Cookie Jar

Cookie Jar
#40 Tukang Gombal



Anggara menyandarkan kepalanya ke pundak sang adik bungsu yang duduk di sampingnya, mereka berdua melambaikan tangan pada sosok Valerine yang ditampilkan oleh layar ponsel si cowok. Ketiganya sudah melakukan panggilan video sejak lebih dari dua jam yang lalu, bahkan Valerine sudah mengenalkan Anggara dan Cherryl pada ayahnya yang terbaring di ranjang karena beliau masih dalam masa pemulihan.


‘Thanks for your time, guys. Love ya!’ ujar Valerine lalu menutup panggilannya.


Anggara tersenyum lebar, “Gue kangen banget sama dia.” katanya, menoleh pada Cherryl yang hanya memutar mata malas sebagai tanggapan.


“Kalo kangen samperin dong!” ujar cewek itu kemudian sembari berjalan menjauh dari sofa menunju dapur untuk mengambil satu cup ice cream dari dalam kulkas.


Sang abang berdecak, “Lo pikir Amerika cuma lima langkah dari rumah, apa? Enak banget itu mulut kalo ngomong.” katanya sinis.


Cherryl tertawa pelan dengan sebuah sendok yang bersemayam di mulutnya. Tanpa berpamitan, cewek itu melenggang melewati Anggara menuju tangga dan masuk ke kamar. Abangnya juga nggak terlalu perduli sih karena dia juga sibuk sendiri pada grup chat kampus yang sedari tadi nggak dia buka.


Jam sudah hampir menyentuh pukul delapan malam, Cherryl berencana menghabiskan waktunya untuk membaca novel sambil makan es krim. Dia sama sekali nggak ingat kalau sudah membeli buku fiksi untuk di baca beberapa bulan lalu, bahkan ada dua atau tiga buku yang sudah berpindah tangan ke Irina dan Lily untuk dipinjam sementara.


“Umm…Eh apa nih?” gumam Cherryl sembari membolak-balik novel yang berserak di atas karpet sampai sebuah buku bersampul cokelat menarik atensi cewek itu.


Dia membaca sinopsis buku itu lalu menggaruk kepala, “…di Salma? Samala…Sa-la-man-ca. Oh, Salamanca.”


Cewek itu mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi browser dan mengetikkan kata ‘Salamanca’ di kotak pencarian. Dia memasang wajah kagum karena baru mengatahui kalau itu adalah nama sebuah kota yang terletak di Spanyol.


“Menarik. Baca ini aja ah…” monolognya lalu perlahan membuka plastik yang membalut novel tersebut dan Cherryl lagi-lagi terkagum melihat pembatas buku yang terselip di antara cover dan halaman pertama memiliki bentuk persis seperti daun.


Suapan demi suapan es krim cokelat masuk ke dalam mulut cewek itu seiring berjalannya waktu, awalnya dia kurang nyaman membaca rentetan kalimat yang terpampang dalam buku itu karena memang Cherryl nggak suka membaca novel. Membaca Alkitab pun kadang si cewek cherry sudah menguap padahal baru sekitar lima menit. Apalagi kalau buku pelajaran, jangan ditanya deh. Tapi akhirnya dia mulai menikmati dan perlahan masuk ke dalam cerita, terkadang berhenti sejenak untuk mencari makna kata yang belum ia mengerti karena kosa kata novel baku agak berbeda dengan yang cewek itu tahu.


“Wih keren, kalo gue sama Sebby jalan ke Spanyol gimana ya…” gumamnya sembari menggoyang-goyangkan kaki, tersenyum gemas membayangkan sosok cowok yang sekarang jelas-jelas bukan berstatus sebagai ‘sahabat kecil’nya lagi. Hubungan mereka sudah terlalu rumit untuk dianggap seperti itu.


Cherryl mendadak ingat kejadian sore tadi bersama si cowok yang membuat cewek itu menutup mukanya dengan bantal karena salting sendiri. Kemudian dia mengambil ponsel untuk menelfon Sebastian. Nggak lama menunggu, panggilan pun terhubung.


‘Ryl?’


Si cewek tercekat saat mendengar suara cowok itu yang tenang, dia berniat untuk mengobrol tapi malah jadi begini.


‘Cherryl?’


Yang dipanggil menarik napas lalu buka suara, “Sebby…”


‘Iya apa? Kenapa si, kok diem begitu? Kan lo yang nelfon.’


“Hehe gapapaaa…Erryl Cuma mau denger suara Sebby aja. Sebby lagi apa?” tanya Cherryl lalu menutup novelnya dan menghempaskan diri ke atas ranjang dengan posisi terlentang.


Di sisi lain Sebastian yang duduk di balkon kamarnya tersenyum lebar sembari menyimpan gitar yang dia mainkan sebelum si cewek menelfon, “Lagi santai aja, nyari angin. Lo katanya capek, kenapa nggak tidur?”


‘Ooo, belum sih Erryl lagi coba-coba baca novel. Seru ternyata.’


“Novel? Tumben, novel tentang apa?” tanya si cowok lagi.


‘Ya gitudeh soal pemanah profesional yang punya trauma. Jadi dia berusaha nenangin diri tapi pergi ke Spanyol buat ketemu mamanya. Gue baru baca beberapa lembar sih.’ jelas si cewek.


