
Sama sekali nggak ada yang sadar seberapa cepat waktu berlalu dan sekarang sudah sampai di tanggal dua puluh bulan Oktober, Devin sudah melewati hari-hari latihan yang cukup melelahkan dan hari ini adalah hari di mana dia harus menunjukan kesungguhannya selama waktu latihan kemarin, pagi-pagi sekali si cowok sudah bangun dan bersiap untuk sarapan bersama keluarga sebelum nantinya berangkat ke sekolah bersama Elhanan dan pak Indra menggunakan mobil.
“Barang-barangmu sudah dibawa semua kan?” tanya bu Claudia lalu Devin mengangguk pelan.
“Jangan lupa berdoa dalam perjalanan, Tuhan memberkati ya, Nak.” ujar beliau lalu mengusap pelan puncak kepala puteranya itu.
“Makasih, Bu. Kami berangkat dulu ya…”
“Bapak jalan dulu, Bu.”
“Dadah Ibu!” timpal Elhanan sebelum mobil benar-benar berangkat menjauhi pekarangan rumah keluarga Krisantus tepat pukul lima lebih tiga puluh menit.
Karena lomba akan dimulai pukul sepuluh, Devin nantinya akan berangkat menggunakan minibus yang disediakan pihak sekolah bersama sang kakak, juga miss Kayleen dan dua guru lainnya sebagai pendamping pada pukul tujuh dan menempuh perjalanan sekitar dua setengah jam.
“Kaga ada orang.” ujar Elhanan saat mereka sampai di area parkir sekolahan yang tentu saja masih sepi, itu baru pukul enam lewat sedikit.
Setelah memasukkan perlengkapan ke minibus dan mendapat sedikit evaluasi dari miss Kay, cowok itu memilih untuk menunggu di kelasnya sendirian. Dia juga mengambil waktu sebentar untuk saat teduh sebelum kembali membuka ponselnya.
Saat matahari semakin naik, langkah kaki orang berlarian di lorong terdengar ke sepenjuru kelas, membuat Devin menoleh lalu melebarkan matanya saat melihat sosok Cherryl dan Lily berlari masuk ke dalam kelas, menghampirinya dengan napas terengah-engah.
“Hhhh…H-hai Devin!” ujar Lily lalu kedua cewek itu mengambil kursi dan mendudukkan diri.
“Kalian dateng pagi banget?” sahut si cowok.
Cherryl menyengir, “Hehehe, kan mau nyemangatin lo. Kak Fian sama Sebby juga ada udah dateng tapi mereka lama banget jalannya, masih pada ngantuk.”
Devin tersenyum, “Makasih, kalian sampe repot-repot begini.”
Lily memangku ranselnya lalu mengeluarkan sebuah tote bag dari dalam situ dan memberikannya untuk si cowok yang langsung menerimanya, “Eh ini apa lagi?” tanyanya lalu mengintip ke dalamnya.
Dia melihat kotak kecil berisi kue kering cokelat yang kemarin sempat dia cicipi saat berkunjung ke rumah keluarga Sanjaya, sebatang cokelat, sekotak susu dan sebungkus permen mint yang masing-masing diberikan oleh teman-temannya.
“Yaampun ini banyak banget, buat gue semua?”
Kedua cewek itu mengangguk sebagai jawaban, “Kita cuma bisa ngasih ini, semoga lo menang ya! Kita bakal nunggu kabar dari lo.” ujar si cewek cherry.
“Iya, Vin. Kita cuma bisa bantu doa di sini yaa. Semangat kamu!” timpal Lily.
“Yo, Bro Devin!!” seru Alfian yang datang bersama Sebastian, menginterupsi percakapan diantara ketiga orang yang duduk di kelas itu.
Mereka menyalami si adik kelas dan segera memberikan semangat padanya, “Gue sih pengen bolos cuma lo perginya sama guru, mana bisa.” ujar Alfian setelahnya.
Devin tertawa, “Haha iya juga. Tapi sebenernya kalian nyemangatin gue pake kata-kata juga gue udah seneng, makasih ya semua.”
“Permennya dari gue loh, biar lo kalo di sana ketemu cewek cakep nafasnya gak bau.” timpal si cowok jangkung lalu mengacungkan ibu jarinya.
“Cewek terus otak lo, dia itu mau lomba anjir.” cibir Sebastian yang pastinya nggak dihiraukan oleh temannya itu.
“Oh iya katanya lo ditemenin kak Hanan?” tanya Lily yang membuat Devin menoleh padanya.
“Iya, kakak tadi ngobrol sama miss Kay kayaknya pada nunggu di ruang guru.”
Kalau menurut mitos, Elhanan pasti memiliki umur panjang karena cewek itu muncul pas sekali saat mereka sedang membicarakannya. Dia melambaikan tangannya dan menyapa yang lain sebelum memberitahu sang adik kalau mereka disuruh untuk cepat-cepat berkumpul di parkiran karena akan segera berangkat.
