Cookie Jar

Cookie Jar
#5 Batal



Bel istirahat telah berdering dan semua siswa berhambur keluar kelas untuk memanfaatkan waktu istirahat mereka dengan sebaik mungkin. Cherryl melangkahkan kaki menuju kantin bersama dengan Lily. Dua cewek itu terlihat fokus berbincang hingga keduanya tak menyadari kehadiran Sebastian dan Alfian di hadapan mereka.


"Aduh!"


Cherryl mengaduh saat tubuhnya menabrak sosok Sebastian yang memang sengaja berdiri di hadapannya.


"Seb!" katanya kesal lalu menepuk lengan si cowok.


"Tuh kan, lo yang nabrak lo yang marah." kata Sebastian.


"Inimah lo yang sengaja, Ih!" balas Cherryl.


"Mau ngantin?" tanya Alfian pada keduanya.


Lily mengangguk, "Iyalah mau ke mana lagi toh, Kak?"


Mereka memutuskan untuk pergi ke kantin bersama-sama dan mencari tempat. Setelah masing-masing memesan makanan, mereka mulai berbincang.


"Ke prom night sama siapa?" tanya Lily seraya memakan bakso yang dipesannya.


Cherryl tidak menjawab, ia hanya menunjuk Sebastian yang duduk tepat di hadapannya menggunakan dagu.


"Dia yang ngajak," sahut Sebastian yang membuat Cherryl mendelik.


"Gue. Gue yang ngajak." tambah si cowok lagi karena takut kena semprot sama Cherryl.


"Kak Fian, sama siapa?" tanya Lily lagi.


"Sama si Gita." jawab Alfian, Lily hanya mengangguk pelan.


"Lo sendiri?" sahut Cherryl.


Lily tiba-tiba tersenyum seraya menyelipkan anak rambutnya ke telinga, "Sama Andre."


Cherryl lagi-lagi mendelik, "Udah official?!"


Lily mengangguk pelan, "Duh, Ryl. Isin aku!" katanya lalu mengapit lengan Cherryl yang tertawa melihat kelakuan temannya.


"Lily sudah ada pacar, kamu kapan, Ryl?" tanya Alfian menggoda.


"Belum boleh pacaran sama Bunda, Kak. Yakan, Seb?" jawab Cherryl lalu menatap Sebastian meminta persetujuan.


"Lho kok tanya sama Babas?" tanya Alfian.


"Orang kemaren pas gue di rumah dia, Bundanya bilang begitu." sahut Sebastian.


Alfian mengangguk-anggukan kepalanya, setelah itu semua fokus pada makanan masing-masing. Hingga seorang cewek datang dan duduk begitu saja di samping Sebastian.


"Hai semua," sapanya.


"Ngapain ke sini, Sya?" tanya Alfian agak ketus.


Cewek bernama Tasya yang merupakan teman sekelas Alfian dan Sebastian itu menggedikkan bahu, "Mau ngomong sama Babas."


Mendengar namanya disebut, Sebastian menolehkan kepala menatap Tasya, "Yo, apaan?"


"Dateng ama gue, ya? Ke prom night. Gue gaada temen nih." katanya memasang muka melas.


Bastian melirik Cherryl yang sibuk memakan makanannya, cowok itu berdeham lalu menggeleng.


"Gue udah sama Cherryl, cari yang lain aja." jawabnya yang membuat Tasya memandang cewek berambut sebahu yang duduk di sebrang meja.


"Oh, sama dia?" tanya Tasya lalu menunjuk Cherryl yang mendongak menatap kedua orang di depannya.


"Apa?" tanya Cherryl saat Sebastian memandanginya dengan tatapan tak enak.


Semuanya diam, setelah itu Cherryl membuka ponselnya lalu menyodorkan benda itu pada Sebastian. Cewek itu menunjukkan chat nya dengan Dion, dan menambahkan kalimat di kotak pesan yang belum dikirim 'Gpp gue sm Kak Dion aja.'


Setelah menarik kembali ponselnya, Sebastian menatap Cherryl dengan alis terangkat seakan berkata 'Yakin gapapa?' yang dibalas anggukan oleh si cewek.


Yang lain menatap mereka dalam diam hingga Sebastian menatap Tasya, "Yaudah nanti gue jemput apa ketemu di sekolah?"


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul enam sore dan Cherryl tengah mendudukkan dirinya di depan teras untuk menunggu kedatangan Dion. Cewek itu sedari tadi sibuk dengan Instagramnya hingga Irina datang dan duduk di bangku sebelahnya.


"Bastian belum datang, Dek?" tanya si sulung.


"Loh ke–"


"Babas udah diajak orang." sergah Cherryl cepat yang membuat Irina berhenti berbicara.


"Itu Dion datang." kata Irina lalu berdiri menyambut teman adiknya itu.


"Ini masih jam enam, Di. Gak mau mampir dulu?" tanya cewek itu lagi.


Dion tersenyum, "Nggak usah, Kak. Ini mau langsung aja biar nggak buru-buru."


Cherryl berdiri dari tempatnya dan menghampiri sang kakak, "Erryl pergi dulu ya Karin, dadah!"


Dion dan Cherryl masuk kedalam mobil dan mereka segera menghilang ditelan jarak.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, di sisi lain Sebastian yang baru saja menghentikan mobilnya di parkiran sekolah langsung turun dan mengikuti langkah kaki cewek di depannya, Tasya.


