Cookie Jar

Cookie Jar
#35 Gladi



Alfian melirik sosok Sebastian yang duduk tenang di bangkunya sembari mengetuk-ngetukkan ujung bolpoin ke atas meja, cowok itu tampak fokus sekali dengan lembar susunan acara yang ia genggam. Tidak aneh sih, tapi melihat sosok Tasya yang juga ikut diam seharian ini membuat cowok itu bertanya-tanya apa yang terjadi. Biasanya setiap sebelum jam pelajaran dimulai, jam istirahat ataupun jam kosong si cewek selalu menghabiskan waktu mengobrol dengan Sebastian.


Jam istirahat kedua sudah berbunyi sekitar sepuluh menit yang lalu, akhirnya cowok jangkung yang sering disapa dengan Fian itu beranjak menghampiri Sebastian dan mengajaknya ke kantin.


“Kantin yuk, Bas. Laper.” ajaknya.


Si cowok yang dipanggil langsung menoleh dan berdiri, “Oh iya, ayo.”


Sepertinya firasat Alfian benar kalau ada sesuatu di antara kedua orang itu, karena biasanya Bastian seenggaknya akan menanyakan kalau Tasya mau ikut atau tidak, kadang juga sebaliknya, tapi kali ini mereka bahkan tidak melihat satu sama lain.


“Lo sama Tasya berantem, Bas?” tanya Alfian seraya mereka berdua berjalan menyusuri lorong sekolah yang sudah memasuki area kantin.


Sebastian berdeham, “Ehm, engga juga. Tapi iya juga. Bisa dibilang begitu. Gue nggak bisa cerita banyak, Fi.” jawabnya agak ragu.


Alfian mengangguk maklum, cowok itu juga bisa mengerti kalau Bastian terlihat tidak mau membahas masalah itu lebih panjang. Makannya dia langsung memecah suasana dengan melambai pada sosok Cherryl dan Lily yang sudah lebih dulu ambil posisi di meja kantin.


“Ly! Ryl!” serunya yang dibalas dengan riang oleh kedua adik kelasnya itu.


“Gak sama Devin?” tanya Bastian.


“Ndak, Mas. Katanya istirahat pertama udah makan jadi dia di kelas aja males ke kantin soalnya banyak orang.” sahut Lily.


Alfian menggaruk tengkuknya sembari ikut mendudukkan diri, “Padahal gak rame-rame amat di sini.”


“Ya mboh, Mas Fian. Kayak ndak tau Devin aja.” balas cewek itu lagi.


Sebastian merekahkan senyumnya menatap Cherryl, cowok itu tentu mengambil posisi di sebrang si cewek, “Lo makan apa?” tanyanya membuka percakapan.


Cherryl mendorong kotak bekalnya yang berisi nasi serta lauk-pauk lain ke hadapan si cowok, “Gue masak sendiri loh, cobain Seb.”


“Enak loh, Mas!” celetuk Lily seraya mengacungkan ibu jarinya, mengundang tawa pelan dari si cewek cherry.


“Yah gue gak ada yang nawarin.” ujar Alfian yang menambah gelak tawa di antara mereka.


“Waduh maaf, Kak. Porsinya dikit banget nih, lain kali deh yaa.” balas Cherryl dengan nada bercanda.


Setelah itu Bastian menyuapkan satu sendok nasi dan lauk ke mulutnya lalu menyipit, “Enak. Gue gak tau lo bisa masak?”


Cherryl tersenyum lalu menarik kotak bekalnya kembali, “Belajar dong sama Karin.”


Sebastian dan Cherryl saling menatap dengan senyuman terpatri di wajah masing-masing. Rasanya tidak terlalu sulit untuk bersikap seperti biasa karena sadar nggak sadar mereka memang selalu menunjukkan afeksi pada satu sama lain. Bahkan Lily dan Alfian pun biasa saja, tidak ada yang merasa janggal atau menaruh curiga dengan hubungan keduanya yang sedikit lebih berbunga-bunga.


“Besok bawain dong, gue juga mau. Sekali-kali dibawain bekal ke sekolah hehe.” tambah cowok itu lagi yang segera dihadiahi anggukan oleh si cewek.


Alfian menyela, “Sekalian buka katering aja, Ryl. Lumayan dapet duit, si Babas kasih harga dua kali lipat, jangan mau disuruh-suruh.”


Lily hampir tersedak makanannya mendengar itu, “Haha, apik tuh Cher idenya Mas Fian!”


Si cewek cherry mengangkat alisnya lalu melebarkan senyum jahat, “Bisa sih, ayo Seb, bayar dp-nya dulu. Mana-mana…” katanya sembari menadahkan tangan ke depan si cowok.


“Harga temen kok malah dua kali lipat sih?” sahut Sebastian nggak terima, dia menyangga lengannya ke atas meja dan menatap Alfian dengan serius. Jujur saja Cherryl yang melihat itu jadi gemas sendiri.


“Duh!” eluh Bastian saat si cowok jangkung tanpa aba-aba malah menoyor kepalanya pelan.


“Bercanda, Bego. Serius amat hidup lo!”


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tanggal lima belas Agustus, dua hari lagi sampai acara digelar. Maka dari itu, hari ini sekolah diliburkan selama dua hari untuk memberi ruang bagi para panitia, pengisi acara dan semua yang bersangkutan dalam acara untuk berkumpul dan melakukan gladi resik.


