Cookie Jar

Cookie Jar
#51 Kesempatan



Lily menggenggam tangan Cherryl yang menekuk mukanya saat masuk ke dalam mobil. Bagian belakang sudah diduduki oleh Irina dan Max sedangkan Anggara yang menjadi supir duduk di bagian depan bersama Gilang. Mereka akan berangkat ke café yang biasanya dipakai untuk berkumpul, setelah cukup lama mereka nggak bertemu satu sama lain.


“Yang ceria kenapa sih, Dek?” ujar Irina sembari menyisir rambut belakang si adik bungsu dari belakang, dia juga khawatir banget dengan kondisi cewek itu. Dia berharap dengan adanya pertemuan malam ini masalah Cherryl dengan Sebastian bisa menemukan titik terang.


Ucapan Irina dihadiahi anggukan oleh Lily sebagai persetujuan, “Iya, kan kita mau kumpul-kumpul, Cher…”


Yang diajak bicara mengeratkan rangkulannya pada lengan si sahabat sambil tersenyum tipis, “Iya, sorry.” ujarnya.


Sejak dua hari yang lalu Cherryl sudah mau merespon kalau diajak bicara dan sepertinya keadaan cewek itupun sudah membaik, walau mukanya masih muram sih. Tapi sebenarnya dia nggak mau ikut acara hari ini walau akhirnya ikut juga karena nggak enak karena sudah membuat teman dan kedua kakaknya itu khawatir beberapa hari ke belakang.


Beberapa saat kemudian mereka semua turun dari mobil karena sudah sampai di parkiran café. Gigi, Deandra, Raymond dan Puteri yang berdiri di dekat pintu langsung menyambut mereka dan bergabung dengan rombongan untuk masuk ke basecamp mereka di lantai tiga.


Cowok bernama lengkap Max Alexander yang saat ini berstatus sebagai tunangan dari puteri sulung keluarga Gunawan itu sejak dulu sudah meminta pada sang ayah untuk memberikan lantai tiga yang awalnya dibiarkan terbengkalai untuk menjadi tempat kumpul mereka hingga saat ini. Interiornya pun disamakan dengan café, ditambah beberapa sand chair dan kasur lipat kalau-kalau ada yang ingin berbaring. Tapi kunci ruangannya hanya di pegang oleh cowok itu dan satu lagi oleh ayahnya sebagai cadangan.


Lily yang sudah menghempaskan tubuhnya di salah satu sand chair langsung membuka ruang pesannya dengan Devin yang juga diajak bergabung malam ini, cowok itu sudah berangkat bersama Elhanan yang sebelumnya mati-matian memohon agar bisa ikut sesaat setelah si adik mengonfirmasi kalau Anggara akan hadir juga, cewek bersurai pirang itu benar-benar pengen tahu lebih banyak soal si cowok yag selama ini membuatnya kepikiran bahkan tanpa melakukan apapun selain berdiri diam di depannya waktu itu.


Cherryl mendudukkan diri di ujung ruangan sendirian, dia masih belum merasa pulih sebelumnya dan badannya masih lumayan lemas. Mata bulat yang sebelumnya sendu itu melebar ketika pintu terbuka dan menampilkan sosok Farrel berjalan masuk ke dalam ruangan diikuti oleh cowok yang selama ini memenuhi pikirannya. Sontak si cewek menundukkan kepala dan berharap kalau nggak ada orang yang menyadari keberadaannya di sana, terutama Sebastian. Untuk beberapa saat nggak ada yang aneh, kedua cowok itu langsung menyapa yang lainnya dan mengobrol kecil.


“Cherryl.”


Napas cewek cherry itu tercekat, dia menutup matanya rapat-rapat saat mendengar suara Sebastian, suara yang sebenarnya membuat dia kangen setengah mati dan sesak di saat yang bersamaan. Setelah itu terasa kalau si cowok ikut mendudukkan diri di kursi yang ada si sebelahnya lalu berdeham pelan.


“Apa kabar?”


Cherryl meremat tangannya dan perlahan mendongakkan kepala untuk menatap si cowok yang ternyata terlihat sama buruknya dengan dirinya, kantung mata yang selama ini nggak pernah dia lihat di wajah Sebastian bahkan sudah menjadi titik paling mencolok yang nggak bisa dihindari.


“Lo kenapa sampe begini?” tanya Cherryl pelan dan tangannya sontak terangkat untuk menyentuh muka si cowok walau akhirnya diurungkan.


“Lo juga sama.” jawab si cowok lalu mereka berdua tertawa getir sebelum akhirnya saling mengalihkan pandangan dan bergeming.


“Maaf, Ryl.” ujar Sebastian dengan sepenuh hatinya, cowok itu sudah nggak tahu kata-kata apa lagi yang harus dia ucapkan ke si cewek agar keadaan mereka membaik.


“Lo gak perlu minta maaf, kan gue bilang kalo gue yang butuh waktu. Lo pasti kesusahan ya selama ini?” balas Cherryl pelan, sepelan mungkin agar nggak sampai menginterupsi percakapan seru yang sedang terjadi di tengah ruangan di mana kakak-kakak mereka berserta teman-teman lain mengadakan reuni.


