Call Me Isha

Call Me Isha
29. Beban



Senyum kecilku mengembang sembari menatap tiga bangunan terpisah, dari halaman Sekolah yang luas ini dapat aku simpullan bila ketiga gedung yang merupakan ruang kelas itu terlihat sepi karena hari masih cukup pagi.


"Isha!"


Aku menoleh untuk melihat pemilik suara berat yang barusan menepuk pundakku.


"Iya Kak?"


"Gue mau lo nemenin gue makan! Gue belum sarapan," adunya terlihat mengenaskan.


Aku mengernyitkan kening dalam, terlihat aneh. "Kenapa engga sarapan di rumah?"


"Ada sedikit problem di rumah tadi." 


Mendengar itu, tentu aku merasa sangat salah bila harus menolak. "Yaudah kita ke kantin."


Sesampainya di kantin, kami segera mendudukkan bokong ke atas kursi tanpa kata setelah Kak Raefal memesan makanan.


"Mau makan juga?" tawar lekaki itu yang terlihat lebih manusiawi kali ini.


Aku menggeleng. "Kakak saja,"


Tring!


Suara notifikasi dari ponsel mengalihkan atensiku lalu, merogoh saku untuk mencari gawai pemberian Tante Nesya.


"HP baru Sha?"


Aku menoleh sebentar kepada Kak Raefal lalu mengangguk. "Iya Kak,"


"Sini gue lihat!"


Sebelum mencegah, tangan Kak Raefal terlebih dahulu menariknya hingga membuat aku sedikit kesal karena perlakuan semena-mena itu.


Meski tatapan tidak enak telah aku todongkan, lelaki dengan tampang badboy garis keras itu sama sekali tidak terpengaruh bahkan, dia menganggukkan kepala entah karena apa.


"Bagus juga, gue masukin nomer gue."


Dalam pengamatan, aku melihat Kak Raefal mengerutkan keningnya, menyebabkan rasa penasaran melanda otak.


"Ck! Pacaran lo sama Arga?" tunjuk Kak Raefal, disana terlihat pesanku bersama Arga.


"Kak! Engga sopan baca pesan orang lain tanpa izin. Sini balikin!" pintaku mencoba meraih ponsel itu.


Mendengar itu, sama sekali tidak membuat Kak Raefal melirik ataupun menoleh untuk menanggapi.


"Ayolah Kak, itu melanggar privasi!" Karena kalimat ini, aku berhasil menarik perhatian lelaki itu.


Dia tersenyum meremehkan. "Yaelah! Gue cuma pinjem bentar. Nih! Gue balikin, lagian engga ada yang penting tuh di HP lo."


"Ini pesanannya" Ibu kantin menyodorkan makanan ke hadapan Kak Raefal.


"Makasih." Kak Raefal lantas menyantap dengan lahap.


Mendapat gawai kembali, segera aku membalas pesan Arga meski dapat aku rasakan tatapan aneh yang diberikan lelaki di depanku.


"Dulu aja nangis karena dibully, bilang bencilah. Dan segala ***** bengeknya. Lah sekarang? Berbunga-bunga tuh hati,"


Aku tidak memperdulikan perkataan Kak Raefal dan memilih membalas pesan Arga yang lebih mengasyikan.


"Sha, love you!"


Aku menatap Kak Raefal horor selepas mendengar itu dari mulutnya.


Aku menggeleng sembari menutup mata sejenak. "Jauhkan hamba dari buaya ya Allah!"


Tawa menyembur dari mulut Kak Raefal. "Udah cocok belum Sha? Mirip Arga ya?"


Aku memberikan jempol ke arah bawah sembari menggeleng. "Cocok buat Kakak bukan Arga."


"Enak aja! Yang ada itu pacar lo yang buaya."


Aku menggulirkan mata jengah sebelum menaruh gawai ke atas meja.


"Apa si, Kakak engga jelas,"


Menutup kedua telinga menggunkan tangan. "Aku engga denger!"


"Dengernya gini. Mama, Papa sayang kamu selamanya!"


Salah satu alisku berkedut mendengar itu. "Kak Raefal jijik ih!"


"Kalau sama Arga engga ya Sha?"


"Kak Raefal!!!" Aku menyipitkan mata.


Lelaki itu menatapku dengan satu alis terangkat. "Iya, kenapa sayang?"


Sejak tadi, seharusnya aku sadar bila Kak Raefal memang memiliki niat terselubung untuk membuat hati keki di pagi hari.


"Itu ada chat, jangan lama balasnya. Dicariin ayang bebeknya entar."


"Bodo! Aku mau ke kelas!"


Aku mendesah saat langkahku harus terhenti karena tas yang aku pakai ditarik dari arah belakang.


"Kak lepas! Jangan cegah aku!" kataku.


Tawa yang menggelegar di setiap sudut kantin berasal dari Kak Raefal, membuatku menengok ke belakang lalu melotot melihat apa yang terjadi.


"Kakak jangan cegah aku, lepas Kak!"  Dengan tawanya Kak Raefal menirukan kalimat yang aku lontarkan.


Aku meringis malu sembari menatap tajam tapi ransel yang menyangkut pada kursi yang semula aku tempati.


"Hei sadar! Ini realita bukan drama korea."


Aku berdehem untuk meredam rasa malu, dengan tampang datar menarik tali yang menyangkut.


"Jangan  cegah aku!" ulang Kak Raefal dengan akting yang sangat buruk.


Aku merengut. "Kak,"


"Kenapa? Malu?" tanyanya. "Makannya jangan terlalu berekspetasi tinggi."


"Terserah!"


           Suasana kelas agak ricuh karena, semua siswa kelas sebelas MIPA dua berada di ruang musik sembari memainkan alat musik yang mereka kuasai.


Semua orang nampak sibuk dengan alat musik yang mereka mainkan, diri ini duduk menyendiri di sudut ruangan sembari memperhatikan.


Mungkin sang fajar.


Dan sayap-sayap burung patah.


Menyaksikan kita berseteru.


Selalu tak pernah damai.


Mungkin cintaku, terlalu kuat dan menutupi.


Jiwa yang dendam akan kerasmu.


Sehingga kita bersama.


Itulah segelintir lirik yang Orlin nyanyikan bersama Arga, lelaki tampan itu memainkan piano sebagai musik utama.


Melihat kedua sepupu itu, kadang ada rasa iri karena keduanya sangat serasi untuk dijadikan pasangan.


"Eh Cupu diem bae!" Seseorang membuat lamunanku buyar seketika lalu aku menatap orang yang tadi memanggilku.


"Sini! Lo engga main?" tanya Acel. "Coba lo mainkan gitar daripada bengong, biar engga terlihat kayak orang susah."


Aku menatap gitar yang Acel berikan dengan bingung, ini kali pertama aku memegang alat musik lalu sekarang aku disuruh memainkannya.


"Malah bengong! Tadi dener 'kan perintah Bu Sari buat kita latihan? Engga adil kalau lo diem gini sementara kita sibuk latihan."


"Tapi aku engga bisa."


Dia tertawa. "Terus yang lo bisa apa? Beban banget hidup lo!"