Cookie Jar

Cookie Jar
#63 Peringatan



Cherryl mengangkat kepalanya menatap sosok Sebastian yang berdiri di kaca jendela kelas yang berada tepat di sebelah tempat ia duduk, bel istirahat baru saja berbunyi dan semua siswa di kelas beranjak meninggalkan ruangan. Sudah sekitar sepuluh hari mereka menghadapi ujian tengah semester dan seperti biasa cowok itu selalu menunggu Cherryl dan teman-teman lainnya di luar kelas agar bisa berjalan ke kantin bersama sedangkan Alfian yang bertugas ‘menjaga meja’ sudah pergi lebih dulu.


“Gimana tadi?” tanya Sebastian yang membuat Lily, Cherryl serta Devin menoleh.


“Haduh ndak tau wes, Mas. Padahal aku wes belajar tapi tetep ndak paham maunya gimana. Rumus kok dibolak-balik…” gerutu Lily lalu ketiga orang lainnya tertawa karena logat Jawa cewek itu terdengar lucu saat mengomel.


“Yah namanya juga matematika…” sahut Cherryl sembari merangkul sahabatnya itu.


“Devin gimana? Kayaknya santai-santai aja…” ujar Sebastian lalu si adik kelas langsung menyengir.


“Gue paham sih, Bang. Cuma gatau juga bener atau kaga, soalnya ya gitu lebih ke penerapan rumus bukan hafalannya.” jawabnya.


“Enak banget bisa matematika, ayo deh Vin tukeran otak sama gue.” celetuk Cherryl lalu beralih mencengkram kedua pundak si cowok dari belakang.


“Adu-duh!” pekik Devin lalu dia sontak menundukkan badannya.


Sebastian menghela napas lalu menghampiri si cewek dan menarik lengannya agar menjauh dari Devin, “Ihhh apasih, Seb?!” gerutu Cherryl kesal lalu menekuk mukanya.


“Kasian si Devin, lo tuh berat tau.” sergah cowok itu yang membuat mukanya si cewek tambah keruh.


Belum sempat perang di mulai, sosok Andre tiba-tiba datang dan menghadang mereka, “Kok lama, Mas?” tanya Lily yang langsung menggandeng lengan sang pacar.


“Gurunya lama banget pake ceramah dulu.” jawabnya.


Setelah itu mereka mengambil tempat duduk masing-masing dan Alfian serta Devin serentak pergi ke warung bakso langganan mereka untuk memesan untuk masing-masing orang. Biasanya sih tugas untuk memesan bergilir setiap harinya.


Sebastian menyodorkan gelas es kelapa yang ia pesan sebelumnya ke hadapan Cherryl yang sudah memasang wajah memelas saat si cowok menyedot esnya dari sedotan, “Eh gimana rencana kemah barengnya, kemaren Bang Farrel udah nanyain ke gue. Lo udah bilang ke Karin ya?” katanya sembari membuka percakapan.


Si cewek cherry nggak langsung menjawab karena sibuk menyendokkan beberapa helai kelapa ke mulutnya dengan sendok, tapi Lily mengangguk sebagai tanggapan.


“Hooh udah dari minggu kemarin kok, Mas. Orang Mas Anggara aja langsung nyari-nyari buper buat kita kemah nanti. Tapi emang belum nemu tanggal aja.” sahut si cewek lalu Sebastian hanya menggangguk-anggukkan kepalanya pelan.


“Weh lagi bahas apaan?” ujar Alfian yang baru kembali setelah memesan.


Devin mengangkat kedua alisnya ketika Cherryl menatap cowok itu dengan senyuman aneh, “Napa lo?” tanyanya.


“Gapapa,” jawab si cewek lalu berdeham pelan.


Kali ini cowok itu menatap Lily untuk meminta penjelasan, “Napa si?”


“Ndak itu tadi kita lagi ngomongin soal rencana kemah kemaren, nantii kalo kita udah ada tanggal pastinya kamu yang bagian ngasih kabar ke Chesa ya.” ujar cewek itu yang langsung diangguki oleh si cowok.


“Iya gitu doang, si Cherryl emang kaga jelas biarin aja.” sela Sebastian yang langsung mendapat tatapan tajam dari cewek di sebelahnya.


“Diem lo.”


Alfian tertawa pelan melihat kelakuan dua orang itu lalu dia merangkul Devin, “Tapi lo udah gak malu-malu kucing lagi nih…”


“Kalo jadian bisa lah traktir kita-kita.” timpal Sebastian yang membuat Devin salah tingkah sendiri sampai-sampai mengundang tawa yang lainnya. Seru banget sih menggoda cowok itu, sudah jadi makanan sehari-hari bagi mereka semua.


Devin sendiri sih masih menutup mulut perkara kedekatannya dengan Chesa akhir-akhir ini. Dia senang banget karena si cewek juga lebih sering mengiriminya pesan duluan bahkan cewek itu sempat sesekali mengajak Devin untuk telfon di malam hari, entah hanya untuk sekedar teman ngobrol atau sebagai tempat curhat. Itu jelas-jelas sudah bisa disebut sebagai sebuah kemajuan kan?