"Bas ayo ih," kata Tasya lalu menggaet lengan Sebastian yang malah sibuk dengan ponselnya.


"Bas? Liat apa sih?" tanya si cewek lagi dengan nada kesal karena merasa diacuhkan.


Setelah itu Sebastian memasukkan ponselnya ke saku jas dan menarik Tasya masuk ke dalam aula sekolah, "Ayo."


Di aula sudah banyak orang, umumnya sih para OSIS yang sibuk mengurus persiapan acara mondar-mandir kesana-sini. Keduanya langsung mencari tempat dan duduk di sana. Jujur saja telinga Sebastian terasa pengang mendengar celotehan Tasya yang sedari tadi nggak berhenti-berhenti. Maka cowok itu memutuskan untuk membuka ponsel dan mengirim pesan pada Cherryl yang belum datang padahal acara sudah akan dimulai.


Matanya meliar ke penjuru aula untuk mencari sosok cewek manis itu, tapi nihil. Yang ia temukan malah sosok Lily yang berjalan masuk ke aula bersama pacarnya.


"Gue ke toilet dulu." pamit Sebastian lalu beranjak pergi, bukannya melangkah menuju toilet ia malah mendekati Lily.


"Lily,"


Cewek berponi itu mengangkat kedua alisnya, "Oh Mas Bastian, ada apa ya Mas?"


"Lihat Cherryl?" tanya Sebastian cepat.


"Ndak lihat aku Mas, tapi tadi dia bilang kalau sudah berangkat sama Mas Dion." jawab Lily.


Sebastian mengangguk lalu berterimakasih pada si cewek dan beranjak pergi. Cowok bergigi kelinci itu berdiri di depan pintu aula dengan muka resah.


"Kok nggak diangkat sih. Tumben." gumamnya seraya memandangi layar ponsel yang menampilkan panggilan keluar untuk si gadis cherry. Perasaannya nggak enak, seperti ada yang aneh.


Tadi ayah Sam mengirimi Sebastian pesan untuk menjaga Cherryl, ternyata cewek itu belum bilang kalau tidak jadi pergi dengan dia. Alhasil Sebastian hanya menjawab iya-iya saja. Tapi nggak tau kenapa kok perasaannya jadi nggak enak seperti ini.


Ciiittt!


Bruk!


Mata Sebastian dan yang lain membulat saat mendengar suara yang berasal dari luar sekolah itu. Orang-orang yang berada di aula juga segera berhambur ke luar untuk melihat apa yang terjadi. Si cowok segera berlari dan menemukan sebuah mobil berhenti tepat di gerbang sekolah dan di depannya ada mayat seekor kucing yang terlindas mobil itu.


Ternyata itu mobilnya Dion, buktinya cowok itu langsung keluar dari mobil dan melihat bagian depan mobilnya. Banyak murid cewek yang teriak karena melihat darah si kucing malang itu menggenang dan kondisinya sudah sangat tragis. Tak lama kemudian pintu mobil sebelahnya ikut terbuka dan Cherryl turun dari sana. Cewek itu ikut berlari ke depan mobil untuk melihat apa yang terjadi tadi.


"Duh, Cherryl!"


Seru Sebastian yang berlari menerobos kumpulan anak lain untuk menghampiri cewek itu. Dia takut, takut sekali.


"Loh Cherryl! Cherryl!" kata Dion lalu berlari menghampiri si cewek yang terlihat sesak nafas hingga nggak bisa berdiri.


Sebastian yang melihat itu juga langsung bersimpuh dan menepuk-nepuk pipi Cherryl.


"Cherryl sadar, Ryl. Jangan dipikirin..." katanya seraya mengelus rambut Cherryl yang mulai basah karena keringat.


"CHERRYL! Duh kamu kenapa toh Ryl?!" seru Lily yang ikut menghampiri temannya itu.


"Kok dilihat aja toh?! Ini bantuin lho!" ujar Lily kesal pada siswa lain yang malah berkerumun dan menonton dalam diam.


"Jangan dikerumunin, dia sesak nafas!" kata Dion menyuruh mereka bubar.


Sebastian segera mengangkat tubuh Cherryl lalu membawanya ke ruang kesehatan, dia membaringkan tubuh si cewek di atas ranjang.


"Erryl, nafas, Dek. Jangan diingat lagi...Jangan gitu, Ryl." ujar Sebastian berusaha untuk tetap tenang.


"Hhh...Hhh..." napas Cherryl terputus-putus, jari tangan dan kakinya kaku sekali.


Lily dan beberapa cewek lain datang membawa minyak kayu putih. Mereka langsung mengoleskannya di beberapa bagian tubuh Cherryl. Sedangkan yang lain tidak boleh ada yang masuk oleh Dion yang berjaga di depan pintu.


"Ryl, ojok gini toh Ryl!" kata Lily seraya memijat pelan tangan Cherryl, berusaha membuka telapaknya yang tertekuk kaku.


"Cherryl...Dek. Udah jangan gitu nanti tambah sesak." kata Sebastian seraya menepuk-nepuk pipi Cherryl pelan.


"Di telfonin bang Angga, Di!" seru Sebastian yang langsung diiyakan oleh Dion, cowok itu segera membuka ponsel dan menelfon Anggara.


"Cherryl kenapa ini, Mas?!" tanya Lily panik.


"Dia phobia darah, Li."


.


.


.


.


.


TBC.