Call Me Isha

Call Me Isha
9. Pertandingan Basket



‍‍‍"Isha itu nasi gorengnya dimakan!" suruh Kak Raefal, membuat lamunan buyar seketika.


"I-iya Kak."


Aku menyuapkan satu suap nasi goreng ke mulut dengan pikiran yang terbang entah kemana.


"Dari tadi lo bengong terus, ada apa?"


"Engga Kak. Aku hanya ingin cepat pulang," dustaku sembari menggeleng.


"Kirain lo engga suka atau gimana."


"Sha pulang sekolah bareng gue!" putus Kak Raefal membuat bingung, pasalnya aku sudah memutuskan untuk menjauhi dirinya.


"Gimana ya Kak, lebih baik engga usak,"


"Gue engga ngajak lo, jadi lo engga ada alasan buat nolak."


"Aku. Aku ada acara, iya ada acara!" Bibir ini mengucap asal apa yang ada di kepala tanpa pikir panjang.


Dia menaikan satu alis. "Acara? Engga apa dong, jadi sekalian gue anter lo."


"Bukan gitu Kak, aku harus membantu Papa di toko," bohongku lagi.


"Nanti gue antar sekalian biar cepet," balasnya yang semakin membuatku kebingungan sendiri. "Kenapa? Kok lo kayak panik gitu?"


"Engga ada kak, cuma pedes aja," kilahku seperti orang idot.


"Ini minum!" Kak Raefal menyodorkan minumannya padaku.


"Jadi gue anter lo nanti, tapi sebelumnya gue ada acara, lo ikut aja!"


"Kalau Kakak ada acara mending engga usah, jadi ngerepotin nanti. Teruskan aku harus buru-buru," ujarku menemukan cela.


"Buru-buru? Bukannya toko Bokap lo sekarang tutup?"


Aku melotot, terlalu fokus untuk mengelabui sampai tidak sadar akan kenyataan.


"Ouh iya! Baru inget. Aku udah janji buat nemenin Nenek selepas pulang sekolah, iya itu acaranya."


"Itu acara apa? Bukannya acara lo itu jauhi gue karena Orlin?"


Aku sekarang paham mengapa sadari tadi Kak Raefal bertanya ini itu, aku menjadi merasa seperti orang paling bodoh.


"Kenapa? Bingung karena gue tahu? Lo itu engga pinter akting. Jadi, engga usah berusaha bohong sama gue."


🍁


"Kalau Kakak mau main basket dulu kenapa malah maksa antar?" tanyaku sembari melangkah beriringan bersama lelaki yang sepertinya akan selalu ada bersamaku untuk kurun waktu lama.


Kak Raefal berhenti lalu berbalik manatapku dengan tatapan tajam yang kemudian menggenggam pergelangan tangan ini, membuat jantung melompat tak karuan.


"Engga! Lo ikut gue!" jedanya. "Bagus ya sekarang udah berani bantah?!" Kalimat yang kemudian lolos dari bibir Kak Raefal membuat aku diam tidak berkutik.


"Bu-bukannya gitu Kak," cicitku menunduk.


"Kenapa menunduk? Gue ada di depan lo bukan di bawah lo!" Dia menjeda kalimatnya. "Apa lo masih takut sama ancaman Orlin?" tebaknya tepat mengenai sasaran.


"Masih takut? Kalau lo takut lawan bukan diam! Gue engga suka lo yang lemah dan mudah ditindas, bangkit Sha! Tunjukkan pada mereka lo bisa!"


Kak Raefal memegang pundakku, kemudian menatap ke-dua bola mata ini dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sha. Gue benci lo"


Jika pundak tidak disangga oleh Kak Raefal mungkin raga ini sudah limbung mendengar kalimat itu, bahkan kedua bola mata sudah menatap sendu ke arah Kak Raefal, seolah berharap dia menarik kembali ucapannya.


