
“Lomba?” tanya Sebastian lalu Devin mengangguk, saat ini kedua cowok itu serta Lily dan Cherryl sedang makan mie ayam bakso kaki lima setelah si bungsu keluarga Sanjaya itu mengajak untuk mencari makan lebih dulu sebelum pulang.
“Lombanya sih bulan Oktober pertengahan,” ujar Devin lalu memasukkan sepotong besar bakso ke mulutnya.
“Loh, deket-deket persiapan ulang tahun sekolah dong? Mana gue pasti sibuk banget soalnya kan ngurusin pelantikan duta sekolah yang baru.” ujar Cherryl dengan bibir manyun karena dia juga pengen ikut untuk menonton lomba yang temannya itu ikuti, sekalian jalan-jalan ke luar kota bareng teman-teman lain.
“Emang acaranya tanggal berapa, Ryl? Tahun lalu gue ga gitu inget.” tanya Devin.
“Tanggal 22 sih, lo tanggal berapa?” tanya si cewek balik.
“Ini loh, tanggal 20.” sahut Lily lalu memampangkan selebaran lomba ke depan muka Cherryl.
“Pasti kaga bisa sih itu kan hari sekolah…Yah Devin, masa lo gak ada yang nemenin?!” ujar Cherryl lalu menyandarkan kepalanya ke lengan Sebastian yang langsung menarik tangannya dan merangkul leher si cewek, lebih seperti mencekik sih tapi nggak pakai tenaga.
Devin tertawa pelan, “Gak apa-apa sih gue dulu juga biasa sendiri kalau ikut lomba.” jawabnya.
Lily mengangguk, “Dia mah udah profesional, Cher. Haha.”
Cherryl yang pasrah saja direngkuh oleh Sebastian semakin menekuk wajahnya, “Gue males ihh masa rapat lagi rapat lagi. Pasti nanti pas acara gue sama Thomas yang jadi pemandu acaranya.”
Sebastian mengusap kening si cewek dengan telapak tangan kirinya, “Gue gak bisa jadi panitia lagi loh.” katanya sembari menatap muka si cewek cherry yang terlihat terbalik dari pandangannya.
“Iya tau.”
“Gapapa Cher nanti aku temenin terus deh walau ndak bisa bantu apa-apa soalnya aku bukan anggota OSIS.” ujar Lily lalu mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum lebar.
Cherryl melepaskan tangan Sebastian yang melingkari lehernya lalu mengajak sahabat ceweknya itu untuk melakukan tos, “Lily emang the best!”
Si cowok bergigi kelinci mendengus pelan lalu menusuk satu bakso ukuran kecil dengan garpunya dan menyodorkan itu Cherryl.
Lily menyikut pelan Devin yang duduk di sebelahnya, “Duh udah ndak nutup-nutupi lagi…” sindirnya lalu kedua orang itu tertawa.
“Apasih kalian,” sergah si cewek cherry lalu menggeser duduknya sedikit menjauhi Sebastian yang segera menariknya mendekat lagi.
“Sok malu-malu aja lo biasanya juga malu-maluin.” katanya yang dihadihi tepukan oleh cewek itu sampai dia mengaduh.
Setelah makan, mereka berempat langsung kembali ke sekolah. Lily yang paling pertama berpamitan sedangkan Cherryl dan Sebastian menemani Devin sebentar sampai pak Indra muncul dari lorong sekolah menuju parkiran.
“Hati-hati Devin, Pak Indra!” ujar Cherryl seiring dengan motor milik pak Indra yang sudah melaju meninggalkan area sekolah.
Devin mencondongkan badannya ke depan saat sang bapak memanggilnya, “Iya Pak?”
“Bapak dengar kamu diajak untuk ikut lomba tari lagi, apa benar?” tanya beliau yang sengaja melajukan motornya tidak terlalu cepat agar mereka bisa berkomunikasi dengan lebih nyaman.
“Hehe, iya Pak.” jawab cowok itu.
“Kamu mau? Bapak sih nggak menyuruh atau melarang, terserah Devin saja. Kalau memang belum siap nggak apa-apa.” ujar beliau lagi.
Si cowok tersenyum tipis, dia menunduk sejenak untuk berpikir sebelim akhirnya menjawab, “Devin sudah setuju kok, Pak. Besok pulang sekolah bakal rutin latihan. Awalnya Devin mau ngomong sama Bapak di rumah ternyata Bapak sudah tau.”
