
Cherryl menoleh saat mendengar suara langkah kaki di belakangnya, tangannya yang sedang sibuk berkutat dengan piring dan sendok kotor juga busa sabun cuci piring itu jadi terhenti.
"Gue pikir siapa," katanya seraya melanjutkan aktivitas yang tertunda.
Sebastian hanya mengangguk sebagai tanggapan lalu menyandarkan diri di meja pastry sambil menenggak airnya. Beberapa saat kemudian, si cewek cherry sudah selesai mencuci piring. Dia berbalik dan terkejut melihat cowok itu masih berdiri di sana.
"Ngapain lo?"
Si cowok bergeming, dia maju beberapa langkah sampai berdiri didepan Cherryl lalu tersenyum.
"Gapapa, udah lama aja ga liatin lo kayak gini. Bocilnya udah tambah gede ternyata." kata Sebastian yang dihadiahi tepukan keras di lengan oleh Cherryl.
"Bocil-bocil, sembarangan!" kesalnya.
Sebastian tertawa. Baru saja dia mau mengasak puncak kepala Cherryl, cewek itu sudah menunduk untuk mencari sesuatu dari saku celananya. Dia mengambil sebuah note lalu menyodorkan ke depan wajah cowok itu.
"Gue nemu ini,"
Si cowok langsung mengambil note itu, "Loh masa baru nemu? Gue tempel di kaca meja rias perasaan."
"Jatoh kali, gue nemunya di kolong meja belajar tuh," sahut Cherryl lalu berbalik sambil mengigit ikat rambutnya, cewek itu langsung merapikan rambut lalu menguncir rambutnya.
Sebastian hanya diam, sampai Cherryl selesai dan kembali menghadapnya, "Lo mau berapa?"
"Apanya?" tanya cowok itu balik.
Cherryl mengangkat tangan Sebastian lalu membaca note itu, "Prnya sudah selesai, Tuan Puteri. Ditunggu bayarannya."
"Ohh itu...Beneran mau dibayar?" jawab Sebastian lagi.
Cherryl mengangguk, "Hooh, tapi jangan mahal-mahal."
Si cowok tampak berpikir lalu menyipitkan mata, "Nanti malem keluar yuk, sekalian kan si Lily ada janji sama Andre juga dari pada gabut di rumah."
"Berdua?" tanya si cewek, dan Sebastian mengangguk.
Cherryl mengulurkan tangannya lalu bersalaman dengan Sebastian, "Deal."
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
Malam sudah tiba, Sebastian mengetuk pintu kamar Cherryl karena cewek itu belum juga keluar dari sana.
"Ryl, Lama amat lo!"
"Bentarannn..." sahut si cewek lalu beberapa saat kemudian dia membuka pintu dan menampakan diri.
Pandangan si cowok terpaku, padahal Cherryl hanya mengenakan gaun selutut berwarna merah muda bermotif bunga di sekeliling pinggangnya juga rambut tergerai dan sekedar ditambahi pita kecil sebagai aksesori. Ditambah heels yang tidak terlalu tinggi, berwarna senada dengan pakaiannya.
"Seb?" panggil Cherryl pelan, seraya menatap Sebastian dengan mata bulat.
"O-oh iya, duluan ke mobil aja gue mau ambil barang dulu." jawab cowok itu lalu melenggang pergi.
Cherryl mendengus pelan, sebenarnya dia berharap Sebastian memujinya atau setidaknya tersenyum melihat penampilannya malam ini. Apa-apaan dengan wajah cengonya itu? Sudahlah, cewek cherry itu segera saja menenteng tas kecilnya lalu pergi ke luar dan masuk ke dalam mobil.
Tak sampai lima menit, Sebastian sudah kembali ke dalam mobil membawa sebuah papper bag yang kemudian dia simpan di kursi belakang. Setelah itu si cowok ikut masuk dan duduk di kursi pengemudi.
"Apaan tuh?" tanya Cherryl.
Sebastian menggedikkan bahunya, "Ga penting, udah 'kan gaada yang ketinggalan?"
"Pintu rumah udah dikunci?" sahut Cherryl.
"Udah dong. Oke, berangkat ya?" final si cowok lalu Cherryl mengangguk pelan seraya memasang sabuk pengamannya, dia mengacungkan ibu jari lalu mobil mulai berjalan menjauhi pekarangan rumah keluarga Gunawan yang ditinggalkan sepi. Semua orang memiliki jadwal masing-masing malam ini.
