Call Me Isha

Call Me Isha
54. Gue Suka Lo



Suara pintu terbuka menarik atensiku namun, sedetik itu aku membuang muka kala melihat sosok Arga.


Meski telah membuang muka, aku sempat melirik ke arah mantan kekasihku itu yang kini tengah menatapku dingin.


Jemariku tak lagi memetik senar gitar saat, sosok yang paling aku hindari tengah berdiri tepat di hadapan.


Aku membatu sembari menatap tajam kala, kepala Arga mendekat sekaligus membisikkan beberapa kata.


"Nyali lo besar juga. Gue kira setelah kejadian itu lo engga bakal hengkang dari dunia ini,"


Mataku tetap fokus kepada Arga hingga lelaki itu membenarkan tubuhnya.


"Semua itu hanya mimpi yang tidak berarti ketika pagi menemani."


Selepas mengatakan hal itu aku tersenyum sebaik mungkin, membuat Arga mengerutkan kening sebelum ikut tersenyum.


"Ternyata yang dibicarain Orlin engga salah, lo sekarang jadi songong." Kembali, Arga mendekati telingaku. "Ingat posisi lo Cupu!"


"Wah Ga! Lo jangan main pepet cewek disini, gue kaum jomblo!"


Celetukan itu membuat aku bersyukur karena mantan kekasihku tidak akan menganggu.


"Aku kuat, aku bisa!" batinku memberi semangat.


"Lo juga Sha! Arga digaet, terus di Raefal mau lo kemanain?" tanya Kak Rafif sembari memberi minuman dingin.


"Kalau Kak Raefal buat aku aja gimana?" tanya Rara semangat.


"Lo itu masih kecil, engga usah pacaran!" sahut Kak Rafif.


Selepas itu mengalirlah perdebatan legendaris yang selalu diakhiri dengan tabokkan yang dilayangkan Rara.


šŸ


"Kak!"


Setelah memanggil, aku sedikit berlari menghampiri lelaki yang habis latihan basket, terlihat jelas dengan air yang bercucuran dari pelipisnya.


"Mau bareng?" tawarnya.


"Boleh, aku juga mau ke rumah Kakak."


"Mau ngapain? Memang lo engga punya rumah?"


"Balqis yang minta."


"Okey, lo tunggu sebentar. Gue mau ganti baju."


Setelah beberapa saat kami lewati kini, aku tiba di hadapan Balqis yang tengah membaca novel di gazebo taman.


"Kak Isha!"


Kami berpelukan layaknya teletabis, mengabaikan lelaki yang sadari tadi memperhatikan.


"Kak, aku mau cerita banyak sama Kakak," ujarnya.


"Ck! Engga lain-lain," cibir Kak Raefal saat melihat adiknya menggandeng erat diri ini memasuki rumah.


"Kakak beneran bukan pacarnya Kak Raefal?" tanya Balqis sedikit berbisik.


"Engga, kita cuma temenan."


"Kalian akrab, terus sweet lagi, aku sering liat loh kalau pulang sekolah Kak Raefal suka makan bareng Kakak terus aku juga pernah liat kalian pelukan, ah sweet!" pekiknya seraya membayangkan dengan mata berbinar.


"Engga ada yang kayak gitu," lirihku.


šŸ


"Lo belum pulang? Bokap lo pasti marah," kata Kak Raefal saat menemukanku yang sedang berada di meja makan bersama Balqis.


"Udah izin," jawab Balqis enteng seraya memasukan makanan kembali ke mulut.


"Kalau bokap lo marah gue engga tanggung jawab!" putusnya sebelum duduk tepat di hadapanku yang terhalang meja.


"Tenang aja, lagian Kak Isha diizinkan nginep malam ini,"


Selepas itu, seluruh orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


"Kalau makan engga sambil main handphone emang engga bisa? Taruh!"


"Bentar Kak nanggung," ucapku.


"Kak balikin!" tagihku saat telah menghabiskan makanan.


"Jusnya sekalian. Jangan mubazir!"


"Udah, sini!" tangihku lagi sembari mengadahkan tangan.


"Nanti, engga baik kalau di ruang makan mainan handphone," jelasnya membuatku menggerutu kesal.


"Ya Allah, aku udah penasaran sama kelanjutan ceritanya Kak."


"Ini bukan rumah lo, hormati tuan rumah!"


Suara tawa yang dihasilkan Balqis menghentikan aksi debat, membuat aku dan Kak Raefal terdiam sembari menatap gadis cantik itu aneh.


"Kenapa ketawa?" tanya Kak Raefal.


"Tingkah kalian bikin orang mesem-mesem, "


Kejujuran Balqis membuatku melirik ke arah Kak Raefal dengan ekor mata yang juga sama dilakukan oleh Kak Raefal, menyebabkan tawa itu kembali mengudara."


"Kalian jadian aja, makin lama yang ada aku sama readers greget sama kalian."


"Jadian sama dia?" tanya Kak Raefal membuatku menatapnya balik dengan sengit.


"Engga!" balasku kompak bersama Kak Raefal yang membuat Balqis lagi-lagi tertawa.


"Dasar friendzone!"


Ā  Ā  Ā Ā  Netra menatap pantulan diri yang tercetak bergelombang di atas air kolam dengan penerangan cahaya rembulan, malam yang dingin namun terasa indah.


"Belum tidur?"


Aku menggeleng, tetap memperhatikan bayanganku sekaligus membiarkan Kak Raefal duduk di samping.


"Udah malam, engga baik kalau disini sendirian, nanti diculik mau?"


Untuk kali ini aku menoleh sembari tersenyum. "Selagi ada Kak Raefal, aku aman."


"Percaya amat lo sama gue. Nanti, kalau ternyata gue yang niat culik lo gimana?"


"Engga yakin kalau Kakak tega begitu sama aku."


"Tega, sekarang aja gue sedang berusaha untuk kesekian kali buat menculik hati lo."


Kalimat itu diucap setenang air, beberpa denganĀ  hati ini yang hendak meloncat ke pankreas.


"Aneh ya kalau gue bicara gitu."


Tidak ada angin apalagi ada hujan, Kak Raefal menjatuhkan kepalanya di pundakku, membuat diri ini kembali menatapnya aneh.


"Kak!" panggilku namun malah menggenggam erat tangan, menyebabkan kedua pipi bersemu karena malu sekaligus gugup.


"Sebentar aja Sha," pintanya yang tak kuasa aku tolak.


Aku menolehkan wajah ke lain arah, karena malu bercampur senang yang membuncak dalam hati.


"Bagus ya bulannya. Bulet," puji Kak Raefal, membuatku menatap kembali ke arah rembulan yang memerangi raja kegelapan.


"Iya," balasku seadanya karena sekarang sedang menormalkan degupan jantung.


"Gue suka lo."


Tiga kata lirih itu mampu membuat seluruh persendian serasa mati rasa.


Kak Raefal mengubah posisinya, menyuruhku untuk berhadapan hingga puas mengartikan setiap gurat wajah.


"Sadar engga kalau gue punya rasa lebih selama ini?"


"Engga, aku kira kita hanya sebatas teman yang selalu ada."


"Gue juga engga mengira, perasaan itu tumbuh gitu aja. Hingga, malam ini gue engga bisa diam terlalu lama."


"Kak!"


Belum sempat aku berbicara, sebuah jari menempel tepat di depan bibir membuat aku terfokus kepada mata indah itu.


"Gue suka sama lo," lirihnya dengan mata sayu lalu perlahan menyatukan kening kami.