Cookie Jar

Cookie Jar
#49 Kacau



“Nanti kayak biasa chat abang ya, Dek~”


“Iyaa!”


Anggara dan Gilang melambaikan tangan mereka pada sosok Cherryl yang melangkah masuk ke area sekolah, sudah hampir dua minggu Anggara kembali rutin mengantar-jemput sang adik sejak pertemuan terakhir cewek itu sama Sebastian. Si putera tunggal keluarga Gunawan masih menahan diri untuk nggak memaksa adiknya bercerita walau dirinya nggak tega melihat Cherryl menjadi murung.


“Lo udah coba tanya sama si Tian, Ngga?” tanya Gilang saat kedua cowok itu kembali masuk ke dalam mobil untuk berangkat ke kampus.


Yang ditanyai belum menjawab karena masih fokus dengann pikirannya, tapi setelah Gilang menepuk lengan cowok itu baru ia merespons, “Oh? Belum. Gue gak mau ikut campur dulu sebelum tau cerita dari Cherryl.” ujarnya lalu menyalakan mobil.


“Kalo kata gu—”


Bruk!


Baru saja Gilang mau membuka suara, keduanya terkejut saat mobil bergoyang secara tiba-tiba karena ada mobil lain yang menabrak dari arah belakang. Nggak kencang sih cuma tetap saja membuat cowok-cowok itu sontak menoleh ke belakang.


“Kaget gue.” ujar Gilang dan ia langsung turun dari dalam mobil untuk melihat apa yang terjadi.


“Loh, lo Devin temen Cherryl ‘kan?” tanya Anggara saat melihat sosok Devin berjongkok di belakang mobilnya.


“Bang Angga?” seru Devin yang langsung berdiri dengan mata terkejut.


Pandangan cowok itu beralih pada sosok cewek yang turun dari sisi kemudi dengan muka panik, dia menghampiri Devin dan melihat kondisi bagian belakang mobil Anggara yang ternyata baik-baik saja.


“Aduh maafin saya, saya belum terlalu mahir buat parkir!”


Gilang berjalan ke belakang dan melihat bagian mobil Anggara yang tertabrak tadi, “Nggak apa-apa kok, nggak ada penyok sama sekali.” ujarnya pada Anggara yang masih bergeming.


“Kata Gilang nggak ada masalah, nggak apa-apa. Lo kakaknya Devin?” ujar cowok itu kemudian yang dihadiahi anggukan oleh Elhanan.


“Iya,”


“Dia kakaknya temenku, Kak.” bisik Devin pada Elhanan yang langsung menggaruk tengkuknya.


“Ah, saya jadi nggak enak…” ujar cewek itu.


Anggara menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, “Gak masalah.” katanya.


“Gue Gilang,” ujar Gilang tiba-tiba lalu menyodorkan tangannya pada Elhanan yang langsung membalas dengan cepat.


“Elhanan.” jawabnya.


Cowok itu menunjuk Anggara, “Dia Anggara. Lo gak usah takut begitu muka dia emang galak kok.”


“Ooo, iya. Makasih ya, Anggara, Gilang.” katanya lagi lalu Anggara kembali mengangguk, cowok itu mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menarik lengan Gilang.


“Kita sebentar lagi ada kelas, cabut dulu ya. Oh iya, Devin gue boleh minta tolong awasin Cherryl?” tanyanya pada Devin yang berdiri membatu sejak tadi karena jujur aja cowok itu merasa ekspresi yang dipasang oleh Anggara cukup menakutkan walau dia sudah beberapa kali bertemu.


“I-iya Bang. Makasih ya Bang, maaf sekali lagi.” ujarnya yang membuat Anggara tersenyum.


“Santai, gue yang makasih.” jawab cowok itu lalu kembali masuk ke dalam mobil sedangkan Gilang mengambil kesempatan untuk meminta nomor Elhanan sebelum berpamitan dan bergabung bersama sang sahabat.


“Ngapain lo?” tanya si cowok bermata sipit, yang ditanyai hanya menyengir lebar.


“Minta nomernya, hehe.” katanya yang mendapat gelengan pelan sebagai balasan.


“Ada-ada aja lo, Lang.”


