok gak ada buntutnya sih?” tanya Cherryl sembari menunjuk seekor burung yang sedang asyik berjalan mengitari kandangnya.


“Itu merak betina, yang ada buntutnya itu yang jantan. Tuh, diujung.” sahut Chelsea yang membuat si cewek cherry mengangakan mulutnya karena kagum.


Lily menoleh dan mendapati stan foto bersama burung hantu, “Ihh itu bisa foto, kalian mau ndak? Ayo dong pengen aku…” katanya lalu beranjak begitu saja, yang lainnya mau nggak mau mengikuti di belakang.


Mereka bergantian berfoto dengan burung hantu itu, awalnya si penjaga bilang boleh sambil ditaruh ke lengan mereka tapi sebelumnya harus memakai pengaman, tapi nggak ada yang berani karena ukuran burungnya besar banget.


Setelah dari area burung, mereka pindah lokasi ke area reptil dan hewan perairan. Di sana ada beberapa jenis ular, buaya dan kura-kura. Bahkan ada berang-berang dan penyu raksasa juga. Alfian menenggak ludah melihat seekor ular berjenis lavender albino berwarna kuning yang sedang dililitkan ke tubuh seorang pengunjung untuk berfoto.


“Gila gede banget.” ujar Devin yang diangguki oleh Chelsea, mereka melongo di sana untuk beberapa saat sampai si penjaga bertanya apakah ada yang mau foto bersama juga. Tapi mereka buru-buru menolak. Terutama Sebastian yang langsung melarikan diri ke area kucing besar.


“Buset, Bang Babas udah kayak setan aja ilangnya cepet bener.” ujar Devin yang dihadiahi tertawaan oleh teman-teman yang lain.


“Hahaha dia mah emang takut banget sama ular. Coba kalo Kak Gigi sama Bang Alex ikut, pasti mereka berani tuh foto sama ularnya.” sahut Cherryl, dia semakin ngakak saat mengingat cerita Irina kalau Sebastian lari kelimpungan karena melihat Craig, ular piton peliharaan tunangan sang kakak sulung.


Alfian mengangkat kedua alisnya, “Beneran? Gue gak pernah denger anjir.” sergahnya.


Cherryl mengangguk cepat, “Iya, gatau deh katanya sih temen dia pernah kegigit yang beracun sampe masuk UGD.”


Chelsea menggaruk tengkuknya lalu menatap Devin, “Ngeri juga.” katanya pada cowok itu yang mengangguk pelan sebagai jawaban.


Mereka segera menyusul Sebastian lalu kembali menyusuri tempat itu bersama-sama. Areanya bisa dibilang cukup besar walau koleksi hewannya sedikit. Tapi selain itu juga ada kafetaria di tengah-tengah area, beberapa spot foto, tiga stan tiket; untuk wahana panahan, ATV dan flying fox, serta sebuah danau yang bisa dijadikan tempat bersantai.


Para cowok membeli tiket untuk wahana panahan dan bersaing, mereka semua nggak pernah memegang busur panah sebelumnya jadi si penjaga dengan sabar mengajari mereka satu-persatu sampai setidaknya berhasil menancapkan satu anak panah ke target.


“Hahaha bahaya nih bisa-bisa orang lewat malah kena panah sama lo, Fi.” kata Sebastian saat anak panah milik temannya itu melesat jauh dari target, untung saja areanya menghadap ke area pepohonan bukan area yang akan dilewati orang lain.


Sembari menunggu, para cewek tentu saja nggak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil foto. Cowok-cowok itu terlihat keren dengan pose memanah yang harus tegap. Setelah itu mereka mengambil waktu istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke area lain.


Chelsea melebarkan senyumnya setelah menyesap es jeruk yang ia pesan, “Gak nyesel deh gue liburan sama kalian!”


.


.


.


.


.


TBC.