
Sesuai janjiku pada Kak Raefal siang tadi, aku berjalan sedikit tergesa guna melihat pertandingan yang katanya sangat penting itu.
Pemandangan lautan manusia yang tersebar menjadi pemandangan utama kala aku menginjakkan kaki di lapangan serta, suara teriakan yang menggema.
Aku memutuskan berdiri sembari menunggu kerumunan itu bubar sendirinya hingga, tiba disaat aku melihat sosok Kak Raefal yang tengah asik di tengah lapangan bersama beberapa siswa maupun siswi.
Disaat aku berjalan menghampiri lelaki itu, tubuh ini membeku karena melihat sosok Orlin terlebih dahulu bergelantung pada Kak Raefal sembari sesekali melempar senyum.
"Isha!"
Aku menoleh ke samping dan menemukan Arga yang setengah berlari menghampiri tubuhku dengan keringat membanjiri.
"Kita kalah sama anak IPS," infonya sembari mengatur nafas.
Aku tersenyum menanggapi. "Wah sayang sekali."
"Gimana tadi latihannya?"
"Baik."
"Udah sore, kita pulang yuk!" ajak Arga dengan semangat.
Aku menggeleng. "Aku pulang sendiri, soalnya aku bawa sepeda."
"Sepedanya tinggal aja, engga bakal ada yang ambil kok." bujuknya.
"Tapi, besok aku berangkat jalan kaki."
"Engga, besok biar aku jemput."
Sedikit tidak enak aku menatap Arga. "Yakin? Repot harus bolak-balik entar,"
"Engga! Ayo!" Arga menggenggam tanganku lalu menariknya cepat menuju parkiran.
Arga menyalakan motor, melajukannya dengan kecepatan sedang membelah jalanan Ibu kota di sore yang nampak mendung.
"Arga kita kemana?" tanyaku saat jalan yang menuju rumahku dilewati begitu saja.
"Aku mau bawa kamu ke suatu tempat, kamu tenang aja Oke?!"
"Ba-baiklah."
Lama motor yang kami tunggangi melaju namun, belum jua ada tanda jika Arga akan menghentikan laju motornya, membuat perasaanku menjadi awas apalagi dengan keadaan awan yang berubah kelabu.
Tes!
Tes!
Tes!
Air hujan mulai mengguyur bumi, Arga memutuskan untuk berhenti sejenak guna menghindari badai yang akan datang di sebuah halte.
"Engga."
"Maaf, karena aku kita jadi terjebak disini."
"Santai aja Ga," balasku masih menatap lurus ke depan, memperhatikan rintikan hujan yang sangat deras.
"Astaga!"
Aku yang semula duduk termenung seketika berdiri kala atap halte bocor dan membasahi hampir separuh bagian atasku.
"Sini Sha!"
Dengan canggung aku duduk terlampau dekat dengan Arga, bahkan dapat aku rasakan hangat kulit yang saling bersentuhan.
"Pakai ini ya, nanti kamu masuk angin."
Aku mematung disaat jaket yang Arga kenakkan berpindah membungkus tubuh kecilku.
Aku menunduk dalam senyum. "Makasih."
Lama kami menunggu di halte namun, bala tentara langit belum juga puas mengguyur bumi bahkan kini angin serta petir mulai beradu.
"Akh!"
Angin yang membawa hujan menyerang tubuhku hingga membuat kepala ini sontak bersembunyi pada pundak Arga.
Saat dirasa tidak ada lagi yang menyerang, aku memberanikan diri untuk mengangkat kepala namun, yang aku temukan justru tatapan Arga yang terjatuh kepadaku.
"Isha!" panggil Arga lirih.
"I-iya?"
"Aku suka kamu."
Untuk saat ini aku sama sekali tidak bisa mendeskripsikan perasaanku, rasanya beragam hingga mampu membuat dunia seolah terhenti sejenak.
"Kamu memang tidak pantas untuk aku tapi, aku benar-benar memiliki perasaan itu."
"Aku tahu, setelah semua yang aku lakukan memang sangat kurang ajar bila aku memintamu untuk membalas namun, aku juga manusia biasa yang ingin bahagia dengan orang yang aku cinta."
Dalam kebahagiaan, aku memeluk erat tubuh Arga, meminta lelaki itu menghentikan kalimat itu.
"Makasih Arga udah mau mencoba mencinta aku balik,"
"I love you my girlfriend," bisik Arga tepat di telingaku.
"I love you to, my boyfriend," cicitku.