Cherryl dan Sebastian sibuk dengan bagian masing-masing sedangkan Devin masih duduk di pinggir untuk briefing bersama kelompoknya. Mulai pukul delapan pagi, aula sudah penuh oleh orang berlalu-lalang. Ada yang merapihkan properti di belakang panggung, menyiapkan sound system, menata ulang hiasan acara, sampai akhirnya Cherryl naik ke panggung bersama Thomas untuk memandu gladi kotor. Mereka berdua berkoordinasi dengan sie acara untuk menjelaskan rundown dan menjadi MC selama acara berlangsung nantinya.


Setelah memastikan microphone kecil sudah terpasang dengan baik di telinga masing-masing, Asya selaku ketua OSIS yang berdiri di ujung melambaikan tangan sebagai instruksi kalau latihan bisa segera dimulai.


“Tes, tes. Ehem, oke mohon perhatiannya teman-teman semua. Sesuai jadwal yang ada hari ini kita mau gladi kotor untuk acara Tujuh Belasan besok lusa. Tapi sebelum kita mulai, kita doa dulu ya. Yuk semua tundukkan kepala, kita berdoa…”


Beberapa saat kemudian Thomas selesai memimpin doa dan panitia sudah bersiap di posisi masing-masing. Cowok itu melirik Cherryl yang terlihat gugup, dia berbisik, “Santai Ryl, baru latihan loh.” katanya.


Cherryl yang sedari tadi mengatur napas hanya mengangguk pelan, “Bantuin ya kalo gue gagap.” katanya dan si cowok menepuk pelan pundaknya sebagai persetujuan.


Di sisi lain Sebastian yang sudah selesai mengatur properti bersama timnya selaku sie perlengkapan sudah mendudukkan diri di kursi aula. Dia tertawa sendiri melihat raut wajah Cherryl yang terlihat gugup dan tertekan, sedangkan Thomas bisa berbicara dengan lancar dan penuh wibawa. Memang tidak perlu diragukan kenapa cowok itu bisa terpilih menjadi Duta Putera sekolah mereka.


“Cewek lo kasian amat, Bas.” bisik Hosea, salah satu cowok yang menjadi teman Bastian sejak menjadi panitia acara.


Mendengar itu, biasanya si cowok akan mengelak tapi kali ini dia malah tersenyum lebar, “Haha, iya. Nanti kalau udah mulai ngomong juga jadi biasa aja dia.”


“Wih udah ngaku nih sekarang?” goda Hosea sembari menyikut pelan cowok bergigi kelinci itu.


Sebastian terdiam lalu menatap temannya itu, “Kalo gue ngelak juga lo tetep manggil dia cewek gue, jadi yaudah lah gak ada gunanya juga.” katanya beralasan lalu menghela napas lega karena Hosea hanya manggut-manggut setuju, berpikir kalau alibi si cowok masuk akal.


Kali ini bagian Cherryl untuk buka suara, membacakan susunan acara secara cepat dari awal hingga akhir sebelum akhirnya mempersilahkan pak Adreas selaku kepala sekolah untuk naik dan menyampaikan satu atau dua patah kata yang nantinya akan menjadi tanda bahwa acara resmi di mulai.


“Baik, jadi sesuai yang gue bilang sebelumnya kita bakal menikmati acara resmi di aula dulu baru setelahnya lomba di lapangan. Karena ini masih gladi kotor jadi kita latihan bareng sebentar aja biar abis ini para pengisi acara biar bisa latihan masing-masing.” ujar Cherryl setelah Pak Andreas kembali ke tempat duduk beliau.


Selama memandu latihan, beberapa kali cewek itu salah bicara karena terlalu gugup. Tapi Thomas dengan sigap membantunya, jadi dia sangat berterimakasih. Kalau-kalau tidak ada cowok itu mungkin Cherryl sudah berdiri membeku sejak tadi di atas panggung, menjadi bahan tertawaan anak-anak lain.


Tidak sampai satu jam, gladi kotor akhirnya selesai. Seluruh panitia kembali berkumpul sedangkan para guru yang bersangkutan sudah diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing. Asya menyodorkan selembar kertas berisi catatan singkat pada Cherryl, sebagai koreksi atau masukkan dari sie acara agar performa mereka bisa lebih baik.


“Lo udah bagus. Buat Cherryl usahain kalau salah ngomong jangan bengong ya, gue yakin lo bisa. Yuk semangat semuanya!” ujar Asya kepada Thomas dan Cherryl lalu ia berteriak pada seluruh orang yang berkumpul, menyita perhtian mereka.


“Yang lain silahkan koordinasi sama ketua bagian masing-masing. Sekarang kalian boleh bubar tapi jangan ada yang pulang sebelum pemberitahuan lanjutan dari gue. Bubar, bubar!” teriak cewek berkacamata itu dan mereka berhamburan keluar dari aula.


Sebastian langsung mencari sosok cewek kesayangannya, yang ternyata masih duduk di pinggir panggung menatap catataan yang tadi diberikan oleh si ketua OSIS. Cowok itu menghampirinya, “Erryl…”


Yang dipanggil mendongakkan kepalanya, “Oh, Seb. Mau ngapain sekarang?” tanya cewek itu lalu berdiri tanpa basa-basi.


“Di luar dulu aja nyantai, nunggu Devin istirahat biar nyari makan bareng.” sahut Sebastian lalu mereka berdua berjalan beriringan keluar dari aula.


.


.


.


.


.


TBC.