"Gue benci lo yang selalu diam dan mengalah, hidup itu bukan hanya tentang kebaikan tapi, kadang kita juga harus bersaing." Menjeda kembali. "Gue janji bakal selalu ada buat lo."


Seolah kalimat yang diucap itu mantra, dengan sendirinya hati ini menjadi hangat dan mata yang tadi menatap sendu kini berubah menjadi binar harap. Perlahan namun pasti dia menarik raga ini kedalam dekapan hangat.


"Udah cukup lo jadi si Cupu yang ditindas, sekarang lo harus bangkit dan lawan orang yang nyakiti lo."


"Jadilah Isha yang bukan hanya baik hati namun juga tidak mudah ditindas," bisiknya di telinga, sukses menyebabkan setitik air mata lolos dari tempat asal nya.


"Kalau mau pacaran jangan dikoridor." Instruksi seseorang membuatku dan Kak Raefal gelagapan lalu sontak melepas pelukan yang menenangkan itu.


"Sialan lo Rik!" hardik Kak Raefal kepada Kak Arik yang sudah tertawa terpingkal selepas berhasil menciduk kami.


"Pelajaran tuh kalau mau mesraan jangan di tempat umum."


"Udahlah Rik, sekarang mana anak-anak yang lain? Jadi engga?" tanya Kak Raefal mengalihkan pembicaraan.


"Jadi, anak-anak malah yang lagi nunggu lo Bambang! Pacaran mulu lo," ledek Kak Arik lalu merangkul Kak Raefal berjalan bersama, sedangkan aku membuntuti mereka di belakang.


       Aku menggenggam lengan Kak Raefal ketika lelaki itu hendak pergi selepas menghantar diri untuk duduk di bangku penonton.


"Lo duduk di sini! Jangan kemana-mana, nanti kita pulang bareng, gue mau main dulu!" pamit Kak Raefal membuat aku perlahan melepaskan.


Aku menahan nafas saat telapak tangan Kak Raefal mengacak rambutku, akan tetapi aku menjadi canggung saat sadar semua pasang mata menatap ke arah kami. Ya lapangan basket memang ramai layaknya ada sebuah pertandingan.


Mata tidak sengaja menangkap sosok Arga yang sedang mendriblling bola dengan lihai, dia juga beberapa kali memasukan bola ke dalam ring.


Lalu tatapanku terjatuh pada sosok Kak Raefal yang sekarang mencoba merebut bola itu dari Arga lalu mulai mendribblingnya dan menghindari para lawan yang mencoba untuk merebut.


Melihat pertandingan secara langsung menjadikan diri merasa geram, dalam hati aku bersorak menyebut nama Kak Raefal yang mencoba memasukan bola ke dalam ring.


Kak Raefal melompat lalu memasukan bola itu ke dalam ring membuat diri ini reflek  berdiri dan berteriak dengan kencang.


"Yey! Kak Raefal!" teriakku membuat seluruh pasang mata menatap aneh kepada diri.


Menggigit bibir bawah aku lakukan saat puluhan pasang mata menatapku aneh. Memang biasanya banyak anak perempuan yang akan bersorak seperti itu di setiap latihan namun, hal ini mungkin saja aneh menurut mereka saat, melihat kaum introvert sepertiku mengeluarkan suara keras.


Mengedarkan pandang ke seluruh sudut lapangan, aku sangat bersyukur tidak ada Orlin maupun temannya yang selalu menghantui.


Baru saja aku bersyukur, sekarang orang itu tengah berjalan ke arahku dengan angkuh diikuti para kacung.


Orlin menduduklan diri tepat di sebelahku lalu merangkul bahu ini, menyebabkan keringat dingin bermunculan.


"Enak ya yang tadi pelukan, gimana rasanya?" tanya Orlin berbisik di depan daun telinga.


"A-apa?" tanyaku memberanikan diri.


"Acel, Anor. Kalian tahu 'kan akibat orang yang ngambil orang yang gue sayang?" kode Orlin pada kedua kacungnya membuat mereka terkikik.