Pak Indra melirik kaca spion yang sedikit menampakkan muka sang putera, “Kalau begitu bagus, Nak. Bapak bangga sama kamu.”
“Hehe makasih Pak.”
“Berarti mulai besok kamu ke sekolah naik motor sendiri lagi ya?”
Devin mengangguk pelan walau bapaknya itu nggak bisa melihat, “Iya Pak, jadi Bapak berangkat duluan aja kalau Devin belum siap-siap.”
“Oke…Oh iya besok kakakmu pulang, tadi dia telfon Bapak sudah pesen tiket pesawat. Kita nanti mampir beli buah-buahan dulu ya.” kata pak Indra yang membuat Devin terlihat bersemangat mendengar sang kakak akan pulang setelah berbulan-bulan bekerja jauh dari rumah.
“Siap Pak!”
Setelah sampai di rumah, Devin berlari kecil menuju ke dalam dan memberi salam lalu menyimpan tas dan dua kantung buah yang tadi ia beli bersama sang bapak. Cowok itu menghampiri bu Claudia yang sedang memotong-motong sayuran di dapur.
“Ibu, Devin yang beresin kamar kakak ya!” ujar cowok itu bahkan sebelum menyalami ibunya dan segera berlari menuju kamar sang kakak yang selama ini selalu tertutup rapat.
Bu Claudia menggeleng pelan menatap anak bujangnya itu, “Jangan lari-lari di dalam rumah, Devin!”
🍪Cookie Jar🍪
Cherryl melebarkan senyumannya saat pintu terbuka dan menampilkan mama Jeni yang sontak ikut tersenyum, “Wah Cherryl sudah datang, ke sini diantar siapa?” tanya beliau seraya menggiring cewek itu masuk ke dalam rumah.
“Diantar Karin, Tante. Sekalian pergi sama Kak Max. Ini juga dititipin makanan sama Bunda, hehe.” kata si cewek lalu mengankat totebag berisi makanan yang tadi disiapkan oleh bunda Sena.
“Nggak usah repot-repot begitu padahal, tante juga sudah masak banyak buat kamu. Cherryl mau tunggu di ruang tamu atau langsung ke kamar Lily juga boleh, dia masih mandi.” ujar beliau lalu menaruh totebag tadi ke atas meja.
“Erryl nyimpan ini aja dulu ya Tante.” ujar cewek itu lalu berjalan masuk ke dalam kamar Lily setelah mengetuk beberapa kali.
“Misi Ly,”
Setelah itu dia menyimpan ranselnya yang berisi baju dan beberapa buku pelajaran untuk dua hari ke depan sesuai rencananya untuk menginap di sana. Setelah itu dia kembali ke luar dan mendudukkan diri di sofa ruang tamu.
“Halo Fany!” sapa Cherryl saat melihat adik kecil Lily menyembulkan kepala dari pintu dapur.
Anak berusia empat tahun itu buru-buru berlari pada mamanya yang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam. Beberapa saat kemudian Lily keluar dari kamar mandi dan langsung menyambut sahabatnya yang sudah datang.
“Hooo wis dateng aja, Cher. Mari gini kita makan sek ya.” katanya lalu duduk di sebelah Cherryl.
“Iya. Eh, adek lo masih gamau aja sama gue, heran.” sahut si cewek cherry yang ditanggapi dengan tawa.
“Dia mah emang pemalu banget. Kadang sama papaku yang jarang balik aja dia ndak mau.” jawabnya.
“Eh ayo ke dapur sekalian bantu mama lo,” sela Cherryl, dia menarik lengan cewek itu agar berdiri dari duduknya.
Kedua cewek itu berjalan ke dapur dan mengajukan diri untuk membantu mama Jeni sedikit-sedikit, setelah itu mereka berempat duduk di kursi meja makan yang berbantuk persegi panjang.
“Fany nanti main sama Kakak ya? Kakak beliin es krim deh!” bujuk Cherryl yang malah membuat anak itu menarik-narik baju mamanya dengan muka tertekan.
“Ndak boleh gitu sama Kakak. Kan sudah sering ketemu toh.” kata beliau.
“Biar nanti aku sama Cherryl aja yang makan es krim, kamu ndak bakal tak kasih.” sahut Lily jahil.
Fany menekuk bibirnya lalu merajuk, “Mbak jahat…”
TBC.