
Bunda Laura melirik Cherryl yang mendudukkan diri di kursi meja makan dengan wajah muram, beliau akhirnya mengambil beberapa bahan masakan dari dalam kulkas dan mulai menyiapkan peralatan masaknya.
"Cherryl,"
Suara wanita paruh baya itu berhasil menarik atensi Cherryl hingga cewek itu menoleh dan berdiri, "Iya, Bun? Cherryl bisa bantu apa?"
"Sini, Bunda mau ngobrol." jawab bunda Laura lalu Cherryl mendekat tanpa ragu.
"Mau ngobrolin apa, Bun?" tanyanya.
"Cherryl habis nangis ya, Sayang?" tanya bunda Laura lembut, tetapi bagi Cherryl pertanyaan itu berhasil menusuk hatinya.
Tawa kecil terdengar dari bibir kecil milik si cewek cherry, "Nangis gimana, Bun? Cherryl enggak apa-apa."
Bunda Laura tersenyum, "Jujur aja, Erryl. Mungkin kamu bisa nutupin mata sembab kamu dari Anggara tapi enggak dari Bunda ."
Nafas Cherryl lagi-lagi tercekat, lehernya tiba-tiba saja kering bak kehabisan air di padang gurun pada tengah hari saat matahari sedang terik-teriknya. Akhirnya cewek itu berdeham pelan.
"Maaf, Bun. Cherryl nggak bermaksud gitu. Cuma–"
"Gara-gara Babas?" sahut bunda Laura cepat dan si cewek mau tak mau mengangguk mengiyakan ucapan beliau, tetapi setelah itu ia membulatkan matanya dan menggeleng.
"Eh enggak, Bun. Bukan." ralatnya cepat.
"Erryl diapain sama Babas?" tanya bunda Laura lagi.
"Nggak kok, Bun. Dia gak ngapa-ngapain. Errylnya aja yang berlebihan." ujar Cherryl sambil memainkan kuku jarinya, tak berani melihat sosok wanita yang sudah ia anggap bundanya itu.
"Nggak mungkin, Bunda tau sesensi-sensinya Cherryl Imannuela, nggak bakalan kamu berani pulang sendirian kayak tadi. Malam-malam begini pula. Bener 'kan?" kata bunda Laura lagi sembari memotong-motong sayuran yang sebelumnya beliau ambil.
Cherryl menggigit bibir bawahnya, terlihat resah karena perkataan bunda Laura yang tidak meleset sedikitpun. Astaga, kenapa sikapnya ketara sekali di mata orang lain sih?
"Cerita coba sama Bunda."
Kali ini si cewek berambut sebahu itu memberanikan diri untuk menceritakan semuanya. Dia tetap berusaha mencari titik tengah, bercerita tanpa menyalahkan siapapun dan memilih untuk menyalahkan dirinya, perasaannya sendiri.
Beberapa menit sudah berlalu, bunda Laura berjalan menuju meja makan membawa sepanci sup dan beberapa piring berisi lauk pauk yang beliau sudah buat. Sedangkan Cherryl masih setia menceritakan apa yang mengganjal di hatinya hingga saat ini.
"Nah. Sekarang Cherryl duduk sini sama Bunda." titah bunda Laura, masih dengan senyum hangat dan tatapan teduh yang membuat si cewek tak berani menolak setiap ucapannya.
Cherryl berjalan menuju kursi meja makan lalu mendudukkan dirinya di sana, ia menekuk tangannya dan tetap memainkan kuku jarinya dengan pandangan lurus kebawah.
"Jadi gimana?"
"Ya Cherryl ngerasa terlalu sensitif, Bun. Cherryl enggak tau kok bisa begini padahal masalahnya sepele kalau Cherryl pikir-pikir lagi. Cherryl masih kayak anak-anak banget ya, Bun?" tanya Cherryl dengan tatapan bulatnya.
Bunda Laura mengelus pundak si cewek, "Enggak kok. Gak semuanya salah Erryl karena Babas sebagai cowok gak pantes membentak cewek kayak gitu. Bunda minta maaf ya,"
"Eum, iya. Cherryl enggak apa-apa kok, Bun." jawab Cherryl.
"Percaya deh sama Bunda, Babas cuma senang aja dapat teman baru. Dia gak akan lupakan Cherryl gitu aja. Oke?"
Si cewek mengangguk, "Iya Bunda. Cuma aku kaget aja bisa dibentak kayak tadi."
