Cookie Jar

Cookie Jar
#34 Jadian?



Cherryl bungkam total mendengar pertanyaan yang diajukan Sebastian. Dia menenggak ludah dan dengan susah payah menahan air mata, tapi tiba-tiba si cowok menghela napas lega dan menarik cewek bermata bulat itu masuk ke rengkuhannya.


“Makasih.” katanya pelan.


Si cewek penggemar makanan manis itu menautkan kedua alisnya bingung, “Maksud lo makasih apaan?” tanyanya, walau masih bergeming di pelukan cowok tersebut, air mata yang sedari tadi ia tahan pun tidak jadi keluar.


“Buat nunjukin ekspresi lo tadi, gue takut lo bakal keliatan baik-baik aja kalo gue tanya begitu.” lanjut Sebastian yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan cewek itu.


Setelah mereka melepaskan pelukannya satu sama lain, Sebastian mengulum bibirnya, “Gue nolak dia, Ryl.”


Mata bundar milik Cherryl melebar, “Loh, gue pikir kalian beneran jadian?”


“Gue gak ada rasa sama Tasya. Gak ada sama sekali, bagi gue dia cuma salah satu temen deket pertama gue sejak pertama pindah ke sekolah, sama kayak Alfian. Kayaknya gue terlalu nganggap enteng berteman sama cewek, untung aja dia mau nerima penjelasan walau pasti pertemanan antara gue sama dia berubah total setelah ini.” balas si cowok dengan cepat.


“Terus maksud lo tadi ngomong begitu ke gue-”


Sebastian tersenyum lalu menyela, “Gue mau liat respons lo,”


“Seb, lo tau gue orangnya agak lola. Bisa ngomong yang jelas aja nggak?” sahut si cewek dengan wajah polosnya yang membuat Sebastian gemas setengah mati ingin mengarungi cewek itu dan membawanya pulang saja, nggak perduli dengan ancaman dari Anggara yang bilang akan menguburnya jika si cowok berbuat macam-macam pada sang adik bungsu.


“Gue selama ini selalu bilang kalo gue sayang sama lo sebagai adik ‘kan? Tapi kayaknya gue salah. Gue cemburu kalo lo deket sama Dion, karena gue tau Dion suka sama lo.”


“Hah, Kak Dion suka sama gue?” sahut Cherryl terkejut.


“Tuhkan, gausah dipikirin deh soal Dion. Pokoknya gue cuma mau bilang kalo gue sayang sama lo, sebagai cowok.”


Mampus, Cherryl diam membatu mendengar pernyataan yang keluar dari mulut si cowok tanpa aba-aba itu. Jantungnya berdegup kencang banget, otaknya juga serasa beku, dia nggak bisa berpikir!


Melihat itu Sebastian mengusap pelan kepala si cewek, “Jangan dijadikan beban ya, Ryl? Gue ga ada maksud apa-apa. Gue cuma pengen lo tau kalo gue gak keberatan lo deket sama gue terus, gue ga perduli orang mau ngomong apa soal kita. Kalo mereka pikir kita pacaran yaudah biarin aja, kalau bisa gue yang jelasin kalo gue yang mau deket sama lo karena gue yang suka.” jelasnya dengan suara lembut dan tenang.


Cherryl menggigit bibir bawahnya lalu menangkupkan kedua telapak tangan di muka, dia membuat Sebastian panik dengan tangisnya yang pecah begitu saja sampai tubuh cewek itu bergetar padahal cewek itu tidak menunjukkan tanda kalau akan menangis sebelumnya.


“Hiks, hiks…”


“Loh, loh, kok Erryl nangis?! Aduh, Ryl, jangan nangis dong. Kan gue bilang jangan dijadiin beban…” ucap Bastian cepat lalu kembali memeluk si cewek dengan sayang.


“S-seb, hikss…”


“Iyaa, iyaa. Kenapaaa??” sahut Sebastian lalu melepas rengkuhannya, dia dan si cewek saling bertatapan.


Cherryl menyeka air matanya dan menatap si cowok, “Kalo lo ngomong kayak gitu gue juga ga bisa ngelak lagi…” jawabnya lalu sontak menutup mata saat Sebastian mengulurkan tangan untuk menyeka dan merapihkan anak rambutnya yang sudah mencuat kemana-mana.


“Gimana?” tanya si cowok dengan lembut setelahnya.


“Gue juga mikir awalnya gue selalu cemburu liat lo deket sama cewek lain, terutama Kak Tasya, karena gue ngerasa kehilangan lo sebagai sahabat dan kakak, Seb. Tapi lama-lama gue makin kepikiran apa lumrah ngerasa cemburu ke sahabat sendiri? Lily juga sempet nanya apa gue yakin gak ada perasaan sama lo, tapi gue masih mikir itu aneh banget.” jelas Cherryl dengan wajah tertunduk, nggak mau menatap balik si cowok bergigi kelinci yang sekarang duduk tenang di hadapannya.


Jujur saja walaupun ia terlihat kalem, di dalam hati Sebastian sudah bersorak kegirangan mendengar perkataan cewek itu. Artinya sudah jelas kalau dia tidak menyukai Cherryl secara sepihak saja.


