Cookie Jar

Cookie Jar
#44 Cerita



Cherryl dan Sebastian menenggak ludah menatap Lily yang duduk menghadap mereka, ketiga orang itu duduk di karpet di dalam kamar milik si cewek cherry. Jam yang berdetak di heningnya malam itupun menjadi satu-satunya suara yang bisa masuk ke dalam indra pendengaran masing-masing dari mereka.


Tadi sepulang dari ibadah sore bersama keluarganya, Cherryl mendapati Lily sudah ada di teras rumah menunggunya pulang. Cewek itu bilang akan menginap untuk semalam jadi mereka masuk ke dalam tanpa banyak bicara. Tiba-tiba saja Lily menyuruh Cherryl untuk memanggil Sebastian berkunjung nanti malam, cowok itu setuju saja dan pukul tujuh tadi dia sudah datang.


Awalnya keadaan berjalan seperti biasa, mereka bermain bersama, mengobrol, dan lain-lain sampai cewek berlogat Jawa tulen itu menyeletuk, “Mas Fian bilang kalian saling suka, kok nggak ada yang bilang ke aku toh?” tanyanya dengan santai, tapi membuat para audiens membeku.


“Eh? Kak Alfian?” sahut Cherryl kemudian setelah keheningan beberapa saat lalu dia menatap Sebastian dengan alis tertaut seakan menuntut penjelasan.


Si cowok berdeham untuk melonggarkan kerongkongannya, “Anu, gue pikir lo udah cerita sama Lily jadi pas Fian tanya ya gue jawab aja.” katanya pelan.


Cherryl menepuk pelan keningnya, “Lo gak bilang…” bisiknya.


Cewek itu menarik pelan lengan sang sahabat, “Gue gak ada niatan gitu, Ly. Sebenernya juga dadakan, duh bingung deh. Lo jangan marahh~” pintanya dengan nada lemah.


Lily menatap Cherryl lalu menggeleng, “Akusih ndak marah Cher, cuma kok bisa gitu loh Mas Fian tau duluan padahal aku yang sering bareng kalian sama sekali ndak ngerti.”


“Yaituu gue juga gak tau Sebby udah ngasih tau Kak Fian.” cicit Cherryl sembari bergelayut pada lengan si cewek berponi.


“Haduh, angel wes. Yaudah sekarang cerita toh maksudnya gimana, sejak kapan, kok tiba-tiba bisa begini.” ujar Cherryl yang memang sebenarnya nggak marah, cewek itu juga lemah banget kalau si sahabat sudah merajuk manja begitu.


“Lo aja.” ujar Cherryl pada Sebastian.


Cowok itu baru berbicara untuk mengajukan protes tapi nggak jadi karena si cewek menatapnya tajam, “Kok gu―I-iya deh, yaudah. Hmm dari mana ya…Oh anu, jadi waktu itu tuh…” katanya lalu mulai bercerita.


Di tengah-tengah cerita, Cherryl izin untuk turun dan mengambil kue serta minuman. Kedua temannya itu mengangguk dan cerita tetap berlanjut. Saat menuruni tangga si cewek mendapati ayah dan bunda sedang duduk di sofa sembari berbincang sedangkan Anggara tergoler di karpet depan televisi. Irina sih pasti ada di kamarnya seperti biasa.


“Lo mau ke mana?” tanya Angga saat melihat si bungsu berjalan menuju dapur.


“Ambil makanan.” sahut Cherryl cepat.


“Nitip susu kotak di kulkas dong, rasa seasalt.” kata abangnya itu yang langsung ia hadiahi acungan jempol.


Cherryl berkacak pinggang saat melihat isi kulkas, dia akhirnya mengambil empat kotak susu dengan rasa berbeda untuk diberikan pada Angga dan dibawa ke kamar. Nggak lupa juga setoples cookies yang ia ambil dari lemari pantry.


“Adek jangan lupa sikat gigi ya abis makan manis-manis.” ujar ayah Sam mengingatkan.


“Siap Yah!”


Cewek itu segera kembali ke atas setelah memberikan titipan sang abang yang semakin terlihat seperti paus terdampar karena rambutnya berantakan dan kausnya naik-naik sampai bagian bawah perut cowok itu terlihat kemana-mana.


“Loh udah selesai ceritanya?” tanya Cherryl yang melihat Lily dan Sebastian sudah sibuk dengan ponsel masing-masing, si cowok menoleh dan mengulurkan tangannya untuk membantu cewek itu menaruh bawaannya ke atas karpet.


“Udah,” sahut Lily lalu menaruh ponselnya ke samping.


“Akuloh bingung kalian kan bilang ndak pacaran tapi kalo dilihat-lihat ya wis kayak orang pacaran dari dulu,” lanjutnya sembari menyeruput susu kotak yang disodori oleh Cherryl padanya tadi.


Sebastian menggaruk tengkuknya, “Ya iya sih keliatan kayak orang pacaran kalo yang nggak kenal kita. Kalo kayak keluarga sama temen deket kan udah biasa liat gue sama Cherryl barengan.”


