Cookie Jar

Cookie Jar
#12 Camping



"Ya gimana ya, tempatnya udah fix di sana. Erryl mau nolak juga gabisa." lanjut Cherryl.


Sebastian tertawa lagi, "Lo takut?"


"Dih apasih, enggak takut gue." jawab Cherryl gengsi lalu menarik Holy ke pangkuannya.


Si cowok menegakkan duduknya lalu menepuk-nepuk dadanya dengan tampang sombong, "Erryl jangan takut, ada Abang Tian di sini."


Plak!


"Aduh!"


Cherryl tertawa ngakak saat melihat sang kakak sulung penepuk kepala Sebastian hingga cowok itu mengaduh.


"Sakit, Karin..." ujar Sebastian seraya mengusap kepalanya.


"Gausah sosoan berani ya, disodorin ular pelihaaraannya Max aja lari kelimpungan!" ujar Irina yang membuat si bungsu menyerengit.


"Sama si Craig, takut dia? Hahahaha..." celetuk si gadis Cherry diiringi tawa lepasnya.


"Trauma tau! Temen gue pernah digigit viper snake, langsung masuk emergency room. Untung selamet." ujar Sebastian membela diri.


"Yaelah, Seb. Craig kan cuma piton, gaada racunnya." sahut Cherryl.


"Ya intinya gue cuma trauma sama ular, whatever kind of snake it is. Udah ah jangan dibahas lagi."


Irina yang sedang mengambil susu dari dalam kulkas tertawa, "Yaudah iya Babas berani kok."


"Eh Karin, liat kaos olah raga aku gak? Yang lengan panjang." kata Cherryl tiba-tiba mengganti topik karena teringat akan dirinya yang belum selesai menata perlengkapan yang akan dibawa untuk kemah beberapa hari lagi.


"Oh itu, ada di kamar Kakak. Lupa mau dibalikin. Emang kenapa? Mau dipake?" jawab Irina lalu duduk di kursi meja makan seraya menenggak segelas susu yang ia genggam.


"Hooh, kan Sabtu depan aku kemah."


"Walah iya, yaudah bentar lagi Karin anter ke kamar Erryl."


"Udah siap-siap aja lo bocil." sahut Sebastian.


Cherryl memicing menatap si cowok, "Yaiyalah. Biar gaada yang ketinggalan. Emangnya lo!"


"Ye gue walaupun siap-siap H-1 juga teliti ya, gaada yang ketinggalan-ketinggalan kayak gitu." jawab cowok itu ikut berargumen.


"Yayaya, yang penting gue udah beres-beresnya. Nggak repot lagi." respon Cherryl lalu berdiri dan membereskan tempat makan milik Holy.


"Gak ada yang ketinggalan lagi, Dek? Nanti di cek lagi ya." ujar Karin yang dihadiahi anggukan oleh si bungsu.


"Ayah Bunda pulang!"


Ketiga orang itu menoleh di saat yang bersamaan saat mendengar suara Anggara yang menggelegar hingga terdengar ke dapur. Mereka bergegas pergi ke ruang tengah dan menyambut ayah Sam dan Bunda Sena yang sudah pulang.


"Yay banyak makanan!" seru Cherryl senang saat bunda Sena menyodorkan dua kantung plastik berisi makanan dan jajan.


"Eh eh, langsung simpen di kulkas ya. Itu buat bunda arisan besok. Punya Erryl di situ." sergah bunda Sena lalu menunjuk satu kantung plastik lain yang hanya berisi beberapa snack dan dua cup ice cream ukuran kecil.


"Yah...Yaudah deh, Bun. Erryl masukkan kulkas dulu." ujar si cewek lalu membawa tiga kantung plastik itu ke dapur.


"Kenapa gak pake tote bag aja sih, Bun? Banyak plastik gini gak ramah lingkungan." ujar Irina seraya membantu bunda Sena membawa belanjaan yang lain.


"Iya iya maaf deh," jawab bunda Sena.


"Sini Yah, Babas bantuin." ujar Sebastian lalu membantu Ayah Sam membawa dua karung beras dari bagasi mobil ke dalam rumah, begitupun dengan Anggara.


"Makasih Bas."