"Membuat orangnya jadi gila atau mati ketakutan?" tanya Anoora dengan gaya layaknya orang yang tengah berfikir.


"Gue baru inget, yang orangnya kita telanjangin terus foto-fotonya kita sabar di internet bukan?"  tanya Acel sok polos membuatku ingin sekali mencakar muka itu.


"Gue percaya kalau lo punya otak, meski cuma sebesar kutil. Tapi lo pasti tau 'kan apa yang harus lo lakuin?"


Aku hanya bisa mematung mendengarnya. Takut, muak dan lelah, aku sudah tidak ingin berurusan lebih lama lagi dengan Orlin dan segala tingkahnya.


"Jadi lo mau jauhin Kak Raefal?" tanya Orlin yang membuatku sontak mengangguk.


"Enggak Lin. A-aku bakal jauhin Kak Raefal kalau itu mau kamu, tapi jangan lakuin itu." tangisku seraya memohon.


"Pilihan yang tepat! Inget kata gue tadi!" ancamnya sebelum benar-benar pergi meninggalkanku yang sudah menangis sesenggukan.


Aku menutup wajahku menggunkan kedua telapak tangan, menyembunyikan air mata yang masih mengalir.


     


       Entah seberapa lama aku menangis hingga pertandingan yang semula ramai kini sudah senyap namun, aku belum juga menurunkan telapak tangan dari wajah.


Aku tersentak saat kedua tangan di tarik paksa oleh seseorang hingga menampilkan kondisi wajah yang penuh banjir air mata.


"Lo nangis?" tanya seseorang dengan suara bariton yang sangat aku kenal.


"Ka-Kak-Raefal?!"


"Siapa?"


Aku menggeleng, tidak mungkin membocorkan sosok yang melukai hati.


"Lo itu ngerti atau engga kalau gue engga suka lo kayak gini, kekanak-kanakan!" desis Kak Raefal membuat tangisku pecah.


"Kak Raefal engga bakal ngerti dan sebaiknya Kakak pergi dari sini!" usirku setelah mengumpulkan keberanian.


"Jadi sekarang lo udah berani ngusir gue?" tanyanya yang nampak sudah emosi.


"Kakak yang bilang sendiri 'kan kalau ada sesuatu yang aku engga suka aku harus bilang jangan diam, tapi Kakak juga yang-------" Aku tidak menyelesaikan kalimatku.


"Terus apa?! Gini cara lo balas budi setelah gue dukung lo?!" Kak Raefal berteriak kencang hingga membuat seluruh orang yang melihat semakin merasa penasaran.


"Kalau bener Kakak dukung aku. Engga mungkin Kakak ngeraguin aku." Menjeda perkataan. "Aku kira Kakak itu beda dari yang lain, karena disaat semua orang menggunjingku, cuma Kakak yang mau merangkulku, disaat semua orang menjauhiku cuma Kakak yang mau berteman denganku, dan asal Kakak tahu. Kakak adalah orang pertama yang mau merangkul sekaligus orang yang aku kira bakal mengerti, namun apa? Kakak sama aja kayak yang lain."


Hening, hanya suara tangisanku yang terdengar, bahkan Kak Raefal saja hanya diam tak bersuara apalagi bergerak.


"Maaf atas semua ucapan gue barusan, dan maaf juga kalau gue terlalu mengengkang lo. Gue tahu dan gue sadar kalau gue emang salah, maaf."


Kak Raefal berjongkok di depanku sebelum mengusap setiap air mata yang aku jatuhkan. "Jangan nangis, gue engga suka.


Aku menggelengkan kepala menolak sesuatu yang tiba-tiba muncul di dalam kepala lalu berdiri.


Berlari kencang sekaligus menerobos kerumunan orang yang tadi mengerumuni tempatku dengan Kak Raefal, menjadi pilihan terakhir untuk kabur.


----------------


Purbalingga, 23 januari 2020/ 16 Agustus 2022.