Cookie Jar

Cookie Jar
#56 Ungkapan Hati



“Shalom!” seru si cewek sembari membuka pintu rumah tapi nggak ada yang nyahut, dia juga nggak melihat mobil ayah Sam di luar, sepertinya kedua orang tuanya memang sedang nggak ada di rumah.


Cherryl melangkahkan kakinya masuk ke dalam sambil melompat-melompat kecil sedang kedua tangannya memegang dua tas belanja berisi bolu kukus dan kue kering yang diberikan bunda Laura sebagai oleh-oleh untuk keluarganya. Cewek itu menyimpannya ke atas meja lalu menatap sang Abang yang seperti biasa duduk di karpet bawah sembari menonton televisi ditemani oleh Holy.


“Tian langsung balik? Bawa apaan?” sahut Anggara lalu mendudukkan dirinya dan langsung menyambar salah satu tas belanja yang dibawa si adik, Holy yang penasaran ikut mengendus-endus sembari menaikkan kedua kaki depannya ke atas paha cowok itu.


“Hooh. Ini? Biasalah, kue dari bunda Laura.” jawab Cherryl.


"Ini apaan, Bang?" tanya cewek itu lalu menghempaskan tas sekolah serta tubuhnya ke atas sofa sembari menunjuk paper bag di atas meja.


“Jaket punya Farrel, tadi Elhanan balikin ke gue.” ujar si cowok sembari bangkit berdiri lalu beranjak ke dapur untuk mengambil piring ceper dan pisau karena dia mau makan bolu.


“Oh, kak Hanan kakaknya Devin ‘kan?” tanya si cewek lagi.


Anggara nggak menyahut sampai kembali dari dapur, dia juga agak kewalahan karena Holy terus berputar-puter di sekitar kakinya, “Hooh tau tuh si Gilang bilang mau ngegebet dia tapi malah ngajak-ngajak gue.” ujar cowok itu lalu memindahkan kue bolu dari mika ke piring sebelum memotongnya.


Mata si cewek melebar, “Hah, kak Gilang suka ama kak Hanan?”


“Iya, padahal dia bilang udah pernah ngajak Hanan jalan berdua, mau kok. Tapi tadi malah ngajak gue, katanya gak enak kalo baru kenal langsung berduaan.” jawab si cowok lalu melahap satu potong bolu dalam sekali suap.


‘Buset cinta segi tiga apa gimana ini?’ batin si bungsu lalu ikut menyomot satu potong bolu.


“Ya bener juga sih kata Bang Gilang…Itu si Holy udah dikasih makan belom, Bang?” timpalnya yang membuat sang abang mengangguk sebagai jawaban.


Cherryl mempoutkan bibirnya sembari menyipitkan mata, sebenarnya pengen bilang kalau Devin sempat keceplosan soal Elhanan yang naksir berat sama abangnya itu, tapi rasanya nggak pantas. Dia menatap Anggara dalam diam seolah sedang menganalisa sampai si cowok menautkan alisnya, “Napa lo?”


“Gapapa. Heran aja apa yang orang liat dari Abang sampe bisa naksir.” katanya dengan memperkecil suaranya di akhir kalimat.


“Hah?”


Si cewek mengambil tasnya lalu berdiri, “Udah ah gue mau mandi dulu. Makanannya jangan diabisin nanti ayah bunda sama Karin nggak kebagian.” katanya lalu beranjak begitu saja, si abang hanya menggedikkan bahu nggak perduli.


Setelah beristirahat sejenak dan mandi, Cherryl kembali pada aktivitasnya yaitu mempelajari rundown acara serta aktif memberikan dukungan di grup untuk para kandidat yang hampir setiap hari meminta bantuan dalam pembuatan visi dan misi mereka, ada juga yang masih bingung menentukan bakat apa yang akan mereka tampilkan untuk penilaian nanti.


Beberapa waktu kemudian cewek itu memijat pelan lehernya lalu memutuskan untuk turun ke bawah dan melihat ke dalam kulkas, siapa tahu ada yang bisa dia makan. Di freezer ada beberapa cup es krim tapi dia sedang nggak berselera, akhirnya ia membuka lemari pantry dan menemukan beberapa bungkus besar Herr’s dan empat kotak sereal lain, oleh-oleh yang dibawa Farrel dari Amerika. Sebastian pernah bilang kalau cowok itu nggak suka yang rasa Jalapeno Pepper karena terlalu pedas.


“Coba kali ya.” gumam Cherryl lalu mengambil satu bungkus Herr’s rasa Carolina Reaper, yang pasti lebih pedas karena itu adalah cabai yang dipatenkan Guiness Book of Record sebagai cabai terpedas di dunia.


Cherryl juga nggak terlalu percaya karena sejauh yang dia tahu, toleransi rasa pedas Sebastian payah banget, padahal ayah Tony masih kuat makan pedas walau beliau sama-sama lama tinggal di sana. Sebagai teman camilan, si cewek juga mengambil sekotak susu UHT rasa stroberi dan kembali masuk ke kamarnya, dia juga melihat Anggara dan Holy sudah nggak ada di ruang tengah.


Seiring dengan itu, Irina baru saja selesai menemani Alex melakukan pemotretan di salah satu studio majalah. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil untuk berangkat pulang. Si cowok menautkan tangannya pada cewek sang calon isteri selama perjalanan sembari membicarakan soal persiapan pernikahan mereka.