Sebastian mengusap wajahnya, “Iya.” jawabnya singkat.


Lily yang sedari tadi sudah melirik kedua temannya itu memilih untuk diam, berdoa dalam hati supaya Tuhan menolong mereka untuk cepat berbaikan karena kalau seperti ini nggak nyaman banget buat dia, Devin dan Alfian yang nggak tau apa-apa.


Atensi mereka kembali terpecah saat pintu kembali terbuka, tapi kali ini Devin menyembulkan kepalanya terlebih dulu sebelum menjajakkan kaki ke dalam, “Malam semua.” sapanya lalu pintu terbuka agak lebar sehingga sosok Elhanan yang diam membatu di belakang cowok itu terekspos.


Gilang yang melihat si cewek langsung berdiri, “Loh, Elhanan kan? Wah gue gak tau lo ikut juga!”


“Halo…” sapa Elhanan ragu-ragu.


Deandra menyenggol pelan lengan Gilang, “Kenal dari mana lo?” bisiknya, tapi nggak dihiraukan oleh cowok itu.


Irina berdiri dan menggiring cewek itu masuk dan bergabung dengan yang lain, “Lily udah bilang gue kok kalau Devin bakal datang sama kakaknya. Kenalan dulu kalo gitu, gue Irina, ini Gigi, Puteri, Max, Angga, Ray, Gilang, Dean, itu Lily temen sekelasnya Devin, sama yang di ujung Cherryl. Terus Bastian.” katanya sembari menunjuk satu per satu temannya yang langsung mengangkat tangan untuk menyapa seperti sedang pengecekan absensi di sekolah.


“Haiii~”


“Gue Elhanan, salam kenal semuanya!” ujar si cewek lalu setelah perkenalan itu mereka langsung duduk mengobrol bersama-sama seperti tadi.


Selama nimbrung bercakap-cakap Elhanan sesekali melirik sosok Anggara yang saat ini terlihat begitu ceria dan aktif, tidak seperti sebelumnya yang menyeramkan dan diam saja. Cewek itu semakin penasaran akan sosok cowok itu tapi kan nggak mungkin dia meminta nomornya sekarang juga, dia juga sempat berpikiran untuk meminta nomor Anggara dari Gilang tapi sepertinya bukan ide bagus.


“Eh ini nggak ada yang bawa camilan? Di bawah kan cuma ada cake.” ujar Irina lalu dia melirik Farrel untuk meminta bantuan.


Cowok itu mengangguk setuju, “Iya ya, wah kalo gitu harus ada yang beli. Gimana kalo Babas sama Cherryl aja?” katanya.


🍪Cookie Jar🍪


Sebastian membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Cherryl masuk ke dalam, keduanya akhirnya setuju untuk keluar dan membeli makanan ringan setelah sedikit dipaksa oleh duo kakak sulung, yang lainnya kan nggak semua tahu soal kerenggangan mereka jadi mau nggak mau, daripada suasananya jadi keruh.


“Mau beli di mana?” tanya si cowok untuk basa-basi.


Cherryl menggelengkan kepalanya, “Nggak tau juga. Terserah Sebby aja.” jawabnya tanpa memandang cowok itu sama sekali.


Karena jawaban itu Sebastian sengaja mencari minimarket yang jaraknya lumayan jauh agar bisa menghabiskan waktu berdua lebih lama dengan Cherryl, si cewek pun nggak mengajukan protes apa-apa walau ia sudah tahu.


“Lo belakangan ini nggak pernah keliatan.” ujar si cewek cherry dengan tiba-tiba yang membuat Sebastian agak kaget.


“Oh, iya. Gue sebenernya beberapa kali mau ke kelas lo, cuma takut.” jawabnya cepat, dengan jujur.


Cewek itu menghela nafas, “Erryl juga sebenernya nggak marah, cuma lo tau sendiri kadang perasaan nggak bisa dikontrol sepenuhnya.”


Sebastian mengangguk, “Iya.”


Keadaan menjadi hening lagi hingga mereka sampai ke minimarket, turun, berbelanja, dan membayar. Si cowok juga sengaja membeli beberapa cup ice cream untuk dimakan bersama-sama yang lainnya, ditambah satu cup ice cream rasa strawberry cheesecake kesukaan Cherryl khusus untuk cewek itu.


“Eum, Cherryl…”


Yang dipanggil menoleh, sekarang keadaan mereka nggak begitu canggung seperti tadi walau rasanya masih ada batas yang memisahkan keduanya, “Iya?”


“Sekali lagi gue minta maaf tapi jujur gue gak bisa lagi kalo diem-dieman sama lo kayak gini. Apa lo bisa kasih gue kesempatan? Buat cerita lebih banyak.” ujar Sebastian dengan sendu yang membuat Cherryl ikut menundukkan kepalanya karena dia jadi seidkit merasa bersalah.


Si cewek mengulum bibirnya sejenak lalu mengangguk pelan, “Iya.”


TBC.