Cowok itu mengangguk pelan walau si cewek nggak ada di sana, “Kayaknya bagus, nanti kalo udah selesai baca ceritain ke gue ya?” pintanya.


‘Nanti lo baca sendiri aja deh kan beda kalo diceritain doang mah.’


“Nggak lah, kan Cherryl yang bacain buat gue. Malah makin seru soalnya ngeliatin lo cerita itu gemesin banget.” balas Sebastian cepat, dia nggak tahu ya kalau mendengar itu jantung si cewek cherry tambah berdebar-debar.


‘Ih Sebbb, geli tau dengernya.’ sergah Cherryl dengan nada merengek, sedangkan si cowok hanya tertawa sebagai tanggapan.


“Geli atau seneng? Yeee…” godanya lagi, andai saja cewek itu ada di sampingnya saat ini pasti sudah ia peluk dengan erat karena gemas.


‘Geli tau. Udah ih jangan gombal terus. Gak baik tau malem-malem!’


“Hahah iya deh iya, maaf ya Tuan Puteri.”


Setelah itu keadaan hening sejenak sampai Sebastian memutuskan untuk menyalakan pengeras suara dan menyimpan ponselnya ke atas meja, tangannya kembali mengambil gitar yang ia simpan tadi, “Udah malem ini, lo tidur ya? Gue nyanyiin sampe tidur deh, gimana?”


‘…’


“Cherryl”


Bruk!


‘Ehm…Iya. Eh enggak. Maksudnya gapapa tadi gue buru-buru beresin barang biar enak tidurnya, hehe.’


“Hhhh…Ada-ada aja lo. Yaudah siap-siap dulu sana. Cuci tangan kaki, sikat gigi, pake selimut. Baru gue nyanyi. Cepet ya, Sayang!”


‘Iya bentar dong, bawel sekali Pangeran satu ini!’


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Lily berlari menghampiri Cherryl yang menunggunya di depan kelas, kedua cewek itu masuk ke dalam beriringan seperti biasanya. Mereka menyapa Devin yang sudah duduk manis di bangkunya sembari menonton video dari ponselnya.


“Pagi, Devin!”


Cowok itu menoleh dan mengangguk sembari tersenyum, “Hai, pagi juga kalian. Baru dateng?” tanyanya dan cewek-cewek itu mengangguk sebagai tanggapan.


“Oh iya tadi Pak Indra bilang Cherryl setelah istirahat kedua ke ruang siaran ya, kalo gak salah sih nanti empat jam pelajaran terakhir dikosongin soalnya mau dipake buat pengumuman lomba kemaren.” ujar Devin lalu Cherryl hanya manggut-manggut saja, soalnya kemarin Asya sempat mengiriminya pesan serupa.


“Oke, makasih Vin.”


Waktu berlalu dan saat ini semua murid sudah berkumpul di dalam aula untuk pengumuman pemenang lomba Tujuh Belas Agustus dan pemberian hadiah. Hanya Cherryl dan beberapa panitia saja yang bertugas maka dari itu Sebastian dan Thomas bisa ikut duduk bersama yang lain.


“Bang, walaupun kemaren gak diumumin secara langsung kita juga udah pada tau siapa yang menang nggak sih?” ujar Thomas pada si kakak kelas yang mengangguk setuju. Tentu saja mereka sudah tau jelas siapa yang akan menang, karena jujur saja kemarin dalam setiap lomba pasti hanya ada satu atau dua partisipan yang menonjol dan serius bermain, sisanya kacau sekali.


“Gapapalah kan jadinya pulang cepet kita hari ini.” sahut Alfian lalu mengacungkan ibu jarinya.


Benar juga. Tadi sudah diumumkan kalau setelah pengumuman selesai, mereka boleh langsung beres-beres dan pulang dengan catatan setiap petugas piket harus tetap melaksanakan tugasnya terlebih dahulu. Kemudian beberapa guru maju ke depan untuk memberikan hadiah pada perwakilan pemenang yang ditunjuk. Setelah dibubarkan ada yang langsung kembali ke kelas karena tidak sabar untuk pulang dan ada juga yang masih diam di aula untuk menunggu pembagian hadiah yang kebanyakan berupa jajanan agar bisa dibagi-bagi, terutama lomba berkelompok.


Sebastian mendapat banyak snack baik dari kelompoknya yang menang ataupun beberapa cewek yang memberinya dengan cuma-cuma sebagai hadiah kecil. Tapi tentu saja setelah itu dia bergegas menghampiri Cherryl dan memberikan semua yang dia terima pada cewek itu.


“Buset banyak banget, Seb.” ujar si cewek yang kesusahan membendung jajan dengan kedua lengannya.


Cowok itu mengusap kepala Cherryl cepat dan berbisik pada si cewek, “Abis ini kita jalan ya, lumayan masih siang ini. Dadah Cherryl, duluan ya Ly!” katanya lalu pergi begitu saja.


Cherryl diam membeku sedangkan Lily menatap interaksi keduanya dengan tatapan curiga, “Apani, kok sekarang pakek usap-usap kepala?”


.


.


.


.


.


TBC.