“Huwaaa gue yang deg-degan!” kata Cherryl lalu sembari menarik napas dalam.
Devin segera menurut dan mengajak teman-temannya untuk ikut ke parkiran, dia juga sempat berpamitan pada mereka sebelum naik ke atas minibus.
Mereka melambaikan tangan dengan semangat mengiringi kepergian si cowok, “Kabarin kalo lombanya udah kelar ya, Devin! Tuhan memberkati!!”
Elhanan yang melihat itu langsung merangkul sang adik dan mengecup kepalanya, “Devin punya teman-teman yang baik, ya. Kakak senang banget…” katanya lembut, sedangkan si cowok hanya bergeming karena dia malu, kupingnya juga memerah seperti biasa.
Miss Kay duduk tepat di belakang keduanya, sedangkan dua guru cowok duduk di depan di sebelah pak supir karena kursinya muat sampai tiga orang. Awalnya pak Indra mengusulkan untuk memakai mobil pribadi tapi pak kepala sekolah bilang sudah menjadi kewajiban mereka untuk menyediakan fasilitas, jadi yasudah.
“Miss tau kok Devin punya potensi yang bagus, walau kamu kalo ngomong suka kaku tapi sekali mulai dance kamu nggak gugup sama sekali.” ujar miss Kay sembari menaruh kedua tangan beliau berpegangan pada sandaran kursi.
“Hehe, iya Miss. Thank you.”
🍪Cookie Jar🍪
Sudah sepuluh menit berlalu sejak Devin menganti pakaiannya di ruang yang sudah disediakan, saat ini si cowok berpisah dari yang lainnya karena harus duduk di kursi depan sesuai nomor antrian yang tadi diberikan panitia. Cowok itu gugup setengah mati sampai berkeringat walau di ruangan itu sudah dipasang banyak kipas besar untuk para peserta, dia memijat-mijat pelan tangan supaya meredahkan rasa mual di perutnya.
Mata cowok itu meliar ke sekeliling, melihat berbagai macam ekspresi yang ditunjukkan oleh peserta-peserta lainnya; ada yang gugup sampai hampir menangis, terlihat percaya diri, gelisah sembari menggigiti kuku ataupun menggoyangkan kaki. Melihat itu semua membuat hatinya agak tenang karena merasa banyak juga yang gugup dan tertekan, jadi dia nggak perlu takut.
“Permisi. Lo nomor berapa ya?” tanya seorang cowok yang sepertinya daritadi mengelilingi bangku untuk mencari nomor kursinya.
Devin menunjukkan nametagnya, “Nomor dua tujuh, lo nomor berapa?” tanyanya balik.
“Aduh berarti di row depan ya? Gue telat dateng tapi guru gue duluan dateng jadi dikasih nomor antrian awal, dapet nomer enam belas.” ujar cowok itu lalu dia berterimakasih pada Devin dan segera melanjutkan langkahnya.
“Kursinya juga banyak yang masih kosong.” gumam adik Elhanan itu lalu dia membuka ponsel karena ada beberapa pesan masuk dari Alfian yang menanyakan keadaannya.
Si cowok mengangkat ponselnya dengan ragu-ragu untuk memotret beberapa foto untuk dikirimkan pada Alfian yang menyuruhnya karena anak-anak lain penasaran bagaimana suasana area lombanya.
Sudah sekitar sepuluh menit tapi nggak juga ada jawaban dari si kakak kelas makannya cowok itu langsung menaruh kembali ponselnya ke dalam saku. Acara juga belum ada tanda-tanda dimulai karena para panitia belum mengumumkan apa-apa, bahkan baru ada satu juri yang duduk di barisan depan.
Tepat pukul sepuluh, dua orang pembawa acara naik ke atas panggug dan memberutahukan agar acara segera dimulai dengan kata sambutan dari ketua penyelenggara lomba serta beberapa orang penting lainnya sebelum dilanjutkan dengan doa bersama secara pribadi.
“Kalau begitu tanpa berlama-lama lagi, karena kita punya lumayan banyak peserta ya hari ini, kita akan segera mulai perlombaanya. Siap ya semua?”
“Siapppp…”
“Aduh mana suaranya ini, kalian siap???!”
Semua peserta, juga para pendamping yang mendapat seat di bagian belakang ikut berseru, “SIAPPPP!!”
Untuk terakhir kalinya Devin mengambil waktu untuk berdiam sebentar dan menyiapkan mentalnya, yah walaupun dia bukan berada di urutan awal. Dia jadi agak penasaran siapa yang mendapat urutan pertama karena jarak duduknya agak jauh di depan jadi dia nggak bisa melihat tanpa berdiri.
“Dipersilahkan kontestan pertama, Chelsea Alexandra!” seru salah satu MC lalu penonton langsung bertepuk tangan dengan riuh saat seorang cewek naik ke atas panggung.
Devin yang mendengar itu menautkan alis karena telinganya merasa sangat familier dengan nama itu, “Chelsea Alexa―HAH?!”
TBC.