"Dia nggak bermaksud gitu, pasti dia khawatir banget sama kamu. Bunda bahkan gak bisa mendefinisikan seberapa besar Babas sayang sama Cherryl, bahkan sejak kalian kecil Babas selalu jagain Cherryl kalau kemana-mana. Cherryl nangis dia yang peluk, kalau dia dibelikan ice cream dia pasti simpan buat dikasih ke kamu." kata bunda Laura lalu tertawa kecil mengingat bagaimana lucunya Cherryl dan Sebastian saat kecil dulu.
Mendengar itu Cherryl tersenyum, "Iya, Bun. Cherryl harusnya bersyukur punya Sebby."
Bunda Laura mengelus puncak kepala Cherryl lalu mengecupnya, "Nah sekarang panggil Anggara sama Vallerine sana. Kita makan malam dulu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam kurang lima belas menit dan Sebastian baru saja sampai di rumah bersama dengan Rebecca membawa banyak belanjaan.
Bunda Laura menyambut mereka dan menyarankan Rebecca untuk beristirahat karena hari sudah malam. Cewek itu mengiyakan dan masuk ke dalam kamarnya, menyisakan Sebastian dan sang bunda yang mendudukkan diri di ruang keluarga.
"Cherryl ke mana, Bun?" tanya Sebastian.
Bunda Laura menatap layar televisi dalam diam lalu menyimpan remot keatas meja, beliau memandang putera bungsunya itu, "Sudah pulang."
"Oh iya, sama Bang Angga ya." sahut Sebastian dengan nada rendah.
"Iya, untung Anggara nggak marah lihat adiknya pulang sendirian malam-malam begitu." jawab bunda Laura yang membuat keadaan di ruang keluarga sangat mencekam bagi si cowok berusia sembilan belas tahun itu.
Sebastian menundukkan kepalanya, "Maaf, Bun."
"Kok minta maaf sama Bunda? Yang kamu buat nangis memangnya Bunda?" tanya bunda Laura dengan nada yang tenang tetapi menusuk.
Mendengar ucapan sang bunda Sebastian terkejut, "Cherryl nangis, Bun?"
"Kamu pikir cewek mana yang nggak bakalan nangis kalau dibentak seperti itu? Apalagi kamu tahu betul sifat Cherryl. Kali ini kamu aman karena Anggara nggak sadar kalau adik kesayangannya habis menangis, jadi dia nggak tanya macam-macam." ujar bunda Laura seraya mengalihkan pandangannya pada layar televisi yang menyala.
Kali ini Sebastian diam, benar-benar kalah telak dengan ucapan bundanya. Jantungnya bedetak dengan cepat, mulai berpikir betapa hancurnya hati Cherryl karena perlakuannya tadi. Netra cowok itu kembali terfokus pada sosok wanita yang melahirkan dan membesarkannya itu saat beliau memilih untuk berdiri dan beranjak tanpa kata.
"Bunda mau tidur?" tanyanya pelan.
Yang diberi pertanyaan hanya mengangguk lalu melenggang pergi begitu saja, tetap dengan bibir yang terkunci rapat.
"Astaga..." gumam cowok itu dengan gusar lalu berdiri dan mengambil kantung-kantung belanjaan untuk dibawa ke dapur.
Ia menekuk lututnya setelah membuka pintu lemari pendingin dan memasukkan barang-barang milik Rebecca lalu kembali berdiri untuk membuka freezer dan menyimpan semua cokelat batangan, juga cup ice cream yang ia beli untuk si cewek cherry kesayangannya.
"Harus gimana lagi gue kalo udah begini." monolognya seraya menata satu persatu kue kering cokelat yang ia beli kedalam kotak bekal berwarna ungu muda yang merupakan salah satu koleksi bunda Laura.
Cowok itu menutup kotak bekalnya dan menyimpan itu ke dalam kulkas untuk dibawa besok pada Cherryl sebagai tanda permintaan maaf yang pertama.
"Oh iya, apa sekalian gue beli toples lagi aja?" monolog si cowok yang teringat akan ucapan Cherryl saat mengeluh karena toples kue pemberiannya dulu telah dirusak oleh Anggara.
Sebastian memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan berbaring di atas ranjang setelah mengganti baju. Cowok itu membuka aplikasi chat dan berusaha menelfon Cherryl tetapi ditolak. Akhirnya ia memilih untuk mengirim pesan.
'Besok jam istirahat ke dua gue tunggu di rooftop.'
.
.
.
.
.
TBC.
Jangan lupa vote + commentnya ya guys! 💕