Cookie Jar

Cookie Jar
#33 Pengakuan



Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, karena kurang dari satu minggu lagi kegiatan Tujuh Belas Agustus akan digelar. Cherryl dan Sebastian tidak bisa terlalu larut dalam keresahan masing-masing karena mereka dan semua orang yang berpartisipasi dalam persiapan acara dibombardir habis-habisan oleh jadwal rapat dan proker yang harus dibereskan.


Sebastian melangkahkan kakinya menuju ruang OSIS sembari membawa sebuah kardus berisi name tag milik para panitia bersama Thomas yang merupakan partner Cherryl sebagai Duta Sekolah.


"Nanti langsung dibagiin aja kali ya, Bang? Atau di kasih ke Miss Elli dulu? tanya Thomas, cowok berkacamata itu menggaruk tengkuknya sembari menatap rundown acara yang ia genggam sedari tadi.


Sebastian menoleh, "Kayaknya langsung dibagiin aja deh, soalnya kan desain name tag diatur langsung sama dia." jawabnya yang dihadiahi anggukan oleh si adik kelas.


Di sisi lain Cherryl tengah sibuk di aula untuk mengatur hiasan acara bersama anggota OSIS, sudah seminggu ini dia tidak terlalu banyak bersama dengan Lily karena cewek bersurai sebahu itu langsung pergi saat istirahat maupun pulang sekolah. Dia terkadang harus memimpin rapat persiapan acara bersama OSIS, dewan guru yang bertanggungjawab dan kepala sekolah. Rasanya badannya remuk setiap hari sampai di rumah.


Beberapa waktu kemudian rombongan orang dari team dance performance masuk ke dalam aula bersama pelatih mereka yaitu Miss Kayleen. Cherryl dan Devin hanya bersapa singkat dan langsung kembali pada kepentingan masing-masing setelah saling menyemangati.


Beberapa kali juga Tasya menghampiri Sebastian untuk mengobrol tapi rasanya sulit sekali hingga hari ini cewek itu berniat untuk menunggu si cowok di parkiran, dia benar-benar merasa kesepian di kelas tanpa cowok itu.


"Kak Tasya?"


Yang dipanggil mengangkat kedua alisnya, menatap sosok Cherryl yang baru saja akan masuk ke dalam mobil milik Sebastian yang ia hampiri, "Oh, hi Ryl. Lo pulang sama Babas?" tanyanya lalu memasukkan ponsel ke dalam saku.


Cherryl mengangguk pelan, "Iya, kayak biasa, tapi dia nyuruh gue nunggu di sini dulu. Kakak ada urusan sama Sebby?"


"Iya, gue boleh ikut nunggu di dalem?"


Setelah itu keduanya masuk ke dalam mobil, di mana Cherryl duduk di kursi belakang sedangkan Tasya mendudukkan diri di sebelah kemudi. Mereka tampak fokus pada ponsel masing-masing dan tidak berniat untuk saling mengobrol.


Tiba-tiba Tasya berdeham, "Ryl, gue boleh tanya sesuatu gak?" tanyanya yang membuat si cewek cherry mengangguk, mengiyakan.


"No offense sebelumnya, Ryl. Tapi apa lo gak mikir kalau kalian terlalu deket? Maksud gue lo sama Babas." katanya, dengan nada selembut mungkin karena memang Tasya tidak ada pikiran untuk menyinggung si cewek cherry yang tampak berpikir beberapa saat.


"Gimana ya Kak, soalnya emang dari kecil pun udah begini." sahut Cherryl setengah hati, mood gadis itu memburuk seketika tapi dia berusaha terdengar ramah di depan sang kakak kelas.


Tasya mengulum bibirnya lalu mengangguk pelan, "Mmm, iya. Gue Cuma kadang kepikiran gimana Babas bisa punya pacar kalo liat kalian. Kan banyak yang ngira kalian pacaran gitu. Lo paham kan? Kalian udah sama-sama gede."


Cherryl meremat ponsel yang ia genggam sebelum kembali menjawab, "Kak, kalau emang lo gak nyaman sama gue yang nempel ke Sebby terus lo bisa bilang kok. Gue juga gamau jadi penghalang atau beban buat dia."


Si cewek berambut gelombang itu sedikit terkesiap akan jawaban Cherryl yang gamblang, "Eh bukan begitu maksud gue. Gue gak nyuruh lo ngejauhin si Babas, cuma biar lebih jaga batasan aja, Ryl. Lo jangan salah paham..."


Keduanya tersentak saat tiba-tiba pintu mobil terbuka dan menampilkan sosok Sebastian, "Loh Tasya ngapain di sini?"


