
Cherryl merapatkan tubuhnya pada tembok, bersembunyi saat melihat Anggara sedang duduk di meja makan bersama Sebastian. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu dan cewek itu penasaran sekali.
"Hmm...Serius amat." monolognya lalu memutuskan untuk menghampiri sahabat dan kakaknya itu.
"Lagi ngapain sih?" tanya Cherryl lalu mendudukkan diri di sebelah Anggara.
"Ngikut-ngikut aja yeu." ujar Anggara.
"Jahat banget sih sama adek." ujar Cherryl lalu kakaknya itu tertawa pelan dan mengasak puncak kepalanya.
"Yaudah, nih." kata si cowok bermata sipit itu lalu menyodorkan ponselnya pada sang adik yang menyerengit bingung.
"Cantik. Siapa?" kata Cherryl lalu menatap Anggara setelah mengambil ponsel dari tangan sang kakak.
"Calon—"
"Temen gue," sahut Sebastian cepat menyela ucapan Anggara.
"Oh temen." sahut Cherryl seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Abang lo minta kenalin waktu itu. Udah deket aja sekarang," ujar Sebastian lagi.
"Hilih pantesan! Hp terus yang diliat, malem-malem di balkon terus telfonan. Pantes ya Abang!" kata Cherryl dan Angga hanya menyengir kuda.
"Ya mumpung ada kesempatan nih, Ryl. Masa gaboleh sih, lagian Abang juga mau punya cewek. Cantik, bule lagi." kata Anggara yang diangguki Sebastian.
"Udah punya usaha sendiri lagi." sahutnya.
Cherryl menatap Sebastian, "Usaha apa?"
"Dia punya toko bunga pas di depan rumah gue di sana." jawab si cowok.
"Abang kenapa gak ngasih tau Erryl?!" ujar Cherryl dengan nada kesal.
Anggara menggaruk tengkuknya, "Ya kan belum jadi, Dek. Buat apa dikenalin kalo belum official. Mending diem-diem pas dikenalin udah calon mantu."
Cherryl mendesis menatap Anggara dengan tatapan sinis, "Ngeles terus." katanya.
"Terus gimana, Ryl. Setuju gak?" tanya Anggara.
Cherryl mengetuk-ngetuk dagunya pelan, "Namanya siapa, Bas?"
"Vallerine Callie."
"Cantik ya, kayak orangnya." sahut Cherryl.
"Abang nanya loh, Dek." ujar Anggara.
Cherryl menatap kakaknya, "Ya Erryl sih setuju aja, Bang. Kalo Abang suka mau gimana lagi. Cuma..." kata Cherryl menggantung kata-katanya.
"Cuma apa?"
"Emang Abang kalo pacaran sama dia bisa ngomong bahasa Inggris?" lanjut si cewek lalu tertawa remeh dan berlari pergi.
"Wah ngeremehin Abang! Sini lo sini!" ujar Anggara tak terima lalu mengejar sang adik seraya tertawa.
Sebastian yang menyaksikan itu hanya diam dengan senyuman di bibirnya, "Ada-ada aja."
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Sebastian masih sibuk dengan game di ponselnya. Cowok itu mendapat ajakan mabar dari mana-mana, main game ini main game itu. Rasanya semua game dia mainkan.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampilkan Cherryl membawa boneka serta sebuah buku di tangannya. Cewek itu masuk tanpa berkata apa-apa dan duduk di sisi ranjang.
"Kenapa?" tanya Sebastian tanpa melihat si cewek, tatapannya fokus pada ponselnya.
"Tugas nih, bantuin dong." jawab Cherryl.
Sebastian menghela nafas, "Bentar deh ya, ini baru main."
Cherryl mengangguk dan memilih untuk menyimpan bukunya ke meja nakas, sedangkan dirinya ia dudukkan di sebelah si cowok yang sibuk sendiri. Tatapan cewek itu datar, lurus kedepan dan wajahnya terlihat mengantuk, Sebastian jadi kasihan.
"Udah, mana sini tugasnya." kata Sebastian yang membuat si cewek menoleh.
"Kok cepet? Biasanya Ang'ga main sampek setengah jam." jawabnya.
