Cookie Jar

Cookie Jar
#36 Tujuh Belas Agustus



Sebastian melangkahkan kakinya masuk ke rumah keluarga Gunawan setelah Anggara yang sedang mencuci mobil di garasi memberitahunya kalau bunda Sena menitip pesan pada si cowok untuk sarapan bersama terlebih dulu sebelum berangkat ke sekolah.


“Shalom! Pagi Ayah, pagi Bunda, pagi Karin, pagi Cherryl.” sapa Sebastian lalu mendudukkan diri di sebelah Cherryl yang sudah rapi mengenakan dress bermotif kebaya modern selutut sedangkan cowok itu hanya mengenakan kaus hitam dengan celana olahraga panjang.


“Shalom. Rajin amat Bas sampek disebut semua, gak sekalian Holy juga?” sahut Irina yang terduduk di lantai, bermain bersama Holy.


“Hehe, kan biar sopan, Karin.” balas si cowok sembari menggaruk tengkuknya.


Ayah Sam tersenyum hangat, “Iya, shalom, Bas.” kata beliau yang baru selesai menyesap kopi hangat.


“Shalom. Babas ayo langsung sarapan aja biar nantinya gak buru-buru berangkat. Ayo, Adek juga cepat makan dulu.” ujar bunda Sena lalu menggiring keduanya ke arah ruang makan, diikuti oleh yang lainnya termasuk Anggara yang sudah selesai dengan urusannya di luar.


“Ihhh kok lo simple aja sih, gue sama Thomas doang yang disuruh pake kebaya gini kan gak adil banget. Cuma Tujuh Belasan lohhh…” eluh Cherryl seraya berjalan beriringan dengan Sebastian yang langsung tertawa sebagai tanggapan.


“Gapapa lah Ryl jarang-jarang lo dandan ‘kan? Lagian biar enak aja mandu acara rapih begini, kata Asya sih. Udah deh, cantik kok.” sahut si cowok sembari mengacungkan ibu jarinya.


“Bunda sudah bilang kalau dia cantik pakai itu, Bas. Cuma dari tadi ngeluh terus.” sahut bunda Sena yang sudah sibuk menyiapkan tumpukkan piring ke atas meja makan.


Cherryl menghampiri sang bunda dan membantu beliau menyiapkan lauk-pauk, tapi dengan muka tertekuk, “Gatel Bun, gak suka banget!”


“Rewel lo ah, nanti juga ganti baju.” celetuk Anggara yang entah sejak kapan sudah mendudukkan diri di meja makan sendirian, tapi cowok itu langsung pura-pura bego ketika sang adik menatapnya tajam.


“Beauty is pain, Dek.” kata Irina yang malah membuat raut wajah si bungsu tambah keruh seperti kolam lumpur.


“Lebih ke gatel sih Kak, daripada sakit.” cibirnya.


Melihat ekspresi putrinya itu ayah Sam tertawa sembari mengelus puncak kepala Cherryl sayang, “Adek sudah cantik-cantik begini masa wajahnya ditekuk begitu? Dinikmati aja, toh nggak setiap hari. Ayo senyum…”


Cherryl mempoutkan bibirnya lalu merangkul sang ayah, raut wajahnya menjadi cerah seketika, “Hehe, iya Ayah.”


Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai sarapan, sekarang Sebastian dan Cherryl berpamitan pada orang rumah dan segera berangkat ke sekolah. Si cowok menaruh tas milik cewek itu ke kursi belakang mobil setelah itu giliran tangan Cherryl yang ia genggam. Tentu saja si empunya tangan terkejut sampai-sampai napasnya tercekat.


“Ih, Seb. Aneh bangett…” ujar Cherryl yang kembali mengundang tawa cowok itu.


“Haha padahal biasanya lo yang nempel terus ke gue. Udah biasain aja, anggap latihan.” jawab si cowok santai sembari menyalakan mesin mobil.


Mereka tetap berpegangan tangan selama perjalanan ke sekolah, walaupun Cherryl sudah deg-degan setengah mati ditambah rasa gugupnya karena akan menjadi MC acara di aula nanti. Sebastian membuat cewek itu pusing karena jantungnya nggak mau diam, membuatnya jadi bertanya-tanya kok bisa si cowok tetap begitu tenang selama ini.


Sebenarnya sih Sebastian ingin menghabiskan waktu lebih lama di mobil bersama si cewek cherry tapi sosok Thomas sudah muncul bahkan sebelum cowok itu selesai memarkirkan mobil, mau tak mau dia harus melepas Cherryl untuk dibawa karena ada briefing singkat sedangkan dia juga harus segera berkumpul dengan tim bagiannya untuk memastikan kalau semua properti sudah beres.


“Ketemu nanti ya, Sebby!”