“Itu lho, Cher. Katanya kamu takut kalau papanya Mas Sebastian ndak bakal restui, kayaknya ndak mungkin deh wong beliau pasti udah tau kamu anaknya piye.” kata Cherryl yang membuat Cherryl memanyunkan bibir lalu menyandarkan kepalanya ke sisi kasur.


“Karena ayah bunda udah anggap Erryl kayak anak sendiri, makannya Erryl rasa kalau mereka mungkin nggak bakal restuin. Gimana ya, bingung juga.” jawab cewek itu kemudian.


Lily mengangguk-angguk pelan, “Bisa jadi, seh.”


“Gue sih ngikut dia aja, kalo mau ya ayo kalo engga ya gapapa juga yang penting perasaan kita jelas.” sahut si cowok yang sedari tadi menutup mulutnya karena mengunyah kue.


“Erryl juga kadang kepikiran soalnya bunda Laura kayaknya udah seneng banget sama Kak Tasya.” ujar Cherryl yang merubah air mukanya jadi muram.


“Yaampun, Ryl. Bunda itu Cuma ngerasa deket aja sama dia, gak ada apa-apa.” jawab si cowok cepat, dia nggak mau cewek itu bersedih.


“Oh, anu, Mas. Waktu itu kayaknya Mas Babas nggak ada. Papanya Cherryl sempat nanya sama tante Laura apa kak Tasya pacarnya Mas Bastian. Tante sih nggak jawab iya cuma malah nanya cocok gak sama Mas Bastian.” sela Lily yang membuat si cowok agak kaget.


“Hah, masa iya? Gue gak tau, beneran.” katanya.


“Bukan salah lo juga sih, kan emang gak di tempat. Tapi ya Erryl juga sebenernya gamau kepikiran soalnya itu kan cuma pendapatnya bunda Laura aja.” sahut Cherryl lalu mengambil satu kue dan memakannya.


Sebastian mengambil tangan kiri cewek itu lalu mengelusnya pelan, “Lo gausah pikirin itu. Bunda pasti lebih suka Erryl daripada cewek lain. Ya? Percaya sama gue.” katanya lembut, sedangkan Cherryl hanya mengangguk pelan.


‘Hadeh jadi nyamuk aku.’ batin Lily sembari lanjut menyeruput susu kotaknya.


🍪Cookie Jar🍪


Hari yang cukup mendung di pertengahan minggu memasuki bulan baru, Devin yang sedari tadi berdiam diri di bangkunya menarik perhatian dari Lily dan Cherryl yang baru saja kembali dari kantin selepas istirahat kedua.


“Wey, Vin!” panggil Cherryl pelan lalu mendudukkan dirinya di kursi samping cowok itu.


“Eh, kenapa?” sahut si cowok kaget, dia menatap sebatang snack cokelat yang disodori oleh Lily dan segera menerimanya.


“Makasih,”


“Lo ngelamun terus akhir-akhir ini, ada masalah?” tanya Cherryl sembari menggeser posisi duduknya agar Lily juga bisa ikut nimbrung walau mereka berdesakkan.


“Oh, enggak kok. Lagi suka kepikiran hal random aja. Hehe.” jawab cowok itu sembari mengunyah jajannya.


“Ohiya gue tadi dikabarin miss Kay kalo pulang sekolah nanti lo ke ruang guru dulu, ada yang mau dibicarain gitu cume gatau apaan.” tambah si cewek cherry itu lagi.


“Nanti kalo mau kita barengi aja, Vin. Tapi aku sama Cherryl nunggu di luar.” timpal Lily yang akhirnya dihadiahi anggukan oleh cowok itu.


Sesuai perjanjian, setelah semua murid berbondong-bondong keluar dari kelas mereka bertiga langsung berjalan beriringan menuju ruang guru. Lily berdecak pelan melihat rintik-rintik hujan yang mulai turun karena dia pulang naik sepeda, dia juga sepertinya nggak membawa jas hujan.


“Oh, kalau jas hujan gue ada yang sekali pakai. Di tas. Lo bisa pake soalnya punya gue sama bapak ada di jok motor.” sahut Devin yang membuat mata cewek itu berbinar-binar.


“Huwa untung ajaa, nanti kalau hujannya ndak berhenti-berhenti aku minta ya!” katanya.


Mereka berhenti saat sampai di ruang guru lalu Devin segera masuk sedangkan kedua cewek itu menunggu di depan sembari mengamati bunga-bunga yang berjajar di sepanjang lorong sekolah, daunnya mulai basah oleh gerimis.


“Kira-kira ada apa ya, Cher?” tanya Lily pada Cherryl yang sibuk memotret bunga.


Cewek bermata bundar itu mengangkat bahu, “Mana gue tau.” katanya.


Beberapa saat kemudian sosok Devin sudah keluar dari ruang guru dan langsung menyapa mereka. Ketiganya mengobrol sambil berjalan menyusuri lorong menuju parkiran.


“Ada apa, Vin?” tanya Lily cepat.


Devin menyodori kedua cewek itu selebaran yang tadi diberikan oleh miss Kay, “Wih apa nihh.” sahut Cherryl dan Lily berbarengan.


“Gue disuruh ikut lomba.”


TBC.


Jangan lupa like, comment dan share ya teman-teman. Akan sangat membantu, terima kasih~