
Cherryl sedang sibuk mengerjakan tugas di dalam kamar sambil menyantap satu cup besar ice cream di tangannya saat seseorang mengetuk pintu. Dengan berat hati cewek itu berjalan keluar dan mendapati Irina berdiri di depan kamarnya.
"Ada Gigi di bawah tuh, nyari kamu." kata Irina.
Mendengar itu Cherryl segera berlari dan menghampiri Gigi yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Dean, ayah Sam, bunda Sena dan Anggara. Diikuti Irina di belakangnya.
"Hai Kak Gigi, Hai Bang Andra." Sapa Cherryl lalu mendudukkan dirinya di sebelah sang Abang.
"Hai Erryl..." sapa Gigi balik.
"Lagi ngerjain tugas, Dek?" sahut Deandra.
Si cewek Cherry mengangguk, "Hooh, boring banget. Btw Kak Gigi katanya nyari Erryl?"
"Oh iya, Kakak mau ngabarin kalo Holy udah bisa dibawa pulang besok. Kalau mau ke tempat Kakak chat aja, ya." jawab Gigi yang membuat Cherryl senang.
"Holy udah sehat, Kak? Ya Tuhan Erryl kangen!" ujar cewek itu.
"Kakinya udah bisa dibuat jalan, cuma agak pincang. Tapi beberapa minggu lagi udah sembuh total, kok. Makannya kalau sempat ajakin keliling-keliling." tambah Gigi lagi.
Cherryl mengangkat tangannya lalu memberi hormat, "Siap Kak Gigi!"
"Lahiya Sabtu kemarin kasihan Bastian. Dia kan nginap di sini terus malamnya begadang sama Anggara buat nonton bola. Eh pagi-pagi sekali sudah dibangunkan sama Erryl karena nggak ada teman jogging. Kan biasanya sama Holy." timpal bunda Sena yang mendapat anggukan setuju dari Anggara.
"Siang-siangnya sehabis dari mall Babas langsung tidur lagi kok, Bun." kata Cherryl.
"Iya cuma sebentar habis gitu kamu bangunkan lagi untuk makan siang." sergah Irina cepat.
"Ih kok pada bela Babas, sih? Anaknya juga engga keberatan." ujar Cherryl dengan bibir menekuk.
Semuanya tertawa lalu Anggara mengusap pelan kepala si bungsu, "Iya jangan ngambek dong. Jelek ah."
"Siapa yang ngambek?" sergah Cherryl.
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
Cherryl berjalan menuju kelas milik Sebastian bersama Lily, "Yakin, Ryl. Kamu berani?" tanya Lily saat mereka hampir sampai di depan pintu kelas.
Cherryl tertawa pelan, "Emangnya kita mau uji nyali, apa?"
Akhirnya kedua cewek itu masuk ke dalam kelas secara beriringan, "Permisi."
Semua mata tertuju pada keduanya sekarang, seakan bertanya-tanya mengapa Cherryl dan Lily datang ke kelas mereka setelah jam pulang seperti ini. Mungkin tidak semua orang, Sebastian dan Tasya tidak menyadari kedatangan dua cewek itu karena sibuk berbincang dan bercanda di meja tempat cowok itu duduk.
"Bas, dicariin." ujar Lena, salah satu teman sekelasnya Sebastian.
Si cowok akhirnya menoleh dan langsung bangkit dari duduknya lalu menghampiri Cherryl, "Ada apa, Ryl?"
"Belum mau pulang?" kata Cherryl balas bertanya.
Sebastian kembali ke tempatnya lalu mengambil tas, setelah itu ia kembali pada si cewek.
"Ini mau pulang. Bang Angga engga bisa jemput? Mau bareng?" tanya si cowok.
Cherryl mengangguk pelan, "Ngga ngerepotin?"
Sebastian menggeleng pelan lalu berbalik dan berpamitan pada teman-temannya. Cowok itu menarik Cherryl yang diikuti oleh Lily keluar dari kelas.
"Uwes yo, Ryl. Aku pulang duluan. Mari, Mas." pamit si gadis berponi yang langsung melangkahkan kakinya menjauh setelah Sebastian dan Cherryl mengiyakan.
"Yakin engga ngerepotin, Seb?" tanya Cherryl lagi.
Sebastian menatap si cewek yang berjalan di sampingnya, "Nggak, Ryl."
"Holy, anjing yang pas itu lo ceritain?" tanya Sebastian kemudian.
"Iyaa, kata Kak Gigi sudah bisa dijemput hari ini. Tapi beneran engga apa-apa?" jawab si cewek, merasa tak enak hati karena harus merepotkan cowok itu lagi.
