Cookie Jar

Cookie Jar
#59 Ketemu



Cherryl mengambil sebundel kertas berisi rundown acara, cewek itu baru saja membubarkan briefing singkat bersama para kandidat yang seharian ini sudah berlatih baik dalam gladi kotor mapun mengambil waktu latihan khusus setelah panitia meninggalkan aula. Si cewek mendudukkan diri di sebelah Thomas yang juga masih tinggal untuk membereskan kertas-kertas yang terserak di atas meja.


“Lusa acara abis gitu harus belajar buat ujian, yaampun…” keluh cewek bermata bundar itu lalu Thomas mengusap pundaknya pelan.


"Semangat! Gue juga capek. Tapi seengganya abis itu kita udah nggak usah mikir ikut rapat ini-itu lagi dan bisa fokus belajar.” ujarnya yang membuat Cherryl mengangguk pelan.


Cowok itu menarik si cewek untuk berdiri dan mereka berjalan beriringan keluar dari ruang OSIS ke kantin karena yang lain menunggu mereka di sana, “Yaudah yuk udah beres ini, kita balik sekarang.”


“Lama amat Bapak dan Ibu Duta ini.” celetuk Sebastian yang bermaksud untuk menggoda kedua orang itu walaupun akhirnya nggak ditanggapi dengan serius karena mereka sudah kehabisan tenaga.


Lily merentangkan tangannya untuk menerima tubuh Cherryl yang sudah lemas karena lelah, keduanya berpelukan sejenak sebelum kembali melepaskan diri, “Aduh marigini pulang istirahat deh kamu, Cher. Biar besok ndak gitu capek.” katanya saat sang sahabat malah bergelayut di lengannya.


“Iya nih, Ly. Kayaknya gue harus minum vitamin biar fit. Semalem juga sempet demam.” jawab si cewek cherry.


Sebastian menghampirinya lalu menempelkan punggung tangan ke kening cewek itu “Jangan dipaksain, Ryl. Kalo nanti malem bisa tidur awal ya tidur aja. Thomas juga. Kalian kan nanti kerja banyak pas acara jangan sampe sakit karena terlalu di forsir.” ujarnya lalu kedua orang itu mengangguk sebagai tanggapan.


Si cowok bergigi kelinci itu mendudukkan diri di sebelah Cherryl dan cewek itu langsung menyandarkan kepalanya di pundak si cowok, “Gue jadi kepikiran si Devin gimana ya di sana. Sejak terakhir video call tadi gak ada kabar sampe sekarang soalnya.”


Alfian menyahut, “Hooh gatau nih si Chesa juga centang satu. Kayaknya masih acara deh. Kalo Cherryl sama Babas balik duluan juga gapapa kita sih nungguin Devin balik, nanti dikabarin kok. Kasian udah lemes begitu.” katanya.


Cherryl menggeleng, “Gue juga mau nungguin Devin ih.” sergahnya lalu mendengus.


“Tapi dia masih lama kayaknya baru balik, mau nunggu di sini beneran?” tanya si cowok jangkung.


“Nunggu di rumahku tah? Kan deket bisa jalan kaki, nanti kalo Devin ada kabar baru ke sini lagi. Kamu bisa sambil istirahat dulu di kamarku toh, Cher.” sahut Lily yang langsung mendapat persetujuan dari yang lain.


Mereka menatap Thomas yang sedang menyedot teh kotakannya secara berbarengan, membuat cowok itu mengangakan mulutnya yang masih ditempeli sedotan, “Apaan kok liatin gue?” tanyanya.


“Lo ikut gak?” tanya Sebastian kemudian.


Thomas tampak berpikir sebentar sebelum mengangguk setuju, “Oh, ke rumah Lily? Boleh deh, gue juga di rumah suka bosen, belajar juga malem.”


“Oke skuyy!”


Setelah itu mereka berjalan beriringan menyusuri gang perumahan yang terletak di sebelah sekolah mereka yang bisa dibilang sepi banget karena nggak ada orang ataupun kendaraan yang lewat. Saat sampai di rumah Lily mereka disambut hangat oleh bu Claudia dan si kecil Fany. Beliau menyuguhi mereka wafer kalengan dan es jeruk, “Wah kalian ndak bilang mau main jadi Ibu cuma bisa sediakan ini. Dimakan yaa…”


“Hehe makasih Bu, kita yang dadakan begini juga nggak perlu repot-repot disuguhi apa-apa kok.” balas Alfian sembari tangannya menyomot tiga batang wafer dari dalam kaleng yang langsung disenggol oleh Sebastian yang nggak habisa pikir dengan kelakuan temannya itu.


“Walah Mas Fian omongan sama tangan nggak sinkron hahaha.” sahut Lily yang mengundang gelak tawa semua orang di ruangan itu.


Cherryl meminta izin untuk merehatkan tubuhnya sejenak di kamar sedangkan para cowok asik bermain kartu UNO yang kebetulan ada, Lily hanya ikut nimbrung sesekali sedangkan Bu Claudia ikut duduk sambil menonton televisi bersama si bungsu.


Nggak sampai setengah jam berlalu, akhirnya ada panggilan masuk dari Devin dan cowok itu mengabari kalau dia sudah dalam perjalanan pulang dan sebentar lagi sampai. Dia bilang nggak mau bercerita apa-apa dulu sebelum mereka bertemu jadi panggilan diakhiri dengan cepat.