“Kayaknya minggu ini deh aku bakal ajakin semua kumpul buat ukur baju, si Puput juga udah sempet bantuin milih desain dress buat bridesmaidnya kemarin. Terus itu urusan surat-surat sama pastor Donny apa udah kelar?” tanya Irina sembari melepas ikat rambut agar rasa pening ke kepalanya berkurang.


Alex menganggukkan kepalanya tanpa menoleh, “Udah, Yang. Beliau juga ngingatin kita buat ikut pastoral pra nikah, kamu udah dikasih tau kan?” tanyanya balik.


“Iya, cuma dua hari.”


Irina melebarkan matanya lalu menggenggam lengan sang tunangan, “Oh! Kemarin aku sama Cherryl sempet ngobrol-ngobrol terus kita mikir ngajak Vallerine juga buat jadi bridesmaid. Kalo dianya bisa sih itu juga, menurut kamu gimana, Yang?” ujarnya dengan mata berbinar.


“Vallerine, pacarnya Angga yang bule itu?” tanya Alex lalu si cewek mengiyakan.


Alex tersenyum, “Boleh, kalo gitu kamu cepet-cepet hubungin dia dulu dong biar persiapannya matang.” jawabnya.


“Tapi jangan kasih tau Angga ya, biar seru nanti dia kaget liat ceweknya dateng.” timpalnya yang tentu saja langsung disetujui oleh Irina.


“Jelas. Anak-anak yang lain bakal aku kasih tau semua kecuali si Angga. Biar dia kayak orang bego sendirian, hahaha...” ujar cewek itu sebelum tertawa seperti pemeran antagonis di film-film Disney.


Si cowok melebarkan senyumnya melihat perubahan raut muka sang calon isteri yang awalnya terlihat kelelahan tapi langsung berubah berapi-api kalau membicarakan rencana untuk menjahili Anggara. Baginya walaupun Irina memiliki lidah tajam dan terkesan sinis, dia adalah wanita yang baik dan selalu blak-blakkan kalau bicara. Keduanya sudah menjalin hubungan sejak di sekolah menengah atas, walau awalnya sempat bermusuhan, berubah menjadi teman hingga saling suka dan menjalani hubungan sampai sejauh ini, Alex merasa beruntung karena bertemu dengan si sulung keluarga Gunawan itu.


Dia adalah anak tunggal, nggak memiliki saudara seperti yang lain. Jadi dengan adanya Irina, ayah bunda, adik-adik dan teman-temannya, cowok itu nggak merasa kesepian apalagi keluarga Gunawan selalu terbuka dan menerimanya dengan hangat seperti ia sudah menjadi salah satu bagian dari mereka.


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Entah sudah berapa lama Devin mendudukkan diri di kamar sang kakak yang sudah bengong sejak pulang ke rumah tadi sore, cewek itu hanya bergerak untuk mandi dan makan tapi nggak bicara sepatah kata pun. Awalnya cowok itu datang ke kamar Elhanan untuk bertanya apa yang terjadi tapi nggak ditanggapi sama sekali, jadinya ia hanya ikut duduk diam sembari menggenggam ponselnya.


“Kakak malu banget!”


Pekik Elhanan tiba-tiba yang membuat Devin menutup telinganya, si cewek menarik sebuah bantal lalu menenggelamkan kepalanya, “Eughhh!!” pekiknya lagi, tapi kali ini suaranya diredam oleh bantal yang ia gigit dengan sekuat tenaga.


“Kak, kenapa sih?” tanya Devin lagi lalu pindah duduk dari karpet ke sisi ranjang sembari mengelus-elus punggung kakaknya itu.


Elhanan bergeming seperti tadi, enggan menjawab pertanyaan si bungsu yang sudah bingung banget karena melihatnya. Bu Claudia dan pak Indra pun nggak bisa berkata apa-apa lagi, mereka tahu betul sifat puteri sulung mereka yang nggak akan menjawab kalau suasana hatinya sedang kacau.


“E-eh, Kak?!” ujar Devin saat melihat tubuh Elhanan bergetar diiringi suara isak tangis yang tertahan, cewek itu menangis sekencang-kencangnya sambil terus menggigit bantal. Setelah berpisah dengan Angga dan Gilang tadi rasanya mau menenggelamkan diri ke sungai dekat rumah saja.


Setelah itu si cewek mendudukkan dirinya dengan muka sembab, dia langsung menarik sang adik untuk dipeluk dengan erat, “Huwaaaa Devin…Mau ditaruh mana muka kakak?! Huuuu~” rengeknya, nggak perduli kalau kaos yang dipakai cowok itu sudah basah oleh air matanya yang meluber seperti air terjun.


“Iya, iyaa. Nangis dulu Kak nanti baru cerita, ya?” ujar Devin dengan lembut, cowok itu menghela napas lega setelah kakaknya itu mengangguk dan mengambil waktu untuk menyelesaikan tangisannya.


Setelah beberapa saat akhirnya keadaan mereda, Elhanan mulai bercerita pada si adik soal apa yang terjadi hari ini. Jujur saja karena Devin tahu seberapa senang si sulung karena jaket itu jadi agak sedih, untung saja Anggara mau menerima jaket itu dan memberikannya nanti pada Farrel.


“K-kak, soal bang Angga. Aduh gimana ya, Devin gak mau Kakak nangis kayak tadi lagi…” ujar Devin dengan ragu-ragu, tapi si cewek menatapnya dengan yakin.


“Kenapa, Anggara kenapa?”


Cowok itu menggaruk kepalanya, “Anu, aku sempet denger dari Cherryl kalo abangnya udah punya pacar.”


.


.


.


.


.


TBC.