Tapi walaupun begitu, si cowok yang pada dasarnya bukan orang yang terlalu percaya diri dan cenderung susah bersosial jadi ragu sendiri untuk melangkahkan kakinya lebih jauh untuk menjalin hubungan dengan si cewek. Chelsea memang terkadang sudah menunjukkan kepedulian dan dengan jelas menyatakan kalau dirinya juga belum punya pasangan, tapi tetap saja Devin belum benar-benar tahu apa yang ada di pikiran cewek itu soal dirinya.


Kalau dipikir-pikir si cowok juga sudah bisa lebih santai saat mendengar godaan teman-temannya yang berhubungan dengan Chesa karena Devin merasa sudah lebih mengenal dan nggak perlu malu-malu lagi seperti dulu. Toh itu hanya membuat yang lain lebih gemar untuk menggodanya.


Devin menggaruk kepalanya lalu berusaha untuk mengubah topik pembicaraan, “By the way Kak Hanan juga boleh ikut kan ya? Soalnya dia beberapa kali bilang smaa gue buat ngasih kabar soal kemahnya itu, mau tanya sama Kakak-kakak yang lain masih kurang akrab gitu katanya.”


Cherryl mengangguk cepat, “Ya jelas boleh lah, Bang Gilang juga pasti ngabarin Kak Hanan kalo emang udah nemu tanggal. Toh masih bulan depan, kita ujian sama masa remidial aja belum lewat hahaha…” katanya.


“Gila pusing gue dengerin urusan cinta segi-segi kayak gini, sekalian aja cinta jajargenjang.” sahut Alfian yang membuat Devin kembali memasang wajah bingungnya sedangkan Cherryl, Lily dan Sebastian lanngsung melebarkan matanya sambil menggelengkan kepala mereka.


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Sebastian mendudukkan dirinya di karpet kamar Cherryl, menemani si cewek belajar Bahasa Inggris untuk ujiannya besok. Cowok itu sih yang tadi menawarkan diri untuk membantu, ya sekalian menghabiskan waktu lebih banyak dengan pujaan hatinya itu.


“Berarti syarat pemakaian has itu sama kayak does?” tanya Cherryl sembari menekan-nekan bibir bawahnya menggunakan ujung pensil yang ia pegang.


Si cowok ikut mengerutkan dahinya karena berpikir, “Hah gimana?” tanyanya lalu menyimpan ponsel yang sebelumnya ia gunakan untuk bermain game ke atas karpet.


“Ya ini loh maksudnya kalo has itu buat he she it, kayak does kan?” timpal si cewek cherry lalu menggeser duduknya mendekati si cowok dan menunjukkan bukunya.


“Ohh, iya.” jawab Sebastian lalu keadaan hening untuk sejenak karena Cherryl fokus melihat buku sedangkan si cowok bergeming, memakukan pandangannya pada cewek itu. Mereka sama-sama menyandarkan diri ke sisi kasur tapi bersebelahan.


Dengan Cherryl menggeser duduknya tapi semakin mempersempit jarak antara mereka jadi Sebastian bisa melihat jelas tekstur kulit si cewek karena wajah mereka dekat, cowok itu agak menunduk dan terus menikmati pemandangan di depannya.


“Kalo in-” belum selesai Cherryl mengajukan pertanyaannya, tubuh cewek itu menegang karena baru sadar kalau si cowok menatapnya dalam diam sejak tadi.


“K-kenapa sih, ngeliatinnya gitu banget…” tanyanya dengan gugup tapi Sebastian hanya menggeleng tanpa bersuara yang membuat jantungnya semakin berdetak kencang.


“Lo cantik ya, Ryl…”


Aduh, bisa gila Cherryl kalau diserang begini terus. Cowok itu sih memang bilang berjanji kalau mau menunggu dan nggak memaksa. Tapi dia jadi sering menggombal dan melakukan hal-hal yang membuat jantung cewek itu mau copot dari tempatnya, tak lupa juga kalau mukanya pasti sudah memerah karena terasa panas.


“Erryl kan emang cantik dari dulu!” jawabnya dengan lantang karena nyalinya sudah menciut, si cewek nggak mau termakan omongan cowok itu dengan mudah.


Nggak seperti biasanya yang langsung menimpali dengan tawa atau sanggahan, Sebastian malah langsung mengangkat tangannya dan mengacak pelan puncak kepala Cherryl sambil tersenyum manis.


“Gue bakal nunggu kok, lo nggak usah khawatir. Ambil aja waktu selama mungkin, tapi gue ingetin aja kalo sekali lo setuju buat sama gue. Gak bakalan gue lepas lagi, Cherryl Imannuela Gunawan.”


.


.


.


.


.


TBC.