Thomas menatap Alfian setelah panggilan berakhir, “Gue jadi penasaran si Devin menang kaga ya?” tanyanya sedangkan kakak kelasnya itu menggeleng pelan karena dia juga nggak tahu.


“Eh ini Bang Farrel nyuruh gue pulang soalnya mobil mau dipake, gue titip Cherryl dulu nanti balik lagi.” ujar Sebastian tiba-tiba lalu dia segera mengantongi ponselnya dan berpamitan pada Bu Claudia, cowok itu nggak mau mengganggu tidur Cherryl jadi dia nggak bilang apa-apa pada si cewek.


Si bungsu dari keluarga Sanjaya itu melajukan mobilnya cukup cepat sampai ke rumah, Farrel bilang mobilnya sedang masuk bengkel dan dia ada janji dengan teman kuliahnya untuk bertemu malam ini.


“Mending gue anter aja nanti gue jemput di rumah Lily daripada lo bawa motor, kasian Erryl kalo sore-sore kena angin begitu apalagi kata lo dia lagi gak enak badan ‘kan? Gue gak lama kok, temen gue juga cuma singgah sebentar doang sebelum cabut ke kota sebelah.” ujar Farrel, awalnya sih si adik menolak tapi karena cowok itu juga memikirkan keadaan si cewek cherry jadinya dia setuju.


Mereka sampai di sekolahan yang sepi banget karena hari menjelang sore, sebelumnya Sebastian dikabari oleh yang lain kalau Devin sudah hampir sampai di sekolah jadi teman-temannya termasuk Cherryl juga sudah jalan balik ke sana.


Alfian melambaikan tangan saat mobil yang dikemudikan oleh Farrel itu masuk ke area parkir sekolah yang ia jadikan tempat untuk menunggu, “Eh Bang Farrel, mau jalan nih Bang?” sapa cowok itu tatkala melihat si sulung keluarga Sanjaya ikut turun untuk menyapa sejenak.


“Yo Fian, iya nih gue ada janji nanti jam enam. Yang lain di dalem?” tanya cowok itu balik.


“Devin belom sampe, Fi?” tanya Sebastian.


“Belom nih paling bentaran lagi. Masuk dulu deh Bang, masih jam berapa ini. Nanti aja jalannya…” ujar Alfian lagi.


“Hmm…Iyadeh.” balas Farrel lalu ketiga cowok itu berjalan beriringan menuju kelas setelah ia memutuskan untuk singgah karena masih ada cukup banyak waktu, toh café tempatnya nongkrong nanti juga nggak jauh dari sana.


🍪Cookie Jar🍪


Elhanan melebarkan matanya saat dia melihat sosok Farrel yang berdiri di antara yang lainnya saat cewek itu baru saja sampai bersama guru-guru dan si adik, “Oh, halo semua.” sapanya.


Farrel yang sebenarnya sudah berpamitan untuk pergi hanya tersenyum ramah, “Halo, Hanan ‘kan namanya?” ujarnya.


“Iya, Kak.” jawab si cewek sedangkan anak-anak lain sudah ribut dan mengerubungi Devin yang bahkan baru sempat menyapa kakaknya Sebastian itu dengan dua patah kata.


“Gue ada janji, jalan duluan ya, Hanan.” ujar Farrel lalu dia kembali menerbitkan senyumnya yang meneduhkan.


Dengan tampang seperti itu sih Elhanan nggak heran kalau saat kumpul dulu Irina selalu bilang kalau selama kuliah Farrel adalah salah satu cowok idola di kampus mereka, setelah sadar dari pikirannya itu si cewek langsung mengangguk cepat.


“I-ya, Kak…” jawabnya.


“Eh Kak Farrel!” panggil Elhanan tanpa aba-aba yang membuat cowok itu menoleh.


“Iya?”


Cewek itu melangkahkan kakinya maju untuk mendekati Farrel, “Untuk jaketnya kemarin gue balikin ke Angga soalnya gue pikir itu punya dia. Gataunya punya Kakak. Makasih ya Kak, udah gue cuci kok hehe.”


Farrel butuh waktu sejenak untuk berpikir, “Oh itu, iya oke. Gak masalah, makasih ya udah sampe dicuci juga.”


Elhanan menggaruk kepalanya, dia bingung kenapa cowok itu malah berterimakasih padahal kan sudah seharusnya dia mencuci pakaian yang dia pinjam, tapi akhirnya dia cuma tersenyum, “Yaudah Kak kalau gitu silahkan katanya ada janji, hati-hati…”


Setelah kepergian si cowok, Elhanan hanya bisa diam dan meruntuki dirinya sendiri, kemarin Anggara sekarang Farrel. Jantungnya memang nggak waras, atau memang circle pertemanan adiknya itu memang diisi oleh cowok-cowok berparas paripurna yang merupakan kelemahannya selama ini.


‘Ayo kuat hatiku, dasar pecinta tampang cakep. Capek juga ketemu cogan terus akhir-akhir ini.’ batinnya.


TBC.


Hi! Maaf dua hari ke belakang aku nggak update karena jadwal padat banget. Semoga kalian suka, jangan lupa vote comment dan share. Terima kasih~