Sebastian hanya menggedikkan bahunya, "Temennya noob, cepet kalahnya. Mana sini cepet."
Cherryl mengambil bukunya lalu menyerahkan itu pada si cowok, "Writing letter? Yaelah, emang jaman sekarang masih pake surat-suratan gitu?"
Cherryl hanya menggeleng tak tahu, "Gatau gurunya, lagian gue kan baru kelas 10."
"Ini temanya apa?" kata Sebastian.
"Bebas."
"Yaudah lo balik kamar aja sana, gue yang kerjain." kata Sebastian lalu menyerahkan boneka milik si cewek.
"Yakin? Gue kan minta bantuan, bukan minta dikerjain." jawab si cewek dan Sebastian mengangguk.
"Iya udah bobo sana. Kasian lo ngantuk. Nanti gue simpen ke meja belajar bukunya." kata si cowok meyakinkan.
"Yaudah, makasih ya." balas Cherryl seraya mengucek matanya dan turun dari ranjang. Cewek itu langsung berjalan keluar kamar dan menutup pintu.
Sebastian menatap bukunya lalu mulai menulis, sedangkan si cewek sudah tertidur lelap di kamarnya.
"Hmm, apa ya." monolog Sebastian seraya mengetuk-ngetuk dahinya menggunakan bolpoin.
"Yaudalah ini aja." katanya lagi lalu kembali menuliskan kata demi kata diatas buku milik si cewek cherry.
Sekitar lima belas menit kemudian, Sebastian menutup bukunya karena sudah selesai lalu meregangkan tubuh. Cowok itu pergi ke luar dan turun ke ruang keluarga karena yakin jika masih ada Anggara di sana.
"Bang gue izin ke kamar Cherryl ya, nyimpen bukunya." kata Sebastian pada Anggara yang tiduran di sofa sambil menonton televisi.
Anggara mengangguk, "Iya sono. Tapi jan macem-macem."
"Santuy lah, Bang." jawab Sebastian lalu kembali naik ke lantai atas dan beranjak menuju kamar Cherryl.
"Misi," ujar cowok itu pelan saat ia membuka pintu kamar bernuansa pink dan biru muda itu.
"Pules banget tidurnya ni bocah." monolog Sebastian lalu tertawa pelan melihat betapa pulasnya si cewek terlelap.
Dia langsung mendekati meja belajar milik si cewek dan duduk di kursi yang ada di sana, "Sekalian aja kali ya,"
Cowok itu mengambil tas yang tergantung di sebelah meja belajar lalu membukanya, mengeluarkan semua buku dari dalam sana dan melirik jadwal pelajaran yang tertempel di bagian dalam meja belajar, "Here we go," katanya lalu mulai mencari-cari buku dari rak dan memasukkannya ke tas si cewek tak lupa ia kembali memasukkan kotak pensil dan buku yang tadi ia bawa ke dalamnya.
Cowok itu mengambil notes yang ada di laci bawah dan menuliskan sesuatu di situ, lalu ia menempelkannya pada kaca meja rias yang tak jauh dari meja belajar.
"Sweet dream, My Cherry." ucap Sebastian pelan lalu mengusap kening si cewek yang tak terusik sedikitpun.
Setelah itu dia berbalik dan beranjak keluar dari kamar dan kembali turun untuk menemani Anggara menonton televisi karena ia masih belum mengantuk.
"Udah?" tanya Angga saat melihat Sebastian duduk di sofa ujung.
"Udah."
"Ngembaliin buku apa sih?" tanya Angga lagi.
"Bahasa Inggris, ada tugas dianya." jawab Sebastian lalu mengambil beberapa butir kacang yang ada dalam toples di atas meja.
"Eh, Bas."
"Oi."
Anggara menegakkan duduknya lalu menatap Sebastian dengan serius, "Gue mau tanya, serius"
Sebastian menelan ludah, Anggara tadi tidak mengikutinya ke kamar Cherryl, 'kan?
"T-tanya apa, Bang?" jawab Sebastian lalu berdeham pelan.
"Lo,"
"Gue kenapa?"
"Lo bisa masak gak? Gue laper nih, sumpah."
.
.
.
.
.
TBC.
Jangan lupa vote + comment!