Belum sempat Tasya menjawab, Cherryl menarik tasnya lalu membuka pintu mobil, "Katanya tadi ada perlu sama lo, Seb. Gue udah pesen Grab nih, kalian ngobrol aja ya, gue duluan." katanya cepat lalu beranjak pergi.


Si cowok tentunya tidak tinggal diam, dia berusaha untuk mengikuti langkah Cherryl tapi suara Tasya menyela, "Bas, please. Gue mau ngomong."


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Melihat sosok Anggara keluar dari rumah bersama Gilang dan Ray, Sebastian langsung turun dari mobil dan menyapa mereka, "Woy Bang, mau pada ke mana nih?" tanyanya.


"Loh ada nak NYC, ngapain lo di sini?" sahut Gilang lalu merangkul adik dari Farrel itu.


"Mau ke Cherryl nih ada yang harus diomongin, dia di mana Bang?" sahut Sebastian menatap Anggara.


"Biasa ada di kamarnya tuh. Gue sama anak-anak mau jalan, di rumah lagi pada keluar semua. Kebetulan deh lo dateng, tolong temenin si Erryl ya dia kayaknya stress banget gara-gara persiapan acara itu." jawab Angga sembari menepuk pundak Sebastian yang dengan sigap mengangguk.


"Oke, santai Bang. Tapi gue nitip makanan ya haha." jawabnya dengan nada candaan.


Ray menyeletuk, "Jangan diapa-apain itu si Cherryl, awas lo."


Ketiga temannya tertawa, "Kalo dia macem-macem tinggal gue kubur." sahut Angga yang membuat Sebastian bergidik ngeri.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka segera berpisah dan Sebastian masuk ke dalam rumah keluarga Gunawan yang begitu sepi.


"Ryl?" panggil Bastian pelan sembari mengetuk pintu kamar Cherryl yang sebenarnya enggak tertutup rapat.


"Ya, kenapa Bang? Masuk aja." suara si cewek terdengar dari dalam, lalu cowok itu membuka pintu dan melangkah masuk dan mendapatinya tengah terduduk di depan meja belajar dengan sebundel susunan acara untuk Tujuh Belas Agustus terlampir di atasnya, Sebastian menatap rambut Cherryl yang ternyata sudah bertambah panjang sejak pertama kali mereka bertemu bulan November lalu.


"Lo lagi ngapain?" tanya Bastian yang membuat Cherryl menoleh.


"Seb? Gue pikir Ang'ga." sahut si cewek dengan raut wajah muram, ia cepat-cepat kembali menatap ke depan sedangkan si cowok berangsur mendekatinya dengan pandangan sayu.


"Gue mau ngobrol sebentar, boleh, Ryl?" sahut Sebastian yang saat ini sudah mendudukkan diri di atas karpet di sebelah ranjang si cewek.


Cherryl menghela napas lalu dia berdiri dan ikut duduk bersama cowok itu sembari bersandar ke sisi ranjang, "Iya, kenapa Seb?" tanyanya.


Sebastian tampak berpikir sejenak sebelum membuka suara, "Emm...Yang pertama gue mau bilang maaf udah biarin lo pergi gitu aja, gue mau manggil lo tapi si Tasya bilang mau ngobrol berdua, dia bilang hal serius." katanya, cowok itu berbicara dengan hati-hati dan mengamati raut wajah cewek di hadapannya yang sekarang tersenyum simpul.


"Gak masalah Seb, kan gue udah bilang Kak Tasya yang minta sama gue ngasih waktu buat kalian ngobrol. Lagian bukan kewajiban lo juga nganterin gue setiap hari 'kan? Udah, gue gak masal—"


"Dia ngajak gue pacaran, Ryl."


"..."


Cherryl yang tadi masih berbicara sontak terdiam mendengar ucapan Sebastian, dia sebenarnya sudah memperkirakannya melihat raut wajah Tasya yang serius tadi, tapi tetap saja mendengar langsung dari si cowok membuatnya terkejut,


"Lo masih merasa gak masalah denger itu?" tanya Sebastian lagi.


Cherryl tertawa kaku, "Hah? Oh, haha. Gue agak kaget sih. Tapi gak masalah lah emang kenapa? Jadi gimana, kalian udah jadian?" katanya berusaha terlihat santai di depan si cowok, padahal tangannya yang ia sembunyikan di belakang tubuh sudah meremat bed cover yang menjuntai dari atas ranjang.


Sebastian diam menatap Cherryl dengan lamat, yang jujur saja membuat napas cewek itu tercekat, "Kalau gue bilang iya, apa lo masih bisa ketawa begitu Ryl?"


.


.


.


.


TBC.