Cookie Jar

Cookie Jar
#13 Jurit Malam



Cherryl mengaduh pelan saat dirinya tak sengaja tertubruk oleh siswi lain saat hendak naik keatas bus membawa barang bawaannya yang cukup berat, sedangkan Lily sudah terlebih dahulu masuk untuk mengambil tempat dan menyisakannya untuk cewek itu juga.


"Ih ga sabaran banget sih!" kesalnya.


Berhubung sekolah Cherryl merupakan sekolah swasta yang jumlah siswanya tak terlalu banyak, hanya ada dua kelas per jurusan dan per kelas hanya dipatok kurang lebih 20 siswa saja. Jadi setiap kegiatan tahunan yang dilakukan melibatkan seluruh siswa yang ada, tidak sendiri-sendiri.


"Cher!" panggil Lily lalu melambaikan tangannya pada si cewek yang baru naik keatas bus.


Lily mengambil tempat paling belakang dan duduk di samping jendela. Sedangkan Cherryl langsung bergegas menghampiri cewek itu dan menyimpan barang-barangnya ke rak atas.


"Hahhh...Akhirnya bisa duduk." ujar Cherryl merasa lega, cewek itu membenarkan duduknya, mengikat rambut lalu mengambil earphone juga ponselnya dari dalam sling bag yang ia bawa.


"Gue mau tidur, ngantuk. Jangan ganggu ya." kata Cherryl yang dihadiahi anggukan cepat oleh Lily.


"Siap Kapten."


Cherryl tersenyum lalu mengenakan earphone di telinganya dan menyalakan musik. Sengaja ia memutar lagu-lagu OST drama Korea yang meneduhkan hati agar tidurnya lebih nyaman. Si cewek menutup matanya dan mulai terlelap.


Sedangkan di sisi lain Sebastian sibuk bergurau dengan teman-temannya sembari nyemil jajanan yang ada. Tak ada kata tenang kalau di bus khusus kelasnya cowok itu. Ramai sekali hingga tidak ada yang bisa tidur walau sudah mengantuk.


"Eh, Bas. Lo sama Cherryl sebenernya pacaran apa gimana?" celetuk Jeremy dan itu membuat keadaan tiba-tiba hening.


"Hah?" tanya Sebastian masih belum nyambung.


"Lo tuh, sama si Cherryl, pacaran apa enggak?" ujar Alfian membantu mengulang kalimat Jeremy.


"Cherryl? Si bocil? Enggak anjir dia temen gue dari orok." jawab Sebastian yang baru selesai mencerna kata-kata temannya itu.


"Yakin? Masa gaada rasa sih? si Cherryl kan cantik tuh, duta sekolah juga pasti berprestasi kan." sahut Vino yang duduk di kursi depan.


Sebastian terdiam, tampak berpikir hingga akhirnya menggeleng, "Nggak lah, gila aja. Emang napa sih?"


"Ya gue aneh aja gitu liat kalian. Kemana-mana bareng, keliatan udah deket banget. Ke ortunya aja manggil Ayah Bunda. Udah gas aja Bas, tinggal pemberkatan hahahah." ujar Jeremy lagi.


"Jangan-jangan kalian dijodohin ya?!" sahut Chintya yang mendapat geplakan pelan dari Tasya.


"Sibuk banget sama hidup orang lo semua." katanya sewot.


"Ga waras lo pada. Dipikir ini masih jaman Siti Nurbaya?" jawab Sebastian tak habis pikir dengan pemikiran temannya itu.


"Sewot aja Tasya." goda Alfian.


Tasya memicing menatap cowok itu, "Biarin."


"Tapi setau gue ya, Bas. Gue pernah baca tuh, katanya dalam hubungan pertemanan cewek cowok, apalagi udah deket banget kayak kalian tuh. Gak mungkin kalo gaada rasa, seenggaknya salah satu ada rasa ke yang lain. Jadi, kalo lo gak ada rasa sama si Cherryl. Bisa aja dianya yang suka sama lo." ujar Chintya panjang lebar yang membuat Tasya semakin panas.


Sebastian hanya diam dan tertawa kecil sebagai tanggapan, "Chintya, kurang-kurangin baca begituan. Tambah bego lo."


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Hari semakin malam dan semua siswa diminta untuk berkumpul di tengah lapangan karena jurit malam akan segera dilaksanakan. Awalnya mereka banyak yang protes karena merasa masih capek, padahal mereka sudah diberikan waktu berbenah dan Istirahat sejak beberapa jam yang lalu. Mereka berhambur duduk di alas tikar yang sudah disediakan dan ada juga yang memilih untuk tetap berdiri.