“Jangan lama-lama, nanti gue kangen!” seru Sebastian yang membuat Cherryl panik, di situ kan ada Thomas!


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


“Wah nggak kerasa kita udah ada di penghujung acara sesi pertama. Buat kalian yang nggak sabar untuk lomba, tunggu dulu ya!” ujar Thomas lalu menatap Cherryl yang langsung mengangkat micnya.


“Masih ada penampilan terakhir dari team dance performance yang akan menghibur kita, yuk nggak usah berlama-lama lagi waktu dan tempat dipersilahkan!”


Kedua MC itu undur diri dari atas panggung seiring dengan tepuk tangan riuh terdengar saat satu persatu anggota tim dance naik ke panggung. Sesuai dengan tema musik gabungan antara tari modern dan tradisional, kostum mereka pun nggak kalah keren. Miss Kay yang berdiri di sebelah multimedia mengintruksi agar petugas mulmed memulai lagunya.


Keadaan hening beberapa saat, Devin dan teman-temannya sudah mengatur posisi masing-masing tanpa kendala. Setelah itu suara gamelan memenuhi seluruh penjuru aula, membuat semua orang di sana berseru dengan semangat.


“Merinding, gilaaa!” ujar Vino, mendapat persetujuan oleh teman-teman sekelasnya yang duduk di barisan depan aula.


Semua orang tampak menikmati penampilan team dance sampai-sampai tidak ada seorang pun yang sibuk sendiri. Mereka menatap ke panggung dengan kepala dan tubuh bergerak mengikuti beat lagu yang terdengar sangat elegan sekaligus energetic. Tak sedikit juga siswi yang berteriak karena mengagumi penampilan mereka baik secara personal maupun tarian. Cherryl yang melihat Devin bisa menari dengan sangat baik itu juga tersenyum, senang sekali karena si cowok bisa kembali melakukan hal yang digemarinya, kalau saja cowok itu tahu seberapa bersinar dirinya saat tampil.


“Wah bisa-bisa jadi idol nih mereka, pasti banyak fansnya abis ini.” ujar Thomas, Cherryl mengangguk setuju.


“Hooh udah kayak konser aja haha.”


Tepuk tangan memenuhi aula selama beberapa menit tanpa jeda setelah lagu berhenti, Thomas dan Cherryl kembali naik ke atas panggung dan setelahnya mereka menutup acara dengan doa.


“Gimana gimana, seru gak sesi pertamanya?!” tanya Cherryl dengan wajah cerianya.


“SERU!”


Thomas tertawa kencang lalu dia mengangkat tangannya, “Makasih ya untuk semua yang berpartisipasi di acara ini. Sebentar lagi kita pindah ke lapangan untuk acara lomba yang akan dihandle oleh panitia tim lomba. Oke kalau begitu kalian bisa istirahat dulu selama satu jam. See you guys!” jelasnya lalu semua siswa mengangguk, mereka berhamburan keluar dari aula sedangkan para panitia mengambil waktu untuk briefing sekali lagi.


“Keren, keren. Thanks ya Cherryl, lo jauh lebih baik dari kemarin.” kata Asya sembari merangkul si cewek yang langsung berterimakasih atas pujiannya.


“Nah lo sama Thomas bisa langsung ganti baju, nanti bisa bantu ingetin panitia ngasih pengumuman buat peserta lomba biar kumpul di lapangan duluan ya. Makasih, gue ke yang lain dulu.” tambah Asya lalu dia beranjak pada panitia lain untuk memberikan arahan.


Cherryl menghela napas lega lalu berlari kecil menghampiri sosok Lily yang sudah menunggunya di dekat pintu aula, mereka berpelukan seakan sudah bertahun-tahun nggak ketemu, “HUWA LILY GUE KANGEN!!”


“Aduh aduh, iya aku juga kangen sama kamu Cher…” sahut Lily berpasrah dipeluk erat oleh sahabatnya itu.


Kedua cewek itu pergi ke kamar mandi untuk menemani Cherryl mengganti bajunya sebelum berkeliaran di sekitar sekolah untuk mencari camilan dan minuman. Saat mereka berjalan menuju minimarket di depan sekolah, keduanya tak sengaja berpapasan dengan Dion yang langsung menyapa.


“Eh hi Cherryl, Lily.” sapanya.


Lily langsung balas menyapa dengan ramah sedangkan si cewek cherry langsung teringat pada perkataan Sebastian kalau Dion menyukainya. Dia hanya tersenyum singkat lalu menarik sang sahabat kembali berjalan.


“Hai, Kak. Hehe, kita duluan yaa!”


Dion yang melihat itu menautkan alisnya bingung, “Lah napa si Cherryl?”


.


.


.


.


.


TBC.