Call Me Isha

Call Me Isha
56. Menjadi Egois



Kedua sudut bibir terangkat, melalui ekor mata melirik jemari yang saling bertautan di bawah sana.


"Besok aku libur dan Kakak ujian, semangat!"


Kak Raefal tersenyum lalu mengacak gemas rambutku dengan tawanya, membuat sudut bibir turun.


"Bentar lagi kita engga bisa makan siang bareng, pasti lo bakal kangen."


Menjadi pacar lelaki itu selama kurang lebih empat bulan, menjadikanku lebih mengenalnya apalagi sifat manja yang kadang kala muncul, membuatku gemas sendiri.


"Bilang aja Kakak yang bakal kangen. Aku engga tuh," ujarku dengan senyum mengejek.


"Ya udah!" Menjeda. "Berarti diantara kita engga ada yang bakal kangen, bagus dong." Aku memukul lengannya yang membuat dia tertawa.


"Kakak engga ada romantis-romantisnya," cibirku.


"Kalau engga romantis, ini apa?" Dia memamerkan jemari kami yang saling bertautan.


"Kalau pasangan di film pasti bakal bilang, 'Aku bakal rindu sama kamu, aku engga bisa hidup tanpa kamu' gitu."


Kak Raefal melepas genggamannya lalu menjitak kepalaku. Lihat, dia memang tidak bisa membuat suasana romantis.


"Itu cuma Bullshit, jangan percaya kalau ada yang bilang gitu, yang bener tuh gini."


Tatapan mata Kak Raefal seketika berubah dalam hingga membuat jantung bertalu.


"Aku engga bakal bisa hidup tanpa udara, yang disebut oksigen. Karena, tanpa dia aku engga bisa bertemu dengan bidadari sepertimu di dunia ini."


Telinga seketika geli mendengar gombalan itu, sangat aneh ketika kekasihku ini melontar kalimat manis.


Gawai di saku Kak Raefal bergetar, membuat si empu segera mengambil dan menerima panggilan.


"Iya Pa aku segera kesitu!"


Kak Raefal tampak panik, membuat otak mengirim banyak kalimat tanya.


"Kenapa Kak?"


"Mama di rumah sakit, katanya jatuh dari tangga, gue harus nemuin beliau, kita pulang!"


šŸ


Mengisi akhir pekan, aku habiskan waktu dengan membantu mengurus toko roti yang Papaku dirikan.


Ketika langit berubah menjadi jingga, aku bersiap membenahi diri sebelum pulang ke kediaman.


"Sha, kamu pulang naik angkot?" tanya Papa sebelum aku mendorong pintu kaca di depan.


"Aku jalan Pa, sekalian mau beli sesuatu nanti."


"Udah sore loh, pulang sama Papa aja ya? Bentar lagi Papa tutup kedai kok."


"Aku udah besar Pa, engga mungkin lupa jalan pulang," bujukku membuat Papa menghembuskan nafas lalu mengangguk.


"Aku pulang!" pamitku lalu, keluar dari kedai tempat Papa mencari pundi-pundi rupiah itu.


Di tengah perjalanan, mata ini dikejutkan dengan adegan klise yang sering ditampilkan oleh banyak film akan tetapi, merasakan sendiri sensasinya lebih menyesatkan.


DenganĀ  cepat aku menghampiri objek yang membuat hati serta mata memanas.


"Kak!"


Kedua remaja berbeda kelamin yang tadinya tengah berpelukan seketika menjaga jarak kala melihatku berdiri sembari menahan tangis.


"Ternyata Kakak sama aja kayak yang lain, kalau malu punya pacar jelek kayak aku harusnya bilang, engga gini caranya," ucapku membuat kedua orang yang ada di hadapan hanya memandang datar.


"Aku kira Kakak sibuk ujian ataupun karena Tante sakit, tapi nyatanya?" Aku menggelengkan kepala tak habis fikir.


"Lebay lo!" semprot Orlin.


"Kita bicarain ini nanti ya?"Pancaran mata Kak Raefal terlihat mengiba.


"Lalu biarin Kakak bermesraan sama dia!" Jari telunjukku terangkat membidik Orlin.


"Sha! Gue bilang kita bicarain ini nanti!"


Bentakkan yang berasal dari Kak Raefal berhasil membuat pikiran melayang untuk mengemukakan prediksi negatif.


"Terserah! Aku udah engga perduli mulai detik ini!" ungkapku dengan penuh penekanan sebelum meninggalkan tempat.


Ā  Ā  Ā  Ā Ā  Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke dalamĀ  kamar dan mencurahkan segala air mata yang dikeluarkan kala mulut tidak ingin terbuka.


"Sha, ada Raefal, kamu engga mau nemuin dia?" tanya Mama di depan pintu kamar, membuat tangisku semakin menjadi.


"Isha, kasian Raefal udah nungguin loh, ayo keluar!" pinta Mama yang tak akan aku indahkan


"Tan, biar saya."


Suara lelaki ikut terdengar, membuat aku yang menangis di atas ranjang mengambil bantal dan menutupi kedua telinga.


"Lo mau kita bicara sekarang bukan? Ayo kita bicara."


"Sha! Gue tahu lo muak, tapi bisa lo percaya?" pinta Kak Raefal dengan suara parau.


Menunggu lama, akhirnya Kak Raefal membuka kembali suaranya.


"Mungkin lo engga mau ketemu gue sekarang, tapi gue yakin lo pasti dengerin ucapan gue."


"Sha, tadi--------"


Tanpa memberi kesempatan, aku memotong kalimat Kak Raefal dengan melempar vas bunga ke arah pintu.


"Pergi!" teriakku.


Aku tahu ini cukup kekanakan akan tetapi, kalimatnya yang menganggap diri ini tidak lebih penting dari Orlin membuat amarah seakan merajai.


Meski samar, masih dapat aku dengar jika Kak Raefal berdebat dengan Mama yang memintanya meninggalkan aku sendiri.


"Ada ribut-ribut apa ini?!"


Suara dari lelaki yang menjadi cinta pertamaku membuat aku sedikit lega, setidaknya dengan kehadiran beliau Kak Raefal akan didepak keluar.


"Papa, usir dia pergi Pa!" titahku setengah berteriak, membuat Papa mungkin geram dan mengeluarkan sikap posesifnya.


"Kamu apakan putri saya hingga dia menangis dan mengurung diri?! Sudah baik saya Izinkan dia berteman dengan kamu, sudah dengarkan apa kata putri saya? Sekarang juga pergi dari sini!"


"Om saya minta waktunya, saya mau meluruskan masalah ini Om, saya mohon!" pinta Kak Raefal.


"Pergi!" bentak Papa yang sepertinya sangat geram lalu aku biasa mendengar Mama yang berteriak meminta Ayah menghentikan aksinya.


"Pergi nak, Tante mohon pergi!" pinta Ibu dengan sesenggukan.


Bruk.


Dapat aku dengar keributan di depan sana, yang bisa aku tebak bila sekarang Kak Raefal sedang dipukuli oleh Papa.


Dalam hati, aku sedikit tidak tega namun, untuk sekali saja. Aku ingin menjadi egois.