Mata Cherryl seakan terbuka lebar tatkala menatap lampu jalanan yang melaju dengan cepat di hadapannya, langit malam berbintang pun tak kalah apik untuk memukaunya saat ini.
Sebastian menoel-noel lengan si cewek, membuatnya menoleh dan menatap telapak tangannya yang terbuka lebar, "Apaan?" tanya Cherryl.
"Lah, lo mau apa sih?"
"Yaelah udah biasa juga kagak paham aja, ituloh ambilin duit recehan buat kang parkir."
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
Sebastian tertawa kecil melihat wajah bete Cherryl sejak tadi, cewek cherry itu pun langsung turun tanpa tahu kemana mereka akan pergi setelah mobil berhenti. Dia hanya menoleh kesana-kemari, kebingungan karena nggak ada yang spesial dari area tepi perempatan tempat si cowok memarkirkan mobilnya.
"Ini mau ke mana, sih? Kok gak jelas." protes Cherryl.
Si cowok menutup pintu mobil lalu berjalan mendekati Cherryl, dia menarik si cewek tanpa aba-aba lalu membuatnya tersandar di bagian belakang mobil, "E-eh! M-mau apa lo?!"
"Dah diem dulu," sergah Sebastian lalu berjongkok di hadapan cewek itu.
Dia membuka papper bag yang dibawanya lalu mengeluarkan satu pasang sneakers milik Cherryl dan mulai melepaskan heels yang dipakai si cewek.
"L-loh, Seb. Gue aja sendi–"
"Sstttt! Udah diem, jangan protes. Lo pake dress begini mana bisa nunduk." ujar Sebastian lagi.
Cherryl berdeham lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, entah mengapa di tengah dinginnya malam pipinya malah terasa hangat. Tak lama kemudian Sebastian kembali berdiri, dia berjalan begitu saja untuk menyimpan papper bagnya kembali.
"Ayo, kita kudu jalan sampe keatas."
Entah apa yang dipikirkan Cherryl sampai-sampai dia mau ikut begitu saja, karena sudah hampir lima belas menit mereka belum juga sampai di tempat tujuan.
"Ya Tuhan, Seb. Ini mau sampek kapan? Capek tau..." gerutunya lalu berhenti berjalan dan menghentakkan kaki.
Sebastian menghela napas lalu mendekati Cherryl dan menggenggam tangannya, "Dikit lagi sampek, serius dikit lagi ini ga sampek satu menit."
Si cewek memanyunkan bibirnya dan mengikuti langkah cowok itu dengan langkah berat, ditambah jantungnya jadi suka berdetak tidak seperti biasanya. Entah karena lelah perjalanan atau karena cowok yang sedang menggeretnya ini.
"Yeay, udah sampek." Kata Sebastian saat mereka sampai di area taman yang mengarah langsung pada hamparan gemerlapnya kota di bawah mereka.
Di sana juga ada sebuah restoran dengan gaya klasik, di halaman depannya ada sebuah kolam ikan koi. Setelah itu Cherryl hanya bisa terdiam menganga melihat indahnya yang ada di atas sini, tidak heran Sebastian rela membuatnya kelelahan seperti ini.
"Bas?! Lo tau dari mana tempat beginian anjir?" tanya Cherryl dengan bersemangat, tanpa sadar dia menggenggam lengan si cowok.
"Bang Angga. Dahlah ini mau makan dulu atau keliling dulu?"
Cherryl mengulum bibir seraya matanya menelusur ke sekitar, "Ah, ayo duduk di sana dulu."
Si cewek cherry menunjuk ke arah bangku taman yang terletak tidak jauh dari pembatas tebing.
"Sini sini, fotoin dong Seb." pinta Cherryl.
Sebastian tertawa kecil lalu bersandar ke pembatas dan mulai mengambil beberapa foto, setelah itu Cherryl langsung berdiri dan menarik cowok itu untuk duduk di sebelahnya. Cherryl mengambil ponsel Sebastian lalu memundurkan tubuhnya, menyandarkan diri pada cowok itu lalu mulai memotret beberapa selfie.
"Bagusss, nanti foto-foto lagi ya?" tanya Cherryl lalu kembali pada posisi semula, sambil melihat foto-foto yang tadi mereka ambil.
Sebastian nggak menjawab, hingga cewek itu menoleh untuk menatapnya, "Loh, lo sakit? Muka lo kenapa merah gitu, Seb?!"
.
.
.
.
.
TBC.