Cherryl yang sudah mengenakan jaket tebalnya tetap menempel pada Lily karena kedinginan. Untung saja temannya itu tidak terlalu sensitif dengan hawa dingin.


"Udah minum obat belum?"


Cherryl, Lily dan beberapa cewek yang duduk di sekitar mereka pun ikut menoleh saat mendengar suara cowok dari arah belakang. Ternyata itu Sebastian yang sudah duduk di sana.


"Ngapain di sini, Mas?" tanya Lily, tak bermaksud untuk mengusir sebenarnya, ia hanya kaget karena kedatangan cowok itu yang tiba-tiba.


Sebastian tak menjawab, ia hanya tersenyum singkat dan mendekati Cherryl.


"Dingin banget, ya? Tukeran jaket aja nih punya gue lebih anget." kata Sebastian.


Sebastian menghela nafas, "Yaudah. Tapi obatnya udah diminum?"


Kali ini ci cewek mengangguk pelan, "Udah tadi."


"Good. Yaudah gue balik sana ya. Cuma mau ngecek aja. Lily gue titip Cherryl ya, makasih." kata Sebastian lalu beranjak pergi setelah Lily mengiyakan perkataannya.


'Ihhh enak banget ada yang perhatian gitu.'


'Pacaran tuh mereka.'


'Serius? Katanya cuma sahabat doang.'


'Gak mungkin.'


Lily lalu berdeham dengan keras, "Kalo kata Ibukku sih, julid malem-malem itu bisa manggil demit." sindirnya. [Demit = Setan]


Mendengar itu semua suara-suara 'julid' tadi sirna dalam sekejap. Membuat Lily dan Cherryl tertawa kecil bersama.


"Bisa aja lo, Ly."


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Lima belas menit sudah berlalu dan pembagian kelompok sudah selesai dilakukan. Dan entah berkat dari mana, Sebastian merasa bersyukur saat tahu jika Cherryl masuk ke dalam kelompoknya. Cowok itu sempat khawatir jika si cewek tidak berada dalam satu kelompok dengannya ataupun Lily yang bisa menjaganya. Sebastian sudah lega sekarang karena ia bisa menjaga si cewek.


"Yah ketemu lo lagi." kata Cherryl saat melihat Sebastian menghampirinya.


"Gausah sok gasuka. Bilang aja seneng ada bodyguard yang jagain." sahut si cowok yang dihadiahi tawa oleh Cherryl.


"Ngelawak malem-malem. Gabaik, tau!" katanya.


Sebastian tak menjawab, ia langsung mendaratkan telapak tangannya pada puncak kepala si cewek dan mengusapnya, "Tenang aja, lo aman sama gue."


Cherryl ikut terdiam memandang Sebastian hingga akhirnya suara nyaring dari pembina terdengar yang mengatakan jika jurit malam sudah dimulai. Mereka segera bersiap dan saling mengatur posisi di mana cewek-cewek ditempatkan di tengah sedangkan yang cowok dibagi menjadi penjaga depan dan belakang.


Lagi-lagi mereka mengeluh karena dari sepuluh anak yang dibolehkan memegang senter hanya dua orang saja. Sudah begitu jalur yang dilewati sangat gelap dan menyeramkan. Buktinya Cherryl sudah merasa tak nyaman bahkan sebelum mereka keluar dari area perkemahan.


"Seb, kok merinding ya." ujarnya pada si cowok yang sedari tadi berdiri di belakangnya.


"Udah jangan liat kemana-mana nanti tambah takut." jawab Sebastian berusaha menenangkan padahal dirinya sendiri juga ketakutan.


Serius deh, selama di New York Sebastian belum pernah melakukan hal menyeramkan seperti ini. Cukup melihat video dari YouTube saja cowok itu sudah ketakutan.


Akhirnya mereka tiba di pos pertama, mereka berkumpul untuk mengerjakan soal yang disediakan di sana. Tak semuanya sih, hanya beberapa anak saja yang mau mengerjakan dan kebagian tempat.


"Eh, Dek. Jangan minggir-minggir ke kebun itu, yang jaga sudah ngelihatin dari tadi." ujar seorang bapak yang ditugaskan menjaga pos.


Mendengar itu, kaki Sebastian mulai gemetar. Sudah posisi dia berdiri paling ujung dan paling dekat dengan kebun singkong yang ada di sampingnya itu, "Ah Bapak jangan bercanda!"


.


.


.


.


.


TBC


Jangan lupa vote dan comment!!