Sebastian mengangguk, "Iya Cherryl. Gausah khawatir. Gue nggak pernah ngerasa di repotin ama lo."
"Ah masa? Katanya pas phobia gue kumat gue nyusahin lo, Seb?" sergah Cherryl.
"Bercanda." jawab si cowok cepat.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil setelah sampai di parkiran. Keduanya langsung dibawa pergi oleh mobil hitam yang dikendarai oleh Sebastian menuju ke rumah sakit hewan tempat Gigi bekerja. Selama perjalanan keadaan di dalam mobil hening, baik Cherryl maupun Sebastian larut dalam pikiran masing-masing. Hanya suara musik yang terdengar di antara heningnya suasana.
"Udah deket aja nih sama Kak Tasya. Lagi pdkt?" celetuk Cherryl yang tiba-tiba membuka suara, menarik atensi cowok bergigi kelinci di sampingnya.
"Hah? pdkt gimana?" tanya si cowok bingung.
Cherryl menggembungkan pipi, "Ya setiap kali gue ke kelas lo, atau di kantin, lo berdua mulu ama dia. Bercanda lah, asik ngobrol lah."
Sebastian menggeleng, "Dia salah satu temen pertama gue. Jadi ya gitu. Tapi nggak ada apa-apa."
Cherryl merengut, "Ih dasar ga peka! Diliat dari tatapan matanya Kak Tasya ke lo aja udah keliatan banget dia naksir ama lo, Seb."
Si cowok menautkan alis, "Masa sih?"
Cewek bermata bundar itu mengangguk-anggukan kepala. Akhirnya keadaan kembali hening hingga Sebastian kembali berujar.
"Lagian gue gasuka dia." katanya.
"Padahal anak kelas lo cakep-cakep, masa gaada yang nyantol?" tanya Cherryl heran.
Sebastian tampak berpikir sejenak, "Ada sih.."
Mata bundar Cherryl membulat, "Ada?! Siapa siapa??"
"Miss Carla?"
Senyuman di wajah Cherryl lenyap begitu saja. Cewek itu langsung menepuk lengan cowok di sampingnya agak kencang, "Itumah wali kelas lo, Seb!"
Sebastian tertawa, "Lagian lo penasaran banget kayaknya. Matanya sampek mau keluar gitu. Kenapa, sih?"
"Gapapa, kepo dadakan aja. Udah yuk turun." ajak Cherryl lalu turun dari dalam mobil karena benda hitam itu sudah berhenti di depan sebuah gedung rumah sakit.
Keduanya masuk secara beriringan menuju lobby sebelum datang ke ruangan Gigi. Beberapa menit kemudian Gigi keluar dan mengajak Cherryl juga Sebastian masuk ke ruang kerjanya.
"Biasanya pulang jam berapa, Kak?" tanya Cherryl basa-basi saat Gigi sibuk membereskan kertas-kertas di atas meja.
"Kalo lembur bisa sampai tengah malam, sih. Cuma biasanya jam lima sudah bisa pulang." jawab cewek bermata sipit itu.
Sebastian berdiri dan melihat-lihat ruangan milik Gigi. Sedangkan Cherryl memilih untuk duduk dan menunggu.
"Dah nih. Ayo Kakak anter ke ruang perawatan."
Mereka bertiga pergi ke area belakang gedung, tempat kandang-kandang hewan ditempatkan. Gigi meminta salah satu petugas di sana untuk mengeluarkan Holy dan membawa anjing itu padanya.
"Holy!" pekik Cherryl senang saat melihat anjing kesayangannya berada di pelukan Gigi.
Cewek itu segera mengambil Holy dan mengelusnya sayang, "Mama kangen, tau." ujarnya yang membuat Sebastian tertawa renyah.
"Mama? Geli anjir." sergahnya.
Mata Cherryl memicing, menatap tajam cowok di sampingnya, "Komentar aja lo."
Seorang petugas membawa kandang yang memang dulu dibelikan ayah Sam untuk Holy dan menyerahkan itu pada Cherryl yang langsung berterimakasih. Cewek itu meminta tolong pada Sebastian untuk membuka kandang sedangkan ia memasukkan Holy ke dalamnya.
"Makasih banyak ya, Kak Gigi. Ini sudah sore, Erryl sama Babas pamit dulu yaa!" ujar Cherryl lalu pergi keluar dari gedung bersama Sebastian yang menenteng kandang milik Holly setelah Gigi mengangguk dan melambaikan tangan.
Sebastian membuka pintu belakang lalu menempatkan kandang berisi Holy di sana. Cowok itu tersenyum, "Nah sekarang Holy pulang dianter Papa, ya."
.
.
.
.
.
TBC.
Jangan lupa Vote + Comment!