
Hari pertama ujian telah usai, saat ini aku mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang menuju rumah.
Ketika hendak memasuki komplek kediaman sebuah mobil malaju kencang menghalangi jalanku hingga menyebabkan tubuh condong kedepan akibat rem yang menghambat.
"Hampir saja," legaku.
Rasa lega seketika lenyap diganti ketakutan saat melihat sosok Orlin bersama kedua temannya keluar dari mobil yang tadi hampir mencelakai.
"Sore Cupu!" sapa Orlin seraya berjalan mendekat.
"Ka-kalian ma-mau apa?" tanyaku terbata, aku sangat paham akan apa yang bakal terjadi.
"Acel! Anoora!" panggil Orlin sembari menunjuk diriku menggunakan dagu.
Tubuhku ditarik paksa untuk masuk ke dalam mobil. Sembari berteriak meminta tolong aku meronta, namun sayangnya komplek sangatlah sepi bahkan seperti tidak berpenghuni.
Setelah melewati beberapa menit dalam perjalanan. Kini, ragaku ditarik paksa keluar dari mobil.
Mataku menangkap bangunnn tua yang sudah tak berpenghuni, sebagian dinding juga dipenuhi oleh lumut serta beberapa coretan maupun grafiti.
Brak!!
Aku tersungkur di atas permukaan lantai bangunan yang sangat berdebu, dapat kulihat di sekeliling banyak kardus kosong. Mungkin tempat ini adalah gudang atau tempat penyeludupan narkoba, namun daripada aku pusing memikirkan itu lebih baik aku berfikir untuk menyelamatkan nyawa.
DenganĀ pongah Orlin berjongkok, mengapit kedua pipi dengan satu telapak tangan sembari menyinggung senyum sinis. "Ini akibat lo macem-macem sama gue!"
Belum cukup rasa sakit dipipi karena Orlin, tubuhku kembali ditarik paksa oleh Acel serta Anoora.
Meski aku meronta, tetap saja tubuhku berakhir diikat disalah satu tiang penyangga seperti kemauan mereka.
"Cupu! Ingat ini sebagai peringatan buat lo!" Orlin membawa sebuah ember yang mengeluarkan aroma menjijikan.
Perlahan, Orlin menyiram hingga ragaku basah karena air beraroma menjijikan itu, bahkan baju putih yang aku pakai tadi sudah berubah warna menjadi hitam pekat.
"Tenang, ini belum semuanya. Lo bakal habis di tangan gue" kata Orlin dengan gayanya yang khas.
Aku menangis sesenggukan seraya berharap semuanya berakhir saat melihat Anoora memberikan sesuatu kepada Orlin yang membuat tubuh kian meronta.
"Ini hadiah spesial buat lo, karena udah berani duduk disebelah Kak Raefal."
Orlin mendekat ke arahku lalu menumpahkan sesuatu tepat di atas kepala dan saat sadar aku langsung menjerit kala merasa binatang itu bergerak menuju wajahku.
Puluhan atau bahkan ribuan cacing tanah mulai menjamah tubuh, sensasi lembab serta gerakan tak berpola dari hewan itu kian membuat Orlin tertawa puas.
"Singkirkan ini!" jeritku bercampur tangis.
"Orlin, apapun yang kamu inginkan bakal aku kabulkan tapi tolong lepasin aku. Aku mohon," tangisku memohon yang justru membuat Orlin tertawa semakin kencang.
"Oke! Gue mau lo jauhin Kak Raefal! Dia milik gue dan engga ada yang boleh miliki dia kecuali gue! Ngerti!" Ancam Orlin.
"Bangsat!"
Umpatan dari sosok yang baru datang menarik perhatian semua orang bahkan sampai membuat Orlin mematung tidak percaya.
Lelaki itu melangkah ke arahku lalu melepas semua ikatan yang melilit raga dengan kasar hingga membuat tubuh ambruk dengan tangis.
"Kakak apa-apaan sih?!" kesal Orlin pada Kak Raefal, orang yang datang menyelamatkanku.
Kak Raefal pergi dan tak lama kembali dengan sebuah ember lengkap dengan air kemudian, menyiramkan kepada tubuhku hingga bersih.
Dia ikut berjokok, seperti tanpa rasa jijik Kak Raefal menghilangkan seluruh cacing dalam tubuh menggunakan kedua tangan, sementara aku terus diam memperhatikan wajahnya yang tampan.
Setelah semua cacing hilang, Kak Raefal ikut menatap mataku sebelum memeluk raga ini erat sembari mengusap punggungku yang bergetar akibat tangis.
"Kak, Kenapa Kakak nolongin dia? Dia siapa buat Kakak sampai Kakak segitunya sama dia?!" tanya Orlin dengan dada naik-turun menahan emosi.
"Udah Sha. Engga perlu takut, disini engga ada yang perlu lo takutin!" Kak Raefal melepas pelukannya lalu memboyong tubuhku.
"Kak! Jawab pertanyaan aku!" Orlin tetap kekeuh. "Kakak marah sama aku?"
Aku tetap membisu hingga ragaku dimasukkan ke dalam mobil milik Kak Raefal dengan awas.
Kak Raefal memberikan diriku jaket sesaat setelah dia ikut duduk di kursi kemudi, namun pandangannya masih lurus kedepan.
"Pakai!"
"Engga usah Kak, aku engga kedinginan," tolakku yang tak enak memakai jaket miliknya yang mahal, apalagi sekarang tubuhku basah serta bau.
Mata Kak Raefal fokus mengemudi. "Pakai aja kalau lo masih punya malu bra lo kelihatan."
Dalam keadaan seperti ini aku masih sempat mengecek lalu dengan segera memakainya, rasanya sangat malu apalagi Kak Raefal seorang laki-laki.
Di dalam perjalanan aku hanya diam dengan pikiran yang berkecamuk, tak lama aku mengalihkan fokus ke arah Kak Raefal yang menyetir disamping.
"Darimana Kak Raefal bisa tahu kalau aku dibully? Atau Kak Raefal cuma cari muka sama aku?" tanyaku dalam hati. "Tapi masa sih, mana mungkin Kak Raefal yang cakepnya minta ampun mau sama aku, Orlin yang cantik kayak idol kpop juga ditolak, apalagi aku yang lebih mirip ondel-ondel."
"Kenapa lihatin gue segitunya? Suka?" tanya Kak Raefal yang membuatku memalingkan muka. "Kenapa? Utarain kata hati lo. Jangan dipendam sendiri, ingatkan kata gue tadi pagi?"
Aku mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya. "Kak, dari mana Kakak tahu keberadaan ku?" tanyaku dalam satu tarikan nafas.