"Oh iya. Kamu bisa ambilkan payung kecil warna merah muda di bagasi mobil? itu punya Cherryl tadi dia titip." ujar ayah Sam pada Anggara, tetapi Sebastian menyela terlebih dahulu.


"Babas aja, Yah. Biar Bang Angga nggak repot." katanya lalu pergi ke luar rumah di mana mobil diparkirkan.


"Thanks, Bas." kata Angga yang dibalas senyuman oleh si cowok.


"Woy Seb!"


"Apaan dah. Ngagetin aja." ujar Sebastian kaget saat tiba-tiba Cherryl muncul di belakangnya.


"Hilih, kaget-kaget mulu. Lo lagi ngapain?" tanya si cewek.


"Nih, disuruh ngambil payung titipan Tuan Puteri." jawab Sebastian lalu menyodorkan payung kecil yang tadi ia ambil.


"Ih lucuuu. Makasih Seb." kata Cherryl lalu membuka payungnya.


"Strawberry Shortcake? Ahahaha bocil banget." sahut Sebastian yang membuat Cherryl mendengus.


"Bocil, bocil~!"


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Minggu sudah berganti dan tak terasa jika hari ini Cherryl akan pergi untuk berkemah. Semalaman cewek itu gak bisa tidur dengan nyenyak karena jantungnya yang berdegup kencang. Hingga pagi-pagi sekali dia sudah bersiap dan rapi bahkan sebelum bunda dan Irina terbangun.


Cherryl mengunyah pelan roti lapis yang ia buat tadi karena ia sudah lapar banget. Tangan kanannya cewek itu gunakan buat megang ponsel dan ngechat Lily. Pokoknya Lily harus duduk di sebelahnya, katanya seperti itu.


"Loh Erryl kok sudah siap begini?"


Cherryl menoleh dan menyengir menatap bunda Sena yang baru saja bangun dan bersiap untuk memasak sarapan.


"Hehe iya, Bun. Erryl gak bisa tidur nyenyak. Kebangun terus jadi ya sekalian aja siap-siap." jawabnya.


"Eum, iyaaa...Hati-hati ya anak Bunda tersayang." kata bunda Sena lalu mengecup puncak kepala si bungsu.


"Siap, Bun."


"Erryl berangkat jam berapa? Dianter siapa? Sama Angga?" tanya bunda Sena.


"Oh itu, Bun. Erryl berangkat sama Sebby dianter kak Deva. Sekalian katanya mau nganter Ayah Tony ke bandara. Paling bentar lagi datang, soalnya ngejar jam penerbangannya juga." jawab Cherryl.


"Oh yaudah. Titip salam buat yang lain juga yaa. Erryl di sana juga jangan kemana-mana sendiri, kalau bisa ya sama Babas aja terus atau sama Lily. Bahaya kalau sendirian di tengah hutan begitu." ujar bunda Sena dan Cherryl hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Eum, Sebby udah di depan. Erryl berangkat ya Bundaaa.." pamit Cherryl lalu memeluk sang bunda dan pergi ke kamar untuk mengambil barang-barangnya.


"Iya hati-hati, Sayang. Jangan lupa berdoa." balas bunda Sena.


Si cewek mengecek barangnya sekali lagi lalu membawa semuanya ke luar. Sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah, ia berhenti dan menghela nafas.


"Oke. See you in three days. Dadah Holy!" ujar Cherryl lalu mengelus puncak kepala anjingnya dengan sayang.


"Pagi Ayah, pagi kak Dev, pagi Seb." sapa Cherryl saat Farrel membuka kaca mobilnya dan setelah itu Sebastian turun untuk menaruhkan barang-barang Cherryl ke bagasi.


"Maaf ngerepotin ya, Kak." ujar Cherryl pada Farrel.


"Santuy aja kali, udah biasa."


"Kalian kemah berapa hari?" tanya ayah Tony.


"Tiga hari dua malam, Yah." jawab Cherryl.


"Hati-hati loh di sana. Babas jagain adeknya ya, kasihan kalau ada apa-apa. Jangan keluyuran kemana-mana juga, jangan nakal." kata ayah Tony memberi nasihat.


"Siap, Yah. Tanpa Ayah suruh juga Babas pasti jagain Erryl." jawab Sebastian cepat.


.


.


.


.


.


TBC


Jangan lupa vote + comment!