Di sisi lain Elhanan menatap sang adik lalu keduanya bernapas lega, “Besok kalau emang Kakak mau nganter Devin pakai motor aja ya. Ngeri ah,”


Si cewek setuju, dia bahkan nggak bisa berpikir jernih dan memberikan nomornya begitu saja pada Gilang karena jantungnya berdebar kencang menatap wajah Anggara yang kelihatan galak. Tapi di sisi lain si cewek jadi penasaran tentang cowok itu, terlebih karena Devin bilang kalau Anggara adalah kakak dari temannya.


“Kak?”


Elhanan tersadar dari lamunannya lalu ia buru-buru menyuruh sang adik untuk segera masuk ke sekolah, “Devin sekolah yang benar, nanti pulangnya kakak jemput lagi naik motor. Jangan balik sama Bapak ya! Dadah~”


“Duh parah sih, Nan. Kan baru ketemu masa udah kepikiran!” monolog cewek itu sambil menyandarkan keningnya ke stir mobil. Jantungnya selalu aja buat masalah karena Elhanan adalah tipe orang yang gampang jatuh hati, apalagi modelannya seperti Anggara.


Nggak bisa dipungkiri Gilang juga lumayan manis tapi sosok Anggara entah kenapa terus lewat di kepalanya sejak kejadian tadi sampai tak terasa Elhanan sudah memarkirkan mobilnya di garasi rumah, dia melewati perjalanan tanpa sadar karena pikirannya kacau.


“Sadar, Nan!”


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Lily menopang pipinya dengan telapak tangan yang ia tumpukan ke meja, menatapi Cherryl yang duduk diam dengan pandangan kosong ke depan persis seperti mayat hidup. Dia pun menyadari kantung mata sudah terbentuk di mata cewek itu walau masih samar-samar. Sejauh ini dia nggak mendengar cerita apa-apa dari Cherryl, yang dia tahu mereka pasti sedang ada masalah karena tiba-tiba saja renggang.


“Apa?” tanya Lily tanpa suara saat Devin yang duduk di kursi depan melambaikan tangan padanya.


“Cherryl kenapa?” tanya cowok itu balik, tanpa suara juga.


Si cewek berponi menggedikan bahunya, dia juga nggak tahu. Setiap Cherryl ditanyai sesuatu cewek itu nggak menjawab, sedangkan kalau dia mengajaknya ke kantin selalu ditolak. Lily juga kebingungan setengah mati karena berhari-hari keadaan mendadak jadi kacau. Dia juga nggak pernah melihat batang hidung Sebastian yang biasanya mondar-mandir ke kelas mereka.


Seharian ini juga Lily sudah kenyang mendengar tarikan napas gusar yang sahabatnya itu lakukan, dia greget banget mau bertanya sama Cherryl ataupun Sebastian tapi kayaknya nggak bakal sopan karena kalau mereka sendiri belum ada inisiatif untuk bercerita pasti memang belum waktunya.


Cherryl juga sedari tadi nggak tau apa yang harus dia lakukan, dia nggak marah. Hanya saja rasanya kosong dan sesak di saat yang bersamaan. Dia juga baru sadar kalau selama ini dia nggak tahu apapun tentang sosok Sebastian selain apa yang dia lihat. Mengetahui kalau ada cewek lain yang menjalin hubungan dengan cowok itu sebelum dirinya, nggak begitu memberatkan pikiran sih. Tapi kalau membayangkan Sebastian sudah pernah menyentuh tubuh mereka, hatinya sakit.


Setelah ini pun Cherryl belum bisa memastikan apa dia akan kembali pada Sebastian atau sebaliknya, perasaannya kan nggak mungkin hilang begitu saja. Cowok itu juga sudah jujur padanya walau menyakitkan, setidaknya dia nggak akan merasa di bodohi kalau memang nantinya mereka benar-benar berpacaran.


“Apa gara-gara itu bunda Laura nggak bolehin Erryl sama Sebby pacaran, ya?” monolog si cewek yang sontak membuat Lily melebarkan matanya, senang sekaligus kaget karena dia akhirnya bisa membuka suara.


Keceriaan itu sirna seketika saat mengetahui kalau Cherryl hanya bermonolog, nggak bicara dengannya sama sekali. Bahkan pandangan cewek itu benar-benar berpaku pada punggung kursi dari teman yang duduk di depan mejanya.


“Haduh kenapa toh, Cher…” keluh Lily pelan sembari mengusap mukanya, jelas sekali kalau dia lagi berantem sama Sebastian. Padahal waktu itu mereka aman-aman saja.


‘Mending aku tanyak sama Mas Fian aja deh nanti.’ batinnya.


.


.


.


.


.


TBC.