
"Kembali lo Cupu!"
Teriakan itu mengema di sepanjang kolidor gedung kelas sebelas yang saat ini tak berpenghuni.
Fokusku hanya untuk keluar dari gedung ini dan menghampiri ruang BK ataupun gedung kelas dua belas dan meminta perlindungan Kak Raefal.
Sesekali aku menoleh ke belakang untuk mengawasi ketiga siswi yang terus mengejarku dan saat hampir meninggalkan gedung, tubuhku bertabrakan dengan seseorang yang membuat aku tersungkur.
"Isha!"
Sontak aku mengangkat kepala lalu tanpa aba memeluk tubuh Kak Raefal sembari menumpahkan air mata.
"Kak aku takut," bisikku disela tangis membuatnya membalas pelukanku tak kalah erat.
"Lo dibully lagi?"
Aku tak memperdulikan pertanyaan yang terlontar apik dari mulut lelaki itu, untuk saat ini aku hanya ingin dikuatkan.
"Udah, jangan nangis" Kak Raefal melepaskan pelukan kaki lalu mengusap cairan putih yang menempel sepanjang pipi.
"Kita ke UKS!"
Tidak sempat menolak, Kak Raefal terburu membawaku ke ruang kesehatan dengan membawa tubuhku di depan dada.
Brak!
Kak Raefal mendorong pintu UKS dengan kuat hingga, membuat para anggota PMR yang masih stay disana terlonjak kaget dengan kedatangan kami.
Sahabatku itu menurunkan kembali tubuhku dengan lembut di atas brankar sebelum, menyingkir guna mempersiapkan Yollan melaksanakan tugasnya.
"Ham, tolong buatin teh!" titah Yollan, sementara dia pergi menghampiri ranselnya lalu menyerahkan baju olahraga ke hadapanku.
"Tadi kelas gue engga jadi olahraga, jadi engga sempet pakai. Lo pakai ya. baju lo basah."
Selepas mengenakkan baju olahraga milik Yollan, aku kembali ke tempatku semula sembari celingukan mencari Kak Raefal.
"Pakai minyaknya takut lo masuk angin." Yollan kembali menyerahkan botol berwarna hijau. "Ini juga makanan sama tehnya jangan lupa lo habisin kalau engga mau dimarahi Kak Raefal."
"Dia dimana?"
"Katanya, dia ada tambahan pelajaran. Biasa, anak kelas dua belas," ujarnya. "Dia titipin lo ke gue. Katanya jangan bikin Isha lecet."
Yollan yang sedari tadi menahan senyum tak kuasa tertawa kecil sesaat setelah mengatakan itu, menyebabkan gigi gingsulnya terlihat jelas.
"Makasih ya Lan," ungkapku lalu menelan makanan yang diberi Yollan.
"Sha, lo habis dibully Orlin?" tebak Yollan penuh hati-hati sembari menggenggam sebelah tanganku. "Orlin memang begitu, lo juga harus kuat, oke?! Jangan nerima aja, lawan! Kalau dia engga dilawan bakal nglunjak."
Usapan pada kepala terasa samar hingga, memaksa kelopak mata terbuka dan menemukan sosok yang membuat hati tenang.
"Yuk pulang, udah sore." Ajak Kak Raefal membuat senyumku merekah dan segera terduduk.
"Kakak udah selesai?"
🍁
Mendesah kecil yang aku lakukan kala melihat pantulan diri yang terlihat pada cermin.
Otak seketika berkelana, memikirkan tentang sosokku yang bersanding bersama Kak Raefal, akan sangat jomplang.
"Kok aku jadi ingin ubah diri agar sebanding sama Kak Raefal? Ish!" geli sendiri saat mendapat pemikiran seperti itu.
Aku memarkirkan sepeda diparkiran khusus sebelum melangkahkan kaki menuju gedung kelas sebelas dengan langkah ringan.
"Akh!"
Aku menjerit kala tubuhku bertabrakan dengan lantai yang cukup dingin itu, belum lagi tawa semua orang.
Tanpa mendongakpun aku sudah mengetahui sosok yang telah sengaja menjulurkan kaki hingga membuat aku tersungkur. Orang yang membullyku dua hari lalu.
Aku berdiri, menatap Orlin dengan tatapan tak suka. "Sehari tidak mencari masalah sesusah itu ya?"
"What! Tadi beneran Cupu yang bilang? Dapet keberanian dari mana dia?"
"Mimpi apa dia semalam sampai ngomong kayak gitu?"
"Bakal ada tontonan gratis."
Banyak samar bisikan di sekitarku yang tidak aku indahkan sama sekali, masa bodo dengan setiap ucapan mereka.
"Makin kesini lo makin berani ya sama gue. Mungkin kemarin lo beruntung, tapi kita lihat hari ini, siapa yang bakal jadi superhero lo!" tantang Orlin yang kemudian hendak menarik tanganku namun, langsung diri ini tepis secara kasar.
"Maaf Orlin, aku capek menjadi bulan-bulananmu. Bisakah kamu membuat aku tenang sejenak dan menyingkir dari jalanku?"
"Songong banget lo?!" bentak Orlin namun tak aku indahkan dan memilih pergi.
Melalui ekor mata, aku melihat jemari Orlin yang melingkupi pergelangan tanganku.
"Lo pikir setelah ini lo bisa pergi?!"
"Gue bakal bikin pelajaran untuk Babu pembangkang kayak lo!" lanjutnya.
Aku membalikan badan sembari menyentak cengkraman tangan Orlin lalu, menatap siswi itu sebelum mendorong pundaknya hingga membuat oleng.
"Berani lo bikin gue oleng!" bentaknya hendak menamparku.
Kini giliranku mencekal tangan yang hendak membuat perih salah satu pipiku.
"Kamu yang memulainya duluan." Sekuat tenaga, aku berusaha tidak terlihat ketakutan.
"Mulai hari ini, akan aku balas semua yang kamu buat. Kamu baik aku juga akan baik, begitupun sebaliknya."
"Lo!"
Kalimat Orlin tertahan karena ada guru yang datang, membuatnya pergi begitu saja dan membuatku bernafas lega, karena dari tadi aku sangat ketakutan melawan Orlin.