“Jadi, kita seka—”


Baru saja Sebastian mau mengajukan pertanyaan ulimatum, sosok bunda Sena masuk ke dalam kamar dan menyela percakapan mereka.


“Adek, abang kamu ke ma—eh ada Babas?”


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sebastian berdeham pelan saat mendudukkan diri di kursi meja makan di sebelah Cherryl setelah bunda Sena mengajaknya dan cewek itu untuk turun untuk makan malam bersama, ada ayah Sam juga. Mereka menanyai kondisi sang puteri bungsu kesayangan keluarga Gunawan yang cukup mengenaskan untuk dilihat saat itu. Si cewek mengenakan piyama kebesaran dengan rambut berantakan, ditambah kantung mata yang menghitam serta tentu saja mata Cherryl yang membengkak dan memerah sehabis menangis menarik perhatian kedua orang tuanya.


“Hehe, Erryl tadi curhat Bun sama Sebby gara-gara pusing beberapa minggu ini sibuk terus sampe kurang tidur karena mikirin acara. Rasanya capek banget, makannya tadi nangis dan ditenangin sama dia. Sekarang Erryl jadi lebih lega deh.” jelas Cherryl, beralibi, tentu dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya.


“Ya ampun, Sayang. Kalau Adek ngerasa terlalu capek nggak perlu dipaksa. Tapi untung Babas bisa bantu tenangin kamu walau sendirinya juga sama-sama sibuk. Makasih ya, Bas.” balas ayah Sam sembari menerima piring berisi nasi dan lauk-pauk yang disodori oleh sang isteri.


Cowok yang namanya disebut itu hanya menggeleng pelan dengan senyum kikuknya, “Ah enggak masalah, Yah. Toh Babas Cuma bantu sebisanya aja.” jawabnya.


Bunda Sena mengambili piring untuk Cherryl dan Sebastian juga sebelum duduk dan ikut membuka suara, “Bunda tuh suka mikir Babas selalu sayang sama Erryl sejak kecil, bersyukur banget Bunda karena kalian bisa kumpul lagi. Jadi nggak khawatir selama Cherryl sama kamu.”


Cherryl dan Sebastian saling lirik, tapi mereka melanjutkan makan malam dengan tenang bersama ayah Sam dan bunda Sena seakan tidak ada apa-apa di antara mereka sebelumnya. Tapi setelah itu keduanya kembali naik ke lantai dua dan masuk ke kamar si cewek, duduk di tempat semula.


“Nah,” celetuk Sebastian yang membuat Cherryl tidak tenang, rasanya canggung sekali situasi ini.


“Emm…Seb, Erryl boleh ngomong sesuatu? Ah, tapi Sebby jangan marah.” ujar si cewek cherry membuka suara.


Cowok itu sempat memasang tampang bingung walau akhirnya mengangguk setuju, “Iya, kenapa?”


“Asli Erryl ngerasa aneh banget sekarang. Di satu sisi Erryl lega juga sih. Sekarang kita kan udah tau perasaan masing-masing, tapi Erryl minta maaf Erryl gak bisa kalo Sebby mau kita pacaran. Maksudnya, belum. Gimana ya, soalnya ini dadakan....” ujar si cewek mencoba menjelaskan.


Sebastian tertawa pelan mendengar itu, “Oh itu…Gak masalah sih, Ryl. Toh dari awal gue bahkan gak mikir kalo lo ngerasain hal yang sama dan gak berharap apa-apa. Sekarang gue tau perasaan lo juga udah cukup banget, kalo Erryl gak mau ya ga apa-apa.” katanya.


“Erryl juga gak tau Bunda, Ayah dan yang lainnya bakal bereaksi kayak apa kalau tau. Mereka kan larang Erryl pacaran dulu, terus belum tentu Ayah Tony setuju kalau Sebby sama Erryl. Ya pokoknya bukan berarti Erryl gak suka, tapi belum siap aja…” lanjut Cherryl dengan nada khawatir.


Kali ini Sebastian mengambil tangan kanan si cewek dan mengelusnya pelan, “Kalau Erryl belum siap Babas pasti nunggu. Untuk masalah Ayah, nggak usah khawatir karena Beliau enggak mungkin nggak suka sama Erryl. Tapi kita kayak biasa ya, anggap aja kayak biasa. Erryl bisa?” tanyanya lembut.


Cherryl mengangguk lalu ia memeluk si cowok singkat, “Makasih ya Sebby, kalau nggak ada lo mungkin selama hampir satu tahun ini hidup Erryl masih datar-datar aja. Erryl juga pasti masih jadi cewek manja yang kerjaannya marah terus. Pokoknya makasih banget buat semuanya!”


“Makasih juga ya, karena udah suka sama gue. Maaf kalo kemarin-kemarin gue sempet nyakitin lo. Ke depannya gue janji bakal berusaha supaya Erryl nggak nangis karena sedih lagi.” jawab Sebastian lalu setelah itu mereka kembali bercanda gurau seperti biasanya dan menghabiskan waktu untuk membahas rundown acara sebelum si cowok berpamitan pulang karena hari sudah semakin malam.


.


.


.


.


.


TBC.